Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 19 - Menemani Darrel Kembali Ke Luar Negeri


__ADS_3

Nayna sekilas tersenyum lalu menjawab, "Diam, datang ke apartemen Tuan, menikmati makan bersama baik itu sarapan, makan siang dan malam."


"Hei, aku tidak dua puluh empat jam di rumah!"


"Saya akan menunggu Tuan pulang bekerja dan kalau perlu saya yang memasak."


"Selama kamu ikut aku ke sana, justru ku yang akan selalu mengawasimu," ujar Darrell.


"Tuan takut saya diculik atau diganggu pria sana?" tanya Nayna menatap wajah pria yang disampingnya.


"Ya," jawab Darrell cepat.


Nayna tersenyum, "Oh, Tuan Darrell kenapa kamu begitu manis, sih?"


Darrell mengernyitkan keningnya.


"Saya tidak menyangka anda begitu perhatian," ujar Nayna memuji.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama pada setiap wanita," ucap Darrell.


"Tapi, terima kasih sudah begitu peduli pada saya."


"Ya," ucap Darrell ketus.


-


-


Di Berlin...


Begitu sampai, Nayna menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia segera memejamkan matanya dan Darrell hanya sekilas memperhatikan asistennya Madya itu.


Darrell ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya setelah itu lanjut ke dapur menyiapkan makan malam untuk mereka.


Tepat jam 8 malam, Nayna terbangun. Perjalanan panjang yang memakan waktu lebih kurang 16 jam membuat perutnya terasa lapar.


Nayna berjalan ke arah dapur dan melihat makanan terhidang di meja.


Nayna berteriak memanggil nama Darrell namun pria itu tidak menampakkan batang hidungnya.


Tak mau ambil pusing, Nayna menarik kursi dan menikmati makan malamnya seorang diri.


Selesai makan, Nayna membersihkan dirinya. Setelah itu menonton siaran televisi, sesekali ia melihat jam dinding.


"Sudah hampir jam dua belas, ke mana Tuan Darrell pergi?" tanyanya pada diri sendiri.


Karena masih mengantuk, akhirnya Nayna tidur lagi.


Tepat pukul 2 pagi, Darrell pulang. Ia menyempatkan waktunya untuk melihat Nayna yang tertidur kini telah berganti pakaian.


Memperbaiki selimut dan merapikan rambut yang menutupi mukanya. Darrell sejenak memandang wajah Nayna, tampak begitu lembut dan polos.


Nayna bergeliat.


Darrell gegas berdiri dan memalingkan wajahnya.


Nayna ternyata tidak membuka matanya.


Darrell kembali memperbaiki selimut Nayna, lalu ia melangkah ke kamarnya.


***


Keesokan paginya, Nayna membuatkan sarapan untuknya dan Darrell.


Melihat pria itu keluar dari kamarnya, segera Nayna menyapanya, "Pagi, Tuan."


"Pagi juga!" menarik kursi dan duduk menatap makanan yang terhidang.


"Kamu yang belanja semua ini?"


"Iya, Tuan. Tak ada bahan makanan di dalam lemari es, makan saya pergi belanja."


"Berapa uang kamu menghabiskan semua ini?" tanya Darrell.


"Tidak perlu diganti, Tuan."

__ADS_1


"Saya hanya bertanya, siapa yang akan menggantinya."


Seketika Nayna mengerucutkan bibirnya.


Darrell yang melihatnya hanya mengulum senyum.


"Apa Tuan hari ini akan ke kantor?"


"Ya, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai lalu mengajukan resign. Semoga tidak sampai sebulan semua urusan telah selesai agar ku bisa menemani Rissa dia acara lamaran."


"Semoga, Tuan."


Darrell menikmati sarapan dengan begitu lahap.


Selesai makan, ia pun berpamitan pada Nayna.


"Tuan, buat makan siang!" menyodorkan wadah tempat makanan.


Darrell tampak bingung.


"Saya masak sangat banyak, tidak mungkin menghabiskannya sendiri. Tuan juga akan pulang malam hari," jelas Nayna.


"Baiklah, saya akan bawa." Darrell membawa tempat makan tersebut.


-


-


Menjelang malam, Nayna kembali masak untuk makan berdua. Hampir sejam berkutat, ia akhirnya selesai juga menyiapkannya.


Sambil menunggu Darrell pulang, Nayna menyalakan siaran televisi.


Sejam menonton, Darrell belum kunjung pulang. Hal itu membuat Nayna sedikit khawatir, ia lalu menelepon pria itu.


Ponsel Darrell juga tak aktif.


Nayna mengambil jubah jaketnya, lalu bergegas mencari Darrell. Tujuan pertamanya adalah kantor pria itu.


