
Di sisi lain.
Pangeran Aksara bangun dari tidur lelapnya, ia tak bisa tidur, alhasil ia duduk di samping istana dengan pandangan yang terus tertuju pada bulan yang berada di langit terang.
Cahaya bulan itu mampu mengusir kegelapan walaupun tak sebesar sinar matahari yang benar-benar terang, sehingga kegelapan langsung menyingkir.
Wajah pangeran Aksara tampak sedih, pikirannya terus tertuju pada hari esok, hari yang ia ingin hindari, namun tetap saja tidak bisa.
"Bulan, besok aku akan bertunangan, tapi dengan orang yang tidak aku cintai, apakah kau akan biarkan aku menikah dengan orang yang tak aku cintai?"
"Apa kau tidak memiliki inisiatif untuk membantu ku?"
Tak ada jawaban, bulan yang ada di langit itu tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pangeran Aksara ajukan.
Pangeran Aksara hanya terus menatap ke arah bulan yang cantik itu, ia menghembuskan napas berat, ia benar-benar bingung harus apa.
"Kakak" panggil seseorang yang membuat pandangan pangeran Aksara jatuh ke arahnya.
"Ada apa, kenapa jam segini kau masih belum tidur, ini sudah larut malam, seharusnya kau tidur, bukan malah keluyuran"
"Kakak sendiri tidak tidur, jadi tidak usahkan aku menjawab pertanyaan kakak" jawab pangeran Shiwa.
Pangeran Aksara tak lagi bertanya apa-apa, ia terus menatap lurus ke depan.
"Kakak kenapa berada di sini, di sini dingin kak, nanti kakak sakit kalau berada di sini, lebih baik ayo kita masuk ke dalam saja" ajak pangeran Shiwa.
"Tidak mau, aku mau di sini saja, kau masuk saja, tinggalkan aku sendiri"
__ADS_1
Pangeran Shiwa mengerti kalau kakaknya pasti tengah kacau karena besok akan menjadi hari di mana ia akan bertunangan dengan putri Arumi yang tak ia cintai.
Pangeran Shiwa meninggalkan pangeran Aksara yang masih terus menatap lurus ke depan.
"Kenapa kau ada di sini, kenapa masih belum tidur?" pangeran Yudistira tak sengaja berpapasan dengan pangeran Shiwa yang kembali dari samping istana.
"Aku tidak bisa tidur kak, kakak tau di samping istana ada kak Aksara, dia lagi galau di sana, kakak bantu bujuk dia untuk masuk ke istana lagi, suasana istana sedang dingin, aku hanya gak mau kak Aksara sakit" titah pangeran Shiwa berharap pangeran Yudistira bisa membujuk pangeran Aksara.
"Itu akan menjadi urusan ku, sekarang kau masuklah ke dalam kamar mu, istirahatlah, besok kau tidak akan bisa istirahat" suruh pangeran Yudistira yang di balas anggukan oleh pangeran Shiwa.
Pangeran Shiwa masuk ke dalam kamarnya, sementara pangeran Yudistira masih berdiri di tempat tanpa pergerakan.
"Pangeran Shiwa bilang kalau pangeran Aksara ada di samping istana, kenapa dia berada di sana, apa yang dia pikirkan, aku harus ke sana, aku harus liang apa yang dia lakukan"
Pangeran Yudistira mendekati pangeran Aksara yang tengah melamun di samping istana yang sepi, satu orangpun tidak ada yang melintas, sungguh tempat itu benar-benar sepi, sesuai untuk pangeran Aksara menenangkan pikirannya.
Pangeran Aksara menyadari keberadaan kakaknya, ia menatap ke arah kakaknya yang hanya berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apapun.
