
Dua minggu kemudian....
Harsya berhasil membujuk dan menyakinkan Madya jika Randy layak kembali kepada Elia.
Hari ini Randy dan Elia resmi menikah lagi untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.
Tak ada perayaan mewah hanya beberapa keluarga dan kerabat diundang sesuai permintaan Madya.
Setelah menikah kembali, Randy membawa istri dan anaknya ke sebuah rumah kecil yang ia beli dari hasil penjualan apartemen miliknya dan tabungan.
"Ini rumah kita, kamu tidak masalah, 'kan?" tanya Randy pada istrinya, mengenalkan sebuah tempat yang tak semewah kediaman orang tua dan mertuanya.
"Tidak, Randy. Walaupun kecil kita tetap bersama-sama," ucap Elia
Randy membalas senyuman istrinya lalu memeluk dan mengecup keningnya tak lupa ia dapatkan di pipi putranya.
"Beristirahatlah, aku akan membuatkan makan malam buat kita," ucap Randy.
"Memangnya kamu bisa memasak?"
"Ya, walaupun tidak terlalu mahir tapi mampu mengisi perut keroncongan," jawabnya.
"Kita tidak memiliki ART?" tanya Elia.
"Besok pagi mereka akan datang membantu kita," jawab Randy lagi.
"Jadi, besok kamu mulai bekerja?"
"Tidak, kita ini masih pengantin baru. Perusahaan tempat aku bekerja juga sudah memakluminya."
"Kenapa kamu tidak menjalankan perusahaan aku saja? Maksudku perusahaan milikmu yang kamu berikan padaku."
"Aku tidak memiliki hak untuk itu."
"Tapi, Randy. Aku tidak mampu menjalankan perusahaan sekaligus dua tempat," jelas Elia.
"Kenapa?"
"Aku harus mengurus kamu dan Elra, belum lagi perusahaan fashion milikku dan di tambah usaha properti kamu."
Randy menghela napas.
"Kamu tidak mau menjalani perusahaan itu, ya?"
"Aku baru dua bulan bekerja di perusahaan orang lain."
"Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu kita jual saja."
"Tidak, kamu jangan menjualnya. Aku dari nol merintisnya."
"Makanya, kamu harus menjalankannya!"
"Nanti aku akan bicarakan dengan Kak Harsya. Kalian pergilah ke kamar, aku akan ke dapur."
Elia mengiyakan.
Selang 45 menit kemudian, Randy selesai memasak makan malam.
Menyajikan hidangan di meja makan, Randy memanggil istri dan anaknya.
"Silahkan dimakan, mohon dimaafkan jika rasa tidak sesuai selera," ujar Randy.
Elia mulai mencicipi sop sayur.
"Bagaimana rasanya?"
"Cukup enak."
"Kamu makanlah dahulu, biar Elra aku suapin," Randy menggendong putranya, lalu mendudukkannya di kursi sampingnya.
__ADS_1
Randy mengambil nasi di piring dan kuah sop, lalu menyuapi anaknya.
Elia menyantap masakan suaminya dengan begitu lahap.
Selesai istri dan anaknya makan, Randy kini yang gantian.
Setengah jam kemudian, Randy mencuci piring kotor. Elia ingin membantunya namun ia larang.
"Kamu jaga dan awasi saja Elra bermain," ucap Randy.
Elia pun mengiyakan.
Tepat pukul 10 malam, Elra telah tertidur. Elia meletakkan putranya itu di sebuah kamar tersendiri dari dirinya dan suaminya.
Elia lalu bergegas ke kamarnya, Randy sudah menunggunya di ranjang.
Elia membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
"Dia tidak akan terbangun di tengah malam, 'kan?"
"Tidak."
"Dia mengerti keinginan papanya," celetuk Randy.
"Keinginan apa?"
Randy memiringkan tubuhnya, menatap istrinya dengan menaikkan kedua alisnya.
"Kamu kenapa 'sih?"
"Kita sudah resmi menikah lagi, kamu tidak mengerti tentang kode ku?"
Elia tertawa.
"Malam ini, ya!" pinta Randy.
Elia mengangguk.
Randy yang sangat senang lantas menarik tengkuk istrinya dan membenamkan ciuman di bibirnya.
****
Keesokan harinya, Elia terbangun di sisinya tidak ada lagi suaminya. Ia mendengar dari arah luar kamar jika Randy sedang berbicara dengan putranya.
Elia menyibak selimut, berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Selesai berpakaian, Elia keluar kamar dengan rambut terurai.
