
Sehari berlalu....
Elia dan putranya telah kembali ke kota mereka. Mereka tiba di kediaman Madya setelah menempuh perjalanan pesawat selama sejam.
Elra sangat puas bermain dengan Randy di rumah kontrakannya. Tentunya melalui penjagaan ketat di sekitar lokasi.
Alpha menyuruh anak buahnya berjaga atas perintah Harsya.
Sedangkan Elia dan Astrid menunggu di hotel.
Selesai bermain, Elra tidur di pelukan sang ayah. Elia memberikan waktu kepada keduanya sebelum kembali pulang.
Tak sampai 10 jam bersama Randy, Elia menjemput putranya dan membawanya pulang. Itu dilakukan agar Madya tidak marah dan curiga.
Sesampainya di rumah, Elia membawa Elra ke kamar untuk dimandikan dan ditidurkan. Setelah itu pergi ke meja makan buat makan malam karena terasa sangat lapar.
Madya menghampiri Elia di meja makan, "Dari mana kamu?"
"Aku tidak ke mana-mana, Bu."
"Kamu ingin berbohong pada Ibu?"
Elia mendongakkan kepalanya menatap wajah Madya, "Duduklah, Bu. Kita makan malam bersama!"
Madya lantas duduk di depan putrinya. "Kamu bertemu dengannya, 'kan?"
Elia mengiyakan.
"Berapa kali Ibu katakan jangan berhubungan lagi dengan dia!" ucap Madya tegas.
"Maafkan aku, Bu!"
"Apa alasanmu masih berhubungan dengannya?"
"Aku masih mencintainya, Bu."
"Cinta, cinta, omong kosong!"
"Bu, Elra membutuhkan Randy."
"Tetapi, kamu tidak!" Madya memotong perkataan putrinya.
"Bu, Randy sekarang berbeda..."
"Dia masih keponakan Cindy, bisa saja sewaktu-waktu akan menghancurkan kita!"
"Bu, berikan kesempatan kepada kami untuk bersama lagi!" mohon Elia.
"Tidak, El."
"Bu, kali ini saja. Jika dia masih sama seperti waktu itu, ku janji takkan pernah kembali lagi padanya!"
"Ibu tetap pada keputusan yang sama, El!"
Elia menghela napas.
Perbincangan dirinya dengan sang ibu sangat alot. Elia lalu menghubungi Randy dan menceritakan semuanya.
Randy meminta Elia untuk bersabar karena kekhawatiran Madya sangat wajar apalagi jika itu menyangkut kebahagiaan putrinya.
***
Seminggu kemudian, Randy mendatangi rumah Madya. Tanpa ada halangan dari pihak penjaga keamanan.
Elra begitu senang dengan kehadiran sang ayah. Ia mengajaknya ke kamar miliknya yang penuh dengan mainan.
Dan Randy pun mengikuti permintaan sang buah untuk bermain bersama.
Elra selalu tertawa ketika papanya mengajaknya mengobrol padahal entah apa dibicarakan bocah itu pasti menunjukkan giginya yang belum semuanya tumbuh sempurna.
Madya mendengar suara tawa riang dari kamar cucunya, ia lalu bertanya pada putrinya, "Bermain dengan siapa Elra?"
"Dengan papanya," jawab Elia santai.
"Kenapa kamu mengizinkan dia kemari, El?" Madya tampak tak senang.
__ADS_1
"Aku yang menyuruh Randy kemari dan membujuk Ibu."
"Kamu pikir Ibu akan luluh jika dibujuknya," ucap Madya.
"Bu..."
"Apapun alasannya, Ibu takkan setuju!"
"Bu, Randy tidak memiliki orang tua lagi. Papanya meninggal karena kecelakaan setelah mengantarkan Ibu dan Tante Esty ke kota B."
"Dari mana kamu tahu nama Esty?"
"Dia yang telah menceritakan semuanya kepada Mama-nya Randy."
Tubuh Madya terasa lemas.
"Mama-nya Randy meninggal setelah mendapatkan kabar perceraian kami padahal ia ingin meminta maaf pada kita namun belum kesampaian. Bahkan untuk melihat cucunya saja, aku tak bisa penuhi."
"Itu semua karena kesalahan mereka yang mempercayai Cindy."
"Randy sangat menyesal, Bu."
"Ibu tetap tidak akan mengubah pendirian, El."
"Kenapa Ibu sangat egois? Apa Ibu belum bisa melupakan kesalahan ayah?"
Madya tampak marah dengan pertanyaan putrinya.
"Ibu kecewa pada ayah dan perempuan kurang ajar itu tapi melampiaskannya kepada aku!"
"Bukan begitu, El."
"Lalu apa, Bu? Harusnya Ibu memberikan pelajaran kepada Cindy bukan Randy yang di sini hanya sebagai korban!"
"Elia, cukup!" sentaknya. "Jangan membuat Ibu marah!" lanjutnya.
"Ibu ingin aku kehilangan cinta dari lelaki yang ku cintai persis seperti Ibu kehilangan cinta ayah!"
