
Pangeran Aksara berjalan keluar dari dalam kamar itu dengan tangannya yang masih terasa sakit.
"Kenapa Bulan berani-beraninya ngigit aku, apa dia tidak berpikir kalau aku ini orang yang sudah nyelamatin dia, seharusnya dia berterima kasih pada ku, kalau aku tidak membawanya ke sini, kemungkinan kecil untuknya bisa selamat"
"Tapi lihat apa yang dia lakukan, dia malah melukai ku, seharusnya dia itu berterima kasih pada ku yang sudah nyelamatin di, bukannya malah melakukan ini semua pada ku"
"Seharusnya dia itu balas budi bukan malah melukai ku"
"Bagaimana dia itu"
Omel pangeran Aksara dengan terus berjalan tanpa tujuan.
"Kenapa tangan kakak?"
Penasaran putri Thalia yang melihat tangan kakaknya yang tidak bisa diam.
"Lihat, luka bukan, ini semua gara-gara teman mu itu"
Pangeran Aksara memperlihatkan tangannya yang terluka karena di gigit oleh peri Bulan.
"Separah ini?"
"Iya, itu semua ulahnya"
"Masa Bulan yang sudah melakukannya, aku tidak percaya kalau dia penyebab tangan kakak terluka"
Tak percaya putri Thalia sebab ia melihat jika peri Bulan adalah gadis polos yang tak akan mungkin menyakiti kakaknya.
"Kalau bukan dia siapa lagi, dia itu penyebabnya, kau harus percaya pada kakak mu ini, jangan percaya padanya, kamu itu adik ku, bukan adiknya, jadi kamu harus berpihak pada ku, jangan berpihak padanya"
"Pasti kakak melakukan hal yang tidak-tidak padanya kan, mangkanya dia ngigit tangan kakak"
Pangeran Aksara diam, ia tau kalau peri Bulan tidak kan melakukan ini semua kalau dia tidak berbuat hal yang tidak-tidak padanya.
Pangeran Aksara tak menjawab, ia malah berlalu begitu saja meninggalkan adiknya.
"Kok malah pergi"
Tak habis pikir putri Thalia yang melihat pangeran Aksara pergi begitu saja.
"Kak Aksara kan belum bilang apa yang udah dia lakuin pada Bulan"
Putri Thalia begitu sangat penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku harus cari tau sendiri"
Putri Thalia hendak berjalan menuju kamarnya.
"Putri Thalia"
Panggil seseorang yang membuat langkah putri Thalia terhenti.
Putri Thalia melihat ke arah orang yang memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa paman?"
"Apa putri tidak melihat pangeran Aksara?"
"Tadi dia ada di sini, sekarang gak tau pergi kemana, emangnya ada paman Sam nanyain kak Aksara"
"Tidak ada apa-apa"
Setelah mengatakan hal itu paman Sam palsu berjalan meninggalkan putri Thalia yang masih diam dengan perasaan bingung.
"Aneh, kenapa paman Sam pergi gitu aja, apa yang dia inginkan dari kakak ku sehingga dia nyariin dia"
"Apa mungkin paman di tugasin sama ayah"
Pikir putri Thalia yang menatap punggung paman Sam palsu yang pelan-pelan menghilang.
"Mungkin aja sih"
"Eh tunggu-tunggu, aku kan mau nyari tau kakak terluka kenapa, tapi kenapa aku malah diam di sini, ini semua gara-gara paman Sam, kalau dia gak pake acara manggil aku, mungkin rencana ku tidak mungkin terjeda"
Putri Thalia menyalahkan paman Sam palsu dalam kejadian ini.
"Aku harus cari tau kakak kenapa dan apa yang udah dia lakukan pada Bulan sehingga Bulan ngigit tangannya"
Putri Thalia kembali berjalan mendekati kamar pangeran Aksara.
Pelan-pelan putri Thalia membuka pintu itu, ia berusaha membukanya dengan sepelan mungkin agar peri Bulan tidak mendengarnya.
"Aman"
Putri Thalia melihat peri Bulan yang tidur nyenyak.
