
Para pria yang hendak mendekati mobil Randy mendadak berbalik arah. Ya, mereka melakukannya karena tepat di belakang target kendaraan Alpha berhenti.
Randy memperhatikan kaca spionnya lantas membuka pintu mobilnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Elia.
"Ada Kak Alpha di belakang kita," jawabnya.
Elia pun menjadi lega.
Randy keluar dari mobil dan Alpha menghampirinya.
"Kenapa kalian berhenti di sini?" tanya Alpha.
"Tadi ada mobil yang menghalangi jalan kami, Kak."
Alpha memperhatikan mobil di depan kendaraan Randy yang telah berlalu, "Mereka telah pergi."
"Tadinya mereka turun dan mau menghampiri kami tapi tiba-tiba berbalik arah. Mungkin karena melihat Kak Alpha," ungkap Randy.
"Apa kalian tadi sempat terlibat masalah dengan pengendara lainnya?"
"Tidak, Kak."
"Sungguh aneh," ucap Alpha.
"Aneh? Maksudnya?" tanya Randy menautkan alisnya.
"Mereka ingin mendekati kalian tapi tiba-tiba pergi karena melihat kedatangan aku, itu 'kan sungguh aneh. Apa mereka ingin merampok kalian?" tanya Alpha.
"Entahlah, Kak. Tapi, aku bersyukur sekali Kak Alpha datang tepat waktu. Ku takut sesuatu terjadi pada kami, kutak mau Elia dan Elra terluka."
"Ya, sama-sama. Lain kali jika ada sesuatu yang mencurigakan jangan berhenti, segera hubungi aku atau Biom," ucap Alpha.
"Iya, Kak. Terima kasih."
"Lanjutkanlah perjalanan kalian!"
"Iya, Kak. Kami duluan," pamit Randy.
Alpha tersenyum seraya menggerakkan dagunya pelan.
Randy bergegas masuk ke mobil, memakai safety belt dan menyalakan mesin mobil tak lupa membunyikan klakson sekali.
Mobil pun melaju.
"Siapa pria-pria tadi, Ran?"
"Aku juga tidak tahu, tetapi kita tetap harus hati-hati," jawab Randy sambil menyetir.
"Hati-hati, bagaimana?" tanya Elia lagi.
"Para pria itu balik badan ketika melihat mobil Kak Alpha di belakang kita, jadi kamu harus hati-hati. Aku akan meminta Kak Harsya untuk memberimu pengawal."
"Lalu kamu?"
"Elia, aku tidak mau sesuatu hal buruk menimpamu dan Elra. Aku bisa jaga diri, kalau terjadi apa-apa denganmu ku juga yang akan dimarahi ibu," ujar Randy.
"Aku juga khawatir denganmu, Ran!"
Randy tersenyum tangan kirinya menyentuh pipi istrinya, "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku!"
"Kamu harus ke mana-mana dengan pengawalan juga," kata Elia.
Randy tertawa kecil.
"Randy, aku tuh serius," ucapnya.
"Iya, aku tahu. Tapi, ku bukan seperti Kak Harsya yang harus dikawal dan dijaga pengawal."
"Kamu telah masuk di keluarga Abraham Syahbana, tentunya akan mendapatkan perlakuan yang sama."
"Kamu jangan berlebihan deh, aku tidak terlalu suka di kawal begitu...."
"Ini demi keselamatan kamu," Elia memotong ucapan suaminya."
"Memakai pengawal butuh biaya besar, aku belum mampu menggaji mereka. Jika ku minta pengawal untukmu dan Elra, pasti Kak Harsya akan menyetujuinya," jelas Randy.
"Aku akan bicara pada Kak Harsya untuk memberikanmu pengawal," ucap Elia.
"Tidak, El. Aku tak mau merepotkan keluargamu lagi."
Elia menghela napas, "Susah sekali mengajakmu untuk hal baik!" membuang wajah ke jalanan.
"Sayang, jangan marah begitu!" bujuknya.
__ADS_1
"Fokus saja menyetir dan jangan hiraukan aku!"
-
-
Sesampainya di rumah, Elia melangkah ke kamar. Putranya yang telah tertidur ia baringkan di boks bayi.
Setelah itu ia keluar dan menuju kamar pribadinya.
Randy yang lebih dahulu berada di kamar lantas bertanya, "Elra tidak kamu mandi, 'kan?"
"Dia masih tidur, jika sudah bangun aku akan memandikannya," jawab Elia ketus.
Randy mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. "Masih marah?"
"Tidak!"
"Kenapa wajahmu cemberut?"
Elia membalikkan tubuhnya menatap suaminya, "Kamu menyayangi aku dan Elra?"
Randy mengangguk.
"Apa kamu sudah hebat dan jagoan?" tanya Elia lagi.
"Aku bukan orang hebat."
"Kenapa tidak mau aku berikan saran juga?"
Randy tak menjawab.
"Apa kamu pikir hanya nyawa kami yang menjadi taruhannya?"
"Bukan begitu, El. Aku sekarang...."
"Randy, bisa saja orang-orang yang tidak menyukai kamu atau aku mengincar kita!"
"Aku..."
"Jangan menolak!"
"Baiklah," Randy pasrah dengan keputusan sang istri.
