Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 46 - S2- Mengejar Elia


__ADS_3

Randy yang benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya lantas mendatangi kediaman Madya.


Begitu sampai, penjaga keamanan mengatakan jika sang pemilik rumah tidak berada di rumah.


Randy lalu pergi ke rumah Harsya untuk mempertanyakan keberadaan istrinya, lagi-lagi ia tak menemui wanita itu di sana.


Randy melanjutkan pencariannya ke alamat tempat tinggalnya Mitha-sahabatnya Elia.


"Dia tidak di sini, sejak ia menikah kami tak pernah berkomunikasi lagi? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tidak ada, terima kasih." Randy pun berlalu.


Di dalam mobil, Randy menjambak rambutnya. Ia benar-benar frustasi, Elia menghilang karena kesalahannya.


Randy sempat berpikiran untuk mencari Elia di kediaman Harsya namun ia urungkan karena tidak ingin mendapatkan masalah dari pria itu.


Randy akhirnya memilih pulang, sesampainya di rumah ia memeluk ibunya yang berada di kursi roda.


"Aku belum menemukannya, Ma."


"Mama yakin jika Elia dijemput oleh keluarganya," tebaknya.


"Kalau memang dia dijemput keluarganya aku takkan khawatir. Bagaimana bukan?"


"Kamu sudah periksa kamera pengawas rumah sakit?"


"Mereka tidak memberi izin, Ma."


"Kenapa?"


"Karena Elia pergi tak ada ketakutan dan ia setuju dijemput para pria itu."


"Mama yakin jika mereka keluarga mertuamu."


"Aku harus mencarinya lagi, Ma."


"Besok pagi saja, hari juga sudah malam."


Randy mengiyakan.


***


Pagi selesai sarapan, Randy meluncur ke rumah ibu mertuanya. Sesampainya di sana para penjaga keamanan melarangnya masuk.


"Saya adalah menantu di keluarga ini, kalian tidak mengizinkannya?" tanya Randy kesal.


"Maaf, Tuan. Kami hanya mengikuti perintah Nyonya Besar," jawab salah satu penjaga keamanan.


"Apa istri saya di sini?" tanya Randy lagi.


"Maaf, Tuan. Kami tidak tahu dan tak berhak mengurus kehidupan keluarga Tuan Abraham."


"Saya yakin pasti Elia di sini.


"Maaf, Tuan."


Randy memperhatikan seluruh bangunan rumah dari luar pagar berharap menemukan istrinya.


"Pergilah, Tuan!" pinta penjaga keamanan.


Randy pun berlalu. Mengendarai mobilnya, ia melesat ke rumahnya Harsya. Begitu sampai di sana, perlakuan sama juga di terimanya.


"Tuan Harsya dan keluarganya sedang berada di luar kota," ucap salah satu penjaga pintu.


"Apa ada Nona Elia kemari?"


"Tidak ada, Tuan."


Randy akhirnya pun pergi. "Di mana mereka menyembunyikan Elia?" gumamnya.

__ADS_1


Randy baru kepikiran jika dirinya menyimpan ponsel istrinya, gegas ia melaju kendaraannya menuju apartemennya.


Membuka pintu kamarnya, ia mencari ponsel ia simpan di laci lemari pakaian namun tak ditemukannya. Tak ingin menyerah, ia menggeledah seluruh kamar tetapi hasilnya nihil.


"Sial, dia membawa ponselnya!" rutuknya.


Randy mengacak rambutnya, "Di mana aku harus mencarinya?"


Ditengah-tengah keputusasaannya, ponselnya berdering. Tertera nama sekretaris pribadinya.


"Halo, Tuan!"


"Ya, ada apa?"


"Tuan, klien kita Tuan Adi mengajukan komplain."


"Kenapa?"


"Rekonstruksi bangunan yang kita buat tidak sesuai keinginannya," jawab seorang pria dari ujung telepon.


"Bukankah dia setuju sebelumnya?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Namun, ia ingin kita mengubahnya."


"Ubahlah!"


"Kita akan menambah biaya lagi, Tuan."


"Edo, tolong kamu urus masalah ini. Karena ada sesuatu yang harus saya urus!"


"Baik, Tuan."


-


-


Sore harinya, Randy memutuskan kembali ke rumah ibu mertuanya. Begitu ia keluar dari mobilnya, sebuah kendaraan roda empat berwarna hitam baru saja memasuki halaman.


Wanita itu hanya menoleh sesaat kemudian melangkah cepat memasuki rumah.


Randy hendak mengejar namun langkahnya terhenti dengan pagar beberapa orang pria bertubuh besar.


