Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 39-S2-Berusaha Mengejar


__ADS_3

Siang harinya, Randy mengirimkan paket makanan. Seorang kurir yang langsung mengantarkannya. Dan sebuah amplop berisi kertas.


Setelah mengucapkan terima kasih, Elia membaca surat tersebut. "Aku tahu ini makanan kesukaan kamu dari restoran favoritmu. Selamat makan."


"Kenapa dia tak menyerah juga? Apa sebenarnya dia tulus mencintaiku atau tidak?" Elia membatin.


Elia pun menikmati makanan gratis itu daripada di buang dan dirinya juga malas untuk keluar kantor.


Selesai makan, ponselnya berdering tertera nama Randy. Dengan malas ia menjawabnya, "Halo!"


"Terima kasih sudah menghargai makanan pemberianku," Randy berkata lembut.


"Aku terpaksa karena lagi malas keluar," ketusnya.


Randy tertawa kecil.


"Ingat, ya. Hatiku takkan berubah, tak ada kesempatan itu meskipun kamu mengirimkan beribu hadiah buatku!"


"Aku takkan menyerah, El."


"Aku yakin dalam seminggu kamu juga akan menyerah!


"Apa kamu lupa waktu tujuh tahun, El?" Randy kembali mengingatkan kata-kata tersebut.


"Ya, sekarang 'kan kamu tahu kenyataannya."


"Walaupun kamu menolakku, aku tidak akan pernah menyerah meskipun ku harus mati."


Elia terdiam mendengar pernyataan tersebut.


Randy lalu menutup ponselnya.


"Apa dia sudah gila?" gumamnya.


Sepulang kerja, Elia menemui Randy. Sejam lalu ia mengirimkan pesan kepada pria itu agar mau bertemu.


Dengan senang hati Randy mengikuti permainan yang dibuat Elia.


Randy lebih dahulu tiba.


Elia duduk di hadapan Randy dan berkata, "Berhentilah terobsesi padaku!"


"Aku bukan terobsesi, El. Aku memang menyukaimu!"


"Jika kamu mencintaiku dan menyayangi aku. Menjauhlah!" Elia menekankan kata-katanya.


"Tidak."


Elia tampak geram dengan pria dihadapannya itu tak mau menyerah.


"Aku tidak mundur, El. Meskipun seratus pengawal kakakmu menyerangku!"


Elia yang kehabisan ide, menghabiskan air mineral dalam kemasan botol sedang hingga kandas.


Randy menarik ujung bibirnya.


"Kamu sudah membuatku benar-benar gila!" geramnya menatap wajah Randy.


Elia lantas berdiri dan berjalan keluar kafe.


Randy mengejar langkahnya.


Elia semakin mempercepat langkahnya menyeberang. Sebuah tangan menariknya dengan kasar dan memeluknya.


"Aku tahu kamu lagi kesal, tapi lihat-lihat jika ingin menyeberang!"


Elia memundurkan tubuhnya lalu berbalik dan berlari kecil menuju mobilnya.


Randy kembali tertawa kecil melihat tingkah wanita itu.


-


-


Malam harinya, Elia yang merasa bimbang akhirnya mengajak Mitha bertemu di sebuah kafe langganan mereka.


Elia menceritakan kegundahan hati dan penolakan keluarganya kepada Mitha.


"Aku tidak bisa membantumu menyakinkan Kak Harsya, maaf!"


"Apa kamu mau membantuku untuk membujuk Randy agar menjauhiku?"


"Baiklah, aku akan coba!"


"Terima kasih, Tha."


"Ya, sama-sama."


Elia pun pulang mengendarai mobil dengan posisi hujan turun sangat deras.


Elia menyetir dengan perlahan karena jalanan banjir.


Elia berhasil melewati jalanan yang rendah, ia menambah kecepatan kendaraannya di jalanan yang sepi pengendara.


Tiba-tiba mesin mobil yang dikendarainya mati.


