Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 24 - Cerita Astrid Di Rumah Mertua


__ADS_3

Astrid pagi ini akan berangkat ke rumah mertuanya bersama suaminya. Ya, kebetulan adalah hari libur panjang nasional. Mereka memutuskan menghabiskan waktu di kota tersebut.


Perjalanan memakan waktu 3 jam sampai ke tujuan.


Setibanya di rumah, Astrid di sambut bak anak sendiri oleh ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu tak hentinya memeluk dan mengecup pipi menantunya.


"Ibu rindu sekali denganmu!" ucap Vivi.


"Aku juga rindu Ibu," kata Astrid.


"Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian, ayo kita makan siang bersama!" ajak Vivi.


"Ibu tidak ingin memeluk aku?" Alpha protes.


"Ya ampun, Ibu sampai lupa," Vivi menepuk jidatnya lalu memeluk putra semata wayangnya.


"Aku rindu sekali dengan Ibu," ucap Alpha.


Melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan putranya ke dalam rumah.


"Ayah!" sapa Alpha memeluk Ari.


"Apa kabar, Nak?" tanya pria paruh baya yang kini berusia 61 tahun.


"Aku dan Astrid sangat baik, Yah.


"Ibumu selalu menanyakan tentang kamu," ucap Ari.


"Maafkan aku, Yah. Kesibukan kami berdua membuat kalian selalu menunggu," ujar Alpha merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Nak. Kalian menyempatkan waktu menelepon, kami sudah sangat senang," ucap Ari.


"Iya, Yah."


"Jangan mengobrol saja, ayo makan!" Vivi menghentikan obrolan ayah dan anak itu.


Keempatnya duduk di meja makan, menikmati makan siang dengan lauk pauk dan sayur mayur kesukaan Alpha dan istrinya.


Sejak keduanya menikah 3 bulan lalu, mereka belum pernah datang berkunjung. Karena kesibukan masing-masing pasca pernikahan.


"Bagaimana kabar Tuan Muda dan istrinya?" tanya Vivi.


"Mereka sehat dan Tuan Putri juga sudah pandai berbicara," jawab Alpha.


"Pasti Tuan Putri sangat lucu sekali, di pernikahan kalian saja dia begitu sangat menggemaskan. Kapan kalian akan memiliki bayi?" tanya Vivi.


Astrid dan Alpha saling pandang, tak tahu mau menjawab apa.


"Bu, mereka baru saja menikah dan biarkan menikmati masa berdua. Jika memang waktunya pasti mereka akan memiliki bayi," ucap Ari.


Vivi pun paham lalu meminta maaf kepada menantunya.


"Tidak apa-apa, Bu. Itu wajar, karena Mama juga menanyakannya. Jika memang kami diberikan kesempatan, aku akan segera mengabari Ibu," janji Astrid.


Vivi mengiyakan.


"Kalian menginap, kan?" tanya Ari.


"Iya, Yah. Kami akan menginap dua malam di sini," jawab Alpha.


"Tuan Muda tidak marah kamu libur beberapa hari?" tanya Vivi.


"Tidak, Bu. Dia memberikan jatah libur aku selama empat hari," jawab Alpha.


"Oh," ucap Ari dan Vivi bersamaan.


"Alpha, nanti temani Ayah ke kolam!"


"Iya, Yah."


Selesai makan siang, Astrid membantu Vivi membereskan peralatan makan dan masak yang kotor.


Selepas berberes keduanya duduk menikmati buah mangga hasil tanaman di depan rumahnya di teras.


Astrid menikmati buah mangga yang manis dan asam. Ya, dia sangat menyukainya. Apalagi ketika ia dan suaminya belum menikah. Alpha selalu membawakan buah tersebut dari kediaman Harsya kadang dari rumah mertuanya.


"Nanti kalau kalian pulang, Ibu akan membawakannya untukmu," ucap Vivi.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu."


"Iya," ucap Vivi. "Oh, ya. Bagaimana kabar Intan dan Rissa?" lanjutnya bertanya.


"Mereka semua baik, Bu."


"Sudah lama tidak bertemu mereka," ujar Vivi.


"Mereka tak bisa bersamaan liburnya, Bu. Ada aturan ketat dari Harsya. Jadi, terpaksa bergantian mengambil cuti."


"Oh, begitu. Pantas saja kalian tidak pernah liburan bersama."


"Jikapun liburan bersama harus dengan keluarga Harsya. Ibu tahu 'kan bagaimana Tuan Muda menjaga dan mengawasi istri beserta anaknya."


"Iya, Ibu tahu. Bagaimana kisah Nona Muda yang punya orang tua kejam," ujar Vivi.


"Makanya itu, mereka bertiga tak boleh bersamaan jika menyangkut cuti kerja."


Ditengah obrolan keduanya, Vivi kedatangan


seorang tamu yang merupakan kakak iparnya.


"Rupanya ada tamu," ucap wanita paruh baya itu.


Astrid segera meraih tangan wanita itu dan mengecupnya tak lupa tersenyum.


"Istrinya Alpha, baru datang 'ya?" tanyanya.


"Iya, Tante." Jawab Astrid.


"Bawa apa kalian?" tanyanya lagi.


Astrid tampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu, ia lalu mengarahkan pandangannya kepada ibu mertuanya.


"Kakak ipar, masuklah dulu. Kita mengobrol di dalam," ucap Vivi.


