Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 33 - S2- Bertemu Dengan Pria Misterius


__ADS_3

Tiga tahun berlalu......


Rissa kini sedang mengandung anak kedua, sementara Astrid dan Intan lagi menikmati masa-masa indah dengan anak laki-lakinya yang lahir di bulan berbeda namun tahun sama.


Astrid melahirkan di awal bulan November dan Intan lahir di awal bulan sebelumnya dan hanya berjarak seminggu dengan kelahiran putra keduanya Anaya.


Keempat wanita itu begitu menikmati hidup sebagai istri dan ibu rumah tangga.


Elia yang kini berusia 24 tahun, menggelar acara hari kelahirannya. Karena ia begitu dekat dengan Anaya. Acara khusus dilaksanakan di rumah Harsya.


Tak ada undangan buat teman-teman, sahabatnya maupun saudara. Elia hanya berkumpul dengan para ibu-ibu muda dan anak-anaknya.


"Semoga segera menikah!" doa dari Astrid.


"Semoga dapat jodoh yang baik hati dan menyayangimu!" ucap Intan.


"Makin cantik, sukses dan kaya raya!" doa Rissa.


"Jadi ipar yang menyayangi aku!" doa dari Anaya. "Dan segera menikah, biar Ibu tidak khawatir!" lanjutnya.


"Terima kasih, Kakak-kakakku. Tapi, kenapa doa kalian selalu jodoh?" tanya Elia.


"Kamu sudah dewasa, El." Jelas Anaya.


"Aku belum mau menikah, ku ingin mengejar karir sebagai desainer," ujar Elia.


"Iya, kami mendukung karir kamu," ucap Rissa. "Jika ada pria baik hati dan bertanggung jawab melamarmu. Maka pilihlah dia!" lanjutnya.


"Iya, Kak."


"Kalau begitu, ayo kita makan!" ajak Elia.


Mereka pun menikmati makanan bersama, anak-anak bermain di taman di awasi para pengawal dan pelayan.


Para istri sibuk menghidangkan makanan buat para suami. Elia hanya melihat keseruan kakak-kakaknya yang perempuan melayani pasangan masing-masing.


Jam 5 sore, Elia akhirnya pamitan. Rissa dan Intan lebih dahulu pulang.


"Kamu pulang sendirian, El?" tanya Harsya.


"Iya, Kak."


"Kamu yakin menyetir sendiri?" tanya Harsya lagi.


"Kakak, aku sudah dewasa. Jangan mengkhawatirkanku."


"Ya sudah, pulanglah. Jangan mengebut!" nasihat Harsya.


"Iya, Kak."


Elia pun berlalu.


Alpha dan istrinya juga berpamitan.


Jalan yang dilalui Elia tak sama seperti saat ia datang ke rumah utamanya Harsya alasannya karena jalanan itu sangat padat di waktu sore. Jadi, ia memilih yang sepi pengendara meskipun jarak yang ditempuhnya jauh.


Jika melewati jalan pertama ia hanya memerlukan waktu 30 menit dari tempat tinggalnya itupun kalau tidak macet yang bisa memakan waktu 1 jam.


Sedangkan jalanan kedua, ia harus menempuh waktu 40 menit dengan jalanan rusak dan sepi pengendara.


Elia mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati karena waktu juga belum gelap, ia tak merasa takut.


Entah kenapa tiba-tiba ban mobilnya kempes, ia terpaksa menghentikan kendaraannya. Elia lalu turun mengedarkan pandangannya, hanya tanah kosong ditumbuhi ilalang. Rumah penduduk tak kelihatan sama sekali.


Elia mengambil ponsel dari tasnya dan mencoba menghubungi kakaknya, namun sinyal tak jelas dan tiba-tiba ponselnya kehabisan baterai.


"Duh, bagaimana ini?" Elia tampak bingung.

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti, seorang pemuda turun dari kendaraan tersebut dan mendekati Elia.


Refleks, Elia mundur beberapa langkah.


"Kenapa dengan mobilmu?"


"Bannya kempes, sepertinya bengkel sangat jauh."


"Apa aku boleh membantumu?" pria itu menawarkan diri.


"Apa aku boleh meminjam ponselmu?" tanya Elia.


"Boleh."


Elia menggunakan ponsel itu lalu menghubungi salah satu pengawal Harsya yang ada di rumah utama.


Selesai menelepon, ia mengembalikan ponsel pria itu, "Terima kasih!"


"Ya."


Elia hendak masuk ke mobilnya namun pria itu tak kunjung pergi.