"Saya ingin menemuinya!" ucapnya lantang.


"Maaf, Tuan. Anda dilarang menemui Nona Elia," ujar salah satu pengawal.


"Elia!" Randy terus memanggil nama istrinya.


Dua orang pengawal menyeret Randy menjauh dari pagar.


"Lepaskan saya!"


"Tuan, kami mohon pergilah dari sini. Jika tidak kami akan dipecat!"


Randy mendengar penuturan salah satu pengawal menjadi iba. Ia pun meninggalkan kediaman mertuanya.


Elia dapat melihat jelas jika suaminya sangat terpukul dengan kepergiannya. Namun, ia juga sudah lelah hidup yang terus menerus dikekang.


Elia mengusap perut datarnya, "Nak, kita harus kuat tanpa papa kamu."


Madya menghampiri putrinya yang berdiri di jendela besar rumah mereka. "Apa kamu menyesal meninggalkannya?"


"Tidak, Bu. Aku tak pernah menyesal, dia sudah menyiksaku dan membohongiku selama ini!"


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Setelah anak ini lahir, aku akan mengajukan gugatan perceraian."


"Ibu dan kakakmu juga takkan memaafkannya, dia telah menyakitimu. Dia telah dibutakan oleh fitnah yang disebarkan Cindy."

__ADS_1


"Iya, Bu. Aku tak mau di bohonginya lagi!"


-


Malam harinya....


Randy hanya bisa terduduk lemas di lantai ruang tamu. Dipikirannya terlintas bayangan Elia yang melakukan kegiatan dihadapannya. Senyuman serta tawa wanita itu membuatnya rindu.


Apalagi sebelum kejadian kecelakaan, Elia sempat mengeluh lemas dan muntah terus menerus setiap pagi.


"Elia, maafkan aku!" lirihnya.


Randy lalu pergi lagi ke rumah mertuanya, di luar pagar ia berteriak memanggil nama istrinya.


Para pengawal terpaksa membentaknya karena telah membuat keributan.


"Elia, ada yang ingin aku katakan. Tolong, keluarlah!"


Ponsel salah satu pengawal berdering.


"Halo, Tuan!"


"Aku tidak mau dia muncul di sini, singkirkan dia!"


"Baiklah, Tuan."


Setelah mendapatkan telepon dari Harsya, pengawal tersebut memberitahu rekan lainnya.


Mereka pun mengangguk.


Salah satu pengawal mendekati Randy, "Maafkan kami, Tuan!" ia lalu memukul perut pria yang ada dihadapannya hingga terjatuh.


Randy meringis kesakitan.


"Tuan, pergilah dari sini. Sebelum kami memberikan lebih dari ini!"


Randy lantas berdiri dan memanggil nama Elia lagi.


Para pengawal kembali menghajar Randy hingga pria itu babak belur.


Elia melihat dari kejauhan suaminya dipukul hingga tersungkur lemah tak berdaya di aspal. Ia menarik ujung bibirnya, "Itu belum seberapa!" gumamnya.


****


Esok harinya, Randy membuka matanya dan melihat dirinya kini berada di ranjang rumah sakit.


Keranjang kecil berisi buah-buahan ada di atas nakas dan di sampingnya sebuah amplop putih.


Randy mengambil dan membukanya, tampak sepucuk surat di dalamnya. Ia lalu membacanya.


'Pergilah menjauh dari kehidupan aku, Randy Niel Sudirja. Aku bisa lebih kejam dari apa yang telah kamu lakukan beberapa bulan lalu kepadaku. Aku cukup berbaik hati memperingatkanmu!'


"Aku tidak akan menyerah, kamu dan anakku harus kembali," gumamnya.


Setelah sehat, dia berjanji akan mengejar Elia dan membuktikan jika dirinya bukan seperti dahulu.


Dua orang perawat datang ke ruangan Randy memberikan obat dan memeriksa kondisi pria itu.


"Kapan saya boleh pulang, Sus?"


"Jika Tuan merasa lebih baik dan sehat, sore ini boleh pulang. Tapi, tunggu konfirmasi dari dokter terlebih dahulu!"


Randy mengangguk paham.


Selepas pulang dari rumah sakit, Randy menuju rumah mertuanya ia tak menyerah mengejar istrinya.


Mobil hitam baru keluar meninggalkan kediaman Madya. Randy lalu mengikuti kendaraan tersebut, berharap ia dapat berbicara dengan Elia.


"Dia mengikuti kita!

__ADS_1


"Biarkan saja, Bu. Sampai kapan dia bertahan mengejarku." Elia tampak santai.


__ADS_2