Nayna berjalan memasuki kedua tangannya di saku jubahnya, ia memperhatikan sekelilingnya.


Nayna pun gegas membantu, ia mendorong tubuh 2 pria yang memukul Darrell.


"Jangan ikut campur urusan pria!" ucap salah satu pria dengan bahasa negara Jerman.


Nayna yang kebingungan tak mengerti bahasa pria tersebut.


"Nayna, pergilah. Nanti mereka akan memukulmu!" ucap Darrell memegang bibirnya.


"Apa kita perlu menghajar mereka?" tanya Nayna.


"Tidak," jawab Darrell.


"Kamu sudah memiliki kekasih, kenapa mengganggu istriku?" tanya pria itu pada Darrell.


"Kami hanya berteman," jelasnya.


"Dia menyukaimu!" teriak pria asing itu dihadapan Darrell.


"Aku tidak tahu, dia memiliki perasaan padaku!"


"Karena kamu sudah tahu, maka jauhi dia atau aku akan memberikan pelajaran dari ini!" ancam pria itu.


"Baiklah, aku janji. Lagian ku akan pergi dari negara ini!" ucap Darrell.


"Memang itu yang ku harapkan!"


Kedua pria itu pun pergi.


"Tuan, mereka bicara apa?" tanya Nayna.


"Nanti ku jelaskan, ayo kita pulang!"


Nayna dan Darrell melangkah menuju apartemennya.


Sesampainya, Nayna mengambil kotak obat dan mengobati luka di bagian bibir Darrell.

__ADS_1


"Kenapa mereka memukul, Tuan?" tanya Nayna seraya mengoles luka dengan alkohol.


"Mereka hanya salah paham," jawab Darrell.


"Kenapa salah paham sampai memukul?"


"Pria tadi berpikir jika aku merebut istrinya," jawab Darrell.


Seketika jawaban Darrell membuat Nayna tertawa.


Darrell mengernyitkan keningnya.


"Astaga, ternyata Tuan Darrell memiliki tampang perebut istri orang!" Nayna melanjutkan mengobatinya.


Darrell memegang tangan Nayna yang menyentuhnya, "Kami hanya sekedar bersahabat, suaminya saja yang berpikiran buruk tentangku. Apalagi kami sekantor."


Nayna menyentak tangan Darrell yang menggenggamnya.


"Aku tidak mungkin merebut seorang wanita dari suaminya!"


"Setelah pernikahan tak ada namanya persahabatan antara pria dan wanita, Tuan. Jadi, memang lebih baik anda tak berteman dengan wanita apalagi dia telah bersuami. Kecuali kalian berdua tak memiliki ikatan dengan orang lain."


Darrell tampak terkesima dengan ucapan Nayna.


"Saya sudah menyiapkan makan malam. Lekaslah mandi Tuan. Saya sangat lapar!" Nayna memegang perutnya.


"Baiklah, aku akan pergi mandi!"


Tak sampai 15 menit, Darrell telah berganti pakaian dan tampak segar.


Keduanya duduk di meja yang sama.


"Kemarin malam Tuan pulang jam berapa?"


"Jam dua."


"Kenapa lama sekali?


"Aku menemui temanku."


"Wanita atau pria?" tanya Nayna.


"Apa perlu kamu tahu aku menemui siapa?"


"Ya," jawab Nayna.


"Kamu seperti wanita yang sedang menginterogasi kekasihnya saja," singgung Darrell.


Nayna yang salah hanya tersenyum nyengir.


"Aku bertemu dengan teman wanita, aku menyukainya."


Entah kenapa ketika Darrell menyebut kata menyukainya membuat hati Nayna terasa perih.


"Aku belum menyatakan perasaan padanya, tapi dia sudah mengakui jika akan menikah dengan pria lain," lanjut Darrell.


"Pasti sangat sakit, Tuan." Kata Nayna.


"Ya, sangat sakit apalagi aku sudah memiliki perasaan kepadanya sejak kami bertemu lima tahun lalu."


"Makanya, kalau suka cepat bicara sebelum diambil orang," celetuk Nayna.


"Apa kamu juga begitu menyukai seseorang makanya menolak lamaran dari pria lain?" tebak Darrell.


"Bisa dikatakan begitu," ujar Nayna.


"Apa kamu sudah mengungkapkan perasaan kepada pria itu?"


Nayna menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Darrell penasaran.


"Karena dia tinggal di luar negeri apalagi dia juga menyukai wanita lain," jawab Nayna.


"Kenapa hampir mirip denganku? Apa kamu sedang menyindirku?" tanya Darrell lagi.

__ADS_1


Nayna hanya bisa tertawa kecil.


__ADS_2