Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 42-S2- Telah Dibohongi


__ADS_3

Seminggu kemudian.....


Acara resepsi pernikahan Elia dan Randy dilaksanakan. Seluruh keluarga dan saudara tampak hadir.


Elia dan Randy mengundang rekan kerja dan para sahabat.


Randy memainkan perannya cukup baik, dirinya begitu sopan kepada seluruh tamu yang hadir dan lembut dengan istrinya. Padahal semuanya adalah sandiwara.


Selesai acara Randy dan Elia kini berada di kamar hotel yang telah di dekorasi sangat indah.


Randy menarik pinggang sang istri dan jatuh dipeluknya. "Malam ini aku akan meminta hakku!"


"Lepaskanlah, aku sulit bernapas!" Elia berusaha mendorong tubuh suaminya namun ia kesulitan.


Randy yang tak sabar menarik tengkuk Elia dan membenamkan ciumannya.


Elia yang seminggu ini diperlakukan begitu lembut dan cinta oleh suaminya maka ia pun membalas serangan tersebut.


Tangan kanan Randy meraba bagian tubuh istrinya, menurunkan resleting gaun pengantin yang digunakan.


Dengan cepat, Randy melucuti gaun Elia menggunakan tangan dan kakinya. Tanpa berlama-lama, ia menggendong tubuh istrinya dan merebahkannya di ranjang.


Randy kini berada di atas Elia, dengan beringas ia menjilat leher dan seluruh tubuh istrinya tanpa terkecuali.


Tanpa menunggu lama, Randy mencoba menerobos pintu milik Elia. Cukup sulit untuk memasukinya.


Elia berusaha menahan sakit dengan sedikit berteriak.


Randy yang telah menaklukkannya akhirnya berhasil.


Pertarungan keduanya bukan hanya sekali tapi hingga 3 kali. Randy mengecup kening istrinya lalu tidur di sampingnya.


***


Elia terbangun dengan seluruh tubuh pegal, ketika hendak turun area pribadinya terasa sakit.


Elia berusaha bangkit dan berdiri, tanpa sengaja matanya melihat bercak merah di sprei.


Elia mengingat kejadian 2 minggu lalu, dirinya bangun seperti biasanya tak merasakan sakit saat ini.


"Bercak merah? Itu artinya waktu itu dia berbohong," Elia membatin.


Elia mengepalkan tangannya, "Sial. Dia telah menipuku!"


Elia melangkah ke kamar mandi dengan perlahan karena begitu sangat sakit.


Tak sampai 20 menit, Elia pun keluar menggunakan kimono dan rambut dibalut handuk.


Randy yang begitu kelelahan akhirnya bangun, ia melihat istrinya sedang mengeringkan rambut dengan hairdryer.


"Selamat pagi, istriku!"


"Tidak perlu basa-basi, apa tujuan kamu menikahiku?" Elia membalikkan tubuhnya, dengan posisi masih duduk.


"Karena aku mencintaimu."


"Bohong!" teriak Elia.


"Sayang, kenapa pagi-pagi kamu marah-marah?" tanya Randy.


"Kamu memang licik!" geramnya.


Randy turun dari ranjang dan mendekati istrinya.


"Berhenti! Jangan dekati aku!" hardiknya.


"El, kamu kenapa?"


"Aku yakin waktu itu diantara kita tak terjadi apapun!" Elia menjawab lalu berdiri.


"Kamu terlalu nyenyak tidur, makanya tak merasakannya," jelas Randy.


"Apa itu tak tak cukup membuktikan kebohongan mu?" Elia menunjuk ke arah seprei.


Randy membulatkan matanya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak mudah percaya dengan ucapanmu!" Elia berkata lantang.


"El, aku minta maaf. Ku melakukannya karena memang mencintaimu," Randy memasang wajah sendu dan bersalah.


Elia duduk di sisi ranjang dan menangis, "Kenapa kamu begitu jahat?"


Randy mendekati Elia dan berlutut di kaki sang istri. "Maafkan aku!" lirihnya.


"Kenapa kamu memulai semuanya dari berbohong?"


"Karena aku bingung, El."


"Berapa kali kamu membohongiku? Ku yakin pasti akan ada kebohongan-kebohongan selanjutnya," tebak Elia.


"Tidak, El. Aku janji akan berkata jujur padamu," ujar Randy.


"Bisakah aku memegang ucapanmu?"


Randy mengangguk.


-


Keduanya keluar dari kamar melangkah ke restoran hotel.


Elia terlihat diam dengan mata sembab. Randy berusaha memberikan yang terbaik untuk sang istri.


Elia menikmati sarapan tanpa bicara, wajahnya sering ia tundukkan.


