Cinta Beda Alam

Cinta Beda Alam
Merasa sedikit tenang


__ADS_3

Pangeran Aksara membawa peri Bulan masuk ke dalam kamarnya kembali.


"Tetap diam di sini, aku menyuruh mu itu bukan?"


"Tapi kenapa kau malah berniat ingin pergi dari sini!" marah pangeran Aksara pada peri Bulan sehingga peri Bulan menunduk takut.


"D-di sini bukan tempat ku, aku tidak mau berada di sini"


"Apa maksud mu, bukan tempat mu?" peri Bulan mengangguk cepat, ia masih tidak berani menatap wajah pangeran Aksara yang tengah emosi.


"Aku tidak tinggal di sini, aku ingin pergi dari sini, tolong biarkan aku pergi"


"Tidak bisa, kau tidak bisa pergi dari sini"


"Kenapa aku tidak bisa pergi, kenapa kau tega sekali ngurung aku di sini, aku bukan burung yang patut di kurung, aku manusia, jangan lupakan itu, aku ingin pergi, kau jangan sok-sokan melarang ku"


Peri Bulan berjalan mendekati pintu, dengan cepat pangeran Aksara memeluknya dari belakang.


Peri Bulan terkejut mendapatkan perlakuan gila itu.


"Arrrrgghh"


"Lepaskan aku" berontak peri Bulan yang ingin terlepas dari pangeran Aksara.


"Aku tidak mau, aku tidak mau"


"Lepaskan aku pangeran, jangan begini" peri Bulan memberontak, ia berusaha untuk terlepas dari pangeran Aksara namun tenaganya tidak sekuat pangeran Aksara.


Pangeran Aksara bukannya melepaskan pelukan itu malah semakin mengeraskannya.


"Jangan begini, lepaskan aku, arrrrgghh" teriak peri Bulan saat pangeran Aksara menggendongnya ala bridal style.


"Lepaskan aku pangeran, lepaskan aku" teriak peri Bulan yang tidak bisa diam.


"Diam, jangan bergerak!" peri Bulan diam, ia tidak lagi memberontak.


Pangeran Aksara meletakkan peri Bulan di tempat tidur.


"Mau apa kau?" tercekat peri Bulan saat melihat pangeran Aksara merebahkan tubuh di sampingnya.


"Aku ingin tidur, apa lagi" pangeran Aksara dengan polosnya tidur di samping peri Bulan yang lagi panas dingin.

__ADS_1


"Pangeran Aksara ini masih waras apa tidak, kenapa sikapnya berubah-rubah, apa yang terjadi padanya" batin peri Bulan yang terus menatap wajah pangeran Aksara.


"Arrrrgghh" teriak peri Bulan saat pangeran Aksara menjadikan pahanya sebagai bantal.


"Bisakah kau tidur di bantal?" tidak ada tanggapan dari diri pangeran Aksara, pangeran Aksara masih tetap memejamkan mata tidak ada niatan untuk menjawab sama sekali.


Peri Bulan mendengus kesal, ulah pangeran Aksara membuatnya sangat tertekan dan hampir saja jantungnya copot.


"Pangeran kodok ini lama-lama akan membuat ku tertekan, bagaimana ini, dia malah tidur di paha ku, aku tidak akan bisa pergi darinya kalau seperti ini" batin peri Bulan yang kesal sekali pada pangeran Aksara.


"Kalau seandainya dia orang biasa yang tidak memiliki tahta sudah aku lenyapkan saja dia" batin peri Bulan yang geram.


Peri Bulan terus mengumpat, ia benar-benar kesal sekali pada pangeran Aksara.


"Kenapa kau nyebelin sekali hah!"


"Seandainya kau bukan pangeran sudah aku lenyapakan!"


"Kau itu sebenernya tidak patut di anggap seperti pangeran, kau itu lebih pantas di bilang preman, kau lebih kejam dari psikopat, aku membenci mu, aku membenci mu" omel peri Bulan yang berpikir kalau pangeran Aksara tidak akan mendengarnya.


