Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 8 - Aku Akan Memaksanya


__ADS_3

Rissa mencoba menghubungi kakaknya melalui media sosialnya, panggilan keempat pria itu lalu menjawabnya.


"Halo, Kak!" sapa Rissa ragu.


"Halo, Rissa. Ada apa?" tanya Darrell ketus.


"Kakak, aku ingin menikah. Bisakah kamu pulang ke tanah air untuk merestuiku?"


"Kamu kalau ingin menikah, kenapa harus minta izin padaku?"


"Kakak adalah pengganti orang tua kita," jawab Rissa.


"Rissa, aku bukan kakakmu. Adikku telah lama mati, jadi jangan hubungiku hanya untuk acara tidak terlalu penting ini."


"Kak, kenapa kamu begitu membenciku? Apa salahku?"


"Karena kamu papa meninggal!" Jawab Darrell.


"Kak, aku minta maaf."


"Kamu minta maaf takkan mengembalikan papa!"


"Kak, tolong pulanglah!" pinta Rissa.


"Aku tidak akan pulang!" Darrell menutup teleponnya.


Rissa terduduk di ranjang dan menangis.


Suara ponsel berdering membuatnya menghentikan tangisannya, ia melihat nama si penelepon.


Gegas ia pun menjawabnya.


"Halo, Rissa. Kamu di mana?" tanya Biom di ujung telepon.


"Kenapa denganmu? Kamu habis menangis?"


"Tidak."


"Rissa, kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Iya, aku baik-baik saja. Ada apa meneleponku?"


"Nona muda memintamu untuk menemaninya berbelanja. Apa kamu memiliki waktu kosong?"


"Iya, aku ada waktu. Aku akan bersiap-siap," ucap Rissa.


"Setengah jam lagi aku akan menjemputmu," ujar Biom.


-


Rissa membuka pintu ketika mendengar suara ketukan, ia tersenyum tipis.


Biom masih berdiri menatap wajah kekasihnya.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku tahu kamu habis menangis, apa yang terjadi?"


"Tidak ada apa-apa."


"Jangan berbohong padaku, Rissa!"


"Aku tidak bohong, ayo kita bergerak sekarang!"

__ADS_1


"Rissa, apa yang kamu sembunyikan dariku!"


"Aku tidak menyembunyikan apapun," ujar Rissa.


"Pasti kamu menghubungi Kak Darrell lagi, kan?" tebaknya.


Rissa mengangguk.


"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu biarkan kakakmu menjadi urusan Tuan Muda dan Nyonya Besar."


"Sampai kapan aku menunggu?"


"Bersabarlah, setelah pernikahan Alpha dan Astrid mereka akan membantu kita mengatasi masalah kakakmu," ujar Biom.


Rissa pun mengiyakan.


Biom mendekati kekasihnya, ia mengusap air mata Rissa dengan jempol tangan kanannya, "Aku tidak suka melihatmu menangis, maka selalu tersenyumlah."


Rissa tersenyum tipis.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Biom mengenggam jemari kekasihnya.


Sesampainya di rumah Harsya, Anaya tampak begitu bahagia melihat kehadiran Rissa.


"Kak Rissa, apa kabar?" Anaya lantas memeluknya.


"Sepertinya baru seminggu yang lalu kita bertemu," jawab Rissa.


Anaya tersenyum nyengir.


"Katanya kamu ingin berbelanja?"


"Ya, aku ingin membeli kado buat Intan dan Rama nanti bantu carikan, ya!" pintanya.


Mereka pun pergi berbelanja, tak ketinggalan Harsya juga turut menemani istrinya itu. Putri kecil mereka di tinggal bersama pengasuhnya.


Tentunya Alpha memperketat penjagaan karena kedua orang tua dari Hana sedang keluar.


Anaya memasuki toko penjualan tas.


"Kita cari tas ukuran kecil saja!" ucap Rissa.


"Kakak mau memberi tas buat Intan?"


"Iya, kira-kira dia mau atau tidak?" Rissa balik bertanya.


