
Mereka berdua berhenti di depan kamar dayang yang terletak di paling pojok.
"Ini kamar mu, ibu Dhambi tolong ajarin dia bagaimana menjadi dayang yang baik" ibu Dhambi mengangguk, ibu Dhambi adalah dayang senior yang masih bekerja di istana ini walaupun usianya sudah sepuh.
"Pangeran tidak usah khawatir, ibu akan mengajarinya banyak hal tentang pekerjaannya" jawab ibu Dhambi.
Pangeran Arjuna mengangguk, ia tak khawatir menitipkan Delima pada ibu Dhambi, karena ia tau ibu Dhambi akan menjaganya.
"Aku pergi dulu, istirahat di kamar mu" Delima mengangguk lalu pangeran Arjuna meninggalkan mereka berdua.
"Masuklah ke dalam, istirahat saja hari ini, besok kau bisa langsung berkerja" suruh ibu Dhambi.
"Terima kasih ibu Dhambi" ibu Dhambi tidak menjawab, ia melangkah meninggalkan Delima yang masih berdiri di depan pintu.
Delima menatap kepergian ibu Dhambi, ia kemudian masuk ke dalam kamar yang lumayan luas itu.
"Ini kamar dayang?" tak percaya Delima saat melihat kamarnya yang bagus dan rapih itu.
"Tidak, tidak, tidak kamar dayang sebagus ini, lalu bagaimana dengan kamar pangeran, ckckck pasti lebih besar dan bagus" Delima berdecak kagum melihat kamarnya yang seperti kamar tuan putri saja.
"Beruntungnya aku bisa bertemu dengan pangeran Arjuna, kalau aku tidak bertemu dengannya, aku tidak tau bagaimana hidup ku nantinya" Delima sangat bersyukur bisa bertemu dengan pangeran Arjuna di masa sulitnya seperti saat ini.
Delima merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan mata, ia akhirnya bisa memejamkan mata setelah semalam full dia menangis karena tak mau menikah dengan juragan Doni.
Pangeran Arjuna berjalan mendekati kamar pangeran Aksara.
"Pangeran Aksara" panggil pangeran Arjuna namun yang ia lihat bukan pangeran Aksara, melainkan peri Bulan yang berdiri di depan cermin.
Peri Bulan melihat ke arah pangeran Arjuna yang asing baginya.
"Siapa kau?"
"Aku kakaknya pangeran Aksara, apa kau tau dia di mana sekarang?" peri Bulan menggeleng, sedari tadi ia tidak menemukan keberadaan pangeran Aksara.
"Aku tidak tau, dia tidak kembali ke sini"
__ADS_1
"Pergi kemana pangeran Aksara, apa dia ada di kamar kak Yudis?" batin pangeran Arjuna.
"Aku harus cek ke sana" batin pangeran Arjuna.
Pangeran Arjuna menutup pintu dan berjalan mendekati kamar pangeran Yudistira.
Peri Bulan yang melihat pangeran Arjuna pergi bernapas lega.
"Untung dia tidak terlalu lama berada di sini, aku kira dia jahat dan akan membunuh ku" kekhawatiran peri Bulan semenjak tadi
"Tidak, tidak, tidak, dia tidak sejahat itu, Bulan kendalikan diri mu, kau jangan begini, jika ada yang melihat mu dalam keadaan seperti ini, mereka pasti akan curiga pada mu" peri Bulan berusaha menenangkan dirinya agar kembali bersikap seperti manusia pada umumnya.
"Berada di sini semakin lama semakin tak aman, aku harus pergi dari sini, aku tidak mau berada di sini lebih lama lagi, malam masih lama, lebih baik aku pergi sekarang aja dari sini"
"Iya, aku harus pergi dari sini detik ini juga, kalau menunggu malam tiba masih lama, aku sudah tidak kuat tinggal di sini yang semuanya manusia, ini bukan tempat ku, aku akan susah berbaur dengan mereka, karena mereka bukan makhluk sebangsa ku"
"Ayo Bulan kamu harus pergi dari sini"
Peri Bulan melangkah mendekati pintu, pelan-pelan ia membuka pintu itu.
