
Pangeran Aksara masuk ke dalam kamar peri Bulan dengan membawa nampan yang berisikan makanan yang telah ia ambil di dapur.
Nampan itu pangeran Aksara letakkan di atas nakas yang berada di samping kanan tempat tidur.
"Makanlah, setelah itu istirahat, kamu harus sembuh sebelum acara pernikahan kita di selenggarakan"
Peri Bulan mengangguk tanpa berani mengatakan sepatah katapun.
"Aku mau menemui ayahanda ku, kamu tetap diam di sini, jangan kemana-mana"
Peri Bulan mengangguk patuh.
Pangeran Aksara berjalan keluar dari dalam kamar ratu meninggalkan peri Bulan sendirian di dalam kamar.
"Aku harus temui ayahanda, aku harus bilang kalau aku mau menikahi Bulan"
Pangeran Aksara berjalan menuju singgasana tempat ayahandanya berada.
Tiba-tiba pangeran Aksara melihat seseorang.
"Kakak"
Pangeran Arjuna yang mendengar panggilan itu langsung berhenti, ia lalu melihat ke arah pangeran Aksara yang mendekatinya.
"Ada apa?"
"Apa ayahanda berada di singgasananya?"
"Iya, aku habis dari sana"
Setelah mendengar hal itu pangeran Aksara berlari menuju singgasana tempat raja Candra serta beberapa anggota kerajaan yang berada di sana.
"Kenapa anak itu main pergi saja, apa yang dia inginkan, kenapa dia ingin bertemu ayahanda, aku rasa dia memiliki tujuan tertentu, aku harus ikutin dia, aku tidak boleh ketinggalan berita"
Pangeran Arjuna menyusul pangeran Aksara yang berlari menuju singgasana.
"Ayahanda"
Raja yang mendengar panggilan itu langsung menatap ke arah pangeran Aksara.
"Ada apa anak ku?"
"Ayah aku ingin menikahi Bulan"
Raja langsung terkejut mendengar ucapan pangeran Aksara.
"Menikahinya, dia saja masih belum kita ketahui berasal dari mana, kalau dia ternyata penyusup bagaimana"
Overthinking raja Candra pada peri Bulan.
"Tidak ayah, dia bukan penyusup, dia itu cuman tersesat, dia sudah cerita semuanya pada ku, dan aku yakin dia bukan penduduk dari kerajaan Fanjafan"
"Kenapa kau sangat yakin jika dia bukan berasal dari kerajaan Fanjafan?"
"Karena dia baru pertama kali ini mendengar nama kerajaan Fanjafan, mana mungkin dia berasal dari penduduk di kerajaan Fanjafan kalau dia saja tidak pernah tau kerajaan Fanjafan seperti apa"
Raja pun diam tak lagi berkata.
"Ayolah ayah, aku ingin menikahinya, tolong restuilah pernikahan kami"
__ADS_1
"TIDAK"
Larang raja yang membuat semua orang yang berada di sana diam tak berani ikut campur.
"Kau tidak boleh menikah dengan wanita asing itu"
Tegas raja penuh penekanan yang membuat pangeran Aksara bertanya-tanya mengapa ayahandanya melarang keras ia menikahi peri Bulan.
"Kenapa ayah, kenapa ayah melarang ku untuk menikahinya?"
"Karena kamu sudah di jodohkan dengan putri Arumi dari kerajaan Pradika Srajakti, kami sudah menjodohkan mu dengan putri Arumi sejak kamu masih kecil, jadi kamu tidak boleh menikah dengan wanita manapun selain dia"
"Tapi ayah aku tidak mencintai putri Arumi, aku hanya mencintai Bulan ayah, aku mohon izinkan aku menikahi Bulan"
"Tidak bisa Aksara, kamu harus tetap menikahi putri Arumi karena kalian sudah di jodohkan sejak kecil, kau tidak boleh menolaknya"
"Tidak ayah, aku tidak mau, aku hanya mau menikah dengan Bulan, bukan putri Arumi, aku tidak mencintai putri Arumi, bagaimana kita bisa menikah jika tidak di dasarkan akan cinta"
"Cinta itu bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, tidak ada alasan lain lagi untuk menolak perjodohan ini"
"Ayah aku tidak mau, aku tidak mau menikah dengan putri Arumi"
Tegas pangeran Aksara yang menolak putri Arumi di hadapan semua orang.
"Aksara tutup mulut mu, kau harus menikah dengan Arumi bukan wanita asing itu"
Raja mulai naik darah saat mendengar pangeran Aksara terus menerus menolak perjodohan itu.
