
Tak berselang lama setelah itu matahari pelan-pelan mengusir kegelapan dengan sinarnya.
Cahaya memang masih remang-remang tetapi hal itu membuat pangeran Aksara dapat terbangun dari tidur lelapnya.
Saat melihat matahari mulai terbit pangeran Aksara langsung beranjak dari sofa dan berlari mendekati peri Bulan dengan gembira.
Senyuman yang tadi merekah di wajah pangeran Aksara langsung sirna saat melihat peri Bulan yang masih belum siuman.
"Kenapa dia masih belum siuman, tabib bilang Bulan akan siuman saat ini sudah pagi hari, ini sudah pagi, kenapa tidak siuman juga, apa tabib salah prediksi"
Wajah pangeran Aksara terlihat sedih ketika melihat peri Bulan yang masih belum sadar juga.
"Mungkin sebentar lagi dia akan siuman, sembari menunggu dia siuman, lebih baik aku mandi dulu"
Pangeran Aksara masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai pangeran Aksara keluar dan kembali mendekati peri Bulan.
"Dia masih belum siuman, artinya prediksi tabib benar-benar salah, kenapa aku percaya jika dia akan siuman hari ini"
Kecewa pangeran Aksara pada tabib.
"Bulan bangunlah"
Tintah pangeran Aksara dengan suara yang begitu lembut.
Peri Bulan menggeliat karena sinar matahari begitu menyilaukan matanya.
Pangeran Aksara yang melihat peri Bulan akan segara siuman tersenyum senang.
"Akhirnya dia akan siuman juga, prediksi tabib berarti benar"
Pangeran Aksara melihat peri Bulan yang terus menggeliat, pelan-pelan mata peri Bulan terbuka.
Betapa terkejutnya peri Bulan saat melihat seorang laki-laki yang begitu asing berada di hadapannya saat ia membuka mata.
"Siapa kau?"
Terkejut peri Bulan langsung duduk dari tidurnya.
"Aku Aksara, kau masih ingat dengan ku bukan?"
"Aksara"
Peri Bulan berusaha mengingat pangeran Aksara.
Lintasan di mana pertemuan ia dan pangeran Aksara berputar di benak peri Bulan.
"Apa kau masih ingat pada ku?"
Peri Bulan mengangguk takut.
Mata peri Bulan melihat sekelilingnya yang begitu sangat asing.
"Di mana aku?"
"Kau berada di dalam istana ku, aku membawa mu ke sini saat kau pingsan di dalam hutan"
"Istana, jadi dia seorang pangeran" batin peri Bulan.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku, tapi aku harus pergi dari sini secepatnya"
Peri Bulan hendak beranjak dari tempat tidur.
"Eh tunggu dulu"
__ADS_1
Cegah pangeran Aksara yang tidak akan membiarkan peri Bulan pergi dengan semudah itu.
"Aku ingin pulang, di sini bukan rumah ku"
"Aku tau, tapi sebelumnya aku ingin bertanya pada mu, apa kau bersedia menjawabnya?"
Peri Bukan mengangguk.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Dari mana kau sebenarnya, apa kau berasal dari kerajaan Fanjafan?"
Peri Bulan menggeleng cepat.
"Aku bukan berasal dari sana, aku juga baru pertama kali ini mendengar nama kerajaan yang kamu sebut tadi"
Begitu leganya hati pangeran mendengar hal itu.
"Lalu berasal dari mana kamu sebenarnya?"
Peri Bulan langsung diam.
"Apa aku bilang saja padanya kalau aku bukan manusia, tapi dia pasti akan langsung membunuh ku, aku tidak mau hal itu terjadi, aku masih hidup"
"Kenapa kamu diam, jawab pertanyaan aku"
"Aku lupa aku berasal dari mana"
"Apa kamu tidak ingat pada ayah dan ibu mu?"
"Ayah, ayah itu apa?"
"Kamu tidak tau apa itu ayah?"
Peri Bulan menggeleng cepat.
