
Tiga hari berlalu, menggunakan kursi roda Rissa duduk dan di dorong oleh Biom memasuki rumahnya.
Biom mengangkat tubuh Rissa ke ranjang.
"Apa kamu ingin sesuatu?"
"Tidak, kamu pulanglah. Terima kasih sudah membuatmu repot," ujar Rissa.
"Aku tidak merasa di repotkan, aku senang membantumu."
"Kamu sekarang pulang dan beristirahat, selama di rumah sakit jam tidurmu berkurang. Pekerjaanmu terganggu," ucap Rissa.
"Begitulah pengorbanan ku padamu," ujar Biom.
"Iya, aku percaya kamu begitu menyayangiku. Pulanglah, aku tak mau kamu sakit. Nanti siapa yang akan mengobatimu!"
"Baik, Dokter cerewet!" Biom menoel hidung kekasihnya.
Rissa hanya tersenyum.
"Jika butuh bantuan, kabari aku!"
"Siap, sayang!"
"Aku pamit pulang, sampai jumpa!"
"Hati-hati!"
"Ya."
Selepas Biom pergi, Darrell menghampiri kamar adiknya.
"Kakak!"
"Apa kamu ingin makan sesuatu?"
"Tidak, Kak. Aku sudah kenyang," jawab Rissa.
Darrell duduk di ujung ranjang adiknya dan menatapnya.
"Kak, kenapa melihatku seperti itu?"
"Sudah sepuluh tahun kita tak bertatap muka seperti ini," jawab Darrell. "Sekarang kamu tumbuh menjadi gadis yang dewasa, cantik dan pintar. Keinginan mama, kamu wujudkan meskipun dahulu tak menyukai bidang ini," ungkap Darrell.
Rissa hanya tersenyum tipis.
"Rissa, aku pernah melakukan kesalahan besar. Terus menyalahkan dirimu tentang kejadian itu, aku bukan kakak yang baik untukmu. Maukah kamu memaafkan aku?"
Rissa menatap kakaknya itu.
"Rissa..."
"Aku senang kita bisa berkumpul lagi, aku juga minta maaf, Kak!"
Darrell tersenyum lega lalu memeluk adiknya.
Melepaskan pelukannya lalu bertanya, "Apa Nayna sudah pulang?"
"Belum dia masih di luar."
"Kakak temani dia di sana, aku mau tidur."
"Kapan Biom akan melamarmu?"
"Jika kesehatan ku mulai membaik, dia dan keluarganya akan datang melamar. Apa Kakak ingin segera balik ke sana?"
"Aku belum tahu, kemungkinan ku akan tinggal dan mencari pekerjaan di sini."
"Benarkah? Kakak mau tinggal di sini?"
__ADS_1
"Ya, kita sudah lama terpisah. Aku tak mau jauh dari adikku ini," jawab Darrell.
"Aku senang sekali, jika Kakak mau menetap di sini," ucap Rissa.
"Menurutmu, lebih baik aku melamar di perusahaan atau membuka usaha sendiri?"
"Lebih baik Kakak bekerja dahulu baru membuka usaha, anggap saja mencari tambahan modal," jawab Rissa.
"Perusahaan mana yang menurutmu cocok buat aku?"
"Kakak coba saja melamar di perusahaan Harsya," jawab Rissa lagi.
"Bagaimana kalau dia tidak mau menerima aku?"
"Kakak harus mendaftar di perusahaan lain."
"Nanti Kakak akan coba berbicara pada Harsya."
Selesai berbincang dengan adiknya, Darrell keluar kamar menghampiri Nayna yang sedang memainkan ponselnya.
"Kenapa kamu tidak pulang saja?" tanya Darrell duduk tak jauh dari Nayna.
"Saya hanya diperintah Nyonya Madya untuk menjaga Nona Rissa karena kesehatannya belum pulih."
"Ada aku di sini, ku bisa menjaganya. Pulanglah!
"Tidak, Tuan. Jika kalian membutuhkan sesuatu siapa yang akan membantu? Tuan Darrell baru kembali ke negara ini, pasti belum paham dengan jalanan di sini."
"Aku sudah paham jalanan sekitar sini, aku tuh sangat bosan di mana-mana selalu ada kamu," celetuk Darrell.
"Kalau bosan, Tuan tidak perlu melihat saya. Pergi ke kamar sana," ujar Nayna.
"Aku tidak leluasa melakukan apa-apa jika ada wanita yang bukan keluarga di sini."
"Baiklah, kalau begitu saya akan berjaga di teras. Permisi!" Nayna segera keluar.
Sejam berlalu, Nayna tampak duduk dengan tangan kanannya menopang kening sesekali tangannya memijit pangkal hidung.
