Cinta Beda Alam

Cinta Beda Alam
Berusaha keluar dari istana


__ADS_3

Malam harinya.


Saat yang di nanti-nanti telah tiba, para anggota kerajaan Mataram sudah bersiap dan berkumpul menjadi satu.


Semua orang-orang penting yang berada di kerajaan Mataram menunggu kedatangan putri Jingga dan para rombongan dari anggota kerajaan sebelah yang akan hadir malam ini.


Rombongan tersebut akhirnya sampai, pihak kerajaan Mataram menyambut mereka dengan senang hati.


Putri Jingga dan pangeran Yudistira berdoa di depan dewa untuk meminta restu, setelah berdoa mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Pertukaran cincin di mulai dengan lancar, keduanya menyebarkan senyuman manis tanda bahagia yang membuat dua kerajaan itu ikut senang.


Acara pertunangan pangeran Yudistira dengan putri Jingga berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan, setelah beberapa waktu di habiskan dalam pertunangan tersebut, akhirnya prosesi pertunangan selesai di lakukan.


"Putri ku, ayo kita pulang" ajak raja Pattah pada putri Jingga.


"Aku tidak mau ayah, aku mau nginap di sini saja, aku akan tidur bersama putri Thalia, tolong ayah izinkan aku nginap di sini" titah putri Jingga.


"Baik, kau boleh nginap di sini, besok pagi-pagi sekali pulanglah kembali ke istana" suruh raja Pattah.


"Baik ayah" jawab putri Jingga tersenyum senang karena apa yang dia inginkan terkabulkan.


Raja Pattah pulang bersama rombongan menuju istana kembali.


"Ini sudah malam, kalian istirahatlah, besok adalah acara pertunangan pangeran Arjuna dan pangeran Aksara, kalian harus siap-siap untuk menyambut hari esok" suruh raja.


"Baik ayah" jawab mereka.


Mereka semua membubarkan diri dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Suasana malam semakin lama semakin gelap, putri Thalia melirik ke arah putri Jingga yang sudah terlelap dengan sempurna di sampingnya.


Dengan perlahan-lahan putri Thalia beranjak dari tempat tidur, ia melakukannya dengan sepelan mungkin agar putri Jingga tidak bangun.


Putri Thalia benapas lega saat sudah turun dari tempat tidur, matanya menatap ke arah putri Jingga yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Aman, aku harus pergi dari sini, aku harus temui kekasih ku, dia pasti sedang nunggu aku"


Putri Thalia mengambil selendang berwarna coklat, ia menggunkan selendang itu untuk menutupi rambutnya serta wajahnya, kemudian dengan perlahan-lahan putri Thalia membuka pintu.

__ADS_1


Krieet


Suara pintu yang terbuka itu terdengar sangat pelan, sebelum keluar dari dalam kamarnya, putri Thalia kembali menatap ke arah putri Jingga untuk melihat apakah dia masih tidur atau tidak.


"Huft aman, putri Jingga masih tidur, aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum dia bangun dan akan buat aku tidak akan bisa pergi nemuin kekasih ku malam ini"


Putri Thalia keluar dari dalam kamar dengan pelan-pelan, tak lupa ia menutup pintu kamarnya dengan sepelan mungkin.


Sebelum melanjutkan perjalanan putri Thalia menatap ke sekelilingnya.


"Sepertinya aman untuk ku pergi dari sini, ya dewa aku mohon jangan buat satu orang pun melihat ku, izinkanlah aku bertemu dengannya malam ini" doa putri Thalia terlebih dahulu.


"Ayo Thalia kau harus pergi dari sini, ini kesempatan emas untuk mu keluar dari sini dan datang ke kerajaan Fanjafan"


Putri Thalia melangkahkan kakinya, ia berjalan dengan menunduk, wajahnya tidak terlihat karena di tutupi selendang.


Putri Thalia berjalan menuju lorong yang tembus ke dapur dan di sana ada pintu belakang yang dapat ia lalui.


