
Paman Sam dan pangeran Shiwa berjalan keluar dari dalam penjara bawah tanah.
"Kita harus bebasin prajurit di kerajaan Mataram yang di penjara di sini paman, baru setelah itu kembali ke kerajaan sebelum ada yang masuk ke sini"
"Iya, kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum raja Namrud masuk ke sini"
"Emang raja Namrud selalu masuk ke sini paman?"
Penasaran pangeran Shiwa yang takut jika raja Namrud masuk ke dalam penjara ini di saat ia masih belum keluar dari sini.
"Iya, dia sering datangin paman, mangkanya kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum dia datang ke sini dan akan membuat semuanya kacau balau"
"Kalau seperti itu tunggu apa lagi, ayo paman kita harus bebasin prajurit-prajurit itu secepatnya"
Paman Sam mengangguk lalu membuka sel tahanan yang berisikan prajurit di kerajaan Mataram dengan menggunakan batu untuk menghancurkan gembok itu.
"Akhirnya kami bebas juga, terimakasih pangeran, terimakasih paman Sam"
Senang mereka yang pada akhirnya bisa keluar dari dalam penjara yang selama ini mengurung mereka.
"Sama-sama"
"Ayo kita pergi dari sini sebelum raja Namrud masuk ke sini"
Ajak paman Sam, mereka mengangguk mengerti.
Baru satu langkah mereka berjalan tiba-tiba pangeran Shiwa melihat ke arah tahanan yang juga ingin keluar dari dalam penjara itu.
Pangeran Shiwa yang melihat tatapan mata penuh penderitaan itu merasa sangat iba.
"Tunggu dulu"
Mereka semua langsung berhenti.
"Ada apa pangeran?"
"Kenapa pangeran berhenti?"
"Apa ada sesuatu yang pangeran ragukan?"
"Ataukah pangeran merasa ada orang yang akan datang ke sini?"
Penasaran mereka semua yang ingin tau alasan pangeran Shiwa menghentikan langkah mereka yang ingin keluar dari dalam penjara ini.
"Bukan"
"Lalu apa yang pangeran pikirkan?"
"Coba lihatlah, mereka semua selama ini di siksa di sini, aku merasa mereka di siksa bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena kejahatan dan kekejaman raja Namrud yang berhati batu itu"
Pangeran Shiwa melihat ke arah mereka semua yang juga ingin keluar dari dalam penjara ini, sungguh hatinya merasa sangat iba pada mereka semua.
"Benar pangeran, mereka memang tidak melakukan kesalahan yang merugikan masyarakat"
"Lalu kenapa mereka di hukum?"
__ADS_1
Penasaran pangeran Shiwa.
"Kami di hukum karena tak sengaja melewati garis perbatasan antara kerajaan Mataram dengan kerajaan Fanjafan"
Pandangan pangeran Shiwa langsung tertuju pada seorang ibu-ibu yang berada di dalam penjara itu.
"Kenapa kalian melewati garis perbatasan itu, bukannya hal itu sangat di larang?"
"Kami tau, tapi kami terpaksa melakukannya karena kami cuman ingin mencari air pangeran, di sekitar desa kami saat itu kekurangan air, mau tidak mau kami harus melewati garis perbatasan itu untuk mengambil air di sumur yang berada di tengah-tengah hutan, tapi raja Namrud malah menghukum kami karena hal itu, tolong bebaskan kami juga pangeran, kami ingin keluar dari sini"
Tintah ibu-ibu itu yang membuat pangeran Shiwa merasa sangat iba.
"Baiklah aku akan menolong kalian"
Senyuman merekah di wajah mereka saat mendengar ucapan pangeran Shiwa.
"Terimakasih pangeran"
Senang mereka karena pada akhirnya ada orang baik yang mau menolong mereka meski orang tersebut berasal dari kerajaan musuh.
"Sama-sama, prajurit cepat keluarkan mereka semua, baru setelah itu kita pergi dari sini"
"Baik pangesn"
Prajurit di bantu paman Sam dan juga pangeran Shiwa membuka gembok di sel tahanan itu dengan batu.
Mereka yang sudah di penjara selama bertahun-tahun akhirnya dapat bebas juga berkat pangeran Shiwa.
