
Pernikahan Alpha dan Astrid pun terjadi. Di sebuah gedung mewah yang memang di sewakan khusus kepada sepasang pengantin itu.
Alpha berdiri di pelaminan bersama dengan Astrid setelah mengucapkan janji pernikahan dihadapan ratusan para tamu undangan yang hadir.
Undangan disebar sekitar 2 ribu, karena yang datang bergantian jadi tidak terlalu padat.
Rissa lagi- lagi dibuat gelisah, karena kedua sahabat kekasihnya telah resmi menikah. Tinggal dirinya yang belum mendapatkan kesempatan itu. Bahkan lamaran sendiri pun belum terlaksana.
Sore harinya, acara memang belum selesai tapi Biom menyempatkan waktu untuk mengantarkan kekasihnya itu pulang.
"Alpha dan Astrid telah menikah, jika memang dalam waktu seminggu ini Kak Darrel tetap pada keputusannya tidak mau pulang. Kita harus berakhir, Biom." Rissa berkata dengan wajah sendu.
Biom yang sedang menyetir terpaksa meminggirkan mobilnya, "Kamu bicara apa, Rissa?"
"Kamu berhak bahagia meskipun tidak bersamaku," jawab Rissa.
"Aku akan tetap bersamamu!"
"Sampai kapan kita begini terus?"
"Aku tidak tahu, aku akan selalu ada di sampingmu sampai restu itu kita dapatkan!" jawab Biom.
"Aku tak mau terlihat egois, pergilah dan cari wanita yang lebih baik dariku. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkannya!"
__ADS_1
"Aku tetap menolak permintaan kamu, Rissa!"
***
Sehari setelah pernikahan Alpha dan Astrid, Nayna pun dikirim ke Jerman hanya untuk membujuk Darrell.
"Nay, kamu harapan satu-satunya aku. Tolong bujuk kakakku," mohon Rissa.
"Nona, saya akan berusaha sebisa mungkin membujuk Tuan Darrell," ujar Nayna.
Rissa mengangguk mengiyakan.
Nayna menarik kopernya, ia seorang diri terbang ke luar negeri hanya untuk menjalankan misi yang sebetulnya bukan pekerjaannya.
Alasan Madya menyuruhnya pergi ke luar negeri karena pernah bertemu beberapa kali dengan Darrel dan selalu menemani wanita paruh baya ke negara itu.
"Aku tidak yakin Nayna mampu membujuk Kak Darrel," ucap Rissa.
"Nayna sudah pernah bertemu dengan Darrell. Bibi yakin pasti dia mampu membujuknya, apalagi dia seorang wanita tangguh dan cantik pasti bisa merayu," ujar Madya.
"Tapi, dia seorang pengawal bukan penggoda, Bi."
"Kamu jangan meragukan kemampuan dia, meskipun Nayna pengawal. Ia takkan menyerah sebelum tujuannya berhasil," ucap Madya.
__ADS_1
Rissa mengangguk paham.
"Kamu harus tetap sehat, karena beberapa pasienmu telah menunggu. Bibi tidak mau kamu terus bersedih," Madya menatap keponakannya.
Rissa lalu memeluk Madya, "Terima kasih, Bibi."
"Sekarang kita pulang dan kamu harus kembali ke rumah sakit," ucap Madya.
Di dalam mobil, Rissa mengirimkan pesan medsos kepada Darrell. 'Kak, ini terakhir aku menghubungimu. Tolong, pulanglah. Aku sangat menyayangimu dan aku benar-benar merindukanmu. Jika pun kita tak pernah bertemu lagi, tolong maafin aku!'
Setelah mengirimkan pesan kepada Darrell, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Di rumah sakit, Rissa membuka kembali membuka ponselnya dan melihat di media sosial miliknya jika Darrell sedang online.
Pesan yang dikirimnya juga telah dibaca namun tak dibalas, Rissa lantas memblokir semua kontak media sosial milik Darrell.
Rissa hanya bisa pasrah, tinggal kabar dari Nayna. Apakah wanita itu berhasil atau tidak menghancurkan batu di hati kakak kandungnya?
Rissa menarik napas, berusaha tetap tenang. Membuang rasa kesedihannya karena pasiennya membutuhkan sentuhan tangannya. Keselamatan para pasien harus diutamakan, meskipun hatinya sedang gundah.
Beberapa jam perjalanan akhirnya Nayna tiba di negara tujuan, menggunakan taksi ia menuju kediaman Darrell.
Ia sengaja ingin menginap di rumah pria itu agar mudah membujuknya dan memberikan laporan kepada Madya.
__ADS_1
Berkali-kali menekan bel akhirnya pintu apartemen terbuka. Sosok yang dicarinya kini berada di hadapannya.
"Hai!" sapa Nayna tersenyum.