"Aku hanya sebentar di sini, ingin menemui adikku. Di mana dia?"


"Ayah lagi di kolam, Tante." Astrid yang menjawab.


"Katakan padanya, kapan memberikan aku uang bulanan?"


"Kakak ipar, nanti jika Ari ada uang dia akan memberikannya," jelas Vivi.


"Jangan lama-lama, aku mau membayar tagihan listrik dan air. Apalagi cucuku ingin minum susu dan jajan," ujarnya.


"Memangnya kemana orang tuanya, Tante?" tanya Astrid.


"Ibunya aku usir dari rumah, karena tidak memiliki penghasilan," jawabnya.


"Astaga, kejam sekali dia!" Astrid membatin.


"Nanti akan aku sampaikan pada Ari, Kak!" ucap Vivi.


"Ya sudah kalau begitu," ujarnya.


"Iya, Kak."


"Alpha 'kan telah lama menikah, apa istrinya sudah hamil?" tanyanya.


"Doakan saja, Kakak ipar. Semoga Astrid segera hamil," jawab Vivi.


"Cepatan hamilnya, nanti ditinggal Alpha. Jangan seperti ibu mertuamu ini, empat tahun menikah baru hamil. Kalau tidak mengandung, ayah mertuamu sudah disuruh menikah lagi!" ungkapnya.


"Saya yakin, jika Alpha tidak akan meninggalkan saya," ucap Astrid yang tak suka dengan perkataan kakak ipar dari ibu mertuanya.


"Jangan terlalu percaya diri. Alpha itu seorang pria, pasti melihat wanita yang cantik dan sempurna akan tergoda. Apalagi dia menginginkan anak juga," ujarnya.


"Kakak ipar, menantuku baru saja datang. Tolong, jangan memojokkannya," ucap Vivi.


"Siapa yang memojokkannya? Aku bicara fakta, Vi."


"Iya, Kak. Lebih baik Kakak ipar sekarang pulang, nanti Dennis menangis mencari," ujar Vivi.


"Ya, aku harus pulang. Jangan lupa kirim uangnya sekarang juga!"


"Iya, Kak."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu pun berlalu.


"Bu, kenapa mulut Tante seperti itu?" tanya Astrid kesal.


"Dari dulu dia seperti itu," jawab Vivi.


"Apa dia masih memiliki suami?"


"Tidak, dia ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain ketika putra keduanya lahir."


"Kenapa suaminya selingkuh?"


"Karena dia tak memiliki pekerjaan, padahal kamu tahu 'kan mengurus anak-anak juga sebuah pekerjaan. Memang dasar suaminya yang memang berkhianat."


"Makanya, dia mengusir menantunya?"


"Salah satunya begitu."


"Jadi, selama ini yang membiayai kehidupannya adalah ayah. Bagaimana dengan kedua anaknya? Apa mereka tidak membantunya?"


"Anak keduanya meninggal ketika berusia satu bulan dan anak pertamanya ayahnya Dennis bekerja di luar pulau. Dia mengirimkan uang tiga bulan sekali itu pun hanya cukup seminggu."


"Sungguh miris, ya. Harusnya dia tak memperlakukan orang sama seperti yang dialaminya," ucap Astrid.


"Ya, sebenarnya dia harus introspeksi dan tak menjadikan apa yang terjadi padanya harus dirasakan orang lain juga."


"Tingkat cemburu dan iri hati sangat mendarah daging, Bu."


"Semoga kita tidak memiliki sifat seperti itu," harap Vivi.


"Iya, Bu."


_


Malam harinya menjelang tidur, di atas ranjang...


Astrid dan suaminya kini berada di kamar yang merupakan milik Alpha ketika belum menikah.


"Sayang, tadi aku bertemu dengan kakak iparnya ibu kamu."


"Di mana?"


"Tadi dia datang ke sini dan meminta uang kepada ibu," jawab Astrid.


"Oh, Tante Wita memang sering meminta uang pada ayah."


"Tapi, ibu bilang belum memiliki uang."


"Ayah memang telah berjanji akan membantu Tante Wita."


"Tapi, sikapnya itu aku tak suka. Seharusnya dia sabar, bukan malah menyindir-nyindir ibu," ujar Astrid.


"Ibu tidak menangis, kan?" tanya Alpha.


"Tidak, cuma aku yang kesal."


"Mulut Tante Wita memang begitu, mereka memakluminya," ujar Alpha.


"Kalau jadi aku, sudah kuberi pelajaran," ucap Astrid.


Alpha tertawa kecil mendengarnya.


"Aku serius, sayang. Apalagi dia menyinggung aku belum hamil," kesalnya.


"Sayang, jangan dengarin ucapan orang lain. Nanti kamu akan stress memikirkannya," ujar Alpha.


"Tapi, kamu tidak akan meninggalkan aku 'kan?"


Alpha menarik bahu istrinya dan memeluknya, "Aku menikahimu bukan untuk meninggalkanmu. Aku mencintaimu, jadi jangan berpikir ku akan pergi menjauh."


"Iya, sayang. Aku hanya takut saja!"


Alpha mengecup ujung kepala istrinya, "Aku janji, kita akan selalu bersama."


Astrid mendongakkan wajahnya lalu tersenyum, "Aku mencintaimu, suamiku."


"Aku juga!"

__ADS_1


Keduanya pun saling berciuman.


__ADS_2