"El, sudahi kenapa merajukmu?" mohon Randy


Elia tetap diam.


"El, katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" tanya Randy dengan suara pelan.


"Ceraikan aku!"


"El, kita baru menikah dua minggu. Apa kata orang-orang?"


"Aku tidak peduli dengan ucapan orang-orang!"


"Baiklah!" Elia pun setuju.


***


Esok paginya, Elia kembali ke rumah suaminya.


Elia memilih cuek dan ketus pada suami dan ibu mertuanya. Ia melangkah ke kamar untuk menghindari percakapan kedua orang tersebut.


Randy lantas menyusul istrinya, "El, kamu boleh membenciku tapi tolong jangan cuekin mama."


"Aku tidak cuek, hanya sedang ingin sendiri," ujar Elia.


"Ya, sudah. Kalau begitu, tenangkanlah dirimu!" Randy pun akhirnya keluar.


"Kenapa dia?" tanya Mama-nya Randy. Ketika putranya mendatanginya di kamar.


"Dia sudah tahu kalau ku membohonginya."


"Maksudnya dia tahu jika kamu waktu itu berbohong menidurinya?"


"Iya, Ma."


"Jadi, sekarang kamu melakukan itu?"


"Iya, Ma. Mumpung, sekarang dia jadi milikku. Apa salahnya ku benar-benar mencicipinya."


"Bagaimana jika dia hamil?"


"Kurasa tidak akan, apalagi dia menuntutku menceraikannya."


"Jadi, kamu ingin berpisah dengannya dalam waktu dekat?"


"Tidak, Ma. Aku memberikan waktu enam bulan, tentunya kita akan membuat dia menderita."


"Mama rasa kamu akan sulit melepaskannya," tebaknya.

__ADS_1


"Kenapa begitu?"


"Mama takut kamu yang akan tergila-gila padanya."


"Tidak akan, Ma. Aku hanya ingin membuatnya sangat hancur!" Randy tersenyum menyeringai.


-


Makan siang, Elia baru keluar dari kamar. Ketiganya duduk di meja makan bersama.


Elia makan dengan wajah menunduk, hal itu membuat Mama-nya Randy tak suka. Ia sengaja melemparkan sendok di bawah kaki menantunya.


Elia pun terkejut dan kelihatan bingung.


"Aku tidak suka dengan wajah cemberutmu!"


Elia malah menatap suaminya yang cuek.


"Jangan sementang kamu putri dari orang kaya raya sesuka hatimu!" Omel wanita paruh baya itu.


"Mama, kenapa?" tanya Elia lembut.


"Jangan bersikap baik denganku!" bentaknya.


"Kalian kenapa, sih?" Elia tampak heran.


Randy bangkit dari kursinya, lalu menarik paksa tangan istrinya.


"Randy, sakit. Lepaskan!" pekik Elia.


"Ini waktunya untuk membalas semuanya!" ucap Randy.


Elia semakin bingung.


Randy membawa Elia ke sebuah kamar kosong dan mendorong wanita itu hingga tersungkur.


"Kalian memang berhati iblis!" Elia mendesis.


Randy tertawa jahat.


Elia bangkit dan berusaha mencoba kabur, namun tangan suaminya menahan dirinya.


Elia memberontak, "Lepaskan aku!"


"Sebelum aku membalas dendam ku takkan melepaskanmu!"


"Sudah kuduga kalian memang ingin balas dendam!"


"Bukan Tante Cindy saja yang memintaku melampiaskannya tetapi mamaku juga!"


"Apa yang telah dilakukan keluargaku kepadamu?"


"Papaku meninggal karena sikap manja dan egois ibumu!"


"Aku tidak mengenal papamu!"


"Kamu tidak mengenalnya karena masih terlalu kecil untuk mengingatnya."


"Aku yakin itu pasti fitnah!" ucap Elia. "Ibuku bukan wanita manja dan egois. Justru, Tante Cindy yang ingin merebut ayahku dari kami!" lanjutnya.


Randy tertawa keras.


Elia mendorong tubuh suaminya sehingga ia berhasil menyentuh gagang pintu.


Randy menarik rambut istrinya dan menyeretnya ke ranjang. "Jangan berani melawanku!"


"Aku sangat membencimu!"


"Aku tidak peduli!" Randy menyeringai.


"Kalian termakan hasutan wanita licik itu!" ucap Elia.


"Jika bukan karena Tante Cindy, aku dan mamaku mungkin akan menjadi gelandangan!"


"Aku ingatkan padamu, jangan pernah menyesal telah memperlakukanku seperti ini!" Elia mengancam.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menyesal!"


__ADS_2