Suara ketukan di jendela mengejutkannya. Elia melihat dengan teliti siapa orang yang telah mengetuk kaca.


"Randy!" lirihnya.


Elia segera keluar dari mobil menggunakan payung. "Kamu mengikuti aku?"


"Iya."


"Pergilah!"


"Aku tidak akan pergi dengan kondisi kamu masih terjebak hujan. Apalagi mobilmu mogok!"


"Aku tidak apa-apa, Randy!" Elia berkata kuat karena suara hujan membuat lawan bicaranya tidak mendengar dengan jelas.


"Aku antar kamu pulang!"

__ADS_1


"Tidak!"


"Elia, jangan keras kepala!" bentak Randy.


Elia terdiam.


"Aku bisa saja melakukan hal buruk di sini karena tak ada orang tahu. Jadi, ku mohon menurutlah kali ini padaku!"


Elia tak ingin melihat Randy marah dan terjebak di tengah hujannya malam lalu berkata, "Tunggu sebentar, aku mau mengambil tasku!"


Randy mengangguk.


Elia membiarkan mobilnya terparkir begitu saja di jalanan. Ia lalu berjalan bersama dengan Randy.


Pria itu membukakan pintu buat Elia. Kemudian ia menyusul masuk.


Memasang safety belt, Randy menyalakan mesin mobilnya dan melaju.


"Pakailah!" Randy menyerahkan jaket miliknya yang sedari tadi terletak di dashboard.


Elia menerimanya dan memakainya.


Keduanya pun tiba di kediaman Madya.


"Kamu tidak usah turun, aku juga punya payung. Terima kasih sudah menolongku hari ini!" kata Elia sebelum Randy berbicara.


Randy hanya mengangguk.


***


Seminggu sudah Randy tak menghubungi Elia baik berupa chat atau panggilan telepon. Paket kiriman seperti hadiah kecil, coklat, bunga dan makanan tidak pernah wanita itu dapatkan.


Ada sedikit rasa kehilangan, karena biasanya Randy akan selalu menerornya.


Elia berkali-kali memperhatikan ponselnya. "Dia kemana, sih?" gumamnya.


Sejak Randy menolongnya malam hari itu, ia tak pernah mendapatkan kabar.


Elia yang sangat penasaran dengan kondisi Randy lantas menghubunginya, ia membuang rasa egonya.


"Halo!" suara wanita menjawab dari ujung telepon.


"Ha..halo, ini siapa?" tanya Elia gugup.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, ini siapa?" bentak wanita itu.


"Aku ingin berbicara dengan Randy."


"Dia sedang rapat, jangan mengganggunya!" wanita itu teleponnya dengan kasar.


"Jadi, selama ini dia membohongiku!" geramnya. "Awas saja kalau aku bertemu dengannya, ku akan beri dia pelajaran!" gumamnya.


Sejam kemudian, ponsel Elia berdering tertera nama Randy.


"Halo, El. Ada apa meneleponku?"


"Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja atau tidak. Ternyata, kamu sangat baik dan sudah menemukan pengganti diriku."


"Tidak usah banyak alasan Randy, wanita itu kekasihmu 'kan?" Elia balik bertanya.


"Wanita mana?"


"Wanita yang sejam lalu menjawab teleponku. Sepertinya dia tak suka aku meneleponnya."


"Dia hanya sekretaris aku."


"Sekretaris?"


"Eh, maksudnya teman kerja kebetulan posisinya adalah sekretaris."


"Aku tidak peduli dengan jabatannya, aku hanya ingin ucapkan selamat!" Elia lalu menutup ponselnya.


"Aarrgh....kenapa aku jadi kesal?" runtuknya.


-


-


Sore harinya, Randy telah menunggu Elia di dekat mobil wanita itu.


"Mau apa lagi ke sini?"


"Menemui kamu."


Elia tertawa sinis. "Buat apa menemuiku?"


"Aku rindu denganmu."


"Cih, sudah punya kekasih tapi menggoda wanita lain."


"El, dia bukan kekasihku. Lalu kenapa dia menyuruh aku menjauhimu?"