Darrell membiarkan wanita itu sendirian dan ia lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Hujan deras dan angin kencang membuat Darrell terbangun, bergegas ia pergi ke kamar Rissa.
Tampak adiknya begitu pulas tidur. Darrell lantas ke bagian ruang tamu. Ia melihat Nayna berdiri di dinding jendela dan melipat kedua tangannya, wajahnya sedikit berpaling.
Terpaan angin disertai hujan deras membuat pakaian Nayna sedikit basah.
Darrell segera menghampiri wanita itu dan menarik tangannya masuk ke rumah.
"Tuan!"
"Diluar hujan deras, duduklah di sini. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu!"
Nayna mengangguk.
Tak lama kemudian Darrell membawa secangkir teh lalu ia letakkan di hadapan Nayna, "Minumlah!"
"Terima kasih, Tuan."
"Ya." Darrell kini duduk berhadapan dengan Nayna.
Wanita itu tampak malu-malu menikmati tehnya.
Darrell memperhatikan Nayna, "Apa kamu memiliki kekasih?"
Nayna meletakkan cangkir di meja, "Saya tidak sempat mencarinya."
"Kenapa? Apa pekerjaanmu yang membuatmu tak sempat mencarinya?"
Nayna menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
Darrell memandang sinis, "Mungkin mereka takut dekat denganmu!" tebaknya.
"Mungkin saja, Tuan!"
"Apa benar banyak pria yang ingin melamarmu?"
"Dari mana Tuan tahu tentang semua itu?" Nayna balik bertanya.
"Apa kamu perlu tahu dari mana aku mengetahuinya?" tanya Darrell sinis.
"Tidak, Tuan."
"Baguslah," ucap Darrell. "Menurut aku, kamu itu terlalu sombong. Kenapa tidak menerima lamaran mereka?" lanjutnya bertanya.
"Jika saya menerima lamaran salah satu pria, tentunya Nyonya Besar tidak akan menyuruh saya ke Berlin hanya untuk membujuk pria keras kepala seperti anda!"
Darrell menurunkan tangannya, ia tak suka dengan jawaban Nayna.
"Jikapun Nyonya mengizinkan, belum tentu suami saya mengiyakannya."
"Ya, apa alasanmu menolak mereka?"
"Apa saya perlu memberitahu alasannya, Tuan?" Nayna memberi pertanyaan menohok.
Darrell terdiam.
"Saya rasa masalah pribadi cukup dalam, jadi Tuan Darrell tak perlu mengetahuinya. Tuan tenang saja dan jangan khawatir. Saya akan tetap profesional!" jelas Nayna.
****
Dua hari sudah Rissa berada di rumah, Darrell meminta izin kembali ke Berlin untuk menyelesaikan beberapa urusannya di sana.
Sebelum keberangkatannya, Darrell mengutarakan keinginannya kepada Madya.
Namun, wanita paruh baya itu meminta untuk menemani Darrell.
"Bibi, aku ke sana pasti akan kemari lagi ke sini!"
"Bibi tidak percaya, adikmu belum belum melangsungkan acara lamaran. Bisa saja kamu membohongi kami!"
"Astaga, Bibi. Kenapa berpikir seperti itu?" protesnya.
"Suka atau tidak suka Nayna harus ikut!" Madya berkata dengan tegas.
"Bibi, aku di sana hampir satu bulan. Tak mungkin kami satu rumah," jelas Darrel.
"Nayna akan menyewa di apartemen yang sama denganmu."
"Jika Nayna ikut denganku, siapa yang akan menjaga Rissa?"
"Kamu tidak perlu khawatir ada Intan dan Biom yang menjaganya, ART akan ditugaskan secara bergantian untuk merawatnya," jawab Madya.
Darrell yang tak bisa menolak keputusan Madya akhirnya pasrah, ia dan Nayna akan pergi ke Berlin bersama.
-
Kepergian Darrell dan Nayna hanya diantar beberapa anak buahnya Harsya ke bandara. Tak ada keluarga atau saudara karena keberangkatan mereka hanya untuk kembali pulang.
Darrell ingin resign dari pekerjaannya sebagai desain interior.
Di perjalanan menuju Berlin, Darrell yang duduk bersebelahan dengan Nayna lantas berkata, "Selama di sana, aku harap kamu tidak membuat masalah."
"Dan saya berharap, Tuan menepati janji kepada Nona Rissa."
"Aku tidak akan kabur," ucap Darrell.
"Bagus kalau begitu, saya tidak capek mengurus dan mengawasi anda!"
"Kamu tidak perlu mengurus aku, lebih baik jaga dirimu sendiri!"
__ADS_1
"Ya, saya tahu."
"Tapi, kamu di sana mau kerja apa?"