Langkah putri Thalia tiba-tiba terhenti saat telinganya mendengar suara gelang kaki seseorang yang memecah keheningan.


"Gawat, ada orang yang masih belum tidur, aku harus sembunyi darinya, aku tidak boleh sampai ketahuan"


Putri Thalia dengan cepat langsung bersembunyi di balik tirai merah yang panjang dan menutupi seluruh tubuhnya.


Suara gelang kaki itu terdengar memecah keheningan, putri Thalia diam dengan menahan napas, ia sangat berharap pemilik suara itu tidak menyadari keberadaannya.


Suara gelang kaki itu semakin lama semakin mendekat dan terdengar jelas di telinga putri Thalia.


Putri Thalia terbelalak saat melihat siapa pemilik suara gelang kaki itu yang membuatnya ketar-ketir.


"Ibu, kenapa ibu masih belum tidur di jam segini" batin putri Thalia menatap aneh.


Ratu berjalan mendekati kamarnya, suara gelang kaki itu menjauh, putri Thalia merasa sedikit lega.


"Tak biasanya ibu terjaga di jam segini, apa yang membuat ibu bangun?"


Putri Thalia menatap ke arah punggung ratu yang pelan-pelan menghilang karena jarak yang jauh.


"Aku tidak mau mikirin itu, aku harus keluar dari istana sebelum ada orang lain lagi yang bangun dan akan buat usaha ku gagal"

__ADS_1


Putri Thalia kembali melangkah, ia terus melihat ke kanan dan kirinya untuk waspada, khawatir ada dayang ataupun prajurit yang tidak sengaja akan melintas.


Sebelum masuk ke dalam lorong panjang itu putri Thalia melihat ke kanan dan kiri.


"Aman, aku harus cepat-cepat pergi dari sini"


Putri Thalia dengan terburu-buru berjalan melewati lorong panjang itu untuk bisa keluar dari dalam istana.


Tak berselang lama dari itu lorong panjang itu telah usai, putri Thalia masuk ke dalam dapur, di dapur tidak ada satu orangpun yang terlihat, itu semua membuat putri Thalia bebas melakukan apa saja.


Putri Thalia membuka pintu belakang, ia keluar dari pintu belakang.


Betapa leganya putri Thalia saat kini ia sudah berada di luar.


"Huft setelah sekian lama akhirnya aku berada di sini, aku harus temuin pangeran Louis, dia pasti tengah nungguin aku"


Putri Thalia tanpa rasa takut sedikitpun berlari masuk ke dalam jalanan setapak yang gelap dan banyak sekali semak-semak di kanan dan kiri.


Tak ada rasa takut sedikitpun yang menyerang putri Thalia, ia terus berlari masuk ke jalanan setapak yang gelap gulita itu.


Tak berselang lama dari itu putri Thalia menghentikan langkah.


"Kenapa lama sekali?"


Putri Thalia diam dengan menundukkan kepalanya.


"Aku sudah menunggu mu dari tadi, tapi kenapa baru sekarang kau sampai di sini, tak biasanya kau seperti ini, apa jangan-jangan kau begini karena ada laki-laki lain"


Sontak putri Thalia menatap wajah pangeran Louis dengan sangat terkejut.


"Kau mencurigai ku?"


"Tentu saja, kau sudah bohong pada ku"


Putri Thalia langsung mengerutkan alis."Bohong? bohong dari segi apa, aku tidak pernah boong sedikitpun pada mu"


"Aku dengar kakak mu akan bertunangan, kenapa kau tidak bilang pada ku sebelumnya" pangeran Louis menatap lurus ke depan.


"Bukanya aku tidak mau bilang pada mu, cuman pernikahan mereka di laksanakan dadakan, pihak kerajaan sekarang sangat sibuk, barusan pertunangan kak Yudis baru selesai di laksanakan, besok masih ada acara pertunangannya kak Arjuna dengan kak Aksara, sungguh beberapa hari ke depan ini aku tidak akan bisa menemui mu lagi"

__ADS_1


__ADS_2