
Elia mengerjapkan matanya, ia mengedarkan pandangannya. Dalam hati bertanya, "Ini kamar siapa?"
Elia bangkit dan duduk, ia lalu menoleh ke samping. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Randy tanpa menggunakan baju.
Elia lalu memperhatikan dirinya, seketika dia pun berteriak.
Mendengar teriakkan Elia, Randy terbangun. "Kamu sudah bangun!"
Dengan menangis dan tangan kanannya memegang selimut menutupi tubuhnya. Elia memaki pria yang berada di sampingnya, "Brengsek, kurang ajar! Kamu jahat!"
Randy lantas duduk dan tersenyum.
Elia menampar pipi Randy dengan tangan kirinya.
Randy memegang pipinya tertawa menyeringai.
"Aku akan melaporkanmu!" geram Elia.
"Silahkan, kalau kamu ingin malu!" ucap Randy santai.
Elia terdiam, terbangun hanya menggunakan pakaian dalam. Pasti sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi.
"Foto tidurmu dengan selimut di kamarku mungkin itu cukup membuat keluarga Abraham Syahbana malu!"
Elia mengeraskan rahangnya.
"Menikahlah denganku, Elia!" pinta Randy.
"Aku tidak mau!" teriak Elia dengan menangis.
Randy menangkup wajah Elia, "Aku mencintaimu!"
Elia menepis tangan Randy dari wajahnya, "Pembohong!"
"Aku bukan pembohong, El. Aku serius!"
"Jika kamu mencintaiku bukan seperti ini caranya!" Elia berkata lantang.
"Aku bingung harus menggunakan cara apa untuk menaklukkan hatimu!"
"Kamu jahat, Ran!" Elia menangis sesenggukan.
"Elia, aku minta maaf. Aku akan tanggung jawab," Randy berkata lembut.
Elia semakin mengencangkan tangisannya.
Randy turun dari ranjang dan membiarkan Elia menangis sepuasnya.
-
Elia tiba di rumahnya pukul 12 malam. Beruntung, Madya sedang di luar kota jadi ia tak perlu mendapatkan berbagai pertanyaan.
Di dalam kamar miliknya, Elia menjatuhkan tubuhnya di bawah ranjang. Ia kembali menangis terisak, "Aku tidak mau menikah dengannya!" lirihnya.
Ditengah kesedihan yang dirasakannya, sebuah foto yang diucapkan Randy masuk ke ponselnya.
Disusul sebuah pesan di salah satu sosial media milik Elia. "Menikahlah denganku, maka foto ini takkan ku sebar."
Elia melemparkan tas miliknya ke sembarang dengan kasar, "Aku benci kamu, Randy!" teriaknya.
***
Keesokan harinya, Elia meminta izin bekerja dengan alasan sedang sakit. Pagi setelah sarapan, ia pergi menuju rumah kakak kandungnya.
"El, pagi-pagi sekali kamu ke sini. Tidak bekerja?" tanya Anaya.
"Tidak, Kak. Aku lagi izin hari ini, di mana Kak Harsya?"
"Di balkon."
"Aku akan menemuinya di sana!"
Anaya mengiyakan.
Elia menaiki tangga menuju balkon. Sebelumnya ia telah menelepon kakak laki-lakinya itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
"Kakak, aku ingin menikah dengan Randy," jawab Elia tanpa basa-basi.
"Apa!" Harsya tampak terkejut.
"Aku tidak peduli Kakak dan Ibu tak merestui hubungan kami. Tapi, aku tetap ingin menikah dengannya, Kak."
"Elia, apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Aku mencintainya, Kak. Aku berusaha melupakannya tapi tak bisa!" jawab Elia dengan mata berkaca-kaca. Jujur hatinya sangat menyayangi Randy namun kejadian malam itu membuatnya membencinya.
"Kakak tidak setuju, dia itu...."
"Tante Cindy adalah pelakunya dan Randy tidak terlibat. Sepertinya kita salah menghakiminya!"
Harsya menarik napas.
"Nikahkan aku dengannya, Kak!" mohon Elia.
"Baiklah, Kakak akan bicarakan ini pada Ibu."
"Terima kasih, Kak!" Elia memeluk Harsya dengan menangis.
Harsya dapat merasakan jika adiknya sedang tidak baik-baik saja.
Elia melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak sedang di ancam, kan?"
"Tidak, Kak."
"Jika dia berani menyakitimu dan mengancam, Kakak tidak akan tinggal diam!"
"Iya, Kak."
-
Setelah dari kediaman Harsya, Elia pergi menemui Randy di sebuah taman yang sepi pengunjung karena hari kerja dan belum terlalu siang.
"Aku sudah membujuk kakakku agar mengizinkanku menikah denganmu," Elia berkata tanpa menatap.
"Terima kasih!" Randy meraih tangan Elia dan mengecupnya.
"Kapan kita akan menikah?"
"Ibuku belum memberikan izin, dia sedang di luar kota. Kemungkinan nanti sore dia akan tiba."
