
Pangeran Shiwa dan paman Sam terus berjalan menuju kerajaan Mataram kembali.
Mereka berjalan dengan tenang tanpa khawatir ada prajurit maupun orang yang dapat melihat mereka, karena saat ini di sekeliling mereka hanya ada tanaman-tanaman yang tubuh liar.
Mereka berpikir kalau tak akan ada orang yang dapat melihat ataupun menangkap mereka.
Khikhikhikhik
Tiba-tiba telinga mereka mendengar suara kuda yang mendekat.
"Gawat ada orang yang mendekat, kita harus sembunyi paman"
Panik pangeran Shiwa ketika mendengar suara sepatu kuda yang menggema di telinganya.
"Kita harus sembunyi di mana?"
Paman Sam ikutan panik ketika mendengar suara kuda itu.
Pangeran Shiwa melihat ke kanan dan kirinya, tiba-tiba pandangannya jatuh pada satu tempat yang di rasa cocok untuk di jadikan tempat persembunyian.
"Di sana paman"
Tunjuk pangeran Shiwa pada semak-semak yang berada di sebelah kanannya.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam semak-semak itu.
Khikhikhikhik
Suara kuda terdengar jelas, suara sepatunya juga terdengar mendekati semak-semak itu.
"Semoga mereka tidak nemuin aku" batin pangeran Shiwa sangat berharap.
Kuda itu berhenti tepat di dekat semak-semak.
"Di mana pangeran Samuel, kenapa tidak ketemu juga"
Prajurit itu melihat ke kanan dan kirinya yang tidak menemukan orang yang saat ini mereka cari-cari.
"Sepertinya pangeran Samuel sudah sampai di kerajaan Mataram, mangkanya kita tidak nemuin dia"
"Bahaya ini, kalau sampai pangeran Samuel sampai di sana, pasti akan ada peperangan antara kerajaan Mataram dengan kerajaan Fanjafan"
"Bukan hanya peperangan saja, tapi akan ada masalah besar yang akan terjadi, selama ini kan pangeran Samuel di kurung sama raja, kalau sampai dia kembali ke kerajaan Mataram dan menjelaskan semuanya, maka pangeran Kartos akan dalam bahaya, bisa saja dia mati karena di eksekusi mati oleh raja Candra"
"Bahaya ini, kita harus temukan pangeran Samuel sebelum terjadi kekacauan besar"
"Kita mau cari dia di mna?"
"Di sebelah sana saja, hanya sekitar sana yang belum kita telusuri, mungkin saja pangeran Samuel ada di sana"
Tunjuk prajurit itu pada sebelah selatan.
"Ayo kita ke sana"
Mereka kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali mencari keberadaan paman Sam dengan menunggangi kuda.
Paman Sam dan pangeran Shiwa bernapas lega saat mereka sudah pergi dari sana.
"Gawat raja Namrud sudah tau kalau paman berhasil melarikan diri, ini bahaya paman, kita harus pergi dari sini secepatnya sebelum prajurit itu nemuin kita dan bakalan nangkap kita"
__ADS_1
"Iya pangeran, ayo kita pergi dari sini, kita harus sampai di kerajaan Mataram secepatnya"
Pangeran Shiwa mengangguk.
"Ayo paman lewat sana"
Tunjuk pangeran Shiwa ke arah jalanan kecil yang biasa di gunakan paman Kartos untuk pergi ke kerajaan Fanjafan.
Mereka berdua berjalan menuju kerajaan Mataram dengan tergesa-gesa takut ada prajurit kerajaan Fanjafan yang melihat keberadaan mereka.
Di sisi lain.
Pangeran Aksara membawa peri Bulan ke dalam kamarnya dengan sangat kasar.
Pangeran Aksara melepaskan cengkraman tangannya, peri Bulan melihat tangannya yang berwarna merah karena ulah pangeran Aksara.
"Kenapa ke sini, ini bukan kamar yang tadi?"
Peri Bulan merasa aneh dengan kamar ini.
