Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 30 - Kabar Baik (2)


__ADS_3

Malam harinya, Alpha pulang ke rumahnya. Astrid telah menunggu suaminya di teras rumah.


"Kenapa kamu di sini?"


"Aku bosan di rumah."


"Memangnya Mba Sih dan Mba Da sudah pulang?" Alpha menyebutkan nama kedua ART-nya.


"Sudah, mereka ada acara keluarga."


"Kenapa tidak memberitahu aku?"


"Aku tidak mau mengganggu waktu kerjamu," jawab Astrid. "Bagaimana kondisi Hana?" lanjut bertanya.


"Dia sudah sehat, tadi bisa bermain-main di taman dengan Nona Anaya."


"Jadi rindu dengannya," ucap Astrid.


"Lain waktu aku ajak main ke rumah Tuan Muda," janji Alpha.


"Iya, sayang. Kamu sudah makan?"


"Belum."


"Aku sudah siapkan, ayo kita makan!" Astrid memeluk lengan suaminya dan membawanya masuk.


Alpha lalu duduk di meja makan bersama sang istri.


"Tadi Rama memberitahu kami jika Intan hamil," ucap Alpha.


Mendengar kehamilan Intan, Astrid berkecil hati bukannya tidak senang tapi ia belum diberikan kesempatan untuk mengandung.


"Sayang!"


Astrid memaksakan tersenyum.


Alpha memeluk tubuh istrinya dari samping dan mengecup kepalanya, "Jangan bersedih, kita harus sabar dan berusaha."


"Jika aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu, apa kamu akan meninggalkan aku?"


"Sayang, sudah berapa kali ku bilang. Aku akan tetap setia padamu, kita sama-sama berjuang melewati semuanya. Aku tidak mau meninggalkanmu dalam kesepian," janji Alpha.


Astrid memiringkan tubuhnya dan menangis di dada suaminya, "Aku sangat menyayangimu, Al."


"Aku juga, jangan menangis lagi. Ayo makan, setelah kita bertempur!"


Astrid melepaskan pelukannya, menyeka air matanya dan tersenyum. "Itu sih'memang mau kamu!"


"Bagiku kamu itu candu," goda Alpha.


Astrid tersenyum kembali memeluk suaminya. "Makin cinta sama kamu!"


"Aku juga!" ucapnya. "Jangan berpelukan saja, aku sudah lapar!" lanjutnya berucap.


Astrid melepaskan pelukannya dan tertawa kecil.


***


Keesokan harinya....


Rino sengaja pagi-pagi datang ke rumah Kayla, sebulan ini mereka tidak pernah bertemu karena ia sudah memiliki pekerjaan tetap.


Rino menekan bel yang berada di samping pintu.


Tak lama kemudian, Kayla keluar masih memakai pakaian tidur karena hari libur.


"Pagi!" sapa Rino ramah dengan tangan kanannya memegang sebuket bunga mawar.


"Pagi juga," ketusnya.


"Buat kamu!" Rino menyodorkannya m


Kayla menerima buket bunganya, "Terima kasih!"


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rino.


"Sangat baik."


"Maaf, sebulan ini aku tidak mengabarimu."


"Ya," Kayla kembali berkata ketus.


"Apa aku bisa bertemu dengan kedua orang tuamu?"


"Bertemu? Untuk apa?" tanya Kayla.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," jawab Rino.


"Mereka tidak di rumah."


"Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?"


"Aku tidak tahu kapan mereka pulang."


"Bisakah kamu memberitahu aku kalau mereka sudah pulang?"


"Kamu ingin bertemu dengan kedua orang tuaku untuk apa?" tanya Kayla.


"Kamu nantinya juga akan tahu."


"No, jangan membuatku penasaran. Apa tujuanmu kemari?" tanya Kayla tegas.

__ADS_1


"Aku hanya perlu bicara dengan kedua orang tuamu itu saja."


"Ya, aku harus tahu!"


"Maaf, Kay."


