
"Apa dia Flora?" batin ratu.
"Tapi mana mungkin Flora masih muda seperti anak umur 20-an, dia kan tidak lebih tua dari ku" batin ratu.
"Kenapa wajah Bulan mirip sekali dengan wajah Flora, dia siapanya Flora sebenarnya, kenapa mereka berdua semirip itu" batin ratu.
"Adinda"
"Ah iya, kenapa kakanda?" terkejut ratu ketika raja memanggilnya.
"Tidak apa-apa, kenapa adinda diam" ratu menggeleng dengan di sertai senyuman.
"Tidak ada apa-apa kakanda, aku baik-baik saja" jawab ratu.
Raja tidak lagi bertanya dan kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda, ratu juga kembali menyantap hidangan itu dengan mata yang sesekali melihat ke arah peri Bulan yang benar-benar tak asing di matanya.
"Dia benar-benar mirip dengan Flora" tanpa sadar ratu mengatakan hal itu.
"Flora, siapa yang mirip dengan Flora?" ratu terkejut ketika raja bertanya hal itu.
"Bulan kakanda, dia benar-benar mirip sekali dengan Flora, apa kakanda sadar akan hal itu?" raja melihat ke arah peri Bulan untuk memastikannya sendiri.
"Iya, dia mirip dengan Flora, kenapa aku baru sadar sekarang" batin raja yang kembali teringat pada Maharani.
Ratu yang melihat raja menatap peri Bulan tak berkedip hanya bisa diam, ia tau raja pasti menyadari kemiripan peri Bulan dengan Maharani.
"Raja Candra bagaimana dengan pertunangan putri ku dengan anak mu, kapan acaranya akan di langsung?" ucapan raja Pattah membuat lamunan raja buyar.
"Aku mau pertunangan mereka di adakan 2 hari lagi, keesokan harinya aku akan menikahkan pangeran Yudistira, karena di dalam peraturan kerajaan anak pertama harus menikah terlebih dahulu, itu mutlak tak boleh di dahului oleh adik-adiknya" jawab raja.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting hubungan putri ku dengan anak mu jelas, aku ingin mereka segera menikah, aku sudah tidak sabar menimang cucu" keinginan raja Pattah.
"Setelah pangeran Yudistira menikah, aku akan melangsungkan pernikahan mereka, mereka akan menikah secepatnya" mendengar hal itu putri Arumi tersenyum senang, ia merasa menang bertarung dengan peri Bulan.
"Tidak bisa ayah, aku lebih tua dari pada pangeran Aksara, dia tidak boleh mendahului ku" tak terima pangeran Arjuna berharap dapat menghentikan pernikahan itu.
"Ayah tau, ayah berniat akan menikahkan kalian di hari yang sama" pangeran Aksara dan pangeran Arjuna ternganga karena keduanya tidak akan bisa menghentikan pernikahan itu kalau acara pernikahan mereka di langsungkan di hari yang sama.
"Aku tidak setuju ayah" semua tatapan tertuju pada pangeran Arjuna.
__ADS_1
"Alasannya?" penasaran raja.
"Alasannya aku hanya tidak mau pernikahan ku di selenggarakan di hari yang sama dengan pangeran Aksara" jawab pangeran Arjuna.
"Itu bukan sebuah alasan, kamu jangan berusaha untuk menghentikan keputusan ayah, sudah terima saja apa yang ayah putuskan untuk kalian berdua, ayah melakukan ini semua demi kebaikan kalian" tegas raja.
"Tapi ayah-
Raja memberikan kode dengan tangannya."Cukup, sudah cukup, jangan membantah lagi"
Pangeran Aksara dan pangeran Arjuna tidak bisa berkutik kali ini karena ada kerajaan Saktira Bharat, mereka harus jaga sikap, walaupun saat ini mereka ingin sekali menghentikan pernikahan itu.
Pangeran Aksara tampak kesal, dia begitu geram sekali namun ia tidak bisa apa-apa karena di depannya ada putri Arumi, ia tidak mungkin menolak perjodohan itu tepat di depan calon istrinya.
"Ayah siapa wanita yang kau jodohkan dengan ku?" penasaran pangeran Yudistira pada calon istrinya.
"Dia putri dari kerajaan Gajah Mada" jawab raja.
"Di mana dia ayah, aku ingin melihatnya" pangeran Yudistira ingin tau seperti apa calon istrinya.
