Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 20 - Rissa Resmi Dilamar


__ADS_3

Sebulan pasca kecelakaan, hari ini Rissa dan Biom melangsungkan acara lamaran. Tampak Darrell sebagai kakak kandungnya duduk di deretan kursi paling depan bersama dengan adiknya.


Seminggu lalu, Darrell baru saja tiba dari Berlin. Ia akan akan menetap di tanah kelahirannya.


Acara diadakan di sebuah hotel ternama tak jauh dari kediaman Rissa. Tentunya, seluruh biaya di tanggung Harsya.


Rissa duduk bersebelahan dengan Madya, wanita itu tampak cantik meskipun ia berjalan harus di papah dan memakai tongkat namun tidak membuatnya berkecil hati.


Senyum lebar terpancar dari wajah Biom yang tak hentinya memandangi calon istrinya itu.


Tepat jam 10 pagi, acara pun dimulai.


Panitia mulai membuka pembicaraan, para tamu yang hadir menyimak seluruh rangkaian acara.


Kini saatnya penyematan cincin di jemari Rissa yang akan dipasang oleh calon ibu mertuanya.


Rissa memeluk ibunya Biom, wanita paruh baya itu mengecup kening calon menantunya.


Acara lamaran membuat Anaya menangis haru, lagi-lagi Harsya mengenggam tangan istrinya agar tak larut dalam kesedihan masa lalunya.


Selesai acara, Biom dan Rissa berfoto. Pernikahan akan dilangsungkan 2 pekan lagi karena memang permintaan dari pihak keluarga pria.


Keluarga Rissa pun menyetujuinya karena memang mereka telah merencanakan persiapan pernikahan jauh-jauh hari.


Biom membantu Rissa berjalan, ia terus di samping calon istrinya karena banyak para tamu ingin mengucapkan selamat.


"Sekarang kamu duduk, dari tadi sudah berdiri. Aku tidak mau hal buruk menimpamu lagi," Biom berkata pelan di dekat Rissa.


Dan wanita itu menuruti permintaan calon suaminya.


"Apa kamu ingin aku ambilkan minuman?" Biom menawarkan diri.


"Boleh," jawab Rissa.


"Tunggulah sebentar," kata Biom.


Rissa mengiyakan.


Tak lama kemudian, Biom menyodorkan segelas es jeruk.


Rissa menerima dan menenggaknya.


Biom mengelap bibir Rissa dengan tisu.


"Terima kasih," lirihnya.


Biom hanya tersenyum.


"Maaf aku jadi merepotkanmu, karena belum mampu berjalan sendiri," ucap Rissa.


"Tidak apa-apa, kamu juga nanti akan sembuh dan kembali seperti semula."


Anaya menghampiri Rissa dan memeluknya. "Kakak, aku pamit mau pulang. Hana sepertinya sudah mengantuk. Sekali lagi selamat buat kalian, semoga dilancarkan hingga hari pernikahan."


"Terima kasih, Ana. Karena kalian aku bisa bangkit seperti ini," kata Rissa.


"Kami menyayangi Kak Rissa, apalagi Hana. Aku rindu kamu mengunjungi kami," ujar Anaya.


"Jika aku sudah sehat dan beraktivitas seperti biasa, ku akan ke rumah kalian," janji Rissa.


"Iya, Kak."


Sementara itu, Darrell sedang berdiri karena baru saja Rama dan Alpha meninggalkannya. Gegas Nayna mendekatinya.


"Kamu!" Darrell tampak terkejut.


"Bagaimana perasaannya, Tuan?" tanya Nayna.


"Perasaan apa?"


"Hari ini Nona Rissa akhirnya resmi dilamar," jawab Nayna.


"Aku tentunya sangat senang," kata Darrell.


"Semoga pernikahan Nona Rissa dan Tuan Biom berjalan lancar," harapan Nayna.


"Ya, semoga," ucap Darrell. "Lalu kapan akan dilamar?" lanjutnya bertanya.


"Saya belum memiliki kekasih, siapa pula yang akan melamar," ujar Nayna.


"Oh iya, aku lupa jika kamu menunggu pria itu."


"Sebenarnya tidak juga, jika memang ada yang pas dan cocok di hati saya tidak salah 'kan menolak lamarannya," ungkap Nayna.


"Tidak salah, sih."

__ADS_1


"Memangnya siapa pria itu? Apa aku mengenalnya?" tanya Darrell.


"Tentu saja, Tuan."


"Apakah dia ada di sini?" Darrell bertanya lagi.


"Ada, Tuan."


"Yang mana?" Darrell begitu penasaran.


"Saya tidak akan memberitahunya," jawab Nayna.


"Bilang saja kalau pria itu tak pernah ada," kata Darrell.


"Dia memang ada, Tuan. Tapi..."


"Tapi, apa?"


"Lupakan saja, Tuan!"


"Baiklah kalau begitu," ucap Darrell.


***


Darrell mendatangi kediaman Harsya di temani Nayna. Wanita itu menjadi sopir pribadinya karena perintah Madya.


Rissa kini dijaga oleh Rama dan Intan serta 2 orang ART.


Sesampainya di sana, Darrel menemui Harsya yang sedang bermain dengan Hana di taman belakang rumahnya.


"Selamat pagi!" sapanya.


"Kak Darrell, selamat pagi juga!" Harsya menyapa.


