
Sepulangnya dari resepsi pernikahan Darrell dan Nayna, Astrid terbaring lemah. Wanita itu mengeluh sangat lelah dan mengantuk di acara tersebut.
Beruntung, Harsya dan keluarga kecilnya telah lebih dahulu pulang. Jadi, Alpha bisa mengantarkan istrinya.
"Mau aku pijit?" Alpha menawarkan diri.
"Tidak, Al. Aku hanya ingin tidur saja," jawabnya.
"Ya, sudahlah."
Astrid memang telah berganti pakaian dan mencuci wajahnya lalu memilih pergi menaiki ranjang.
Alpha sangat heran dengan tingkah istrinya, tak biasanya tidur di waktu sore hari.
Tubuh istrinya juga tidak panas, hanya wajahnya terlihat letih.
Alpha membersihkan dirinya, ia akan berjaga-jaga takut sesuatu terjadi pada istrinya.
Selesai mandi, ia masih melihat istrinya berbaring. Alpha sengaja duduk di samping wanita itu dan mengelus rambutnya.
Astrid terbangun ketika mendapatkan sentuhan dari suaminya.
"Kamu ingin sesuatu?"
"Tidak, suamiku."
"Malam ini kita ke dokter, ya!" ajak Alpha.
"Tidak, suamiku. Aku hanya ingin beristirahat saja, mungkin hanya kelelahan," ujar Astrid.
"Tidak mau makan?"
"Aku belum lapar."
"Kalau begitu nanti saja aku makan menunggumu," ucap Alpha.
Astrid bangkit dan duduk, "Biar aku temani kamu makan."
Alpha mengiyakan.
Keduanya duduk di meja yang sama dan berdampingan.
Alpha menikmati makanannya dan Astrid hanya diam ia meletakkan kepalanya di meja. Matanya sangat mengantuk padahal ia telah tidur walaupun tak lama.
"Selesai aku makan kita akan ke dokter," ucap Alpha.
Astrid lagi-lagi menolaknya.
"Kamu ini tidak seperti biasanya, aku takut sesuatu yang buruk terjadi," ujar Alpha.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Besok jika aku masih begini, kita ke dokter," ucap Astrid.
Alpha pun setuju.
***
Esok paginya, Alpha bangun tidur seperti biasanya namun tidak dengan Astrid. Istrinya masih terlelap.
Alpha membangunkan istrinya, "Kamu tidak ke kantor hari ini?"
"Malas, Al." Astrid menjawab masih dengan mata terpejam.
"Kamu bilang kemarin, kalau hari ini ada rapat dengan klien," ungkap Alpha.
"Tapi, aku malas sekali mau berangkat."
"Cepatlah bangun, biar ku antar kamu bekerja," ujar Alpha.
Astrid membuka matanya tampak kesal. "Kamu mengerti tidak, kalau aku malas sekali ke kantor!"
"Sayang, kamu kenapa 'sih?"
"Aku mau tidur, jangan membangunkan ku!" omelnya.
"Temani aku sarapan!" pinta Alpha.
"Aku tidak bisa, Al!"
"Kamu tidak sarapan!"
"Tidak!" Astrid kembali memejamkan matanya dan memilih memunggungi suaminya.
Alpha menikmati sarapan seorang diri.
Selesai sarapan, ia kembali ke kamar untuk berpamitan kepada istrinya.
Alpha tak menemui Astrid, ia bergegas melangkah ke kamar mandi. "Sayang, kamu di mana?"
Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Astrid keluar dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alpha khawatir.
"Lemas sekali, Al."
"Kamu muntah?" tanya Alpha lagi.
Astrid mengiyakan.
"Kamu harus periksa, ku tak mau ada penolakan," ujar Alpha.
Astrid mengangguk.
__ADS_1
Keduanya berangkat ke rumah sakit terdekat. Sejam mengantri akhirnya Astrid pun menjalankan pemeriksaan medis.