"Jika memang ibumu telah mengizinkan kita maka kabariku secepatnya. Aku sudah tidak sabar menikahimu. Sebelum calon janin di perutmu membesar," ujar Randy.
Mendengar itu, Elia lalu menatap pria yang ada disampingnya. "Apa maksudmu?"
"Masa kamu tidak mengerti dengan ucapanku?" Randy menaikkan kedua alisnya.
Elia mengeraskan rahangnya, "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau melahirkan anakmu!"
Randy tertawa mengejek.
"Aku memang mencintaimu, tapi cara licikmu ini tak aku sukai. Aku benar-benar membencimu!"
"Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri sesuai apa yang kamu ucapkan beberapa waktu lalu. Jangan membenciku, El."
Elia tak dapat menahan amarahnya memilih untuk pergi.
Dan Randy tertawa puas akhirnya apa yang menjadi keinginannya akan segera terwujud.
-
-
Malam harinya di kediaman Madya...
Harsya telah berbicara kepada ibunya tentang keinginan adik kandungnya.
"Ibu tidak setuju!" Wanita paruh baya itu berkata tegas.
"Bu, aku sangat mencintai Randy. Dia bukan putra kandungnya Tante Cindy, aku rasa dia tak mungkin memiliki hati yang busuk seperti tantenya itu," tutur Elia.
"Ibu ragu padanya, El."
__ADS_1
"Bu, yakinlah. Aku bisa menjaga diri, jika dia menyakitiku aku akan segera memberitahu kalian," ucap Elia.
"Bu, berikan kesempatan untuk Randy," ujar Harsya.
"Baiklah, minggu depan kalian menikah di sini sekaligus lamaran!"
"Kita tidak mengadakan resepsi, Bu?" tanya Harsya.
"Setelah acara janji pernikahan, minggu selanjutnya resepsi kita laksanakan," jawab Madya.
Setelah obrolan serius dengan kakak dan ibunya, Elia lalu menghubungi Randy. Ia menjelaskan semua keinginan ibunya.
Randy pun setuju dan sebelumnya ia meminta Elia untuk ikut dirinya.
Terpaksa, Elia mengikuti kemauan pria itu.
****
Seminggu berlalu...
Beberapa perwakilan dari keluarga Randy datang ke rumah keluarga Abraham Syahbana membawa seserahan.
Randy dan Elia akan mengadakan lamaran sekaligus janji pernikahan.
Elia tampak diam meskipun merupakan hari bahagianya.
"El, Kakak tahu kamu pasti tegang dan gugup menghadapi ini. Tapi, tersenyumlah. Ini hari bahagiamu, dia adalah pria pilihanmu," ujar Anaya.
"Aku tidak menyangka saja jika akan segera menikah," Elia berkata berbohong.
Anaya tersenyum. "Jodoh kita takkan pernah tahu. Kakak yakin kalau Randy itu pria yang tulus."
"Kamu salah, Kak. Dia tidak seperti itu, dia sangat jahat dan ku membencinya!" Elia membatin.
"Senyumlah, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan suamimu," ucap Anaya.
Elia mengangguk.
Selepas Randy mengucapkan janji pernikahan, Elia di pertemukan dengan suaminya itu.
Dituntun Anaya dan Rissa, Elia bak seorang ratu yang begitu cantik dan anggun.
Randy tak hentinya menatap istrinya, "Cantik!" gumamnya.
Tanpa senyuman, Elia mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Randy.
Keduanya duduk bersama di meja tempat Randy mengucapkan janji.
Harsya dapat melihat jelas dari mata adiknya jika menyimpan sesuatu.
Mimik wajah yang ditampilkan Elia berbeda ketika ia melihat Intan, Rissa dan Astrid menikah begitu sumringah serta gembira.
Elia mengecup tangan suaminya dengan wajah datar.
Randy memeluk istrinya dan berbisik di telinga, "Jangan membuat curiga!"
Elia lalu tersenyum walau terpaksa.
Selesai mengurusi berkas pernikahan, para keluarga inti yang hadir mengucapkan selamat.
Elia hanya tersenyum tipis berbeda dengan Randy yang begitu bahagia.
Empat jam berlalu, Elia diboyong ke rumah suaminya. Tangis haru mewarnai perpisahan ibu dan putrinya itu.
Meskipun minggu depan resepsi pernikahan, Elia berulang kali meminta maaf kepada Madya.
"Kita akan bertemu lagi, Nak!"
"Aku benar-benar akan merindukan Ibu!"
"Ibu juga, Nak. Jaga dirimu di sana!"
"Iya, Bu."
"Aku menyayangimu, Bu!" Elia menghapus air matanya.
Elia membalikkan tubuhnya menuju mobil sang suami, sesekali ia menoleh memandang wajah ibunya.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka dan Elia masuk dalam.
Randy beserta seluruh keluarganya dan sang istri meninggalkan kediaman keluarga Abraham.