Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 48 - S2 - Masih Peduli


__ADS_3

Elia yang telah tahu berita tentang suaminya, bergegas pergi ke rumah mertuanya tanpa membawa putranya.


Meskipun dirinya belum pulih sepenuhnya, Elia tetap memaksakan mendatanginya.


Begitu sampai dan mengucapkan salam, Mama-nya Randy tersenyum bahagia ketika menatap wajah menantu yang dirindukannya.


Elia membalasnya dengan senyuman singkat.


"Randy baik-baik saja, El!" ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Syukurlah kalau begitu, Ma."


"Elia, maafkan Mama!" mohonnya.


Elia tak mengiyakan, ia hanya berkata, "Mama aku pamit, aku senang jika Randy tidak apa-apa."


"El, kamu mau ke mana lagi? Di mana cucu Mama?"


"Dia sehat dan sangat lucu."


"Bolehkah Mama bertemu dengannya?"


"Tidak, Ma."


"Kenapa, El?"


"Maaf, aku tidak dapat memberitahunya. Permisi!" Elia pun berlalu.


Ketika hendak membuka pintu mobil, Elia mendengar namanya dipanggil segera ia menoleh.


Randy menunjukkan wajah haru menghampiri istrinya, "Aku tahu kamu ke sini ingin menanyakan kabar itu, kan?" tebaknya.


"Ya," jawab Elia membuang wajahnya.


"Aku senang jika kamu masih peduli denganku," Randy tersenyum bahagia.


Elia tertawa getir.


"El, aku rindu denganmu. Maafin aku!"


Elia menoleh lalu berkata, "Buang rasa rindumu itu, sebentar lagi semuanya akan berakhir."


"El, aku tidak ingin kita berakhir!"


"Tetapi aku menginginkannya!" ucap Elia dengan nada dingin.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkannya?"


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan!" Elia membuka pintu mobil.


"Apa dengan aku mati, kamu mau memaafkanku?"


Langkah Elia terhenti.


"El, terima kasih kamu masih peduli denganku walaupun berita itu tidak benar," ujar Randy.


Elia tak mau berlama-lama berbicara dengan suaminya memilih pergi.


Randy hanya terpaku menatap istrinya yang berlalu.


Elia meninggalkan kediaman rumah mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Keputusannya untuk berpisah telah bulat. Tak peduli apa yang akan dilakukan suaminya buat meluluhkan hatinya.


Randy masuk ke rumah dan melihat ibunya menangis, ia lalu memeluk wanita itu.


"Dia tak mau memaafkan Mama, Randy!" isaknya.


"Aku yakin Elia tidak seperti itu, Ma. Hati kecilnya pasti memaafkan kita!"


"Mama ingin bertemu dengan anak kalian sebelum pergi."


"Mama mau ke mana? Jangan tinggalkan aku sendiri!"


"Mama sangat menyesal, Randy."


"Tidak, Ma. Ini bukan salah kita tapi Tante Cindy yang telah membuat salah paham," Randy menghapus air matanya.


"Pertemukan dengan cucu Mama."


"Aku janji, Ma!"


****


Empat bulan berlalu....


Meskipun Randy tak berhenti mengirimkan hadiah kepada istrinya, namun tidak menyurutkan langkah Elia untuk berpisah.

__ADS_1


Pagi ini, sebuah surat dari pengadilan datang. Mama-nya Randy yang membacanya tampak syok sehingga membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.


Randy mendapatkan kabar itu bergegas menemuinya.


Ditemani Lanny dan sekretaris pribadinya, Randy duduk diapit keduanya yang memberikan semangat.


Tubuh Randy seketika ambruk saat dokter mengatakan jika ibunya harus pergi untuk selama-lamanya.


Tangis Randy pun pecah di lorong sepi itu. Wanita yang selama ini menemaninya kini telah pergi.


"Mama, jangan tinggalkan aku!" jeritnya dalam tangis.


Lanny memeluk tubuh Randy yang terus meratapi.


-


Sore harinya, selesai pemakaman Randy hanya dapat terduduk lemas di ranjang kamar sang ibu.


Hatinya benar-benar hancur. Dua wanita yang ia cintai kini harus menjauh darinya.


Randy tak hentinya menangis. "Mama, maafkan aku yang belum mewujudkannya."


Lanny menghampiri Randy dan duduk di samping keponakannya itu. "Kenapa tidak memberitahu Elia tentang kabar ini, Randy?"


"Percuma, Tante. Itu tidak akan membuat Elia luluh dan memaafkan kami."


"Kamu ingin menyerah dan melepaskan Elia?"


Randy mengangguk pelan.


"Kamu tidak mencintainya?"


"Aku sangat mencintainya, Tante. Tapi, dia tidak menginginkanku lagi. Mungkin ini adalah hukuman buatku yang pernah menyakitinya."


Mendengar itu, Lanny meneteskan air matanya kembali. Ia lantas memeluk keponakannya, "Semoga suatu hari kamu menemukan kebahagiaan!"


****


Delapan bulan kemudian.....


Elia dan Randy telah resmi berpisah 7 bulan lalu, kabar wafatnya sang mertua juga Elia dapatkan dari kuasa hukum mantan suaminya.


Ada rasa penyesalan di dalam dadanya karena belum mewujudkan keinginan ibu mertuanya yang ingin bertemu dengan putranya.


Sejak keputusan perceraiannya, Randy tak pernah mengirimkannya hadiah apapun bahkan kabar tentangnya juga tak terdengar.


Randy menyerahkan perusahaan atas nama mantan istrinya karena memang berhak mendapatkannya apalagi mereka juga telah memiliki seorang anak.


Randy membuka usaha menjual pakaian pria di kota E. Ia membeli toko yang tidak terlalu besar karena modalnya tak cukup.