"Aku tidak tahu, El."


"Dia menyukaimu, Randy."


"Aku tidak peduli dia menyukaiku. Bagiku sekarang adalah kamu!"


Elia terdiam.


"El...."


"Aku harus buru-buru pulang!" Elia memegang kenop mobil.


"El, boleh aku menumpang mobil kamu?"


"Memangnya kamu tidak bawa mobil?"


"Tidak."


"Ya, sudah. Masuk!" ucap Elia yang terpaksa.

__ADS_1


Randy menjadi senang karena semobil dengan Elia.


"Kamu mau aku antar ke mana?"


"Aku ingin kita jalan-jalan."


"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan? Aku tuh bukan sopir kamu!"


"Biar aku yang menyetir!"


Elia pun mengiyakan, keduanya bertukar posisi.


Sepanjang perjalanan, Elia lebih memilih diam.


"El, kamu mau makan?"


"Tidak, aku mau pulang saja!"


"El..."


"Jangan banyak bicara, fokus saja menyetir!"


"Iya."


Setengah jam mereka berkeliling, Randy kembali berkata, "El, aku lapar!"


"Ya, makanlah!" ketusnya.


Randy menghentikan kendaraannya di sebuah warung mie ayam. Membuka safety belt, "Ayo, turun!"


"Aku tak mau!" Elia menolaknya.


Randy tanpa permisi membuka safety belt yang digunakan Elia, karena jarak keduanya hanya 5 centimeter membuat mereka saling pandang.


Randy menurunkan pandangannya dan membuka safety belt Elia.


"Ayo, keluar!"


Elia pun mengikuti perintah Randy.


Memesan 2 porsi dan es teh manis. Keduanya duduk saling berhadapan.


Randy lebih dahulu makan ketika mie ayam telah terhidang dihadapannya.


"Kenapa dilihat saja? Ayo makan!"


Elia yang ragu menikmati makannya.


Hingga selesai makan, tak ada obrolan keduanya. Setelah membayar, Elia dan Randy pulang.


"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Elia.


"Tidak perlu, aku turun di sini saja!" Randy menghentikan mobil. "Terima kasih!" ucapnya.


Elia tak menjawab ucapan Randy.


Pria itu lantas keluar dari mobil dan berjalan ke pinggir menunggu sesuatu.


Elia kini duduk di kursi kemudi, ia melihat Randy dari kaca spion.


Baru saja menyalakan mesin mobilnya, Elia melihat dari kejauhan jika ada beberapa orang pria menghampiri Randy dan memukulnya.


Elia mematikan mesin kendaraannya dan bergegas keluar. "Berhenti!" pekiknya.


Randy kini telah jatuh tersungkur.


Elia berlari mendekatinya dan membantunya berdiri.


"Siapa kalian?" tanya Elia lantang.


"Tidak perlu tahu, Nona!" bentak salah satu orang tak dikenal tersebut.


"Kenapa memukulnya?"


Para pria itu tak menjawabnya dan berlalu begitu saja.


Memapah tubuh Randy kembali ke mobil.


Di dalam Elia mengelap darah di ujung bibir Randy membuat pria itu meringis.


"Siapa mereka?"


"Aku tidak mengenal mereka."


"Kalau tidak kenal, kenapa mereka memukul?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Randy.


"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Elia.


Randy mengiyakan.


Sejam kemudian mereka tiba di kediaman orang tuanya Randy, sebelum turun pria itu mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama."


"Kamu tidak ingin menyapa mamaku?"


"Baiklah." Elia lantas turun.


Keduanya berjalan bersama memasuki rumah tersebut.


"Kenapa sepi?" tanya Elia.


"Mama biasanya kamar," jawab Randy.


Elia tak menaruh curiga.


Dari belakang, Randy tersenyum menyeringai ia membekap mulut Elia sehingga wanita itu kesulitan bernapas dan pingsan.


Randy membopong tubuh Elia dan membawanya ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2