
"Paman aku ingin duduk di samping calon suami ku" keinginan putri Arumi membuat pangeran Aksara dan juga pangeran Arjuna langsung menatap ke arahnya.
"Apa lagi yang dia inginkan" batin pangeran Aksara menatap tak suka.
"Silahkan, kau bisa duduk di manapun, tidak ada yang melarang mu" putri Arumi tersenyum bahagia saat apa yang ia inginkan begitu sangat mudah untuk ia dapatkan.
"Terima kasih paman" putri Arumi bangkit dari duduk dan mendekati pangeran Aksara.
"Hei kau pindah, aku ingin duduk di sini" peri Bulan langsung bangkit dari duduk, kemudian putri Arumi duduk di dekat pangeran Aksara.
Peri Bulan duduk di samping pangeran Arjuna.
Pandangan pangeran Aksara terus tertuju pada peri Bulan yang berada di seberangnya, ia tidak peduli sama sekali dengan ocehan putri Arumi.
"Kapan acara ini akan selesai, aku sudah tidak betah berada di keadaan ini" batin pangeran Aksara.
Acara pertemuan itu terus berjalan dengan baik, kerajaan Saktira Bharat tersenyum bahagia sedangkan hati semua pangeran di kerajaan Mataram sedang remuk redam.
"Bagaimana ini, acara pertemuan ini tidak kunjung selesai, aku ingin cepat-cepat pergi dari sini, aku tidak mau menikah dengan manusia, malam ini aku akan berusaha untuk keluar, tapi bagaimana aku bisa keluar kalau pertemuan ini masih belum selesai juga, ayolah selesai, aku sudah tidak sabar untuk melancarkan aksi ku" batin peri Bulan yang sudah sangat tertekan dengan keadaan ini.
"Putri ku, ayo kita pulang, 2 hari kalian akan bertunangan, kau tidak usah khawatir pangeran Aksara hilang" ajak raja Pattah.
"Iya ayah, pangeran aku pulang dulu, 2 hari lagi kita akan bertemu" pamit putri Arumi.
"Iya" pangeran Aksara memberikan senyuman manisnya meski keadaannya yang remuk redam.
"Raja Candra kami pamit undur diri dulu" pamit raja Pattah.
"Iya silahkan" jawab raja.
Kemudian rombongan kerajaan Saktira Bharat pergi meninggalkan kerajaan Mataram.
Satu persatu pangeran dan putri yang berada di meja makan itu membubarkan diri dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
Peri Bulan tidak masuk ke dalam kamar pangeran Aksara, dia di antara menuju kamarnya oleh seorang dayang.
"Di sini kamar mu, mulai malam ini dan seterusnya kamar mu berada di sini" dayang itu menunjukan kamar yang tidak begitu luas, dua kali lipat lebih kecil dari pada kamar pangeran Aksara namun cukup bagus dan rapih.
__ADS_1
Peri Bulan mengangguk, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun kemudian dayang itu meninggalkannya.
Saat dayang itu pergi peri Bulan keluar dari dalam kamar itu dengan mengendap-endap.
"Malam ini aku harus bisa keluar dari kerajaan ini, aku tidak mau menikah dengan pangeran Arjuna, aku harus bisa pergi dari sini, bagaimana pun caranya" pelan peri Bulan agar tidak ada satu orangpun yang mendengar suaranya.
"Aku harus keluar dari mana, tak mungkin aku keluar melewati pintu depan, aku harus cari pintu belakang, di kerajaan ini pasti ada pintu belakang"
Peri Bulan menutup wajah dan rambutnya dengan selendang berwarna merah agar tidak ada orang mengenali wajahnya.
Peri Bulan masuk ke dalam lorong yang panjang yang mengarah ke dapur, di sana ada pintu belakang yang bisa di lewatinya.
Lorong itu sepi, peri Bulan bisa bergerak bebas tanpa takut ketahuan sama dayang ataupun prajurit di istana ini.
Ketika sudah berada tepat di depan pintu belakang, sebelum membukanya peri Bulan melihat ke kanan dan kirinya.
"Aman, aku harus pergi dari sini secepatnya, aku tidak mau berada di sini lagi, ini kesempatan emas untuk pergi dari sini"
Peri Bulan dengan terburu-buru keluar dari dalam kerajaan, ia begitu lega saat kini dirinya sudah berada di luar istana, namun di belakang istana banyak sekali tanaman-tanaman yang tubuh liar, tapi hal itu tak membuat keinginan peri Bulan untuk pergi dari sini hilang.
Peri Bulan berlari mendekati hutan yang gelap itu, walaupun gelap sekali dan terlihat mencekam namun hal itu tidak menyulitkan tujuan peri Bulan.
Peri Bulan terus berlari masuk ke dalam hutan itu, ia terus berlari dengan kencang untuk menjauh dari kerajaan Mataram.
"Ibu, ibu tolong aku, ibu tolong jemput aku" teriak peri Bulan yang kini sudah berada di tengah-tengah hutan yang gelap.
"Ibu"
Jgeeeer
"Arrrrgghh"
Peri Bulan berteriak keras saat mendengar suara petir yang menyambar dan suaranya begitu menggelegar dahsyat di dalam hutan.
Peri Bulan menutup telinganya takut.
Peri Bulan menatap ke arah langit yang mendung."Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, aku harus apa ini, aku tidak mau berada di sini"
__ADS_1
"Ibu tolong aku, aku di sini ibu, ibu di mana, ibu cepatlah tolong aku, aku takut" teriak peri Bulan berharap peri yang ada di alam peri datang membantunya dan membawanya ke alam peri kembali.
"Kakak, kakak di mana, aku di sini, kakak tolong aku, kakak aku mohon pada mu datanglah, aku di sini kak"
Tidak ada tanggapan, hutan ini benar-benar sepi, hanya ada suara-suara hewan-hewan kecil yang memenuhi telinga peri Bulan.
"Hiks hiks hiks"
Peri Bulan menangis karena ketakutan, ia ingin kembali ke alam peri, namun tidak ada satupun peri yang datang membantunya, alhasil peri Bulan duduk dengan menyenderkan tubuhnya di pohon yang ada di belakangnya.
"Ibu aku ingin pulang, ibu tolong aku, aku tidak mau di sini, aku ingin kembali, aku tidak berada di istana itu lagi, aku mohon ibu jemputlah aku" isakan peri Bulan dengan memeluk tubuhnya sendiri.
Jgeeeer
Peri Bulan mengeraskan tangisannya saat mendengar suara petir yang menyambar dengan dahsyat kemudian turunlah hujan.
"Hiks hiks hiks"
Peri Bulan terus menangis, ia masih berdiam diri di tempat dengan terus memanggil Maharani dan juga kakak-kakaknya yang ada di alam peri.
Hujan dengan lebat mengguyur daerah ini, tubuh peri Bulan menggigil saat air hujan itu terus mengguyur tubuhnya.
"I-ibu t-tolong a-aku" kata-kata terakhir peri Bulan sebelum jatuh pingsan.
Hujan terus mengguyur dengan lebat.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki seseorang yang mendekati tubuh peri Bulan yang tidak sadarkan diri.
Orang misterius itu berdiri tepat di depan peri Bulan, ia menatap wajah peri Bulan yang kini sudah pucat pasi karena kedinginan.
Orang misterius itu membawa peri Bulan keluar dari dalam hutan ini, ia menggendong tubuh peri Bulan yang lemah ala bridal style.
__ADS_1