
"Randy, maafkan aku. Tolong, jangan tinggalkan aku!" pinta Elia menangis di pelukan mantan suaminya yang sedang terbaring di ranjang.
"Nona, maaf kami harus membawanya!" ucap seorang wanita berpakaian perawat.
"Kalian tidak boleh membawanya," ujar Elia pada 3 orang perawat itu.
Ketiga wanita itu tak peduli dan mendorong brankar menjauh.
"Kak Alpha, mereka membawa Randy. Tolong, cegah!" mohon Elia terisak.
Alpha menggelengkan kepalanya dan memeluknya.
"Ayo cegah mereka, Kak!" Elia memukul dada Alpha.
"Maaf, Nona!" Alpha berkata lirih.
Elia melepaskan pelukannya dan berteriak, "Randy!"
*
Elia terbangun, napasnya ngos-ngosan, keringat mengalir di dahinya padahal di ruang kamarnya ada pendingin.
Elia menoleh ke samping karena putranya tiba-tiba menangis.
"Elra, kenapa bangun?"
Bayi laki-laki itu hanya menangis.
"Kamu haus, ya?"
Elra mengangguk.
Elia lalu memangku putranya dan menyusuinya.
Elra biasanya sangat tenang dan diam disusui tampak rewel, berkali-kali ia mengucek matanya dan bergerak.
"Kamu kenapa, Nak?"
Elra turun dari pangkuannya dan menangis.
Elia semakin bingung dengan sikap putranya itu. Terlintas di benaknya tentang keadaan mantan suaminya, ia lalu menghubungi Alpha untuk menanyakan kabarnya.
Tak menunggu lama, panggilan pun di jawab, "Halo, Nona."
"Kakak, bagaimana kabar dia?" tanya Elia. Kini Alpha yang berada di rumah sakit menjaga dan memantau keadaan mantan suaminya sedangkan dirinya beristirahat di hotel karena memiliki balita.
"Tuan Randy belum juga siuman," ujar Alpha.
Elia menghela napas berat.
"Kenapa Nona jam segini belum tidur?" tanya Alpha melihat arlojinya menunjukkan pukul 2 dinihari.
"Elra terbangun dan terus menangis, aku tidak tahu dia kenapa. Padahal tak pernah dia seperti ini," tutur Elia.
"Maaf, Nona. Apa mungkin Elra merasakan jika papanya...."
"Sedang berjuang?" tebak Elia dengan cepat.
"Saya tidak ingin mengorek masa lalu Nona dengan Tuan Randy. Hanya saja ikatan darah antara anak dan ayah tak dapat dipisahkan," ujar Alpha.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Kak?"
"Nanti pagi selesai sarapan bawa Elra menemui papanya. Jika Nona mau, jika tidak itu hak Nona Elia menolaknya."
"Baiklah, nanti pagi aku akan ke sana membawa Elra."
-
Selesai sarapan Elia mengajak putranya ke rumah sakit, di dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Ia menyatukan tangan putranya dengan mantan suaminya.
__ADS_1
Tampak mata Elia berkaca-kaca.
"Pa-pa!" Elra mengoceh.
"Iya, Nak. Ini papa kamu yang kamu lihat di foto," ucap Elia dengan suara bergetar.
Elra menepuk telapak tangan Randy seraya tertawa khas anak balita dan berkata, "Pa-pa!"
Elia menarik tangan putranya agar tak menyentuh selang infus.
Elra bertepuk tangan menunjuk senyum menyengir dihadapan ibunya.
"Ayo kita pulang!" ajak Elia dengan lembut.
Bocah laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Papa lagi istirahat, sayang!"
Elra menolak di ajak keluar dari ruangan itu, ia pun menangis.
"Kamu mau menunggu papa?"
Elra mengangguk semangat.
"Papa butuh istirahat, nanti saja kamu datang lagi ke sini?"
Elra malah menangis.
"Sayang, tenanglah. Papa nanti terganggu," Elia membujuk dengan menggendongnya.
Elia tampak kewalahan mendiamkan putranya, tanpa sengaja ia melihat wajah suaminya. Sudut mata Randy mengeluarkan air mata.
Elia gegas keluar dari kamar dan menemui Alpha. "Kakak, sepertinya dia merespon!"
"Saya akan panggilkan Dokter, Nona!" Alpha berlari memanggil tenaga medis.
Ketiganya masuk ke ruangan kecuali Elia dan Alpha.
Selang beberapa menit kemudian, ketiganya keluar dan dokter mengatakan jika pasien mendengar apa yang orang-orang di sekitarnya berbicara.
"Saya mohon kepada keluarga untuk sering mengajaknya berbicara agar dapat membantunya pulih," ujar Dokter.
Elia dan Alpha mengangguk paham.
Dokter dan perawat pun berlalu.
