Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 7 - Alpha Lamaran dan Rama Menikah


__ADS_3

Hari ini acara lamaran Alpha dan Astrid. Hanya Anaya, mertuanya dan adik iparnya serta Rissa yang datang ke acara tersebut mewakili Harsya.


Para tamu telah lebih dahulu hadir di acara tersebut sementara bakal calon pengantin pria belum terlihat wujudnya. Padahal, Alpha sejam lalu telah meminta izin pada Anaya.


Astrid, kedua orang tuanya dan calon mertuanya tampak cemas. Apalagi ponsel Alpha tak aktif.


Alpha mengatakan kepada kedua orang tuanya jika ia akan berangkat seorang diri dari rumah utama Tuan Muda.


Kedua orang tuanya Alpha pun setuju.


Sudah 30 menit, acara di tunda namun Alpha belum juga datang.


Astrid berkali-kali memperhatikan jalanan depan rumahnya, ia berharap bakal calon suaminya itu segera datang.


"Apa dia bisa dihubungi?" tanya ibunya Alpha.


"Ponselnya masih belum aktif, Bi."


"Ya ampun, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini," gumam wanita paruh baya itu.


"Bibi, semoga Alpha baik-baik saja."


Tepat sejam para tamu menunggu, akhirnya Alpha datang dengan wajah bagian kening sebelah kiri di tempel plester luka.


Astrid berdirinya dari tempat duduknya memperhatikan kekasihnya.


Semua orang yang hadir akhirnya bernapas lega.


Sang ibu pun memeluk putranya, "Kenapa dengan wajahmu, Nak?" melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajahnya.


"Tadi ada mobil yang menyenggolku, Bu. Aku hanya luka lecet saja, Ibu jangan khawatir," jelas Alpha. "Maaf membuat semuanya menunggu, saya harus membeli dan mengganti pakaian karena robek saat jatuh," lanjutnya.


Setelah mendengar penjelasan Alpha, acara pun dimulai.


Anaya tersenyum melihat dua orang yang berada di depannya begitu bahagia.


Anaya lalu menoleh ke samping berkata pelan, "Semoga Kak Rissa nanti dimudahkan urusannya."


Rissa tersenyum mengiyakan.


Selesai acara para tamu menikmati jamuan yang dihidangkan pemilik rumah.


"Aku tadi benar-benar khawatir," ucap Astrid.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Kenapa ponselmu tidak aktif?"


"Ponsel ku rusak makanya tidak bisa menghubungimu," jawab Alpha.


"Apa masih ada bagian tubuhmu yang sakit?"


"Tidak, semua rasa sakitnya hilang ketika melihat senyuman di wajahmu," jawab Alpha menggoda.


"Alpha, kenapa kamu suka menggodaku?" pipi Astrid memerah menahan malu.


"Ya, karena aku suka saja kalau melihatmu tersenyum."


Anaya beserta rombongan berpamitan, ia mengungkapkan selamat kepada sepasang kekasih yang selangkah lagi menuju pernikahan.


"Terima kasih, Nona. Sudah menyempatkan waktunya," ucap Alpha.


"Sama-sama."


"Ana, terima kasih!" Astrid memeluk Anaya.


"Astrid, Alpha, selamat buat kalian. Semoga kedepannya berjalan lancar," doa dan harapan Madya.


"Terima kasih, Nyonya."


"Terima kasih, Tante."


"Kalau begitu kami pamit pulang, ya."


Sepasang kekasih itu menunduk serta tersenyum.


Anaya dan rombongannya meninggalkan tempat.


Sesampainya di rumah utama, Nayna yang menjadi pengganti Alpha. Membuka pintu mobil wanita itu.

__ADS_1


"Kamu boleh kembali ke sana?"


"Tidak, Nona. Saya diperintahkan Tuan Harsya di sini sampai Alpha tiba di rumah."


"Saya tidak apa-apa, lagian juga kami akan di kamar. Alpha mungkin dua jam lagi datang."


"Saya tetap di sini sesuai perintah Tuan Muda, Nona."


"Baiklah, jika itu memang mau kamu. Aku mau ke kamar," ucap Anaya.


"Iya, Nona."


****


Seminggu berlalu...


Pernikahan Rama pun dilaksanakan, Biom dan Alpha menemani sahabatnya itu ke kampung orang tuanya Intan.


Mereka berangkat sehari sebelum acara berlangsung, karena perjalanan memakan waktu 17 jam dengan jalur darat dan laut.


Dan mereka menginap di sebuah penginapan yang tak jauh dari kediaman orang tuanya calon mempelai wanita.


Pagi ini Rama beserta rombongan telah hadir di kediaman keluarganya Intan.


Para tetangga juga telah datang untuk menyaksikan acara pernikahan yang menurut mereka paling mewah di kampungnya.


Tim rias pun di datangkan dari kota. Intan tampak begitu anggun dan cantik ketika dipertemukan dengan Rama selesai mengucapkan janji pernikahan.


"Rama sudah menikah dan kau sebentar lagi akan menyusul sementara aku sama sekali mendapatkan restu dari kakaknya Rissa," ungkap Biom sedih.


"Aku yakin, kalau kakaknya Nona Rissa akan datang dan memberikan restu pada kalian. Apa lagi Nyonya Besar telah berjanji," ucap Alpha.


"Ya, semoga saja Nyonya Besar berhasil membawa kakaknya Rissa ke tanah air."