"Jika di beri orang lain Intan tak pernah menolaknya," jawab Anaya.


"Kalau begitu aku pilih ini saja!" ucap Rissa menunjuk tas kecil berwarna coklat.


"Aku mau memberikan dia perhiasan saja," ujar Anaya.


"Kalau begitu, ayo kita ke toko perhiasan!"


Kedua wanita itu pun melangkah ke toko yang menjual berbagai macam perhiasan, Harsya dan Biom mengikutinya dari belakang.


"Apa menurut Kak Rissa ini cantik?" Anaya menunjuk gelang berukir.


"Cantik juga," ungkap Rissa.


"Aku yakin dia takkan mau memakainya, karena Kak Rissa lihat Intan tak pernah mau memakai perhiasan apapun di tubuhnya," ujar Anaya.


"Walaupun tidak mau memakainya, dia bisa menjadikan ini investasi," ucap Rissa.

__ADS_1


"Benar juga, Kak."


Anaya lalu mengalihkan pandangannya kepada Harsya, "Suamiku, apa aku boleh membeli ini untuk Intan?" menunjukkan perhiasan gelang.


Harsya menggerakkan dagunya pelan.


"Terima kasih!" Anaya tersenyum.


Pandangan Anaya kini menghadap penjaga toko, "Saya mau yang ini!" menyerahkan gelang.


"Baik, Nona."


Selesai dari toko mereka pun kembali pulang, Anaya meminta Rissa untuk makan siang bersama di rumah.


Rissa tak menolak ajakan Anaya, karena hal itu dapat sedikit menghibur hatinya yang sedang sedih.


Sesampainya di rumah, Hana menyambut mereka dengan tawa khasnya.


Harsya menggendong putri kecilnya dan mengecup pipinya, "Ayah rindu denganmu, padahal kita baru berpisah tiga jam."


"Ayo, Kak!" Anaya menarik tangan Rissa.


Jika putrinya dengan Harsya, Anaya memilih mengalah karena suaminya takkan memberikan anaknya kalau belum menangis karena lapar atau mengantuk.


Rissa dan Anaya kini berada di meja makan, masakan telah tersaji di hadapan mereka.


Harsya lalu mengajak Biom untuk makan bersama, putrinya ia serahkan kepada pengasuhnya.


Anaya mengambil nasi, lauk pauk dan sayur mayur lalu di letakkan dalam satu piring buat suaminya.


Anaya duduk lalu mengambil buat dirinya.


Di tengah makan siang mereka, Anaya lantas bertanya pada Rissa, "Kapan kalian lamaran, Kak?"


Biom dan Rissa saling menatap.


Tampak raut wajah Rissa menjadi sendu.


Harsya yang paham lalu berkata, "Sayang, mereka bakal mengadakan lamaran. Hanya saja waktunya belum tepat. Setelah Rama resepsi kedua terus lanjut ke pernikahan Alpha tiga minggu kemudian."


"Oh, begitu," ucap Anaya.


"Aku dan Biom masih sibuk dengan urusan pekerjaan kami, jadi biarkan mereka lebih dahulu menikah," jelas Rissa.


Anaya mengangguk paham.


Selesai makan siang, Hana diambil alih oleh Anaya. Karena waktunya ia menyusui balita itu. Anaya meminta izin pada Rissa ke kamar.


Rissa pun mengiyakan.


Saat Anaya pergi ke kamar, Harsya mendekati sepupunya.


"Apa dia tetap tidak mau?"


Rissa menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Jika selesai pernikahan Alpa dia belum juga pulang ke sini, aku akan mengirimkan Nayna ke sana?"


"Kenapa harus Nayna?"


"Nayna lumayan sering ke sana bersama ibuku dan bertemu dengan Darrell," jawab Harsya.


"Semoga saja dia mau dibujuk."

__ADS_1


"Jika dia tetap bersikeras terpaksa kamu dan Biom menikah di sana," ucap Harsya. "Aku akan memaksa dia, menerima dan merestui kalian," lanjutnya berucap.


__ADS_2