Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 51- S2- Tak Senang Dengan Kedatangan Randy


__ADS_3

"Untuk apa lagi kamu ke sini?" tanya Madya.


"Ibu, Randy ke sini hanya ingin bertemu dengan anaknya saja."


"Hanya itu saja?" tanya Madya lagi.


"Iya, Tante." Randy menjawab.


"Kenapa harus kemari?" Madya lagi-lagi bertanya.


"Saya tidak memiliki nomor kontaknya Elia, Tante."


"Oh, baguslah kalau begitu. Lain kali jangan pernah bertemu cucuku di rumah ini," ujar Madya.


Randy mengangguk paham.


"Elia, kamu masuk ke rumah. Biarkan Elra bersama dia," titah Madya.


Elia mengiyakan, lalu melangkah ke rumahnya.


"Randy, saya ingatkan kepadamu. Jangan berharap putri saya kembali," ucap Madya.


Mantan ibu mertuanya Randy pun berlalu.


Randy kembali bermain dengan putranya.


"Elia!" Madya memanggil.


Menoleh dan berkata, "Iya, Bu."


"Jangan pernah memberikan kontak ponselmu kepada dia, jika ingin bertemu dengan Elra silahkan menghubungi Alpha atau Biom!"


"Iya, Bu. Nanti aku akan memberikan nomor ponsel Kak Alpha dan Kak Biom," ucap Elia.


Sejam kedatangan Randy, Harsya dan keluarganya datang berkunjung ke rumah ibunya.


"Bibi, di mana Elra?" tanya Hana yang kini berusia 6 tahun.


"Elra di belakang bersama papanya," jawab Madya dengan cepat.


Hana dan adiknya segera menyusul sepupunya di taman belakang.


"Randy di sini?" tanya Harsya.


"Iya," jawab Madya lagi.


Harsya mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.


Anaya yang sadar suaminya ingin marah, memeluk lengan dan mengelusnya dengan lembut serta berbisik, "Jangan marah di depan anakmu!"


Seketika amarah Harsya meredam.


Anaya tersenyum mendongakkan sedikit wajah menatap suaminya dan mengelus lembut dadanya.


"Sebelum pulang suruh Randy menemuiku," ucap Harsya.


"Iya, Kak."


Hana dan adiknya menghampiri Elra di taman. Gadis kecil itu lalu bertanya kepada Randy, "Kenapa kita tidak pernah bertemu, Paman?"


"Selama ini Paman di luar kota."


"Oh, begitu."


Randy membalasnya dengan senyuman.


Seorang pelayan menghampiri Randy dan berkata, "Tuan Harsya memanggil anda!"


Randy dengan cepat mengiyakan.


Randy setengah jongkok dan berkata pada putranya, "Elra, Papa mau bertemu dengan Paman Harsya. Kamu di sini dengan Kak Hana saja, ya!"


Elra mengangguk.


Randy lalu mengikuti langkah pelayan.


Kini ia ada di balkon rumah tampak Harsya sedang berdiri memandangi langit dengan kedua tangan di saku samping celana panjangnya.


Randy hanya diam tanpa berani menegurnya.

__ADS_1


Harsya membalikkan badannya dan berkata, "Kenapa kamu datang di kehidupan adikku?" tanyanya dengan nada dingin.


"Aku hanya ingin bertemu dengan anakku, Kak." Randy menundukkan wajahnya.


"Hanya itu?"


Randy mengiyakan.


"Kamu tidak ingin mengajak Elia kembali padamu, kan?"


"Tidak, Kak."


"Aku senang mendengarnya, karena kutak pernah mengizinkanmu lagi mendekati adikku," ujar Harsya.


Randy terdiam.


"Pergilah, jangan tunjukkan wajahmu di rumah ibuku lagi. Kamu dapat bertemu dengan keponakanku melalui Alpha dan Biom!"


"Baik, Kak. Terima kasih sudah memberi izin bertemu dengan Elra."


"Ya."


Randy kembali menghampiri putranya dan mengecup kening balita laki-laki itu. Ia meraih tas ransel miliknya dan meletakkannya di punggung.


"Pa-pa!"


"Papa mau pulang, kamu dengan Mama, ya!" Randy mengacak rambut putranya.


Elra lalu menangis.


"Suatu hari lagi Papa akan kembali di sini, sampai jumpa!" Randy bergegas pergi meninggalkan putranya yang menangis histeris.


Randy berjalan sembari menyeka air matanya.


Dengan berjalan kaki, ia menuju jalan raya menunggu sebuah bus.


Beberapa menit kemudian sebuah bus muncul, Randy menaikinya. Dia akan menginap sementara di rumah Lanny.


***


Esok harinya sebelum ia berangkat ke kota E, Randy kembali mengunjungi kediaman Madya untuk bertemu dengan Elra.


