Cinta Beda Alam

Cinta Beda Alam
Panas dingin di acara pertemuan


__ADS_3

"Pangeran sana mandi, acara yang akan di adakan akan di mulai sebentar lagi" suruh peri Bulan yang mendapati pangeran Aksara yang diam dengan lamunannya.


"Tetap diam di sini, jangan pergi kemana-mana" peri mengangguk, pangeran Aksara kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Saat tubuh pangeran Aksara sudah tidak lagi terlihat, peri Bulan bernapas lega.


"Dasar pangeran aneh, aku benci dengannya, iih gagalkan jadinya aku yang akan pergi dari sini, ini semua gara-gara pangeran kodok itu" peri Bulan menyalahkan pangeran Aksara akibat kegagalan rencananya yang ingin keluar dari dalam istana.


"Tapi tenanglah Bulan, malam ini kamu harus bisa keluar dari istana ini, ini adalah kesempatan emas untuk mu, kau jangan sia-siakan, ingat nanti malam saat acara pertemuan itu di mulai, kau bisa keluar dari dalam istana ini, karena para pangeran dan putri serta anggota kerajaan lainnya akan sibuk dengan acara pertemuan itu, mereka tidak akan ada yang memperhatikan mu"


"Kau tunggu saja waktu itu datang, karena hanya pada waktu itu kau bisa pergi dari sini"


Kamar mandi terbuka dan memperlihatkan pangeran Aksara yang keluar.


Pangeran Aksara melihat peri Bulan yang diam di tempat tanpa pergerakan.


"Dia benar-benar menuruti perintah ku, baguslah kalau seperti itu" batin pangeran Aksara.


Pangeran Aksara memakai pakaiannya, peri Bulan memejamkan mata, ia tidak mau membuka matanya sama sekali.


"Sudahkah pangeran?"


"Belum"


"Heish dia berpakaian apa bersemedi, lama sekali" batin peri Bulan mengumpat kesal.


Pangeran Aksara tersenyum melihat peri Bulan yang enggan membuka mata.


"Pangeran Aksara, putri Arumi sudah datang, ayah menyuruh ku untuk memberi tau mu"


Senyuman yang tadinya mengambang di wajah pangeran Aksara langsung sirna saat melihat pangeran Arjuna yang membuka pintu kamarnya dan mengatakan sesuatu yang tidak di sukai hatinya.


"Aku akan ke sana, kakak tunggulah aku di sana"


Pangeran Arjuna kembali menutup pintu dan mendekati yang lain.


Peri Bulan membuka mata dan menatap ke arah pangeran Aksara.


"Pergilah, aku akan diam di sini" senyuman turukir di wajah peri Bulan, ia begitu senang karena waktu yang ia tunggu-tunggu sudah datang.


"Ayo ikut bersama ku"


Senyuman yang merekah di bibir peri Bulan langsung menghilang.

__ADS_1


"A-aku?" peri Bulan menunjuk ke arahnya dengan tidak percaya.


"Iya kamu, siapa lagi, di sini tidak ada siapapun lagi"


"T-tapi pangeran-


"Tidak ada tapi-tapian, ayo ikut bersama ku"


"Aku tidak mau pangeran, aku mau di sini saja"


"Bulan aku menyuruh mu apa?"


Peri Bulan menghembus napas kasar.


"Iya, ayo" kesal peri Bulan yang terpaksa setuju dengan ajakan pangeran Aksara.


"Ayo ikutlah bersama ku"


Peri Bulan bangkit dari duduk dan berjalan mengikuti pangeran Aksara dari belakang.


Pangeran Arjuna mendekati mereka semua yang duduk di meja makan yang sudah di siapkan oleh dayang dan prajurit tadi siang.


"Pangeran Arjuna kemana pangeran Aksara?" putri Arumi melihat pangeran Arjuna yang kembali sendirian.


"Itu kak Aksara" tunjuk pangeran Shiwa yang melihat kedatangan pangeran Aksara dengan peri Bulan yang mengekor di belakangnya dengan terus menunduk takut.


Putri Arumi melihat ke arah wanita yang mengikuti pangeran Aksara.


