
"Ck kenapa kakak tidak berpihak pada ku, apa dia sekarang berpindah hati, sehingga dia setuju untuk menikah dengan Bulan" batin pangeran Aksara kesal.
"Arrrrgghh" batin pangeran Aksara.
Pangeran Aksara yang tengah kesal namun ia pendam pergi meninggalkan persada dan berjalan lurus saja.
"Pangeran Aksara, mau kenapa kau" pangeran Aksara tidak menjawab dan terus berjalan pergi dari sana.
"Pangeran" teriak raja lagi.
"Sudahlah kakanda, biarkan pangeran Aksara pergi, dia pasti ingin kembali istirahat" jawab ratu.
Raja hanya bisa menghela napas dan kembali duduk di singgasananya.
Pangeran Akasa masuk ke dalam kamarnya.
"Loh kok balik lagi, apa sudah selesai?"
Pangeran Aksara tidak menjawab, ia
membaringkan kembali tubuhnya di kasur dan memejamkan mata, sungguh pikirannya saat ini tengah berkecamuk, ia benar-benar marah pada segalanya namun ia hanya bisa memendamnya.
"Aneh betul pangeran Aksara, kenapa nampak lesu, apa yang sudah terjadi padanya" batin peri Bulan.
"Bulan ambilkan aku pisau"
"Untuk apa?"
"Menyayat tangan ku, apalagi"
Peri Bulan langsung terkejut, permintaan pangeran Aksara benar-benar gila menurutnya.
"Apa kau gila?"
"Iya, aku sudah gila, aku benci dengan semuanya, aku tidak suka di atur-atur seperti ini, selama ini segalanya di atur, dan sekarang masalah pasangan hidup juga di atur, bisakah mereka ngerti kalau aku berhak milih mana yang aku inginkan, tak bisakah mereka nerima apa yang menjadi keputusan ku?"
Peri Bulan mengerti kalau pangeran Aksara tengah kesal karena apa yang di inginkannya tak terwujud.
"Haruskah aku mati biar mereka tau kalau aku ingin bebas?"
"Jangan seperti itu pangeran, kau tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" peri Bulan
menenangkan pangeran Aksara yang tak bisa diam.
"Bulan, aku ingin bebas" lirih pangeran Aksara.
"Aku tau, tapi sepertinya semesta tidak ngizinin, terimalah pangeran, kau harus terima pada apa yang sudah menjadi takdir mu"
__ADS_1
Pangeran Aksara menggeleng, ia tidak bisa menerimanya, itu benar-benar sulit baginya.
"Aku lelah, aku ingin hidup tenang, bisakah ku dapatkan?"
"Bisa, kau pasti akan bisa hidup seperti apa yang kau inginkan, anggap saja apa yang saat ini terjadi pada mu adalah sebuah ujian, kau
harus bisa sabar, aku sangat yakin di balik ujian itu pasti ada kebahagiaan yang tidak pernah kau bayangkan, percayalah pada ku"
Pangeran Aksara tersenyum, ia sedikit tenang, tak lagi terlihat gusar seperti tadi.
"Kau tidurlah, jangan mikirin itu dulu, aku mau keluar sebentar"
Peri Bulan berjalan, tiba-tiba pangeran Aksara menarik tangannya.
"Mau kemana kau, tetaplah di sini, jangan pergi kemana-mana"
"Aku tidak akan melarikan diri, aku hanya ingin ke dapur saja, kau tunggulah di sini, aku tidak akan pergi dari sini, percayalah pada ku"
"Kau janji akan kembali?"
"Aku janji"
Setelah mendengar jawaban peri Bulan, pangeran Aksara melepaskan tangannya yang mencegah peri Bulan untuk pergi.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan kembali" setelah mengatakan hal itu peri Bulan keluar dari dalam kamar pangeran Aksara.
Pangeran Aksara menatap punggung peri Bulan yang kemudian hilang setelah pintu itu tertutup.
Lorong panjang yang menuju dapur itu sepi, tidak ada satupun orang yang terlihat di mata peri Bulan.