Randy juga menjauhkan dirinya dari keluarga, saudara bahkan teman-temannya.


Empat bulan membuka usahanya, hari ini ia libur jualan. Randy menikmati waktu liburannya dengan berjalan ke sebuah mall tak jauh dari toko sekaligus tempat tinggalnya.


Menggunakan Hoodie dan masker ia berkeliling di dalamnya. Mall tidak ramai karena masih pagi menjelang siang dan bukan hari libur nasional.


Randy duduk di salah satu kafe menikmati secangkir kopi yang telah lama tak ia rasakan.


Seraya menyesap minumannya, ia memperhatikan sekelilingnya. Matanya tak sengaja melihat Elia sedang menggendong anak laki-laki.


Senyum bahagia terukir di bibirnya. Ia ingin menghampirinya namun kakinya tak dapat beranjak. Akhirnya, ia urungkan.


Randy lalu bergegas menghabisi kopinya dan berlalu meninggalkan mall.


Elia menggendong putranya yang kini berusia hampir 13 bulan mendadak heran. Karena anaknya itu menyebut kata papa.


Elia lantas mengedarkan pandangannya.


"Apa dia di sini?" tanyanya membatin.


"Pa-pa!" balita tersebut berucap lagi.


Meskipun ia telah berpisah, namun Elia tetap memperkenalkan putranya dengan ayah kandungnya melalui foto-foto dirinya dan Randy.


"Di mana papa, Nak?" tanya Elia lembut.


Balita lucu itu menunjuk ke arah lift, segera Elia mengikuti arah telunjuknya. Tampak pintu lift baru saja tertutup.


Elia lalu memeluk putranya. "Mungkin kamu salah orang. Ayo kita jalan lagi!"


Elia dan putranya pun kembali melangkah, di sisi keduanya 2 orang wanita yang menjadi pengawal pribadinya.


Randy berjalan sambil memikirkan wajah mantan istrinya dan putranya yang dirindukannya. Hingga sebuah mobil membunyikan klakson sangat keras.


Randy tersadar jika dirinya melangkah dalam keadaan melamun.

__ADS_1


"Hei, minggirlah!" teriak seorang pria dengan suara memekik telinga.


Membuat Alpha yang juga menemani Elia di mall diluaran gedung mengalihkan perhatiannya.


Randy memakai penutup kepalanya, lalu melangkah cepat.


Alpha tak dapat melihat jelas wajah pria yang baru saja dimarahi orang-orang.


Randy akhirnya memilih pergi ke sebuah taman dengan berjalan kaki karena ketika ke mall dia juga melakukan hal sama.


Duduk di taman, ia menikmati sekaleng minuman bersoda. Hidupnya benar-benar tidak teratur. Belum sarapan pagi sudah menikmati kopi dan minuman bersoda.


Randy memang malas makan sejak sang mama wafat. Dia juga sempat masuk ke rumah sakit dan Lanny yang merawatnya. Dirinya akan mengisi perutnya jika memang sangat lapar.


Randy berdiri ketika memperhatikan bocah laki-laki sedang tertawa riang dengan bola kakinya. Ya, wajah yang sama ia lihat di mall.


Randy melangkahkan kakinya mendekatinya, namun 2 orang wanita berpakaian sama dengan cepat menghampiri bocah laki-laki itu.


"Tuan Muda, ayo kembali!" ucap salah satunya.


Randy sejenak terdiam memandangi wajah bocah itu dari kejauhan, dalam hati kecilnya ingin memeluknya.


Seorang wanita muda berlari kecil menghampiri anak laki-laki itu dan menggendongnya.


"Elia!" lirihnya.


Elia lantas menoleh dan tampak terkejut.


Mata Randy tampak berkaca-kaca.


Elia dengan cepat segera memberikannya kepada salah satu pengawalnya. "Bawa Elra ke mobil!"


"Bagaimana dengan Nona?" tanyanya.


"Aku bisa menjaga diriku!"


Kedua wanita itu pun bergegas membawa putranya Elia.


"Apa dia anak kita?" tanya Randy lembut.


"Ya."


"Aku ingin memeluknya, apa boleh?"


"Tidak."


"Oh, baiklah. Bagaimana kabar kalian?"


"Sangat membaik setelah kita berpisah."


"Syukurlah." Randy tersenyum.


Elia dapat melihat jika suaminya sangat berubah, tubuhnya kurus, rambutnya sedikit panjang dan tumbuh janggut kecil di dagunya. Namun, aroma parfumnya tetap sama.


"Siapa nama anak kita?"


"Kamu tidak perlu tahu."


"Kamu takut aku mengambilnya?" tanya Randy.


"Ya."


"Aku tidak akan menyentuhnya jika kamu tak mengizinkannya," ujar Randy.


"Nona Elia!"


Membuat keduanya menoleh.


Alpha segera menemui Elia karena tahu dari anak buahnya jika adiknya Harsya tersebut sedang berbicara dengan seorang pria.


Randy melihat kehadiran Alpha lalu berkata, "Aku pamit, jaga dirimu dan anak kita!"


Alpha hanya diam dan menatap keduanya


Randy membalikkan badannya kemudian berlalu.


Elia lantas berbalik melangkah menuju mobilnya bersama Alpha.


Braakk.....


Elia dan Alpha menoleh.


Orang-orang yang berada di sekitar keduanya ikut berlari mendekati asal suara.


Elia penasaran turut menghampirinya, begitu juga dengan Alpha.

__ADS_1


Matanya membulat, tubuhnya kaku ketika para warga mengangkat tubuh Randy yang telah berlumuran darah ke sebuah mobil.


Alpha dengan sigap memegang tubuh Elia yang terhuyung.


__ADS_2