
Pertanyaan sama dilontarkan Elia kepada pria yang ada dihadapannya namun tetap tak ada jawaban.
"Kenapa diam? Cepat jawab pertanyaan aku?" paksa Elia.
Pria itu memilih tak menggubrisnya, ia gegas membuka pintu mobil.
Elia yang begitu penasaran, memaksa membuka penutup mulutnya.
Secara cepat pria itu memegang tangan Elia dan menghentikan perbuatannya, "Aku tidak suka dengan caramu yang tak sopan ini!" menekankan kata-katanya.
"Aku hanya ingin tahu saja, siapa kamu sebenarnya?"
"Tidak ada yang perlu kamu tahu tentang aku!" pria itu mendorong Elia namun tak sampai jatuh.
Dengan cepat, ia membuka pintu mobil dan masuk. Kemudian berlalu meninggalkan Elia yang berdiri.
"Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya dia dengan caraku sendiri!" Elia membatin.
-
-
Malam harinya, Elia membuka kotak besar berisi hadiah dari pria misterius. Sejak sekolah hingga sekarang, tetap saja mendapatkan kiriman paket berupa barang-barang namun hanya tadi pagi ia menerima 2 buah coklat batang.
Elia satu persatu mengeluarkan isi kotak, ia memeriksa barang tersebut untuk mencari sebuah petunjuk.
Elia sangat begitu teliti memperhatikan barang-barang mulai dari jepitan rambut, kalung, cincin hingga buku romansa.
Sebuah memo kecil terselip di lembaran kertas buku, tertulis kalimat. 'Aku akan terus mengikutimu, hingga semuanya terbalas.'
"Maksudnya dia apa?" gumam Elia.
Ponsel Elia berdering tertera nama sahabatnya, Mitha.
Elia pun menjawabnya, "Halo!"
"El, kamu di mana?"
"Di rumah, ada apa?"
"Cepatlah ke kafe tempat kita biasa bertemu!"
"Memangnya ada apa?"
"Pria yang kamu taksir sejak sekolah, sepertinya baru pulang dari luar negeri," jawab Mitha.
"Maksud kamu Vallen?"
"Ya, cepatlah kemari!"
"Baiklah, aku akan ke sana!" Elia menutup teleponnya.
Memasukkan seluruh barang ke dalam kotak, melangkah ke lemari dan memilih pakaian. Tak lupa memberikan sedikit riasan wajah.
Elia meraih tas lalu melangkah pergi, tak lupa meminta izin pada ibunya.
Mengendarai mobil seorang diri, Elia menuju ke kafe yang memakan waktu 15 menit dari kediamannya.
"Sini duduk!" Mitha menarik tangan Elia dan memaksanya segera duduk.
"Di mana dia?" tanya Elia.
Mitha menunjuk ke arah pria berbaju hitam dengan lesung pipi di kanan kirinya.
"Sepertinya dia bersama kekasihnya, kamu tidak ingin menyapanya?" tanya Mitha.
"Buat apa?" Elia balik bertanya.
"Ini kesempatan bagus untukmu, tunjukkan pesonamu karena kamu sekarang berbeda. Aku yakin, Vallen pasti akan menyukaimu," jawab Mitha.
"Aku tidak mau," Elia menolak. "Bagaimana jika wanita itu kekasihnya? Aku tidak mau menjadi duri diantara mereka." Lanjutnya berucap.
"Hanya kekasih, El. Belum menjadi istri, bukankah kamu dari dulu menyukainya?"
"Aku memang menyukainya, tapi....."
"Dia kemari, El!"
"Hai, apa aku boleh duduk di sini?" tanya Vallen berbasa-basi.
"Silahkan!" Mitha tampak antusias meskipun Elia sudah menyikut lengannya.
__ADS_1
Elia hanya tersenyum tipis.
"Apa kabar, El?"
"Aku mau ke toilet, kalian mengobrol saja," Mitha berdiri lalu meninggalkan keduanya.
Elia tampak gugup dipandang pria yang ada dihadapannya.
"Kamu makin cantik saja," puji Vallen.
"Terima kasih," Elia tersenyum singkat.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
Elia menggelengkan kepalanya.
"Apa aku memiliki kesempatan untukmu?"
"Hah!"
Vallen tertawa kecil.
"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih?" Elia mengarahkan pandangannya kepada wanita yang tadi mengobrol dengan Vallen.
"Dia hanya temanku, kami pernah satu sekolah dasar," jawabnya.
"Oh."
"Kerja di mana?"
"Aku bekerja di perusahaan fashion."
"Ternyata kamu melanjutkan cita-citamu, ya."
"Ya, aku memang ingin menjadi seorang desainer," ujar Elia.