"Ini kamar ku, yang tadi itu kamarnya ibunda, kamu lebih baik di sini saja, jangan di kamar ibunda"
Peri Bulan mengangguk mengerti.
"Kenapa tadi kamu pergi dari sana, apa kamu memang berniat melarikan diri?"
Pangeran Aksara mengintrogasi peri Bulan yang tadi tiba-tiba pergi dari kamar ratu.
"B-bukan seperti itu, aku tidak berniat melarikan diri"
"Kalau bukan melarikan diri, lalu kenapa kau keluar dari kamar itu?"
"Oh gitu, pantas saja dia pergi dan hampir membuat ku gila kalau tidak bisa ku temukan" batin pangeran Aksara.
"Kenapa ngembaliin makanan itu?"
"Aku vegetarian, aku tidak makan daging"
"Pantas aja dia ngembaliin makanan itu, rupa-rupanya dia vegetarian, kenapa aku gak tau, seharusnya aku nanya dulu padanya biar gak salah paham gini" batin pangeran Aksara menyesal.
"Jadi sekarang kamu masih belum makan?"
"Sudah, aku sudah makan, aku tadi bertemu putri Thalia, dia memberi ku buah-buahan"
"Cuman itu saja?"
Peri Bulan mengangguk.
"Iya, cuman itu saja"
"Apa kamu tidak mau yang lain?"
"Tidak, aku tidak mau, aku susah kenyang"
Peri Bulan hendak mendekati tempat tidur dengan cepat pangeran Aksara langsung mencekal erat lengannya kembali.
"Arrrrgghh"
Teriak peri Bulan yang sangat terkejut.
__ADS_1
Dengan perasaan terkejut peri Bulan menatap wajah pangeran Aksara.
"Lepasin"
Tintah peri Bulan yang ingin terlepas dari cengkraman tangan pangeran Aksara.
"Aku masih belum selesai ngomong, kenapa kau malah pergi begitu saja"
"A-aku cuma ingin istirahat, tidak lebih"
"Sekarang lepaskan tangan ku"
Tintah peri Bulan yang terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan pangeran Aksara.
"Aku tidak mau, kenapa kau tidak bisa diam"
"Mana bisa aku diam, haduh kenapa pangeran ini makin lama makin gila saja, aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum semuanya tambah kacau" batin peri Bulan yang merasa sangat tertekan.
"Lepasin aku, sakit"
Peri Bulan memberontak, tapi pangeran Aksara tetap tak mau melepaskan cengkraman tangan itu.
Peri Bulan menatap kesal ke arah pangeran Aksara yang malah tersenyum melihatnya tertekan.
"Kau tidak akan bisa melepaskannya"
"Oh ya, liat aku akan buktikan kalau aku bisa" batin peri Bulan.
"Arrrrgghh"
Teriak pangeran Aksara yang tangannya di gigit oleh peri Bulan dengan sangat keras hingga terluka.
"Rasakan itu" batin peri Bulan tersenyum senang.
"Kau"
Tak percaya pangeran Aksara pada apa yang barusan peri Bulan lakukan.
Pangeran Aksara melihat tangannya yang berdarah karena ulah peri Bulan.
"Kenapa kau makin berani saja, dasar gadis liar"
Setelah mengatakan hal itu pangeran Aksara keluar dari dalam kamarnya meninggalkan peri Bulan sendirian.
"Gadis liar, aku bukan gadis liar, kenapa dia bicara seperti itu"
Sakit hati peri Bulan pada apa yang pangeran Aksara katakan.
"Andai kau tidak berbuat yang tidak-tidak pada ku, mungkin aku tidak akan menyakiti mu"
Setetes air mata mengalir di pipi peri Bulan yang merasa sangat tertekan berada di bumi.
Peri Bulan menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir itu.
"Aku harus bisa pergi dari sini, aku tidak mau berada di sini lagi"
"Nanti malam aku akan pastikan kalau aku bisa keluar dari dalam istana ini"
Yakin peri Bulan pada rencananya yang akan berjalan seperti apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Peri Bulan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan mata.