Sebelum keluar matanya melihat ke kanan dan kiri yang tampak kosong.
Saat keluar dari dalam kamar pangeran Aksara mata peri Bulan di jamuan dengan banyaknya dayang yang tengah sibuk mengurus acara jamuan yang akan di adakan nanti malam.
"Ini kesempatan emas untuk ku melarikan diri, mereka tidak akan ada yang sadar kalau aku tengah berusaha untuk pergi dari sini" batin peri Bulan yang melihat orang-orang pada sibuk semua dan ia berpikir tidak akan ada yang mengamatinya.
"Ayo Bulan kamu harus pergi dari sini secepatnya" batin peri Bulan lagi.
Peri Bulan melangkah mencari keberadaan pintu keluar dari istana ini.
Senyuman mengambang di wajah peri Bulan saat melihat pintu keluar dari dalam istana, dengan cepat ia melangkah mendekati pintu itu.
Ketika peri Bulan berdiri di ambang pintu istana, senyuman yang merekah di bibirnya langsung menghilang kala matanya melihat seseorang yang bertanduk hitam, mengenakan pakaian berwarna merah bercampur dengan hitam, dia saat ini berdiri di dekat pohon dengan tatapan tajam.
"Siapa dia?" batin peri Bulan mempertajam pengelihatannya.
__ADS_1
"Dia peri, dia peri dari alam mana, kenapa aku tidak pernah melihatnya?" batin peri Bulan merasa asing pada peri yang tengah menatap tajam ke arahnya.
Tiba-tiba peri Bulan teringat sesuatu."Apa jangan-jangan dia peri Lofair yang di maksud peri Bilqis" batin peri Bulan.
Peri Bulan menutup mulut tak percaya saat melihat peri Lofair yang kini ada di bumi.
"Untuk apa ke sini, apa dia ingin mencelakai ku?" batin peri Bulan merasa penasaran.
Peri Lofair memberi kode agar peri Bulan mendekatinya.
Peri Bulan menggeleng, jangankan untuk mendekat, melihatnya dari kejauhan ia sudah sangat ketakutan.
Peri Lofair kembali memberikan kode, namun peri Bulan tetap saja diam di tempat dengan wajah yang ketakutan.
"Aku harus apa ini, haruskah aku datang ke sana dan tanyakan siapa dia sebenarnya, ataukah aku tetap di sini saja?" batin peri Bulan bingung.
"Tapi kalau aku masih tetap berada di sini, gak akan ada kesempatan lagi untuk ku pergi, lebih baik aku ke sana saja, semoga saja dia mau bantu aku kembali ke alam peri" batin peri Bulan.
Peri Bulan berjalan keluar tiba-tiba seseorang mencekal lengannya.
Peri Bulan menatap orang yang mencekal tangannya, bertapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang sudah mencekal tangannya.
"Pangeran Aksara" tercekat peri Bulan saat melihat pangeran Aksara yang ternyata mencekal tangannya.
"Mau kemana kau?"
Peri Bulan diam tidak bergeming, ia tidak tau harus menjawab apa saat pangeran Aksara bertanya hal itu.
"Apa kau berniat melarikan diri?" peri Bulan menundukkan kepalanya, ia tampak takut untuk menatap wajah pangeran Aksara yang tengah serius.
"Jangan coba-coba pergi dari sini, ayo ikut aku" pangeran Aksara menarik paksa peri Bulan masuk ke dalam istana kembali.
Peri Bulan tidak memberontak, ia tau kalau dirinya memberontak pangeran Aksara akan semakin marah padanya.
Peri Lofair yang melihat peri Bulan di bawa oleh seorang laki-laki berdecak kesal.
__ADS_1
"Kenapa pemuda itu membawa peri Bulan kembali masuk, padahal selangkah lagi aku bisa membawanya kembali ke alam peri" geram peri Lofair pada pangeran Aksara.
"Dia benar-benar mengacaukan segalanya, arrrrgghh" pekik kesal peri Lofair kemudian menghilang dari sana.