"Bulan tidur, gak mungkin kalau luka yang ada di tangan kakak itu ulah Bulan"
Putri Thalia masih tidak percaya jika peri Bulan penyebabnya.
"Lihat aja dia lagi tidur nyenyak kayak gitu, gak mungkin Bulan yang udah buat kakak terluka, pasti ada orang lain yang sudah melakukannya"
Putri Thalia hendak menutup pintu kamar pangeran Aksara tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.
"Darah apa itu?"
Beberapa tetes darah tertinggal di lantai yang membuat putri Thalia semakin penasaran.
"Apa mungkin darah itu darahnya kak Aksara"
Putri Thalia teringat pada tangan pangeran Aksara yang terluka.
"Jadi benar kalau Bulan yang udah buat tangan kakak luka"
Akhirnya putri Thalia percaya setelah melihat darah yang tertinggal itu.
Putri Thalia hendak masuk ke dalam kamar pangeran Aksara.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang yang sudah menarik bajunya yang membuatnya tercekat.
"Mau kemana?"
Putri Thalia tersenyum untuk menutupi kesalahannya saat melihat jika orang yang sudah menarik bajunya itu adalah kakaknya sendiri.
"Tidak kemana-mana kok kak"
"Sekarang pergi dari sini, jangan kacau kamar ku"
"Tapi kak aku mau ngajak Bulan ke taman, boleh ya"
Mohon putri Thalia sebagai alasannya kenapa ia masuk ke dalam kamar pangeran Aksara.
"Tidak boleh, Bulan lagi tidur, kamu jangan ganggu dia"
"Ayolah kak, izin Bulan ke taman, aku itu gak punya teman, mangkanya aku ajak Bulan ke sana, aku mohon izinin aku bangunin Bulan ya"
"Jangan Thalia, nanti Bulan bisa berniat melarikan diri, kakak tidak mau dia pergi"
"Kenapa kakak takut banget Bulan pergi?"
"Karena kalau sampai Bulan pergi, kakak mu ini akan gagak nikah, kamu mau kakak mu tidak jadi nikah hah"
"Jangan, kalau seperti aku gak akan gangguin Bulan, lepasin baju aku, aku mau ke taman sendiri"
"Sana"
Pangeran Aksara melepaskan baju putri Thalia yang ia tarik, setelah itu putri Thalia berjalan menuju taman.
Pangeran Aksara meihat ke arah peri Bulan yang tidur nyenyak, ia menutup pintu lalu mendekati peri Bulan.
Pangeran Aksara duduk di dekat kasur dan menatap wajah peri Bulan yang tidur nyenyak.
"Rasanya tenang sekali saat melihat dia tidur"
Wajah tampan pangeran Aksara terukir sebuah senyuman manis saat melihat peri Bulan.
"Bulan, semoga saja kamu bisa bersama ku, aku saat ini sedang berusaha membatalkan perjodohan ku dengan putri Arumi, tolong doa kan aku, semoga usaha ku membuahkan hasil dan kita bisa bersama setelah itu"
Harapan pangeran Aksara yang semoga alam menyetujuinya.
"Kalau semisal aku tidak bisa bersama mu sungguh aku tidak tau bagaimana hancurnya hidup ku, jadi untuk itu jangan memberontak, aku melakukan ini semua demi kebaikan bersama"
"Jadi aku mohon sekali pada mu, jangan pernah pergi dari sini, aku hanya tidak mau segala usaha ku gagal total"
Pangeran Aksara tak bisa membayangkan hal itu, jika sampai hal itu beneran terjadi.
Pangeran Aksara terus menatap wajah peri Bulan yang tertidur pulas.
"Diamlah di sini, jangan pergi kemana-mana, aku mau pergi sebentar, aku akan kembali sebelum matahari terbenam"
Tubuh peri Bulan tak bergerak, tandanya peri Bulan masih terlelap dalam tidurnya, tak mendengarkan tiap-tiap kata yang pangeran Aksara katakan.
__ADS_1
Pangeran Aksara keluar dari dalam kamar meninggalkan peri Bulan yang masih terlelap dalam tidurnya.