"Itu tidak akan terjadi kakak, aku akan baik-baik saja, kakak tidak usah khawatir"
"Aksara aku tau kau marah pada ayah, namun alangkah baiknya kau terima saja perjodohan itu, ingatlah satu hal kalau cinta itu tidak harus memiliki, jika kau mencintainya, kau harus bisa relakan dia bersama orang lain walaupun itu berat"
"Tapi masalahnya kak Bulan itu akan menikah dengan pangeran Arjuna, pastinya aku akan bertemu setiap hari dengannya, apakah aku kuat melihat orang yang aku cintai hidup bersama dengan kakak ku sendiri, tentu saja tidak kak, itu akan membuat jiwa dan raga ku tertekan, aku tidak mau hidup tertekan seperti itu, ayolah kak carikan aku solusi dari masalah ini"
"Aku sudah menemukannya"
Wajah pangeran Aksara langsung berbinar, ia bangkit dari duduk dan menatap tak percaya ke arah pangeran Yudistira.
__ADS_1
"Apa itu kak, cepat kakak katakan, aku ingin dengar"
"Aku tidak mau, aku mau menyimpannya sendiri, kau hanya tinggal mengikuti alurnya saja, besok kau harus bertunangan dengan putri Arumi, aku tau itu berat, tapi itu harus kau lakukan"
"Aku tidak mau kak, aku tidak mau bertunangan dengannya, kakak dari awal sudah tau kan, mengapa kakak masih berusaha nyuruh aku bertunangan dengannya"
"Aksara dengarkan baik-baik, ikutin saja apa yang aku katakan, aku akan pastikan akhir endingnya bahagia, kau jangan membantah dulu, ikutin instruksi yang aku berikan"
"Sekarangkan kau dengarkan baik-baik, besok kau harus bertunangan dengannya, pura-pura bahagia dulu, walaupun aslinya kau tertekan, dan teruntuk tahap selanjutnya, aku yang akan menyelesaikannya, kau tidak perlu ikut-ikutan lagi, aku akan jamin semuanya akan berjalan dengan lancar seperti rencana ku"
Pangeran Aksara menatap wajah kakaknya yang terlihat ada sesuatu yang sudah di rencanakannya di baliknya, mangkanya akhir-akhir ini pangeran Yudistira tampak lebih tenang, tak bingung seperti yang lainnya.
"Baiklah, aku akan bertunangan dengannya besok, tapi ingat aku tidak mau menikahinya, kakak harus cari cara agar pernikahan itu di batalkan"
"Itu akan menjadi urusan ku, kau tidak perlu khawatir, sekarang masuklah ke kamar mu, ikutin saja alurnya, kau tidak perlu cemas"
Pangeran Aksara mengangguk, ia serahkan semuanya pada pangeran Yudistira, ia sangat berharap kakaknya itu dapat menyelesaikan kesulitannya ini.
Pangeran Aksara masuk ke dalam kamar, ia kembali memejamkan mata dengan tenang tak sekacau barusan.
Pangeran Yudistira pergi dari sana, awalnya ia ingin menjelaskan segalanya tentang rencana yang akan ia lakukan, cuman tak sengaja pandangannya melihat sepasang mata yang tengah berusaha untuk mendengar pembicaraan mereka.
Pangeran Yudistira kembali ke dalam kamarnya, ia meninggalkan orang misterius yang bersembunyi di semak-semak yang tak jauh dari posisi mereka.
Orang misterius yang tak lain adalah paman Kartos, dia keluar dari dalam tempat persembunyiannya saat di rasa sudah tidak ada orang lain lagi yang melihatnya di sini.
"Kenapa pangeran Yudis tidak bilang apa yang akan menjadi rencananya, apa dia sudah tau kalau aku tengah berusaha mencari tau kehidupannya dan adik-adiknya lainnya"
__ADS_1
"Aku harus cari tau rencana apa yang akan pangeran Yudis gunakan, agar aku bisa bilang ini semua pada raja Namrud dan raja Namrud bisa waspada"
Paman Kartos masuk ke dalam istana melewati pintu belakang, ia menyamar menjadi seorang prajurit, ia berharap penyamarannya tak akan ketahuan oleh pihak istana.