"Lama-lama aku santet saja kau itu, sudah menyebalkan, sukanya malah buat orang lain tertekan" omel peri Bulan sekali lagi.


Dalam hati pangeran Aksara tersenyum ketika mendengar kalimat omelan dari mulut peri Bulan.


Pangeran Aksara lama-lama terlelap dalam tidurnya, kekesalannya pada raja mulai reda, ia saat ini merasa sedikit tenang saat bersama dengan orang yang ia cintai.


Peri Bulan menatap ke arah wajah pangeran Aksara yang tampak tenang dan damai.


"Kenapa aku seperti melihat lautan kala menatap wajahnya saat tidur"


"Tapi kalau dia bangun, lautan yang tenang itu sudah hilang berganti dengan tsunami yang besar dan akan menenggelamkan semua orang"


"Andai dia begini terus menerus, mungkin aku masih betah tinggal di sini dalam waktu 1-2 hari"


"Tapi sayangnya dia berbanding terbalik dengan wajahnya, dia sukanya membuat ku tertekan, mangkanya aku tidak betah tinggal di istana yang semegah dan mewah ini"


"Iih pangeran kodok ini menyebalkan sekali"


Peri Bulan mengacak rambut pangeran Aksara dengan kasar karena ia sangat-sangat geram pada pangeran Aksara.


"Mumpung dia lagi tidur, aku harus bisa pergi dari sini, aku tidak mau hidup tertekan di sini"

__ADS_1


Peri Bulan kembali berniat untuk melarikan diri, ia berusaha menyingkirkan kepala pangeran Aksara dari pahanya dengan sepelan mungkin.


Pangeran Aksara memeluk pinggang peri Bulan yang membuat usaha peri Bulan hancur lebur.


"Aarrrgghh gak bisa kabur kan jadinya, dasar pangeran kodok, aku membenci mu, aku membenci mu" batin peri Bulan yang kesal.


"Jangan pergi" pangeran Aksara masih memejamkan mata, ia tau kalau peri Bulan sedang berusaha untuk melarikan diri dan ia tidak akan biarkan hal itu terjadi.


Peri Bulan mendengus kesal, ia pun pasrah dengan keadaannya yang tertekan seperti ini.


"Iya aku tidak akan pergi, tapi bisakah kau bangun?" tak ada tanggapan dari diri pangeran Aksara.


"Pangeran" pangeran Aksara membuka mata dan menatap wajah peri Bulan.


"Kenapa?"


"Bangun, ini sudah mau malam, apa kau tidak mau mandi?"


Pangeran Aksara melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 5 siang.


"Tapi kau janji tidak akan pergi dari sini kan?" peri Bulan mengangguk.


"Iya aku janji, kau tidak usah khawatir aku pergi dari sini"


"Tapi masalahnya aku tidak mau bangun, bagaimana ini?" pangeran Aksara kembali berulah, ia suka sekali membuat peri Bulan kesal.


Peri Bulan menghela napas."Ayo bangun, ini sudah malam, kau harus mandi, nanti malam ada acara, sebagai seorang pangeran kau pasti harus hadir dalam acara itu bukan?"


Pangeran Aksara mengangguk cepat."Iya, tapi masalahnya aku tidak mau bangun, bisakah kau mandiin aku?"


Peri Bulan terbelalak tak percaya dengan keinginan pangeran Aksara.


"Tidak!"


"Kau mandi sendiri, kau sudah besar, bukan anak kecil lagi"


"Ya sudah aku tidak mau mandi" pangeran Aksara kembali memejamkan mata dengan mengeratkan pelukannya.


"Pangeran, cepat mandi atau aku adukan pada pangeran tampan itu?" pangeran Aksara langsung membuka mata dengan sangat terkejut.


"Pangeran tampan, pangeran mana yang kamu maksud?" pangeran Aksara duduk dari tidurnya dan menatap ke arah peri Bulan dengan sangat penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak tau namanya, tapi tadi dia masuk ke sini mencari mu"


Pangeran Aksara diam."Siapa pangeran yang Bulan maksud, kak Arjuna apa kak Yudis" batin pangeran Aksara memikirkan hal itu.


__ADS_2