
"Pantas saja paman tidak mengenal mu, ternyata kau anak bungsu Candra"
"Iya paman, aku anak terakhirnya"
"Tunggu-tunggu kenapa pangeran berada di sini, pangeran tau dari mana kalau paman ada di sini?"
Penasaran paman Sam pada hal itu.
"Begini paman, awalnya aku merasa curiga pada paman Kartos yang saat ini berusaha menyamar menjadi paman, aku mengikutinya sampai ke sini, dan dari sinilah aku tau kalau ternyata paman ku yang asli tengah di kurung di dalam penjara bawah tanah ini"
"Kenapa pangeran nekat sekali masuk ke sini, kalau semisal ada orang yang melihat pangeran bagaimana, mereka pasti akan langsung membunuh pangeran karena perseteruan kerajaan Fanjafan masih belum selesai"
"Aku tau paman, tapi aku tidak bisa biarkan paman berada di sini terus menerus dan juga aku ingin segara membongkar habis penyamaran paman Kartos, sudah cukup dia membocorkan informasi penting yang ada di kerajaan Mataram pada kerajaan Fanjafan"
Paman Sam mengerti kenapa pangeran Shiwa bisa senekat ini.
"Paman harus bantu aku untuk bisa bongkar habis penyamaran paman Kartos, aku sudah muak sekali dengan segala tipu dayanya"
"Iya, paman akan bantu pangeran, sekarang cepatlah bantu paman keluar dari sini sebelum ada panglima ataupun saja Namrud yang masuk ke sini"
"Baik paman"
Pangeran Shiwa berusaha membuka rantai yang mengikat pamannya selama ini.
"Kenapa susah sekali"
"Apa paman tidak tau kunci rantai ini?"
"Tidak pangeran, paman tidak tau, kalau paman tau pasti paman akan membuka rantai ini sendiri"
Pangeran Shiwa berpikir bagaimana cara membuka rantai itu sedangkan dirinya tak memiliki kuncinya.
Tiba-tiba tatapan mata pangeran Shiwa jatuh pada batu yang berada di belakang pamannya.
Dengan cepat pangeran Shiwa mengambil batu itu dan berusaha membuka rantai.
Pangeran Shiwa menghancurkan rantai itu dengan batu yang ia temukan.
"Terlepas, ayo paman kita harus pergi dari sini secepatnya"
Ajak pangeran Shiwa.
Paman Sam mengangguk kemudian keduanya berjalan dengan perlahan-lahan untuk bisa keluar dari dalam ruangan bawah tanah ini.
__ADS_1
"Ayo paman kita harus pergi dari sini secepatnya, sebelum ada prajurit ataupun raja Namrud yang tau kalau aku berada di sini"
"Iya ayo"
Keduanya berjalan menaiki tangga meninggalkan dayang yang masih berbaring di tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Saat tangga itu telah habis kini pangesn Shiwa di hadang dengan satu kesulitan yaitu bagaimana caranya membuka kembali pintu ruangan rahasia ini.
"Kenapa pangeran diam, apa yang pangeran pikirkan?"
"Itu paman, aku tidak tau bagaimana cara membuat pintu ruangan rahasia ini, apa paman tau?"
Paman Sam menggeleng membuat pangeran Shiwa semakin di serang rasa panik.
"Bagaimana ini paman, kita tidak bisa keluar kalau tidak nemuin tombol yang bisa kembali membuka pintu ini"
Cemas pangeran Shiwa yang tidak melihat apapun di sekitarnya.
"Apakah harus menggunakan tombol?"
"Iya, kalau tidak ada tombol maka tembok ini tidak akan terbuka"
"Pangeran Shiwa paman rasa tombol itu tidak jauh dari sini, dia pasti ada di sekitar sini"
Pangeran Shiwa dan paman Sam berusaha mencari tombol agar tembok itu bisa terbuka.
Mereka mencari ke sekitar namun tidak ada yang mereka temukan.