"Rino, aku tidak akan memberitahumu jika kamu tidak menjelaskan apa tujuanmu?"


Rino hanya tersenyum lalu menjawab, "Aku pamit pulang, permisi!"


Rino melangkah menuju mobilnya, Kayla mengejar langkah kaki pria itu dan menarik lengannya. "Jadi, kamu datang hanya untuk membuat aku penasaran!"


"Semuanya akan kami tahu nanti, bersabarlah!"


"Tidak, aku tak bisa bersabar lagi. Apa waktu sebulan sebentar? Kamu pergi begitu saja tanpa kabar, tiba-tiba datang untuk menemui kedua orang tuaku. Mau kamu apa?" tanya Kayla yang mulai emosi.


"Kamu merasa kehilangan?"


Kayla terdiam.


"Katakan jika kamu merasa sepi?"


Kayla masih bergeming.


"Kamu masih keras kepala juga," ujar Rino.


"Aku..."


"Kabarin aku jika orang tuamu telah kembali!"


"Tidak."


"Aku akan tiap hari ke sini, jika kamu tidak bosan!"


Kayla tak mampu berkata-kata.


Rino bergegas memasuki mobilnya dan menyalakan mesin.


Kayla kesal, ia melayangkan buket ke udara tanpa melepaskannya dan menyentakkan kedua kakinya.


Rino yang melihat tingkah wanita itu dari kaca spion, menarik ujung bibirnya.


Kayla masuk ke rumah sembari ngedumel, "Apa sih'susahnya tinggal sebutkan apa tujuannya? Buat aku penasaran. Tiba-tiba muncul, terus bicara begitu!"


-


-


Sore harinya, kedua orang tuanya pulang dari rumah saudaranya dari luar kota. Kayla menyambut pasangan paruh baya itu dengan memeluknya.


"Tidak ada masalah 'kan selama Mama dan Papa pergi?" tanya Mama-nya Kayla.


"Tidak, Ma."


"Di rumah Bibi Nisa?" tanya Kayla.


"Iya," jawab pria itu.


"Kenapa dia bisa di sana? Apa Bibi Nisa memiliki hubungan dengannya?"


"Rino itu ternyata keponakan dari suaminya Bibi Nisa," jawab Mama-nya Kayla.


"Aku baru tahu, Ma."


"Kami pun juga," ucap Papa-nya Kayla.


"Dia mengajak kalian mengobrol?" tanyanya penasaran.


"Ya, obrolan seputar pekerjaan saja dan kamu," jawab Papa-nya Kayla.


"Tentang aku?"


"Iya, dia tanya apa kamu sudah memiliki kekasih atau calon suami. Hanya itu saja," jawab Mama-nya Kayla.


"Tapi, dia ingin bertemu lagi dengan kalian," ujar Kayla.


"Pa, sepertinya dia serius!" ucap Mama-nya Kayla.


"Sebenarnya ada apa, Ma, Pa?"


"Kamu telepon Rino sekarang, suruh dia datang malam ini kita makan bersama!" ajak Papa-nya Kayla.


"Pa, ini sebenarnya apa yang kalian rahasiakan dariku?"


"Nanti kamu akan tahu nanti, Papa akan pesan restoran dulu. Jangan lupa kabari dia!" titah Papa-nya Kayla.


Mendapatkan perintah dari sang papa, Kayla lalu menghubungi Rino.


"Halo!"


"Orang tuaku sudah pulang dari luar kota, bisakah kamu bertemu kami untuk makan malam bersama?"


"Bisa, di mana?" tanya Rino.


"Nanti aku akan kirimkan alamatnya."


"Baiklah, aku tunggu!"


Kayla lalu menutup panggilannya.


-

__ADS_1


-


Makan malam pun tiba....


Kayla dan orang tuanya lebih dahulu datang tak lama kemudian muncullah Rino.


"Apa kabar, Om, Tante?" sapa Rino.