"Aku akan menetap kembali di sini."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kenapa? Apa kamu memiliki pekerjaan di sini?"
"Maksudnya?"
"Aku ke sini agar lebih dekat denganmu," jawab Vallen.
Elia yang mendengarnya tampak tersipu malu.
"Aku mulai menyukaimu ketika kita mengadakan kelulusan sekolah, tapi ku terpaksa pergi karena telah terlanjur memesan tiket pesawat dan memilih sekolah tinggi di sana."
Elia semakin berbunga.
"Aku selalu memantau dari media sosial milikmu dan ku dengar juga kamu belum menikah apalagi memiliki kekasih. Makanya ku rasa ini kesempatan bagus untukku."
"A..aku...."
"Tak perlu menjawabnya buru-buru," ujar Vallen.
Elia mengangguk ragu.
Mitha pun datang bergabung dengan keduanya dan selanjutnya mengobrol.
-
Jarum jam menunjukkan pukul 22 lewat 30 menit. Elia pun pulang, ia terlebih dahulu mengantarkan Mitha.
Elia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan sepi, sebuah mobil berwarna putih mengklaksonnya berulang kali sehingga dirinya kewalahan dan hilang kendali.
Bahkan mobil putih dengan sengaja menyenggol bagian belakang kendaraan roda empat yang dinaiki Elia.
Secara cepat, Elia mengerem.
Mobil putih kini berada di depannya Elia juga berhenti namun si pengemudi tak turun.
Elia berusaha tenang meskipun jantungnya berdetak kencang karena kejadian tadi.
Mobil putih tanpa plat nomor kendaraan berlalu dengan kecepatan tinggi.
Elia mengatur napasnya, ia menyalakan mesin kendaraannya dan melaju ke rumahnya.
__ADS_1
Begitu sampai, ia lalu turun dan melihat kondisi mobilnya. Tampak ringsek sedikit di bagian kanan belakang.
"Nona, apa yang terjadi?" tanya seorang penjaga keamana
"Tadi ada orang mengendarai mobil ugal-ugalan," jawab Elia.
"Tapi, Nona tidak apa-apa'kan?"
"Saya tidak apa-apa," Elia tersenyum lalu masuk ke rumahnya.
****
Pagi ini Elia terpaksa ke kantor diantar sopir menggunakan mobil ibunya karena mobil miliknya harus dibawa ke bengkel.
Sesampainya di kantor Elia mendapatkan kembali setangkai bunga mawar di meja kerjanya.
"Selamat pagi, semoga kamu baik-baik saja semalam," ucap Elia membaca tulisan kertas di tangkai bunga.
Elia mengepalkan tangannya.
Tanpa menunggu lama, ia melemparkan bunga ke tempat sampah. "Aku harus bisa menangkapmu!" Elia membatin.
Elia lalu menghubungi Mitha, ia menceritakan semuanya dari mulai sepulangnya mengantarkan wanita itu hingga pagi ini.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tidak memiliki foto mobil dan orangnya, jika saja ada ku bisa menyuruhmu untuk mengawasinya siapa tahu kamu mengenalnya," jawab Elia.
"Lain kali kamu harus foto dia sebelum menangkapnya," saran Mitha.
"Iya, nanti aku akan memotretnya!"
Menjelang makan siang, Elia memilih menikmati makanannya di ruang kerjanya. Karena ia sangat malas untuk ke kantin.
Ponselnya berdering, tanpa sebuah nama. "Halo!"
"Halo, El!" sapa seorang pria dari kejauhan.
"Halo, ini siapa?"
"Aku Vallen."
"Vallen? Kamu dapat nomor ponsel ku dari siapa?"
"Dari Mitha."
"Oh."
"El, apakah kamu memiliki waktu sore ini?"
"Sepertinya ada."
"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum kopi?"
"Boleh juga, di mana?"
"Aku akan mengirimkan alamatnya," jawab Vallen.
"Baiklah, aku tunggu."
-
Sore harinya, sepulang kerja Elia menuju ke sebuah kafe dengan menggunakan taksi.
"Hai!"
"Hai juga!" Elia membalas sapaan Vallen.
"Kamu naik taksi?"
"Mobilku lagi di bengkel, semalam seseorang ingin mencelakakan aku!"
"Hah, benarkah? Tapi, kamu tidak apa-apa, kan?"
"Jika sesuatu terjadi padaku dan ku terluka, pasti kakakku tidak akan tinggal diam."
"Semua kakak akan melakukan hal yang sama, begitu juga dengan aku."
Elia tampak terkesima dengan kata-kata Vallen.
"Silahkan pesan minumannya!" Vallen meraih cangkir kopi dan menyesapnya.
__ADS_1
"Ya," Elia lalu memanggil pelayan kafe.