"Kenapa gak ada tombol itu, di mana raja Namrud menaruh tombol itu, kenapa susah sekali di temuinnya"
"Pasti ada di sekitar sini pangeran, tak mungkin gak ada tombolnya, kalau memang tidak ada dayang yang setiap hari nganterin makana pada paman tidak akan bisa keluar"
"Iya juga, paman kita harus cari lagi tombol itu, aku yakin sekali pasti tombol itu ada di sekitar sini, kita harus temuin baru setelah itu keluar dari penjara ini sebelum ada orang yang tau kalau aku tengah berusaha untuk membebasin paman"
"Iya, ayo kita cari lagi"
Keduanya kembali mencari namun tidak ada yang mereka temukan.
"Tidak ada pangeran, sepertinya tombol itu hanya dayang yang itu yang tau, apa kita bangunkan dia saja"
Paman Sam melihat ke arah dayang yang masih belum sadar juga.
"Jangan paman, kalau kita bangunin dia, dia pasti akan ngadu pada raja Namrud kalau aku yang sudah bebasin paman dari sini, semuanya akan tambah runyam kalau dia sampai bangun"
__ADS_1
"Lalu bagaimana ini pangeran, kita tidak bisa pergi dari sini?"
Paman Sam tiba-tiba cemas ia ingin segara keluar dari penjara ini, ia sungguh sangat menderita selama berada di dalam penjara ini.
Pangeran Shiwa diam, ia mulai berpikir dengan melihat sekelilingnya.
"Di mana tombol itu, kenapa tidak ada di sekitar sini, tak mungkin tombol itu tidak ada, kalau memang tidak ada, mana bisa dayang ini kembali ke dalam istana lagi, aku yakin tombol itu pasti di sembunyiin agar tidak mudah ada orang yang keluar masuk ke dalam penjara bawah tanah ini" batin pangeran Shiwa.
Tatapan mata pangeran Shiwa terus melihat tembok di depannya, tiba-tiba tatapan matanya jatuh pada satu batu bata yang warnanya berbeda.
"Kenapa batu bata itu warnanya tak sana seperti batu bata lainnya" batin pangeran Shiwa.
"Ada apa pangeran, apa yang pangeran lihat?"
Penasaran paman Sam saat melihat pangeran Shiwa terus menerus menatap batu bata itu sampai tak berkedip.
"Paman lihatlah batu bata ini warnanya tidak sama seperti batu bata lainnya"
Tunjuk pangeran Shiwa pada batu bata itu yang menurutnya sangat aneh.
"Itu memang hal biasa pangeran, walaupun ukurannya sama kadang warnanya agak berbeda, tak semuanya sama"
"Tapi paman ini aneh, batu bata itu aneh, dia tidak sama seperti yang lainnya, memang ada batu bata yang warnanya pekat dan ada juga yang muda, tapi di sini tidak ada warna batu bata yang berbeda-beda, semua warnanya sama kecuali batu bata ini, dia sendiri yang berbeda"
Paman Sam melihat sekelilingnya yang semua warna batu bata itu sama, tidak ada yang berbeda, hanya satu batu yang warnanya lebih terang dari yang lainnya.
"Benar juga, kenapa batu bata itu berbeda sendiri, apa ada sesuatu di baliknya?"
"Kita harus cari tau paman, kita harus cek apakah di baik batu bata itu ada yang aneh"
"Iya"
Setuju paman Sam pada pangeran Shiwa.
Pangeran Shiwa yang sudah sangat penasaran memegang batu bata itu.
Tiba-tiba tembok itu bergeser dan memperlihatkan ruangan awal di mana pangeran menemukan tombol yang bersembunyi di bawah batu bata.
"Tuh kan benar kalau di balik batu bata itu ada sesuatu yang di sembunyiin"
Paman Sam masih diam, ia sungguh takjub melihat itu semua.
"Paman ayo kita pergi dari sini, sebelumnya kita harus bebasin prajurit yang di tahan di penjara ini, baru kembali ke kerajaan"
__ADS_1
"Iya ayo"