"Kau harus sabar, karena cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan," ucap Alpha.


"Kata-kata dari mulutmu kenapa begitu indah?" sindir Biom seraya tersenyum kecil.


"Aku banyak nonton drama romantis sejak bersama Astrid," ucap Alpha.


Biom tertawa kecil.


"Intan, teman suamimu itu sangat tampan, ya!"


"Apa mereka sudah memiliki kekasih?"


"Mereka akan segera menikah," jawab Intan.


"Gagal dong kami mendekati mereka."


Intan hanya tertawa.


"Apa para pria di kota semuanya tampan?"


"Aku tidak melihatnya, karena bagiku suamiku yang paling tampan," ucap Intan penuh rasa bangga.


"Carikan buat aku satu, ya!" pinta salah satu sepupunya.


"Aku tidak memiliki teman pria, jika pun ada pasti suamiku akan melarang kami terlalu dekat," jelas Intan.


"Boleh aku ikut kamu ke kota?"


"Kamu mau tinggal di mana? Selama ini aja aku menumpang hidup di rumah salah satu temanku, kebetulan rumahnya sangat besar dan suaminya dia itu atasannya suamiku," ungkap Intan.


"Oh, begitu. Makanya kalian saling kenal dan semakin dekat," ucap yang lainnya.


"Bisa dikatakan begitu," ujar Intan.


"Jika ada pekerjaan di kota, jangan lupa beritahu aku, ya."


"Iya, tapi aku tidak memberikan tumpangan. Kamu harus menyewa rumah," ujar Intan.


"Baiklah, itu juga tidak masalah."


Sore harinya, orang tuanya Rama dan kedua rekan kerjanya serta beberapa keluarganya yang turut hadir kini kembali ke penginapan untuk beristirahat.


Rama dan Intan masih harus duduk dan berdiri di pelaminan karena banyak tamu yang datang dan memberikan selamat.


"Sampai jam berapa kita berdiri di sini?" tanya Rama pelan.

__ADS_1


"Biasanya acara akan selesai jam sebelas, itu paling cepat," jawab Intan.


"Apa semalam itu?"


"Ya, malah kadang hingga jam satu pagi."


"Bisakah kita percepat acaranya? Aku sangat lelah," ungkap Rama.


"Kak Rama mau tidur?"


"Tidur bersamamu," jawab Rama menggoda.


"Sabar, suamiku. Masih banyak tamu, jadi tidak mungkin kamu bisa mengganggu aku," ucap Intan dengan nada menyeringai.


"Kita akan pergi ke penginapan malam ini juga," bisik Rama.


"Penginapan yang paling dekat dari sini telah penuh rombongan dari keluargamu."


"Kalau begitu, besok pagi kita harus pulang ke kota!"


"Kenapa begitu?" Intan mengernyitkan dahinya.


"Karena aku tidak sabar ingin bergelut denganmu," jawab Rama membuat Intan tertawa menutup mulut.


Menjelang malam acara pun telah selesai, pada keluarga pun sudah berpulangan sebagian masih menginap di rumahnya neneknya Intan.


Rama dan istrinya kini berada di atas ranjang.


"Apa mengobrol begini, mereka akan mendengar pembicaraan kita?" tanya Rama pelan.


"Iya, Suamiku. Ini hanya dibatasi dinding tipis," jawab Intan.


Rama menghela napas.


"Memangnya kenapa?" tanya Intan.


"Nanti saja urusan kita di sana."


Intan mendekati wajahnya di dada suaminya, jemarinya menyusuri di balik piyama tidur Rama.


"Ini akan sangat sakit, jangan berteriak!" bisiknya.


Intan mengangguk paham.


Dan Rama pun akhirnya dapat memenuhi kebutuhannya walaupun dengan hati-hati dan lembut.


Sementara itu, Alpha mencoba mencari sinyal. Ia keluar dari kamar yang ditempatinya. Ya, dia ingin menghubungi Astrid karena sedari tadi wanita itu meneleponnya namun tak sempat di jawab.


Selama menghadiri acara resepsi Rama, ponsel Alpha mati jadi Astrid menghubunginya dirinya tak tahu.


Hampir 15 menit berada di luar kamar, akhirnya Alpha dapat menghubungi calon istrinya.


"Halo!"


"Kenapa baru menghubungi ku? Apa para wanita di sana sangat cantik dan menggodamu?" cecar Astrid dengan nada cemburu.


Alpha tertawa mendengar suara Astrid yang tampak sewot.


"Benarkan, kamu sibuk menggoda para wanita di sana?" tuding Astrid.


"Aku tidak memiliki waktu untuk menggoda mereka, jika pun ada lebih baik aku mengganggumu saja."


"Terus kenapa baru menghubungi aku?"


"Baterai ponselku habis, jadi baru di penginapan mengisinya. Jangan marah begitu, nanti cantikmu hilang."


"Alpa Arsana kenapa selalu merayuku?"


"Karena aku senang melihat pipimu memerah," jawab Alpha tertawa.


"Lalu kapan kamu akan kembali ke sini?"


"Besok pagi kami akan berangkat pulang," jawab Alpha.


"Jangan lupa selalu mengabariku," ucap Astrid.


"Siap calon istriku!"


"Selamat malam dan selamat tidur!"

__ADS_1


"Ya, selamat malam juga." Alpha lalu menutup ponselnya.


__ADS_2