
"Sudahlah kakanda, dia lagi butuh sendiri, biarkan dia sendiri dulu" ratu mengerti jika saat ini pangeran Aksara pasti kecewa berat karena keinginannya tak kunjung di setujui oleh ayahnya.
"Ayah, jangan paksa dia ayah, dia berhak memilih siapa gadis yang mau dia nikahi, ayah jangan terlalu mengekang dia" tatapan raja jatuh pada pangeran Yudistira yang sedari tadi diam melihat adiknya yang tak bisa berkutik di depan raja.
"Ini demi kebaikan kerajaan, ayah melakukan ini agar kerajaan Mataram menjadi kerajaan yang tidak terkalahkan"
"Tapi apakah ayah tidak berpikir kalau anak-anak ayah tertekan, ibu bagaimana awal hidup mu saat menikah dengan ayah, apa ibu bahagia?" pangeran Yudistira sudah geram sekali pada ayahnya yang tidak dapat melihat kalau anak-anaknya tertekan dengan perintahnya.
Ratu diam, ia tidak menjawab sepatah katapun, ia menikah dengan raja karena di jodohkan.
"Kenapa ibu diam, ibu menikah dengan ayah tanpa di dasari cinta bukan, bagaimana rasanya ibu, apa ibu bahagia?" ratu masih tetap diam tak bergeming saat anaknya mengajukan pertanyaan itu.
"Itulah yang di rasakan oleh anak-anak mu ibu jika ayah masih tetap meneruskan perjodohan ini!" tegas pangeran Yudistira yang membuat semua orang-orang yang berada di persada diam.
"Ibu, lihatlah suami mu itu, dia akan membuat anak-anaknya bernasib sama seperti mu, apakah kau akan membiarkan hal itu?"
"Pangeran Yudis, tutup mulut mu!" teriak raja yang telinganya panas mendengar kata-kata hinaan dari pangeran Yudistira.
"Kenapa ayah, kenapa aku harus diam?"
"Kau jangan ikut campur dalam hal ini, ini itu sudah menjadi keputusan ayah dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan ayah apalagi berusaha menghentikan pernikahan itu!" tegas raja tak main-main.
"Aku berhak ikut campur, aku tidak mau adik-adik ku hidup tertekan hanya karena keserakahan ayah!" raja tiba-tiba naik pitam saat pangeran Yudistira tidak mendengarkan sama sekali ucapannya.
"PANGERAN YUDISTIRA" semua orang yang mendengar teriakan raja langsung berdiri.
"Kenapa, aku ada di sini, mengapa ayah berteriak?" pangeran Yudistira tidak merasa takut sedikitpun pada raja yang saat ini tengah marah besar.
"Kau keterlaluan!"
Pangeran Yudistira tersenyum mengejek."Kalau aku keterlaluan, lalu ayah apa, SERAKAH begitu!"
Wajah raja semakin tambah marah besar."Diam kau, jangan ikut campur dalam hal ini, ayah melakukan ini demi kerajaan kita, sekarang masuklah ke dalam kamar mu, jangan berusaha menghentikan ayah, karena kau tidak akan bisa"
__ADS_1
Pangeran Yudistira tertawa paksa."Hahaha apa ayah bilang, aku tidak bisa menghentikan ayah?"
"Ayah lihat saja nanti, aku pangeran Yudistira akan menjadi satu-satunya pangeran yang akan membuat usaha raja Candra hancur berkeping-keping" tegas pangeran Yudistira penuh penekanan.
"Ayah lihat saja nanti" setelah mengatakan hal itu pangeran Yudistira berlalu meninggalkan persada.
Raja kembali duduk di singgasananya dengan hati yang masih murka karena anak-anaknya terus saja berusaha untuk menghentikannya.
"Ayah" panggilan itu keluar dari bibir pangeran Arjuna yang sedari tadi diam saja dan hanya mendengarkan perdebatan pangeran Yudistira dengan ayahnya.
Raja langsung memberi kode dengan tangannya."Cukup, sudah cukup, sekarang kembalilah ke kamar mu, keputusan ayah sudah bulat, tidak bisa di ganggu gugat lagi"
Rasanya pangeran Arjuna ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan kekesalannya.