Penjaga keamanan mengatakan jika sang mantan ibu mertua tak memberikan izin.


Penjaga keamanan tetap tidak memberikan izin.


Randy tak pernah menyerah, menunggu diluar pagar.


"Tuan, lebih baik pulang. Hari mulai gelap, sepertinya akan turun hujan," jelas salah satu penjaga.


"Saya tetap di sini, siapa tahu Elra akan keluar bersama ibunya."


"Tuan Muda Junior tidak akan keluar lagi, karena dia sedang sakit," ungkap penjaga keamanan tersebut.


"Elra sakit? Sakit apa? Sejak kapan?"


"Saya tidak tahu, Tuan."


Randy hanya dapat menarik napas.


"Lebih baik pulang, Tuan."


Randy tetap pada pendiriannya, ia berdiri di depan pagar meskipun hujan rintik telah jatuh.


Beberapa menit kemudian, air dari langit turun begitu deras ditambah petir yang menyambar.


Elia memperhatikan dari kaca jendela, ia pun bergegas menuruni tangga rumahnya.


"Kamu ingin menemuinya?" tanya Madya.


Pertanyaan sang ibu membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh, "Diluar hujan sangat lebat, Bu."


"Biarkan saja!"


"Bu...."


"Kamu masih peduli dengannya setelah dia melakukan kesalahan kepadamu?" tanya Madya tegas.


"Bu, Randy hanya korban dari Tante Cindy. Dia hanya salah paham karena selama ini wanita itu terus mempengaruhinya dan ibunya."

__ADS_1


"Harusnya dia mencari tahu!"


"Bu, saat itu usia Randy sangat muda. Baginya Tante Cindy adalah malaikat baginya," jelas Elia.


"Ibu tetap tidak mau tahu alasan dia apa. Ibu mau dia menjauh dari kalian!"


"Aku akan mengatakannya, Bu!"


"Tidak perlu, Ibu akan menyuruh penjaga keamanan mengusirnya kalau perlu memberikan pelajaran kepadanya!"


"Bu, tolong jangan sakiti dia!"


"Kamu masih membelanya?"


"Bagaimana jika Elra tahu jika papanya terluka?" Elia balik bertanya.


"Elra harus tahu juga jika mamanya pernah disakiti papanya!" jawab Madya.


Elia terdiam.


Randy yang masih menunggu di pagar akhirnya di paksa beberapa penjaga keamanan. Ia ditarik dengan kasar dan dinaikin ke sebuah mobil.


Satu kilometer dari kediaman Elia, Randy lalu dipaksa turun dari mobil.


"Maafkan kami, Tuan!" ucap ketiga pria tersebut kemudian berlalu.


Permintaan maaf entah berapa kali dilontarkan para pria itu, mereka mengatakan jika hanya menjalankan perintah Madya.


Randy berjalan seorang diri di tengah kehujanan.


Randy memilih berteduh di sebuah toko yang sudah ditutup. Tubuhnya menggigil, air hujan menusuk tulangnya.


Randy duduk sembari memeluk lututnya. Memperhatikan jalanan yang dilalui pengendara yang saling membunyikan klakson.


Langit kembali cerah, akhirnya Randy pulang ke Kota E.


***


Sebulan berlalu....


Randy yang sedang sibuk melayani pelanggan tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan seorang wanita.


Randy bergegas keluar dari tokonya dan menolong wanita tersebut.


"Hei!"


Dua orang pria menoleh.


"Jangan ikut campur urusan kami!" bentak salah satunya.


"Aku akan berhenti ikut campur jika kalian tak menyakitinya!"


"Kami hanya ingin isi tas miliknya," ucap salah satu pria lagi.


"Itu bukan hak kalian!" sentak Randy.


"Bukan urusanmu!" Kedua pria itu menyerang Randy dengan tangan kosong.


Dan para perampok mulai berjatuhan.


Salah satu pria jahat tersebut mengeluarkan senjata tajam dan menusuk perut Randy.


Seketika tubuh Randy ambruk.


Para pria itu lantas ketakutan dan kabur.


Wanita yang akan menjadi korban perampokan menjerit histeris.


Orang-orang yang sedari tadi hanya melihat, berlari mendekati tubuh Randy dan membopong tubuhnya ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil wanita itu.


Sesampainya di rumah sakit, wanita tersebut menghubungi suaminya sambil menangis, "Sayang!"


"Kamu kenapa?" tanya seorang pria dari ujung telepon.


"Randy dilarikan ke rumah sakit," jawabnya dengan tangis semakin meledak.


"Sayang, tenanglah. Kamu beritahu alamatnya sekarang, aku akan ke sana!"


Wanita itu menyebutkan nama rumah sakitnya.

__ADS_1


"Tetap tenang dan jangan ke mana-mana!"


"Iya, sayang."


__ADS_2