Madya hendak melayangkan tamparan namun tangan seseorang mencegahnya.
"Maaf, Tante."
Madya lantas menarik tangannya dari genggaman Randy. "Jangan ikut campur urusan kami, kamu bukan siapa-siapa di sini!" bentaknya.
"Saya memang bukan keluarga lagi di sini, tapi darah Elra cucu Tante ada darah saya dan Elia. Jangan sakiti putri anda karena kesalahan yang saya perbuat," ucap Randy.
"Jika kamu tidak ingin hubungan kami renggang, maka jauhi putriku!" Madya berkata tegas.
Randy lalu berlutut di kaki Madya, membuat wanita itu memundurkan selangkah kakinya.
"Tante, saya sangat mencintai putri anda. Saya janji akan membahagiakannya!"
"Kesempatan untukmu takkan ku berikan lagi."
"Saya mohon berikan kesempatan!" Randy menundukkan kepalanya. "Apapun akan saya lakukan untuk membuktikan kepada anda bahwa saya benar-benar serius pada Elia," lanjutnya memohon.
Madya menarik napasnya, ia lalu memilih pergi.
-
Malam harinya...
Madya menyuruh Elia, Harsya, Randy, Alpha dan Biom berkumpul di kolam renang rumahnya.
"Untuk apa Ibu menyuruh kami ke sini?" tanya Harsya.
"Randy ingin membuktikan kepada Ibu bahwa ia sangat mencintai adikmu. Jadi, untuk pembuktiannya maka Ibu akan menyuruhnya menyelam di kolam renang selama sejam."
"Bu, itu sangat lama sekali!" protes Elia.
"Jika dia mencintaimu, mungkin waktu itu takkan terlalu lama," ucap Madya.
"Bu, sejam menyelam tanpa alat bantu pernapasan bagaimana mungkin Randy bertahan?" tanya Harsya.
"Ibu tidak peduli, jika dia tak mampu silahkan mundur!"
__ADS_1
"Saya sanggup Tante," sahut Randy lantang.
Madya menarik ujung bibirnya.
"Randy, ini sangat bahaya apalagi hari sudah malam," ujar Elia.
"Ini tak masalah, El." Randy tersenyum menyakinkan mantan istrinya.
"Kalau begitu silahkan laksanakan tantanganku!" ucap Madya.
Randy membuka jaket dan sepatu miliknya, dompet dan ponsel ia titipkan pada Elia.
"Ayo turun!" titah Madya.
Biom dan Alpha saling pandang.
Randy mulai memasuki kolam renang dengan pakaian lengkap, perlahan menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam.
Elia tampak cemas, ia takut terjadi sesuatu jika Randy terus memaksakan diri.
Sepuluh menit berlalu, Randy masih bertahan di dasar kolam.
Elia tampak meremas tangannya dengan wajah khawatir.
"Bu, cukup hentikan tantangan ini," ujar Harsya.
"Tidak, Nak."
"Ini sangat berbahaya!"
"Tidak, Harsya."
"Bagaimana jika dia mati?" tanya Harsya.
"Tidak mungkin."
Harsya pun memilih diam tanpa berdebat lagi.
Elia melihat stopwatch di tangan sang ibu jika tantangan Randy memasuki menit ke 20.
Madya tersenyum ketika melihat air kolam mulai bergerak tak tenang seperti tadi.
"Bu..."
"Diamlah, Elia. Jika dia mencintaimu pasti sangat mudah melewatinya," ujar Madya.
"Bu, Randy bisa mati!"
"Kamu berdoa saja semoga tidak!"
Di menit ke 27, Randy menunjukkan kepalanya dengan napas ngos-ngosan. Membuat semua orang yang menunggu di pinggir kolam berdiri.
Elia berlari menuruni kolam dan membawa Randy ke atas.
Randy tergeletak lemas.
"Tantangan tidak berhasil, kamu gagal memiliki putriku!" ucap Madya.
"Bu, aku setuju Elia kembali dengan Randy," ujar Harsya.
"Kenapa kamu tidak berpihak pada Ibu?" tanya Madya.
"Apa Ibu mau Elra kehilangan ayahnya karena tantangan seperti ini?" Harsya balik bertanya membuat Madya terdiam.
Elia sibuk mengelap wajah Randy dengan handuk dan membantunya duduk.
Madya lantas memilih pergi.
Harsya menyuruh Randy untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pulang. Ia berjanji pada pria itu untuk membujuk Madya.
Randy pun mengiyakan.
Sejam kemudian, Alpha dan Biom telah mengantarkan Randy pulang ke rumah salah satu keluarganya.
Menuju jalan pulang ke rumah Alpha berkata kepada Biom, "Beruntung waktu aku mendekati Astrid tak ada tantangan seperti yang ini."
__ADS_1
"Iya, karena ini sangat sulit. Mendapatkan restu dari Kak Darren saja hampir membuat Rissa putus asa," ucap Biom.