Ketika sampai di dapur peri Bulan tidak menemukan siapapun, satu dayang pun tidak ada dan itu semua membuat peri Bulan mengerutkan alis.
"Di mana semua dayang, kenapa tidak ada di dapur, mereka pada pergi kemana?"
"Apa mereka lagi ada di depan semua?"
"Mungkin saja"
Peri Bulan tidak mempermasalahkan hal itu, ia berjalan mendekati buah-buahan yang ada di atas meja.
Peri Bulan mengambil beberapa buah-buahan, ia juga menuangkan susu murni ke dalam gelas lalu pergi dari dapur dan menuju kamar pangeran Aksara.
Peri Bulan memegang gagang pintu kamar pangeran Aksara.
"Tunggu!"
Peri Bulan langsung berhenti, ia berbalik badan menghadap ke arah orang yang menghentikannya.
__ADS_1
"Kenapa kau masuk ke dalam kamar pangeran Aksara, kau kan tau kalau pangeran Aksara adalah calon suami ku!" marah putri Arumi yang melihat peri Bulan akan masuk ke dalam kamar pangeran Aksara.
"A-aku hanya ingin ngantarin buah dan susu ini padanya"
"Sini aku yang akan berikan padanya, pergi kau sana" putri Arumi merampas buah dan susu itu dari tangan peri Bulan.
Putri Arumi menatap ke arah peri Bulan yang masih diam.
"Kenapa kau masih ada di sini, apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan barusan?!"
Peri Bulan mengangguk, kemudian berjalan menjauhi kamar pangeran Aksara dan melangkah menuju kamar yang kemarin malam dayang tunjukkan.
Pintu kamar pangeran Aksara terbuka.
"Bulan kenapa kau lama sekali-
Ucapan pangeran Aksara terhenti saat melihat siapa orang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Pangeran, aku datang, kau pasti merindukan ku bukan" putri Arumi mendekati pangeran Aksara, ia meletakkan nampan itu di atas nakas, kemudian duduk di dekat pangeran Aksara.
"Pangeran aku sudah lama gak berjumpa dengan mu, aku sungguh rindu masa-masa kecil bersama mu, apa kau merindukannya juga?"
Pangeran Aksara tersenyum paksa."Iya aku merindukannya, sangat merindukannya"
"Oh ya kenapa kamu ke sini, pertunangan kita masih kurang 2 hari lagi, kenapa kamu malah datang ke sini?"
"Apalagi kalau bukan mau bertemu dengan mu, pangeran aku sudah tidak sabar hari itu tiba, setelah 17 tahun aku menunggu pada akhirnya kita akan bersama juga"
Pangeran Aksara hanya bisa menanggapi ucapan putri Arumi dengan senyuman, meskipun senyuman itu tak tulus ia berikan.
"Putri apa kau melihat Bulan?"
Senyuman yang merekah di bibir putri Arumi langsung sirna saat pangeran Aksara bertanya hal itu.
"Mengapa kau bertanya tentang dia, calon istri mu ada di depan mu, mengapa kau nanyain calon istri kakak mu?"
"Ah tidak, aku hanya ingin tau saja, karena tadi kakak nitipin Bulan pada ku, mangkanya aku harus tanggung jawab, kalau tidak, kakak ku akan marah pada ku, aku tidak mau itu terjadi, jadi katakan di mana Bulan sekarang?"
"Aku tidak tau, dia pergi gitu aja"
Wajah pangeran Aksara langsung panik.
"Pergi gitu aja, apa jangan-jangan Bulan pergi lagi" batin pangeran Aksara yang langsung panik.
Pangeran Aksara beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar dari dalam kamarnya meninggalkan putri Arumi.
"Pangeran, pangeran jangan pergii"
__ADS_1
Pangeran Aksara tak menggubris perkataan putri Arumi, ia terus berlari tak mempedulikan sama sekali perasaan putri Arumi, karena peri Bulan lebih penting dari apapun menurutnya.
Putri Arumi berdecak kesal."Arrrrgghh kenapa pangeran Aksara segitunya perhatian pada Bulan, apa istimewanya dia, lebih cantik aku juga, iih sebel"