Randy tersenyum, "Aku akan membuatkan sarapan untukmu."
"Untuk kita."
"Iya, kita." Randy menunjuk senyumnya. Ia lalu berbisik, "Aku mau kamu setiap pagi dengan rambut basah seperti itu."
Seketika pipi Elia memerah tersipu malu.
Randy ke dapur menyiapkan sarapan buat istrinya. Tak lama kemudian, ia menyajikan di atas meja.
Elia menarik kursi lalu duduk. Elra ia serahkan kepada suaminya.
"Elra telah ku berikan susu," ucap Randy.
"Harusnya dia minum ASI," ujar Elia.
"Kamu masih tidur, jadi tak mau mengganggumu," jelas Randy.
"Lain kali, biarkan Elra minum ASI terlebih dahulu dan kamu jangan mengajakku tidur sampai jam tiga pagi," singgung Elia.
Randy mendengarnya mengulum senyum.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Elia.
__ADS_1
"Belum," jawab Randy.
"Ayo buka mulutnya!" titahnya.
Randy mengikuti perintah istrinya.
Elia menyuapkan nasi goreng ke mulut suaminya.
Randy mengunyah sambil menatap istrinya, "Terima kasih untuk semua."
"Semua?" Elia mengernyitkan dahinya.
"Kamu masih mau memberikan kesempatan untukku," jawab Randy.
"Aku yakin jika kamu akan berubah, maaf selama ini ku selalu menghindar," ucap Elia.
Randy memegang pipi istrinya dengan kedua tangannya dan ingin mengecup bibirnya. Namun, bunyi bel menghentikan keinginannya.
Elia tertawa melihat wajah masam suaminya yang gagal mencuri bibirnya.
"Nanti malam aku akan menghajarmu," goda Randy.
"Aku akan membawa Elra tidur di kamar kita," ucap Elia.
Randy tak mau memperpanjang obrolannya dengan istrinya segera berlari ke depan membuka pintu.
Dua orang wanita beda usia tersenyum.
"Tuan, kami ini suruhan Bu Lanny yang akan bekerja di sini," ujar salah satu diantara mereka.
"Oh, ya. Silahkan masuk, saya dan istri akan menjelaskan pekerjaan kalian," ucap Randy.
Kedua wanita itu pun memasuki rumah, sepasang suami istri memperkenalkan diri dan menjelaskan apa saja yang akan dikerjakan 2 orang ART tersebut.
"Kalian datang bekerja pada pukul tujuh pagi dan pulang jam enam sore," jelas Randy.
"Dan libur saya berikan tiga kali sebulan, kalian harus bergantian. Masalah gaji telah dibicarakan dengan Bu Lanny, kan?" lanjut Randy bertanya.
"Iya, Tuan." Jawab keduanya.
"Ya sudah, silahkan bekerja."
"Baik, Tuan, Nyonya!" keduanya pun pamit ke dapur.
"Kenapa tidak sampai malam?" tanya Elia pada suaminya.
"Karena malam waktunya kita berdua, ku tak ingin ada orang lain di rumah ini lagian juga hanya ada tiga kamar. Mereka mau tidur di mana?"
"Benar juga, ya."
"Keluarga mereka juga tinggal di kota ini, jadi biarkan malam menjadi waktu istirahatnya," jelas Randy.
Elia setuju dengan pendapat suaminya.
Siang harinya selesai makan, Elia dan suaminya pergi ke rumah Harsya.
Sesampainya di sana, Hana dan adiknya menyambut Elra dengan suka cita. Ketiga bocah berlari dan bermain bersama.
Randy dan Harsya mengobrol mengenai perusahaan begitu juga dengan Elia sedangkan Anaya hanya mendengarkan saja.
"Lebih baik kembali lagi ke perusahaan yang telah kamu rintis," saran Harsya.
"Baiklah, Kak. Besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri," ucap Randy.
Dua jam berada di rumah iparnya, Randy dan istrinya serta anaknya pulang. Elra menolak diajak untuk berhenti bermain.
"Lain waktu kita kemari lagi ke sini," bujuk Elia.
Elra semakin mengencangkan tangisannya.
Randy akhirnya membujuk putranya dan mau diajak pulang.
__ADS_1
Ketiganya pun pamit, di tengah perjalanan sebuah mobil menghentikan laju kendaraannya yang mereka tumpangi.
Randy yang menyetir dan Elia saling pandang ketika melihat beberapa orang pria keluar dari mobil yang menghalangi jalan mereka.