"Tidak, aku tidak mau"
"Aku hanya mencintai Bulan, aku tidak mau menikah dengan wanita lain selain dirinya"
"Tidak bisa Aksara, kau harus menikahi putri Arumi karena ayah sudah berjanji akan menikahkan kalian saat kalian sudah dewasa"
"Tapi aku tidak mau ayah, aku tidak mau menikahi putri Arumi"
Teriak pangeran Aksara yang tetap tak mau menerima perjodohan itu.
"Pangeran Aksara"
Panggilan itu membuat semua orang yang berada di sana terkejut.
Pangeran Aksara yang mengenal betul suara itu langsung berbalik badan.
"Arumi"
Terkejut pangeran Aksara saat melihat putri Arumi yang kini berada di belakangnya.
"Arumi katakan pada ayah ku kalau kita tidak mau menikah, kita cuman teman dan selamanya akan menjadi teman" titah pangeran Aksara memohon pada putri Arumi berharap putri Arumi mau menolak perjodohan yang kedua kerajaan itu tetapkan.
Putri Arumi tersenyum."Pangeran Aksara kita sudah di jodohkan sejak kecil, kau dulu bilang pada ku kalau kau akan menikahi ku saat kita sudah dewasa, kini aku menagih janji mu, kau tidak lupa bukan tentang janji itu"
Pangeran Aksara diam, ia teringat pada janji yang sudah ia ucapkan saat masih kecil.
"Arumi nanti kalau kita sudah dewasa, aku akan menikahi mu agar pertemanan kita tidak putus" kata pangeran Aksara kecil.
"Iya, selamanya kita akan menjadi teman dan tidak akan ada orang yang bisa memisahkan kita" jawab putri Arumi kecil.
Ingatan itu kembali lagi membuat pangeran Aksara diam.
__ADS_1
"Kau ingat bukan?"
"Tapi Arumi, itu dulu sekarang beda"
"Dulu maupun sekarang itu sama, tidak ada yang berubah"
Pangeran Aksara menggeleng dengan tatapan tak percaya.
"Aksara putri Arumi sudah dewasa dan kau juga sama, ayah merasa kalian sudah cukup untuk menikah, ayah akan beritahu raja Abraham untuk menyelenggarakan pernikahan kalian dalam waktu yang sedekat-dekatnya"
"Ayah, aku tidak mau"
Ekspresi wajah putih Arumi langsung masam saat mendengar kalimat penolakan yang keluar dari bibir pangeran Aksara.
"Kamu harus mau, kalian sudah di jodohkan, kamu tidak boleh menolaknya hanya karena wanita asing itu"
"Jadi pangeran Aksara menolak ku karena ada wanita lain, aku harus cari tau siapa wanita itu" batin putri Arumi.
"Tapi ayah"
"Cukup, sudah cukup, kamu tidak bisa menolak, jadilah laki-laki sejati yang menepati janji yang telah kau ucapkan, masalah wanita asing itu, ayah akan menikahkan dia dengan kakak mu, kamu tidak usah khawatir padanya"
Pangeran Aksara shock berat mendengar hal itu.
"A-ayah"
Tak percaya pangeran Aksara yang mendengar dengan telinganya sendiri kalau wanita yang ia cintai akan di nikahkan dengan kakaknya sendiri.
"Kembalilah ke kamar mu, dua hari lagi kau dan putri Arumi akan bertunangan, baru setelah itu melangkah ke jenjang pernikahan"
"Ayah aku tidak mau"
Pangeran Aksara masih tidak mau menerima perjodohan itu.
"Arumi beritahu ayah mu kalau paman mengundangnya makan malam untuk membahas pertunangan dan juga pernikahan kalian"
"Baik paman, aku akan beritahu ayah"
Dengan senang hati putri Arumi akan menyampaikan pesan itu, ia langsung bergegas kembali ke dalam istananya untuk memberitahukan berita yang menggembirakan hatinya ini.
"Ayah"
Panggil pangeran Aksara.
"Prajurit, dayang siapkan acara jamuan nanti malam, aku mau semuanya sempurna, tidak boleh ada kesalahan sedikit saja"
"Baik yang mulia"
"Ayah"
Sekali lagi pangeran Aksara memanggil ayahnya namun sayangnya raja tidak menggubrisnya sama sekali.
"Panglima ikutlah dengan ku"
"Baik yang mulia"
Raja berjalan meninggalkan singgasananya dengan di ikuti panglima di belakangnya, ia berlalu dari hadapan pangeran Aksara yang terus berusaha menolak perjodohan itu.
"Ayah"
__ADS_1
Teriak pangeran Aksara yang menatap kepergian ayahnya.