"Kenapa masih di sini?"


"Aku akan menunggumu sampai bantuan datang," jawab pria dengan mulut di tutupi masker.


Elia pun akhirnya tak jadi masuk ke mobilnya, ia berdiri dan bersandar di kendaraan di samping pria itu.


Tak ada percakapan diantara keduanya hingga Elia membukanya, "Apa kamu tinggal sekitar sini?"


"Tidak."


"Sering lewat jalan ini?"


"Ya."


Pria itu tak menyambut uluran tangannya, Elia bergegas menariknya.


Elia memandangi wajah pria itu dari samping, ia terus berusaha mengingat sesuatu.


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Elia.


"Belum," jawabnya tanpa menatap.


"Kenapa aku seperti mengenal suaramu?"


"Kamu pasti salah orang."


"Coba buka maskermu!"


Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Aneh!" gumamnya.


Tak lama kemudian, para pengawal Harsya datang.


"Sepertinya bantuanmu telah datang!" pria itu bergegas pergi.


Elia lalu di arahkan ke mobil pengawal dan membawanya pulang.


Dua orang pengawal mengurus mobil Elia yang bermasalah.


****


Esok paginya, Elia kembali mendapatkan kiriman paket. Ya, sudah 7 tahun ia menerima bingkisan dari seseorang yang tidak dikenalnya.


Namun, ia tak pernah memakainya dan hanya disimpannya di dalam lemari.

__ADS_1


Sebuah buket mawar dan secarik kertas dengan tulisan, 'Lain kali jangan mengendarai mobil seorang diri di jalanan sepi.'


"Jadi, dia tahu kalau ban mobil ku kempes. Apa sebenarnya pria misterius itu...."


"Dari siapa, El?"


"Biasa, Bu."


"Kamu tidak cari tahu siapa dia sebenarnya? Kenapa Ibu yang jadi was-was karena kiriman paket itu?"


"Aku sudah tahu," Elia menebak.


"Siapa?"


"Aku pernah bertemu dengannya, tapi ia menolak memberitahunya."


"Apa sebaiknya kamu minta bantuan kakakmu mengungkapkannya?"


"Tidak usah, Bu. Aku takut dia akan melakukan hal nekat. Karena kita belum tahu motif pria misterius itu sebenarnya."


"Elia, kamu itu perempuan. Jangan gegabah mengambil keputusan, ingat kamu bisa saja terluka. Bagaimana jika pria itu jahat?"


"Ibu, aku bisa menjaga diri."


"Baiklah, Ibu percaya kalau kamu ingin membuktikannya sendiri."


"Iya, Bu. Aku berangkat kerja, ya!" pamitnya.


Di dalam mobil, perjalanan ke sebuah gedung kantor Elia bergumam, "Jika aku bertemu dengannya, aku akan memaksanya membuka topengnya."


Elia tiba di kantornya, meskipun keluarganya pengusaha besar namun ia memilih mencari pengalaman di perusahaan orang lain.


Begitu sampai, Elia menyapa rekan kerjanya. Ya, Elia sudah 2 bulan bekerja di kantor tersebut.


"El, ada coklat batang untukmu!" ucap seorang wanita rekan kerjanya.


Elia melangkah ke meja kerjanya dan melihat 2 batang coklat yang terletak dengan di ikat pita merah.


"Aku jadi penasaran dengannya?" batinnya.


-


-


Sore harinya, Elia pulang bekerja. Mengendarai mobilnya seorang diri menuju rumahnya.


Di pertengahan jalan ia melihat mobil pria yang sempat menolongnya berhenti di sebuah apotek.


Elia lantas meminggirkan mobilnya di seberang apotek. Membuka safety belt, ia bergegas turun dan menyeberangi jalan.


"Hai!" sapa Elia.


Pria itu mendengar suara Elia lantas menoleh.


Elia melemparkan senyumnya.


Pria itu bergegas menuju ke mobilnya, Elia mengejarnya dan menarik lengannya, "Tunggu!"


Karena terkejut, pria itu menyentakkan tangannya sehingga membuat Elia terhuyung dan jatuh.


"Auww!" Elia memekik kesakitan.


"Tuan, kenapa kasar sekali dengan kekasihnya?" tanya seorang ibu muda yang melintas.


Pria itu baru sadar jika ia telah membuat Elia jatuh dengan cepat ia membantu Elia berdiri.


Ibu muda itu pun berlalu.

__ADS_1


"Kenapa menghindar? Apa yang kamu sembunyikan?" Elia menatap mata pria itu.


__ADS_2