Seminggu kemudian....
Sudah 2 hari ini Randy menjalani kembali perusahaan yang telah ia bangun.
Pagi ini sebelum berangkat, Randy akan menikmati sarapan bersama dengan istri dan anaknya.
Bel berbunyi, Randy membuka pintu. "Kamu siapa?" tanyanya pada wanita sebaya dengan Elia berdiri di depannya.
"Saya asisten pengganti sementara, Tuan."
"Memangnya Mba La kemana?"
"Dia sedang sakit, Tuan."
"Baiklah, silahkan masuk. Kamu dapat bertanya pada Bi Mar, apa saja pekerjaan yang dilakukan Mba La."
"Baik, Tuan." Wanita itu menundukkan sedikit kepalanya.
Randy kembali menghampiri istrinya dan anaknya melanjutkan sarapan yang sempat berhenti.
"Hari ini kamu mulai bekerja, Elra nanti bersama siapa?" tanya Randy.
"Aku akan menitipkannya kepada ibu," jawab Elia.
"Aku akan mengantarmu ke rumah ibu," Randy menawarkan diri.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Kamu ke kantor saja, nanti terlambat lagi," ucap Elia.
"Baiklah, kabari jika Elra dan kamu tiba di tujuan."
"Baik, suamiku."
Beberapa menit kemudian, Randy berangkat ke kantor tak lupa ia mengecup kening istri dan putranya.
Putranya Elia titipkan kepada ART pengganti karena akan berdandan.
Elra tampak tak nyaman dengan wanita itu sangat berbeda ketika pertama kali bertemu dengan Mba La dan Bi Mar.
Tak sampai 15 menit, Elia selesai berdandan dan ia berangkat ke rumah sang ibu tentunya bersama sopir dan seorang pengawal wanita.
Begitu tiba di kediaman Madya, Elia turun lalu memberikan putranya kepada sang ibu.
__ADS_1
"Hari ini mulai ke kantor?" tanya Madya.
"Iya, Bu.
"Kenapa ke sini tidak diantar Randy?"
"Dia harus ke kantornya, Bu. Jika harus mengantarkanku dia akan terlambat," tutur Elia.
"Itu perusahaan dia," ucap Madya.
"Memang benar, Bu. Tapi, jika dia terus terlambat bagaimana pegawainya bisa mencontohnya," jelas Elia.
"Benar juga, ya."
"Aku berangkat dulu, Bu." Elia mengecup telapak tangan istrinya.
-
-
Sore harinya, Elia terlebih dahulu tiba di rumah. Dirinya belum menjemput Elra karena berencana akan ke rumah ibunya setelah Randy pulang bekerja.
Elia pergi ke dapur mengambil air putih dan menenggaknya. Ia memperhatikan para pekerja rumah tangganya. Namun, ia merasa curiga kepada ART yang baru.
Elia pun menegurnya, "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nyonya!" wanita itu memilin ujung pakaiannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Elia.
"Apa saya boleh mengambil gaji hari ini?" wanita itu balik bertanya.
"Bukankah gaji hanya diterima sebulan sekali? Kamu hanya asisten pengganti jadi masalah itu bisa dibicarakan kepada Mba La," jelas Elia.
"Tetapi saya butuh uang, Nyonya."
Elia menghela napas.
"Nyonya, anak saya sakit!" Wanita itu menunjukkan wajah memelas.
Elia membuka tasnya mengambil dompet lalu memberikan 5 lembar uang berwarna merah. "Mulai besok kamu tidak perlu datang kemari, jaga dan rawat anakmu."
"Nyonya, tapi saya ingin bekerja di sini." Wanita itu memaksa.
"Ada Bi Mar."
"Nyonya..."
"Maaf, saya tidak bisa memperkerjakan kamu."
Wanita itu tampak bersedih, ia lalu pergi berpamitan.
Bi Mar pun juga pamit pulang.
Tak sampai 1 jam Elia di rumah, suaminya pun tiba. Para pengawal dan sopir juga telah mereka suruh pulang.
"Asisten pengganti Mba La telah aku berhentikan," ujar Elia.
"Kenapa kamu berhentikan?"
"Baru sehari bekerja sudah meminta uang gaji dengan alasan anaknya sakit," jawab Elia.
"Kamu memberikan gajinya?"
"Iya, aku juga melebihkannya."
"Nanti siapa yang akan membantu Bi Mar di sini?" tanya Randy.
"Aku akan meminta perawat yang mengurus dan mengasuh Elra kemari. Jadi kutak perlu bolak-balik ke rumah ibu."
"Begitu juga boleh," Randy menyetujui ucapan istrinya.
"Sekarang bersihkan dirimu lalu makan, kita akan menjemput Elra di rumah ibu."
"Baiklah, tunggu sebentar. Kamu sudah mandi?"
Elia menjawab, "Sudah."
Satu setengah jam kemudian, Elia dan suaminya tiba di kediaman Madya.
Elia berbicara pada sang ibu jika ingin membawa 2 orang asisten untuk merawat dan mengasuh Elra jika dirinya bekerja.
Madya pun setuju lagian juga ia tak selalu ada di rumah.
Sejam berada di rumah ibunya, Elia dan suaminya pun pamit pulang.
__ADS_1