"Apa dia yang bernama Bulan, wanita yang membuat pangeran Aksara berpaling dari ku" batin putri Arumi menatap tak suka ke arah peri Bulan.


"Tidak begitu cantik, lebih cantikan aku di mana-mana" batin putri Arumi menolak fakta.


"Duduklah" peri Bulan duduk tepat di samping pangeran Aksara, ia menatap takut ke arah anggota kerajaan yang berada di meja makan ini.


"Jadi dia wanita yang sudah membuat pangeran Aksara menolak perjodohan" batin pangeran Yudistira yang terus melihat ke arah peri Bulan.


"Pantas saja dia menolak perjodohan itu, ternyata wanita itu sangat cantik" batin pangeran Yudistira.


Peri Bulan gerogi saat mereka semua terus melihatnya, ia meremas tangannya yang bergetar dan berkeringat.


Raja Candra melihat ke arah peri Bulan."Jadi wanita itu yang sudah membuat pangeran Aksara berani melawan ku" batin raja Candra.


"Raja Candra bagaimana dengan perjodohan putri ku dengan anak mu" raja Pattah membuka pembicaraan di saat keadaan peri Bulan yang menegang.

__ADS_1


"Kita makan malam dulu, baru membicarakan pertunangan dan pernikahan pangeran Aksara dengan putri Arumi" putri Arumi tersenyum senang, walaupun pangeran Aksara mencintai peri Bulan, di sini tetap dia yang menang, itu yang membuatnya tetap tenang sampai saat ini.


"Mari silahkan" raja mempersilahkan mereka semua untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Mereka semua mulai menyantap makanan yang ada di atas meja, sedangkan peri Bulan masih tetap diam di tempat karena makanan yang ada di depannya adalah makanan yang tidak ia sukai dan bukan makanan yang ia konsumsi selama ini.


Pangeran Aksara melihat ke arah peri Bulan yang tetap diam di tempat.


"Kenapa, kenapa kamu tidak makan?"


"Itu bukan makanan ku" jawaban peri Bulan membuat mereka semua tercengang dan menatap ke arahnya dengan sangat terkejut.


"Bukan makanan mu?"


"Sebenarnya kau makan apa selama ini, kenapa kau bilang makanan yang ada di sini bukan makanan mu?" merasa aneh putri Arumi yang mendengar jawaban peri Bulan.


Peri Bulan diam, keringat-keringat dingin memenuhi dahinya saat putri Arumi bertanya padanya, ia masih sulit untuk berinteraksi dengan manusia.


"Jawab, kenapa kau diam?"


Peri Bulan menelan ludah pahit, ia tidak tau harus menjawab apa dan yang bisa ia lakukan hanya terus meremas tangannya yang basah karena gerogi.


"A-aku-


"Bulan vegetarian, dia tidak makan daging seperti kita, dia hanya makan buah-buahan saja, benar kan Bulan?" putri Thalia menatap ke arah Bulan.


"Iya" jawab peri Bulan dengan tersenyum takut.


"Hidangannya silahkan kembali di nikmati" suruh raja mengalihkan pembicaraan.


Pangeran Aksara melihat kalau peri Bulan yang sedang takut, ia mengambil buah-buahan dan meletakkannya di piring peri Bulan.


"Makanlah, tidak perlu takut, ada aku di sini" pelan pangeran Aksara yang memegang tangan peri Bulan yang basah dan dingin.


Peri Bulan mengangguk dengan perasaan yang sedikit lega.


Peri Bulan memakan buah-buahan itu dengan tenang walaupun ia masih gerogi duduk bersama dengan orang-orang yang bertahta.


Ratu terus melihat wajah peri Bulan.


"Dia mirip siapa, kenapa wajahnya sangat tidak asing bagi ku" batin ratu terus memperhatikan peri Bulan.


"F-flora, dia mirip sekali dengan Flora" batin ratu tercekat ketika teringat pada Maharani yang sempat tinggal di dalam istana ini sebelum menjadi menjadi ratu di dalam alam peri

__ADS_1


__ADS_2