"Tidak, selama ini aku hanya tinggal bersama ibunda"
"Kenapa dia tidak punya ayah, apa mungkin ayahnya sudah meninggal" batin pangeran Aksara.
"Kamu masih ingat di mana rumah mu?"
"Iya, tapi aku lupa di mana jalan pulang"
"Jadi kamu tersesat?"
Peri mengangguk.
"Iya, aku tersesat, aku tidak bisa menemukan jalan menuju rumah ku"
"Kasihan sekali dia" batin pangeran Aksara menatap iba.
"Rasa penasaran mu sudah selesai bukan, sekarang izinkan aku pergi, aku mau pulang"
Tanpa mendengar jawaban pangeran Aksara, peri Bulan hendak keluar dari dalam kamar ratu.
"Mau pergi kemana kamu?"
Langkah peri Bulan langsung terhenti.
"Aku ingin pulang"
"Bagaimana kamu bisa pulang sedangkan kamu melupakan jalan pulang"
Peri Bulan diam ia tidak menemukan alasan lain lagi untuk bisa keluar dari dalam istana.
__ADS_1
"Bagaimana ini, aku harus jawab apa, tak mungkin aku bilang yang sebenernya, bisa-bisa dia akan langsung membunuh ku" batin peri Bulan panik.
"Aku akan berusaha mencari jalan pulang, kau tidak usah khawatir, cepat atau lambat aku juga pasti bisa menemukan rumah ku kembali"
"Kau masih belum sembuh, setelah sembuh baru kau boleh pulang ke rumah mu"
"Aku sudah sembuh, luka ini cuman luka kecil saja, aku baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, tidak akan ada apa-apa yang terjadi pada ku"
"Tidak bisa, kau harus tetap berada di sini"
Tegas pangeran Aksara penuh penekanan.
Peri Bulan terkejut melihat pangeran Aksara yang tiba-tiba marah padanya.
"Aku hanya ingin pulang, kenapa kau marah"
Dengan wajah takut peri Bulan memundurkan tubuhnya dari pangeran Aksara yang berjalan mendekatinya.
"Aku tidak mau kamu pergi dari sini"
"Kenapa demikian, aku kan cuman ingin pulang, kenapa kau sepertinya tidak mau membiarkan aku pergi dari sini?"
"Karena aku sudah menyelamatkan mu dan sebagai imbalannya kau harus bersedia menikah dengan ku"
Peri Bulan begitu terkejut mendengar kata nikah yang keluar dari bibir pangeran Aksara.
"A-aku tidak mau"
"Kenapa kau tidak mau?"
Pangeran Aksara berjalan mendekati peri Bulan yang terus mundur.
"K-karena aku tidak menyukai mu"
Terbata-bata peri Bulan yang terus mundur hingga tubuhnya mentok ke dinding.
Peri Bulan gelisah saat pangeran Aksara terus mendekatinya.
"Berhenti, jangan dekati aku"
Tintah peri Bulan namun sayangnya pangeran Aksara tidak mendengarnya.
"B-berhenti di sana, jangan dekati aku"
Pangeran Aksara tidak mendengarkan dan terus mendekati peri Bulan yang ketakutan.
Kini pangeran Aksara berdiri di hadapan peri Bulan dengan kedua tangannya yang berada di kanan dan kiri peri Bulan.
"Apa kau bilang, tidak menyukai ku?"
Peri Bulan diam, ia sangat takut karena kini wajah pangeran Aksara berada tepat di depannya.
"Jawab"
Teriak pangeran Aksara yang membuat peri Bulan terkejut.
Peri Bulan mengangguk takut, ia tak berani menatap wajah pangeran Aksara.
"Cinta itu bisa muncul dengan seiring berjalannya waktu, jadi tak ada alasan untuk mu menolak"
"Tapi aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai"
"Sudah ku bilang cinta itu bisa muncul dengan seiring berjalannya waktu"
Tegas pangeran Aksara dengan menunjuk ke dada peri Bulan yang kini sedang di landa rasa takut yang luar biasa.
__ADS_1