Dokter wanita itu tersenyum sebelum menjelaskan kepada Alpha dan istrinya.
"Selamat, Tuan. Istri anda sedang mengandung."
"Hah!" Astrid dan suaminya saling pandang tak percaya.
"Jika ingin memastikan kalian bisa memeriksakannya ke dokter kandungan."
Alpha tersenyum, "Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama, Tuan."
Keduanya keluar dari ruangan dokter.
"Apa kamu ingin kita pergi ke dokter yang disarankan?" tanya Alpha.
"Boleh juga."
Akhirnya keduanya pun menuju dokter kandungan yang ada di rumah sakit.
Alpha dan istrinya harus sabar menunggu dan antri.
Alpha memutuskan hari ini libur kerja begitu juga dengan Astrid.
Tepat jam 11 siang, mereka akhirnya mendapatkan giliran.
Dengan hati deg-degan, Astrid merebahkan tubuhnya di brankar. Proses pemeriksaan dilakukan dengan perlahan dan penjelasan cukup mendetail.
Astrid dan Alpha mendengarnya dengan seksama. Sesekali pertanyaan terlontar dari mulut keduanya.
Puas mendapatkan informasi seputar kehamilan dan usia calon bayi, mereka pun pulang dengan hati bahagia.
"Selama hamil kamu tidak boleh makan sembarangan," ujar Alpha.
"Sayang, sesekali boleh, ya!"
"Tidak."
"Perbanyak makan sayuran dan buah!"
"Siap, suamiku!"
"Jangan mengendarai mobil sendiri, setiap hari aku akan mengantar dan menjemputmu. Kalau perlu pakai sopir kantor!"
"Iya, suamiku."
_
_
Di lain tempat di kediaman Rama. Usia kandungan Intan yang kini berusia 8 Minggu membuat wanita itu hanya rebahan, minim aktivitas.
"Sayang, aku ingin makan rujak dengan buah yang masam," rengeknya.
"Tidak boleh," larang Rama.
"Kenapa sih' sayang? Rasanya sangat enak!"
"Sebelumnya kamu tidak pernah makan yang asam," ujar Rama
"Tapi, aku ingin sekali!" pintanya
"Kamu hanya boleh makan buah yang manis," ucap Rama.
"Bukan rujak namanya, sayang!"
"Baiklah, kamu boleh makan rujak yang hanya satu buah masam saja."
Intan mengiyakan.
"Aku akan membuatkannya," ucap Rama.
Intan tersenyum senang.
Rama pergi keluar kamar menuju dapur, ia mulai membuat rujak buah untuk istrinya. Rama mengupas dan memotong buah seperti pepaya muda, jambu air, nanas, bengkoang serta mentimun.
Tak sampai 15 menit, pesanan sang istri telah ia sediakan lalu di bawanya ke kamar.
"Dihabiskan, ya! Jangan lupa makan nasi!" nasihatnya.
"Iya, suamiku."
"Aku harus pergi bekerja," ucap Rama.
"Bukankah libur bekerja hari ini?"
"Alpha berhalangan hadir karena membawa Astrid ke rumah sakit."
"Kenapa dengan Kak Astrid?" tanya Intan.
"Katanya seharian tubuhnya lemas dan muntah," jawab Rama.
"Mungkin Kak Astrid hamil," tebak Intan.
"Entahlah, semoga saja. Aku berangkat dulu, ya!" Rama mengecup kening istrinya.
"Iya, suamiku. Hati-hati!"
Rama tersenyum kemudian berlalu.
__ADS_1
****
Dua bulan berlalu....
Rissa yang sedang menikmati sarapan bersama sang suami mendadak perutnya mulas.
"Kamu kenapa?" Biom begitu panik.
"Sayang, ini sakit sekali!" Rissa meringis.
"Aku akan siapkan mobil, tunggu sebentar!" Biom berlari ke garasi. Tak lama kemudian, ia kembali menghampiri istrinya.
Rissa menangis menahan sakit.