"Apa kedatangan ku mengganggu waktu kalian?"


"Tidak, Kak." Jawab Harsya.


"Aku ingin berbicara padamu, apa kamu memiliki waktu?" tanya Darrell.


"Suamiku, biarkan Hana bersamaku," ujar Anaya mengambil alih menggendong putrinya.


Anaya lalu membawa masuk putrinya dan mempersilakan Darrell bicara dengan suaminya.


"Ada apa, Kak?"


"Maaf, Kak. Perusahaan ku tidak membutuhkan karyawan, mungkin ada di kantornya Astrid. Coba Kakak tanya saja pada Alpha atau istrinya karena kemarin mereka bilang butuh karyawan."


"Baiklah, aku akan bertanya pada mereka. Di mana ku bisa menemuinya?"


"Alpha hari ini sedang berada di rumah mama, jadi Kak Darrel langsung saja ke kantornya Astrid. Nayna bisa mengantarkannya," jawab Harsya.


"Baiklah, aku akan ke kantor Astrid."


"Iya, Kak. Aku akan menelepon Alpha juga agar disampaikannya kepada istrinya," ucap Harsya.


"Kalau begitu, terima kasih!"


"Iya, Kak."


Darrell pun pergi, Harsya lalu menghubungi karyawannya.


"Halo, Tuan!" sapa Alpha dari kejauhan.


"Apa kantornya Astrid masih menerima lowongan pekerjaan?"


"Masih, Tuan."


"Kak Darrell akan pergi ke sana, tolong beritahu Astrid," pintanya.


"Baik, Tuan. Saya akan menelepon Astrid dan memberitahunya," ucap Alpha.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan."


Darrell kini berada di dalam mobil, ia mengambil alih menyetir.


"Apa kamu tahu kantor istrinya Alpha?" tanyanya pada Nayna.


"Tahu, Tuan."


"Tolong, tunjukkan jalannya!" pinta Darrell.


"Iya, Tuan."

__ADS_1


Sejam perjalanan dari rumah Harsya ke kantornya Astrid, akhirnya keduanya pun sampai.


Darrell dan Nayna keluar dari mobil.


"Tuan, saya tunggu di sini saja!" ucap Nayna.


Darrell menarik tangan Nayna, "Ikut aku!"


"Tapi, Tuan..."


"Aku tidak terlalu mengenal istrinya Alpha, jadi temaniku menemuinya," ujar Darrell.


Nayna pun pasrah.


Darrell pun bertanya pada resepsionis, setelah mendapatkan izin keduanya melangkah ke ruang kerjanya Astrid.


Begitu di depan pintu, seorang wanita yang merupakan sekretarisnya Astrid membukakannya. "Silahkan masuk, Tuan, Nona!"


Darrell dan Nayna menjawabnya dengan senyuman.


Astrid berdiri dan mempersilakan tamunya untuk duduk.


Darrell dan Nayna pun duduk.


"Saya Darrell kakaknya Rissa!" mengulurkan tangannya.


Astrid tersenyum lalu menyambut uluran tangan pria yang ada dihadapannya, "Saya Astrid, istrinya Alpha. Apa yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan ini, apa masih ada lowongan kerja?" tanya Darrell menyerahkan berkas lamaran kerjanya.


Astrid memeriksanya lalu menjawab, "Kami memang membutuhkan karyawan, anda boleh balik lagi ke sini dan bekerja."


"Benarkah?" Darrell tampak begitu senang.


"Iya, Kak."


"Terima kasih," ucap Darrell tersenyum.


Astrid membalas dengan senyum.


Mereka bertiga lanjut mengobrol singkat setelah itu berpamitan pulang.


Di dalam mobil, Darrell berkata, "Kita cari makan siang, ya."


"Tuan, mentraktir saya?"


"Iya," jawab Darrell. "Karena kamu telah menemaniku hari ini," lanjut berucap.


"Baiklah, aku senang sekali jika Tuan mentraktir saya!" ujar Nayna.


"Kamu mau kita makan di mana?"


"Terserah, Tuan."


"Baiklah!"


Darrell lalu mengarahkan kemudinya ke restoran siap saji milik perusahaan luar negeri.


Darrell yang mengantri, tak lama kemudian ia membawa 2 porsi makanan ke meja tempat dimana Nayna menunggu.


Darrell memberikan seporsi ayam goreng dan nasi kepada Nayna.


"Terima kasih, Tuan."


"Ya, silahkan!"


Nayna pun menikmati ayam goreng tepung tersebut. Karena sering menemani Darrel, ia memiliki waktu untuk keluar rumah dan sekedar berkeliling.


Biasanya pekerjaannya memang menemani Madya berpergian, namun jika tak ada. Dirinya akan berada di rumah mewah itu hingga jadwal kerja hariannya selesai.


Darrell melihat Nayna dengan bibirnya belepotan saus, tanpa permisi ia gegas mengelapnya lembut dengan jemari jempol kanannya.


Nayna begitu terkejut ketika jemari Darrell menyentuh bibirnya.


"Maaf!" Darrell tersenyum tanpa bersalah.


Nayna tersenyum kaku.


"Kamu makan seperti anak kecil!" ujar Darrell.


"Benarkah?" tanya Nayna tersenyum nyengir.


"Iya."


"Terima kasih begitu perhatian dengan saya, Tuan."

__ADS_1


"Iya, sama-sama."


__ADS_2