"Putri masuklah" panggil raja.
"Salam" putri itu menundukkan sedikit tubuhnya dengan di sertai senyuman ramah.
"Salam" jawab mereka semua.
"Pangeran Yudistira ini adalah putri Jingga, dia wanita yang ayah pilihkan untuk mu" raja memperkenalkan putri cantik itu pada pangeran Yudistira.
Pangeran Yudistira terpesona pada paras cantik calon istrinya.
"4 hari lagi kalian akan menikah, pangeran Yudistira kau jangan menolak" ancam raja.
Pangeran Yudistira tidak menjawab, ia hanya diam saja tanpa bergerak.
"Putri Jingga duduklah di samping calon suami mu, kau sudah memberi tau ayah mu bukan?" putri Jingga mengangguk cepat.
"Iya paman, aku sudah beri tau ayah tentang hal ini, ayah bilang besok ayah akan datang ke sini untuk menemui paman" jawab putri Jingga.
"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan ayah mu" bersedia raja.
__ADS_1
Putri Jingga mendekati pangeran Yudistira, pangeran Yudistira tampak ketar-ketir saat putri Jingga duduk di sampingnya.
Pangeran Yudistira berusaha berdamai dengan keadaannya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap wajah putri Jingga, ia terus melihat lurus ke depan tanpa ekspresi.
"Tenang, jangan tujukkan, kakak kembali bukan untuk bersenang-senang, tapi membantu adik-adik mu agar tidak jadi tertekan" bisik pangeran Arjuna di telinga pangeran Yudistira, ia tau kakaknya sedang gerogi karena di sampingnya ada seorang bidadari.
Pangeran Yudistira mengacungkan jempol, ia tidak mungkin melupakan hal itu.
"Ayah" panggil pangeran Arjuna.
"Apa lagi?" raja menatap ke arah pangeran Arjuna.
"Kalau kak Yudis sama putri Jingga, aku sama siapa?" penasaran pangeran Arjuna.
"Bulan, kau akan menikah dengannya" peri Bulan terkejut mendengar jawaban raja.
"A-aku?" peri Bulan menunjuk tak percaya ke arahnya.
"Iya kau, kau adalah calon istri pangeran Arjuna, kalian akan bertunangan 2 hari lagi" jawab raja.
Peri Bulan melirik ke arah pangeran Aksara yang remuk redam, terlihat jika pangeran Aksara sedang berusaha menahan kemarahannya.
"Kenapa bisa aku yang akan nikah dengan pangeran Arjuna, pangeran Aksara bilang dia yang akan nikahi ku, kenapa sekarang bisa berganti pada pangeran Arjuna" batin peri Bulan merasa aneh.
"Apa kau tidak keberatan?" raja melihat peri Bulan yang terdiam.
"Tentu saja keberatan, aku bukan anggota kerajaan ini, aku punya kehidupan, kau jangan main putuskan pasangan hidup ku, kau itu bukan siapa-siapa ku, jangan sok mengekang ku" batin peri Bulan yang hanya bisa mengumpat, ia sebenarnya tak setuju sama sekali namun ia tidak punya keberanian untuk menolak.
Peri Bulan mengangguk takut, ia sungguh sangat tertekan berada di titik ini.
"Bagus kalau seperti itu, pangeran Arjuna akan bertunangan dengan Bulan di hari yang sama dengan pertunangannya pangeran Aksara dan putri Arumi, dan pernikahan kalian akan di langsungkan di hari yang sama juga" keputusan raja memberatkan banyak pihak, namun di antara banyaknya pangeran khususnya pangeran Aksara dan pangeran Arjuna tidak ada yang berkutik, mereka tidak bisa melawan untuk saat ini.
"Kalau seperti itu aku akan mempersiapkan segalanya, aku mau acara pertunangan putri ku sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun" putri Arumi tersenyum bahagia mendengar ucapan raja Pattah.
"Terima kasih ayah" putri Arumi memeluk tubuh raja Pattah yang duduk di sebelahnya.
"Sama-sama putri ku, aku akan memberikan segalanya untuk mu" raja Pattah terlihat sangat menyayangi putri Arumi di mata peri Bulan.
Kedekatan mereka berdua membuat peri Bulan merasa iri.
__ADS_1
"Kenapa saat aku kecil tidak ada ayah yang menemani ku, di mana ayah ku, apa aku memang terlahir tanpa ayah?" batin peri Bulan menunduk sedih.