"Baik, No. Silahkan duduk!" ucap Papa-nya Kayla.


"Kami sengaja mengundang kamu secara dadakan begini, agar Kayla tak penasaran," lanjut pria paruh baya itu berkata.


"Tidak apa-apa, Om."


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Papa-nya Kayla.


Makanan telah tersaji di meja makan.


"Sambil makan, kamu bisa bicara," ujar Papa-nya Kayla.


"Baiklah, Om. Saya sebenarnya menaruh hati pada Kayla. Jika diizinkan bolehkah saya melamar dan menikahinya?"


Kayla mendengarnya tampak terkejut dan tak percaya.


"Kami setuju saja kamu menikahi Kayla, tapi apakah dia bersedia?" Papa-nya Kayla balik bertanya.


Rino menatap Kayla.


"Kay, Rino serius denganmu. Apa kamu mau menerimanya?" tanya Mama-nya Kayla.


"Kenapa mendadak begini?"


"Waktu itu aku belum siap," jawab Rino.


"Kay, kamu mau atau tidak menerima lamaran Rino?" tanya Mama-nya Kayla.


"Aku akan memikirkannya nanti, Ma, Pa."


"Kamu dengarkan?" tanya Papa-nya Kayla.


"Iya, Om. Saya paham dan mengerti tidak semudah itu mengatakan 'ya."


"Lebih baik nanti kalian obrolkan ini berdua, jika memang saling cocok kami akan merestuinya," ucap Papa-nya Kayla.


"Iya, Om. Terima kasih."


Setelah makan malam, Kayla pulang bersama dengan Rino.


"Kenapa tidak bilang jika ingin melamarku?" tanya Kayla dalam perjalanan pulang.


"Maaf."


"Maaf, maaf, kamu pikir semudah itu. Pergi tanpa kabar lalu tiba-tiba datang melamar. Apa semua wanita kamu perlakukan sama?" Kayla begitu kecewa.


Rino meminggirkan mobilnya, membuka safety belt. "Aku minta maaf tidak memberikan kabar, karena selama ini aku sudah menyusahkanmu. Aku ingin kamu membenciku ternyata caraku salah. Aku malah tak bisa melupakanmu."


"Lalu kamu datang terus melamarku?"


"Aku minta maaf, aku pikir kamu menyimpan perasaan yang sama denganku. Dan ku takut jika kamu dimiliki orang lain makanya ku melamarmu!" Rino menjawab dengan cukup dewasa. Berbeda ketika pertama kali mereka bertemu.


"Kamu memang egois, seenaknya mempermainkan hatiku!


"Kay, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?"


Kayla terdiam.


"Jika kamu telah memiliki hati yang lain, aku akan mundur!"


"Oh, jadi kamu ingin menyerah!" ucap Kayla tak senang.


"Bukan begitu, untuk apa aku bertahan sedangkan hatimu untuk pria lain?" Rino menatap mata Kayla.


Mata Kayla tampak berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu, Kay. Aku cemburu kamu dekat dengan pria lain, tapi kamu tidak pernah tahu. Aku serius dan ingin memilikimu," ungkap Rino.


Kayla malah menangis.


"Kay, aku minta maaf. Jangan menangis begini, nanti pikir orang-orang aku...."


"Kenapa tidak dari awal mengatakannya?" tanya Kayla.


"Aku takut, Kay!"


"Kamu takut aku akan menggigit atau memakanmu!"


Rino tertawa mendengarnya.


"Aku tuh kenapa kesal sekali denganmu!"


"Kamu boleh pukul atau marahi aku!"


Kayla menggelengkan kepalanya.


"Katanya kamu kesal?" tanya Rino.


"Sekarang aku tidak kesal lagi," jawab Kayla.


Rino tersenyum dan berkata, "Aku senang jika kamu tidak kesal lagi."


"Kamu benar-benar serius dengan aku?"

__ADS_1


"Iya."


"Kalau begitu kapan melamarku resmi?"


__ADS_2