"Pangeran Shiwa terimakasih sudah membebaskan kami"
"Sama-sama, ayo kita pergi dari sini sebelum raja Namrud tau kalau kita melarikan diri, bisa-bisa kita akan kembali di penjara"
"Iya pangeran, ayo pangeran kita harus pergi dari sini"
Mereka berjalan hendak keluar dari dalam penjara itu.
"Tunggu pangeran"
Cegah seorang tahanan yang membuat langkah mereka terhenti.
"Ada apa?"
Penasaran pangeran Shiwa pada seorang tahanan berjenis kelamin laki-laki yang jauh lebih tua dari pada dirinya.
"Jangan lewat di sana pangeran, karena pangeran pasti akan langsung ketahuan"
"Lalu aku harus lewat di mana?"
Lelaki itu berjalan mendekati tembok dan mengangkat vas bunga lalu menekan tombol yang ada di balik vas bunga itu.
Kemudian tembok itu terbuka dengan lebarnya dan menampakkan belakang istana yang banyak sekali tanaman-tanaman liar yang tumbuh.
"Lewat sini saja pangeran"
Mereka semua yang berada di sana terkejut melihat itu semua.
__ADS_1
"Kenapa bisa tembok ini terbuka?"
Terkejut pangeran Shiwa yang melihat pintu rahasia yang bisa membawanya keluar dari dalam penjara tanpa harus lewat pintu belakang yang terdapat di dapur.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Saya dulunya prajurit di kerajaan ini, namun saya di hukum karena ketahuan menikah dengan penduduk di kerajaan Mataram, lalu raja Namrud menghukum saya dengan cara memasukkan saya ke dalam penjara ini, gak cuman itu aja, dia juga sudah membunuh istri dan anak yang masih ada di dalam kandungan di depan mata saya"
Pangeran Shiwa yang mendengar kisah pilu itu hanya bisa prihatin.
"Segitunya raja Namrud menghukum mu"
"Iya pangeran, dia memang sekeji itu, mangkanya dia bisa melakukan tindakan tak berperikemanusiaan itu"
"Tunggu-tunggu kenapa kau tau kalau di dalam penjara ini terdapat pintu rahasia?"
Penasaran paman Sam yang melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mantan prajurit itu membuka pintu rahasia.
"Karena waktu itu saya pernah melihat ada panglima keluar dari dalam penjara ini dengan membuka pintu rahasia itu, tak banyak orang yang tau, hanya beberapa anggota kerajaan yang penting saja yang tau akan hal ini"
"Kalau seperti itu lebih baik kita keluar dari sini secepatnya, sebelum raja Namrud tau kalau kita akan pergi dari sini"
Ajak pangeran Shiwa yang sudah tak mau lagi berada di dalam kerajaan ini lebih lama lagi.
"Iya, ayo pangeran, kita harus pergi dari sini secepatnya"
Pangeran Shiwa mengangguk lalu keluar dari dalam penjara itu dan masuk ke dalam semak-semak yang berada di belakang istana dengan di susul oleh mereka semua para tawanan yang juga telah ia bebaskan.
"Kalian tinggal di mana?"
"Kami tinggal di sekitar perbatasan pangeran, tepatnya di tengah-tengah hutan itu, karena di sana adalah tempat yang paling aman yang bisa kita tempati"
"Kenapa kalian tidak tinggal di sekitaran istana saja?"
"Kami tidak mau pangeran, karena kami tidak akan bisa bergerak bebas kalau terlalu dekat dengan kerajaan"
"Iya juga" batin pangeran.
"Sudah sampai di sini, kita harus berpisah, kalian hati-hatilah, jangan sampai di tangkap lagi sama raja Namrud"
"Baik pangeran, kami akan jaga diri"
"Terimakasih pangeran sudah membantu kami"
"Sama-sama"
Senyum pangeran pada mereka semua.
"Pangeran berhati-hatilah"
"Iya, aku akan hati-hati, kalian juga harus hati-hati"
Mereka mengangguk lalu berjalan melewati jalanan kecil yang di kelilingi semak-semak.
Pangeran Shiwa memandangi punggung mereka yang kemudian hilang karena di telan jarak.
__ADS_1
"Mereka sudah pergi, ayo kita kembali ke kerajaan secepatnya"
Pangeran Shiwa mengangguk lalu mengikuti paman Sam untuk kembali ke dalam kerajaan.