Biom lalu berteriak memanggil nama ART-nya. Ia meminta kedua pelayan rumahnya mengambil tas yang telah disediakan Rissa sebelumnya.
"Salah satu kalian ikut saya!" perintah Biom.
"Baik, Tuan!"
Ketiganya pun berangkat menuju rumah sakit.
Begitu sampai, Rissa segera di bawa ke ruangan bersalin.
Biom lantas menghubungi Darrell. Setelah menelepon kakak iparnya, ia lalu masuk ke ruang bersalin.
Tak sampai 30 menit Darrell datang bersama istrinya, beruntung hari ini hari libur jadi ia tak perlu izin cuti bekerja.
Beberapa menit kemudian Madya dan Elia, lanjut disusul keluarga besar lainnya dari pihak Biom dan Rissa.
Dua jam berada di ruangan tersebut, akhirnya Rissa berhasil melahirkan secara normal.
Biom tersenyum lega, ia sampai menjatuhkan air matanya. Mengecup kening istrinya, "Terima kasih, sayang!"
Rissa menggerakkan dagunya pelan.
-
Kini Rissa sudah berada di ruang rawat inap. Ia sedang menyusui bayi laki-lakinya yang lahir dengan BB 3400 gram dan panjang 51 cm.
Satu persatu para tamu dari keluarga, saudara dan sahabat memasuki ruangan tersebut memberikan selamat dan berbagai kado.
Ketiga bumil kini berada di ruangan tersebut tanpa ada para suami yaitu Anaya, Intan dan Astrid.
Keempatnya saling mengobrol mengenai proses kelahiran. Intan dan Astrid yang belum pernah mengalaminya, merasa takut serta bimbang ketika Rissa menjelaskannya.
Anaya yang sebelumnya pernah melahirkan, menguatkan kedua sahabatnya jika proses kelahiran tak semenakutkan itu.
"Anak kami laki-laki, Biom merencanakan ingin menjodohkannya dengan anak-anak kalian jika berjenis kelamin perempuan," ucap Rissa.
"Wah, ide itu boleh juga!" ujar Astrid
"Bagaimana jika anak-anak kita lahir laki-laki semua?" tanya Intan.
"Perjodohan dibatalkan," ucap Rissa. "Atau anak kedua kalian perempuan, bolehlah juga," lanjutnya berucap.
Astrid dan Rissa setuju, begitu juga dengan Anaya.
-
-
Dua jam berada di rumah sakit, Astrid pun pulang bersama dengan suaminya. Di perjalanan menuju rumah keduanya terlibat obrolan.
"Suamiku!"
"Ya."
"Tadi kami mengobrol dengan Rissa, dia ingin menjodohkan anaknya jika nanti kelak lahir anakku atau Intan perempuan. Apa kamu setuju?"
"Kamu setuju atau tidak?"
"Aku 'sih setuju saja."
"Kalau kamu setuju, aku ikut saja. Kamu tahu apa yang terbaik untuk anak kita!"
"Iya, sayang."
"Kamu tidak ingin membeli sesuatu?"
"Aku ingin makan siomay," jawab Astrid.
"Baiklah, kita akan ke sana. Aku juga sudah lapar," ucap Alpha.
Begitu sampai di warung siomay langganan, keduanya memesannya lalu mencari tempat duduk.
Tak lama kemudian 2 porsi siomay dan 2 botol air mineral tersaji dihadapan keduanya.
"Jangan pakai sambel!" Alpha mengingatkan istrinya yang hobi dengan makanan pedas.
"Tidak enak kalau tidak pakai sambel, Suamiku."
"Sedikit saja, tidak lebih dari setengah sendok teh!"
"Astaga, suamiku. Tidak terasa pedas jika hanya segitu," ujar Astrid.
"Kamu sayang 'kan dengan calon bayi kita?"
"Tentunya, sayang."
"Maka turuti perkataan ku!"
__ADS_1
"Iya, sayang!" Astrid pasrah dengan perintah suaminya.