
Darrell memasuki kamar, semua interior ruang sesuai dengan hobinya dan warna kesukaannya.
Darrell penyuka sepak bola, dia juga penggemar salah satu pemain dari benua Eropa dan warna kesukaannya adalah biru.
Rissa memang benar-benar sangat perhatian pada dirinya meskipun dia sebisa mungkin menjauh dan membenci adiknya itu.
Darrel membuka lemari tampak beberapa barang tersusun rapi.
Darrell memegang sepatu olahraga dan di bawahnya ada secarik kertas.
Darrel pun membacanya, "Selamat ulang tahun, Kak. Ini gaji pertamaku sebagai dokter, aku membelikan sepatu ini karena kamu begitu menyukainya. Aku berharap kita bertemu, aku menyayangimu."
Darrell mengalihkan matanya kepada sebuah kaos, ia kembali membaca, "Kakak, di ulang tahun kamu aku hanya bisa membeli kaos ini. Aku tidak memiliki uang karena masih sekolah. Kalau aku sudah bekerja, ku akan memberikan kado yang besar."
Darrell memperhatikan ada 10 barang yang ada di lemari berserta surat.
Darrell terduduk di pinggir ranjang menatap lemari, kepalanya tertunduk dan menangis.
"Maafkan aku, Rissa!" lirihnya.
Karena kelelahan menangis dan tubuh juga letih akhirnya Darrell tertidur.
_
Dua jam kemudian, Darrell terbangun, tubuhnya berkeringat. Napasnya memburu.
Darrell segera turun, ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri setelah itu menghubungi Madya.
"Halo, Bibi!"
"Halo, Darrell!"
"Bibi, bagaimana kondisi Rissa?"
"Bibi lagi di rumah, di rumah sakit ada Biom dan Elia."
"Bibi, aku ingin ke rumah sakit. Dengan siapa aku ke sana?"
"Darrell, besok saja kamu ke rumah sakit. Hari ini beristirahatlah."
"Tidak, Bi. Aku benar-benar khawatir dengan kondisi Rissa," ucap Darrell.
"Bibi, akan mengirimkan mobil dan sopir ke sana!" ujar Madya. "Jangan lupa makan, kamu harus menjaga kesehatanmu. Karena jika Rissa sadar kamu sakit, pasti dia akan marah!" lanjutnya menasehati.
"Iya, Bi."
Sejam setelah menelepon dan mengisi perutnya, Darrell pergi ke rumah sakit. Di perjalanan ia teringat dengan mimpinya.
*
"Rissa, kamu mau ke mana?"
"Aku mau pergi dengan papa, Kak." Rissa menjawab dengan senyuman.
"Pergi ke mana?"
"Jauh, Kak."
"Jangan tinggalkan Kakak, aku mohon!"
Rissa tak menjawab, ia melangkah mendekati pria paruh baya itu tanpa menoleh ke belakang.
"Rissa, jangan pergi!" teriak Darrel memanggil.
Rissa terus berjalan.
Darrell mengejar dan memegang lengan adiknya, "Jangan pergi!" ucapnya lantang.
Rissa hanya tersenyum.
*
Darrell tiba di rumah sakit, beberapa tim medis berlarian ke kamar. Semua orang yang menunggu Rissa tampak panik.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Darrell kepada Biom yang matanya berkaca-kaca.
"Kondisi Rissa semakin drop, Kak."
Seketika tubuh Darrell terhuyung. Ia teringat dengan mimpinya.
"Rissa harus selamat. Aku tidak mau kehilangan dia!" Darrell membatin.
Setengah jam kemudian, dokter keluar dengan senyuman.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok?" tanya Biom.
"Dokter Rissa sudah melewati masa kritisnya."
"Syukurlah!" ucap Biom.
"Mohon untuk bergantian jika ingin menjenguknya," ujar Dokter.
"Iya, Dokter. Terima kasih," ucap Biom.
"Kak Darrell ingin masuk?" tanya Biom pada calon kakak iparnya
Darrell mengangguk.
***
Seminggu sudah, Rissa terbaring namun belum ada perubahan. Darrell selalu bergantian dengan Biom menjaga dan menemaninya.
Sebelum ke rumah sakit, Darrell menyempatkan waktu untuk pergi ke pemakaman kedua orang tuanya.
Di depan pusara itu Darrell mengungkapkan perasaannya, apalagi penyesalannya karena telah menyia-nyiakan adiknya.
Hampir sejam berada di pemakaman, ponselnya berdering tertera nama Nayna.
"Halo!"
"Halo, Tuan. Nona Rissa telah sadar!"
"Aku akan ke sana!" Darrell menutup ponselnya.
Tak sampai 15 menit, Darrell tiba di rumah sakit. Berlari-lari kecil, menuju ruang perawatan adiknya.
Darrell memasuki kamar Rissa, tampak Biom, Madya, Elia dan Harsya.
"Ka...kak!" Rissa berkata dengan terbata dan pelan.
Darrell tak dapat menahan air matanya, ia mendekati Rissa dan memeluknya. "Maafin Kakak!"
Tangisan air mata pun pecah di ruang itu.