"Nona tidak menghubungi keluarga Tuan Randy?"
"Aku tidak memiliki kontak telepon mereka karena memang tak mengenalnya," jawab Elia.
"Bagaimana kalau pengacara Nona mencari tahu lewat pengacara Tuan Randy?" saran Alpha.
Elia lantas berpikir sejenak, lalu kemudian mengiyakan.
"Biar Elra saya menggendongnya," ucap Alpha.
Elia pun memberikannya, ia lalu mengambil ponsel di tas dan menghubungi pengacara yang menangani kasus perceraiannya dengan mantan suami.
Setengah jam kemudian, pengacara Elia mengirimkan pesan sekaligus nomor ponsel salah satu keluarga Randy.
Elia dengan suara terbata menghubungi wanita yang menjadi sepupu dari mantan mama mertuanya. "Halo, Tante. Ini saya Elia mantan istrinya Randy."
"Elia!" Wanita paruh baya itu tak menyangka.
"Kamu apa kabar?" lanjutnya bertanya dengan semangat.
"Saya baik, Tante."
"Elia, Tante tidak tahu di mana Randy berada," ucap Lanny dengan suara menahan tangis.
__ADS_1
"Tante, Randy bersama dengan saya," Elia berkata terbata.
"Dengan kamu? Kalian memangnya di mana? Apa dia baik-baik saja?" cecar Lanny.
"Randy di rumah sakit dan belum sadar," jawab Elia.
"Kenapa dia di rumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?"
"Randy mengalami kecelakaan, Tante!" tangis Elia kembali pecah.
"Sekarang katakan dia di rawat di mana?" tanya Lanny.
Elia pun memberikan alamat rumah sakit sekaligus ruangan perawatan suaminya.
-
Dua jam kemudian, Lanny pun tiba kebetulan dia sedang berada di kota yang sama. Menghampiri Elia, wanita itu memeluknya dan tangis pun pecah bersamaan.
"Beberapa bulan ini kami tidak pernah tahu keberadaannya," ungkap Lanny.
"Dia bahkan menyewakan rumah orang tuanya, nomor ponselnya tak dapat dihubungi," lanjut Lanny lagi.
"Saya baru ketemu kemarin dan kami sempat berbicara sebentar namun kemudian ia pergi...." Elia menyeka air matanya.
"Sejak mamanya meninggal hidup Randy tak tentu arah, apalagi kamu pergi meninggalkannya. Randy bahkan sering sakit-sakitan dan akhirnya ia memilih pergi tanpa kabar."
"Tante, aku minta maaf. Aku tidak bisa ada di sisi Randy saat ia membutuhkanku," ujar Elia.
"Iya, Elia. Tante juga minta maaf karena terlambat membuktikan kepada keluarga Randy jika ibumu tidak bersalah dan mereka telah diadu domba oleh Cindy," ucap Lanny.
-
Lanny bergantian menjaga Randy tak lupa ia mengabarkan keluarga yang lainnya. Satu persatu sanak saudara mulai berdatangan ke rumah sakit.
Sementara Elia masih berada di kota E dan Alpha telah kembali pulang. Ia bergantian dengan Biom untuk mengawasi adik dan keponakannya Harsya.
Rissa dan Darren beserta istri juga datang menjenguk. Namun, mereka tak menginap.
Sedangkan Harsya dan ibunya tidak mau datang menjenguk karena mereka masih kecewa dengan Randy.
Anaya hanya dapat memberikan semangat pada adik iparnya melalui panggilan suara dan video.
***
Keesokan paginya, Biom mengantarkan Elia ke rumah sakit tentunya bersama dengan putranya.
Seperti biasa balita itu, tersenyum riang ketika memasuki kamar tersebut. Gerak tubuhnya seakan berbicara jika dirinya ingin turun dari gendongan ibunya dan memeluk sang ayah.
Elia duduk di kursi di samping ranjang mantan suaminya seraya memangku Elra yang terus memukul tubuh Randy.
"Pa-pa!" ocehnya.
"Jangan memukul keras, Nak!"
Elra mencium punggung tangan Randy sembari tersenyum.
Elia lagi-lagi harus mengeluarkan air matanya melihat pemandangan di depannya.
Elra yang sangat aktif, mencoba merayap di atas tubuh Randy. Namun, Elia menarik dan menjauhinya.
"Jangan lakukan hal itu lagi, Mama akan membawamu pulang. Jika tidak mau menurut," ucap Elia.
Elra mengangguk.
Elia kembali duduk dan mengajak bicara mantan suaminya. Dia juga menyentuh tangan Randy. "Cepatlah bangun, aku tidak betah di kota ini. Masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan. Putramu mau memelukmu. Bukankah kamu ingin menyentuhnya?"
Jemari tangan Randy bergerak.
Elia membulatkan matanya, "Randy!"
__ADS_1