Dengan kesalnya pangeran Arjuna menarik pengantin wanita itu dan membawanya ke kamarnya.
"Lepaskan aku, sakit" berontak pengantin wanita yang tangannya di cekal kuat oleh pangeran Arjuna.
Pangeran Arjuna tidak menjawab dan terus menyeret pengantin wanita itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sakit, lepaskan tangan ku hiks hiks hiks" tangis pengantin wanita yang tangannya terus di seret oleh pangeran Arjuna.
"Pangeran lepaskan aku, sakit hiks hiks"
Pangeran Arjuna seakan tuli, ia tidak peduli sama sekali pada pengantin itu yang terus menerus menangis dan minta di lepaskan.
Pangeran Arjuna melepaskan tangan pengantin itu ketika sudah sampai di dalam kamarnya.
Pengantin wanita itu memegangi tangannya yang berdarah karena gelangnya yang putus lantaran saking kerasnya pangeran Arjuna mencekal kuat tangannya.
Pangeran Arjuna melihat darah yang berjatuhan dari tangan pengantin wanita itu, seketika kemarahannya langsung lenyap saat melihat hal itu.
Pangeran Arjuna mendekati wanita itu dengan perasaan khawatir, tetapi wanita itu malah memundurkan tubuhnya untuk menghindari pangeran Arjuna.
__ADS_1
"Jangan dekati aku" titah wanita itu dengan butiran-butiran bening yang mengalir di pipinya.
"Maafkan aku" wanita itu mengeraskan tangisannya, darah terus berjatuhan memenuhi lantai.
"Kemarilah, aku akan mengobati mu" dengan ragu-ragu wanita itu menuruti perintah pangeran Arjuna, ia duduk di tempat tidur.
Pangeran Arjuna membalut luka wanita itu dengan perban agar darah tidak terus mengalir.
Wanita itu meringis saat perban itu menyelimuti lukanya.
Pangeran Arjuna menatap penuh arti pada wanita itu, wanita itu yang melihat tatapan pangeran Arjuna langsung memalingkan wajahnya.
"Siapa nama mu?"
"Delima, nama ku Delima" terbit senyuman di wajah tampan pangeran Arjuna saat tau nama wanita yang kini berada tepat di depannya.
"Kenapa kau lari dari pernikahan mu, bukannya itu yang di tunggu-tunggu setiap wanita?"
"Pernikahan memang suatu hal yang sangat di nanti-nanti oleh semua wanita, tapi tidak berlaku bagi orang yang terpaksa menikah, aku tidak mau menikah dengannya, aku tidak mau hidup tertekan bersama orang yang tidak ku cintai"
Pangeran Arjuna melihat jika Delima tertekan sekali sehingga ia nekat melarikan diri karena tidak mau menikah dengan juragan Doni.
"Pangeran beri aku pekerjaan, aku tidak apa-apa menjadi dayang asalkan aku bisa mempunyai tempat tinggal dan penghasilan"
"Kau sungguh-sungguh ingin bekerja?" Delima mengangguk cepat, dalam keadaan seperti ini kalau dia tidak bekerja, dia tidak akan bisa makan dan mendapatkan penghasilan.
"Iya pangeran, aku ingin bekerja, aku mohon pada mu berilah aku pekerjaan, aku saat ini tidak tau harus kemana, aku tidak mungkin kembali ke desa ku, pasti orang-orang di sana akan langsung menangkap ku, aku mohon pada mu pangeran, berilah aku pekerjaan, aku mau jadi apa saja"
"Baiklah, aku akan memberi mu pekerjaan, kau jadilah dayang di istana ini mulai besok, kau juga bisa tinggal di istana ini" wajah Delima langsung di hiasi senyuman.
"Terima kasih pangeran, terima kasih" gembira Delima karena dalam keadaan seperti ini masih ada orang baik yang mau membantunya.
"Sama-sama, sudah selesai, mari ku antar ke kamar mu" Delima mengangguk lalu mengekor di belakang pangeran Arjuna yang akan membawanya ke kamar-kamar khusus dayang hang bekerja di istana ini.
__ADS_1