Madya dan Elia menangis terisak melihat pemandangan di depannya.
Harsya dan Biom menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Kakak minta maaf!" Darrell menangkup wajah Rissa.
"Kakak akan melakukan apapun agar kamu bahagia," ujar Darrell.
Rissa tersenyum meskipun wajahnya pucat.
"Kakak janji akan kembali ke sana setelah kamu menikah," ucap Darrell.
"Terima kasih, Kak."
-
Rissa belum diizinkan pulang karena masih harus menjalani perawatan.
Biom begitu sangat bahagia melihat perubahan Rissa yang kini menjadi ceria.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Rissa.
"Tuan Muda memberikan izin padaku untuk menemani kamu sampai sehat," jawab Biom.
"Sampaikan terima kasih ku padanya."
"Nanti aku akan sampaikan. Selain aku, Kak Darrel, Tuan Muda salah satu yang sangat begitu khawatir denganmu," ujar Biom.
"Terima kasih kalian sudah memperhatikan aku," ucap Rissa.
"Kami semua sangat menyayangi kamu," Biom menyuapi bubur ke mulut kekasihnya.
"Di mana Kak Darrell?"
"Tadi dia sudah ke sini tapi hanya sebentar karena kamu sedang tidur," jawab Biom.
"Jadi, sekarang dia di mana?"
"Aku tidak tahu dia dan Nayna ke mana," jawab Biom.
"Nayna?"
"Ya, seperti mereka sangat akrab. Apalagi Nayna berhasil membujuknya," jelas Biom.
__ADS_1
"Aku senang, Kak Darrell di sini bersamaku."
"Kapan kamu mau aku lamar?" tanya Biom.
"Apa kamu masih mau denganku?" tanya Rissa.
"Kenapa berbicara begitu?"
"Aku harus menjalani beberapa pengobatan dan itu memakan waktu yang cukup lama. Apa kamu akan sabar mengurusku?"
Biom menggenggam tangan kekasihnya, "Aku sangat mencintaimu, Rissa. Ku mohon jangan pernah pertanyakan ketulusan hatiku padamu."
Rissa tersenyum senang.
"Jangan berpikir macam-macam, Kak Darrell juga telah di sini. Fokuslah pada kesembuhan dan kesehatanmu!" Mengusap lembut pipi Rissa dengan jemari tangannya.
"Iya."
Tak lama kemudian, Darrell datang bersama Nayna.
"Selamat sore, Nona!" sapa Nayna.
"Sore, Nayna."
"Saya senang Nona Rissa sadar dan bisa tersenyum," ucap Nayna.
"Terima kasih sudah membawa Kak Darrell pulang," ujar Nayna.
"Tuan Darrell sebenarnya pulang kemari bukan keberhasilan saya, tetapi batu keras dihatinya hancur begitu saja," singgung Nayna.
Darrell mengalihkan pandangannya kepada Nayna dan menatap tajam wanita itu.
"Tapi, semua berkat usaha kamu," ucap Rissa.
"Rissa, kamu mau makan apa?" tanya Darrell berbasa-basi.
"Aku sudah kenyang, Kak. Tadi, Biom sudah menyuapiku."
"Siapa tahu kamu mau makan lagi?" tanya Darrell.
"Kakak saja yang makan," jawab Rissa.
"Rissa, kamu jangan dengarkan ucapan dia tadi, ya!" ucap Darrell.
"Baiklah, Kak!" Rissa tersenyum.
"Huh, syukurlah. Si keras kepala akhirnya sadar," sindir Nayna.
"Kamu menyindirku?" tanya Darrell mengarahkan pandangannya kepada Nayna.
"Tidak," jawab Nayna. "Nona, saya permisi. Cepat sehat dan segera menikah," ucapnya. Kemudian bergegas keluar kamar.
"Dia selalu saja menyindirku," omel Darrell.
Rissa dan Biom hanya mengulum senyum.
"Entah kenapa dia bisa menjadi pengawal pribadi Bibi Madya?" tanya Darrell.
"Nayna anak buahnya Alpha, Kak. Dia menguasai olahraga beladiri silat dan karate," jawab Biom.
"Jika Kak Darrell berani macam-macam dengannya, kami tidak akan tanggung jawab," sahut Rissa.
"Lagian juga Kakak tidak tertarik padanya," ucap Darrell.
"Benarkah?" tanya Rissa.
"Iya, Kakak takkan tertarik pada wanita seperti dia yang sangat aneh," ujar Darrell.
"Banyak pria yang ingin melamar Nayna, Kak. Hanya dia menolaknya," jelas Biom.
"Tapi, kamu bukan salah satunya, kan?" tanya Rissa.
Biom tertawa kecil.
"Biom..." Rissa berkata lirih.
"Kamu saja sulit menaklukkan hatiku," ucap Biom.
"Astaga, aku lupa jika calon suamiku ini sangat dingin," singgung Rissa tersenyum menatap wajah kekasihnya.
"Eheem.."
Suara deheman, Darrell membuat sepasang kekasih itu menoleh.
__ADS_1
"Jangan menunjukkan kemesraan kalian di hadapan ku!" protesnya.
"Iya, Kakakku!" ucap Rissa.