Cinta Beda Alam

Cinta Beda Alam
Ibu Dhambi


__ADS_3

Saat sampai di persada yang ia inginkan, bertapa terkejutnya Maharani saat melihat jika pangeran Candra adik dari suaminya yang menjadi raja.


Setetes air mata langsung mengalir saat tau kenyataan pahit itu."J-jadi benar pangeran Arya sudah meninggal, tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi, pangeran Arya tidak mungkin meninggal"


Maharani masih membantah keras fakta itu."Pangeran Arya kenapa dia bisa meninggal, siapa yang sudah membunuhnya, apa mungkin dia menanggung segalanya saat aku melarikan diri dari sini"


"Tidak mungkin, dia seorang putra mahkota, tidak akan ada yang berani membunuhnya karena kesalahan ku, dia pasti meninggal dengan cara yang lain, aku harus cari tau dia meninggal kenapa"


Maharani melihat ke kanan dan kiri.


"Siapa yang harus ku tanya tentang hal ini?"


Tatapan Maharani jatuh pada seorang dayang yang sudah renta dan sangat ia kenali.


Maharani mendekati dayang itu yang masuk ke dalam kamar pangeran Yudistira yang kosong.


"Ibu Dhambi" panggilan itu membuat pelayan renta menghentikan aktivitasnya, ia menatap tak percaya pada pelayan yang mendekatinya.


"Siapa kau?" sinis ibu Dhambi.


"Ibu Dhambi bisakah kau memberi tau ku tentang pangeran Arya setelah di tinggal istrinya yang merupakan iblis?"


Ibu Dhambi diam, ia menatap pelayan itu dari atas sampai ke bawah.


"Flora" tangis Maharani langsung pecah saat ibu Dhambi mengenalinya meskipun ia sudah merubah penampilannya menjadi seorang pelayan.


"Ibu Dhambi" Maharani memeluk tubuh renta itu yang begitu ia rindukan selama ini, ibu Dhambi merupakan orang terdekat di hidup Maharani ketika ia tinggal di bumi.


"Kenapa kau datang ke sini dan mencari pangeran Arya?" Maharani menyeka air matanya.


"Aku ingin tau dia pergi kemana ibu Dhambi, ada yang bilang dia sudah meninggal namun aku tidak percaya dia meninggal, aku sangat yakin dia masih hidup ibu Dhambi, mangkanya aku datang ke sini, aku ingin mastiin kebenaran berita itu" jawab Maharani.

__ADS_1


Ibu Dhambi menatap lurus ke depan."Flora kehidupan pangeran Arya kacau setelah engkau pergi, dia seperti kehilangan segalanya saat kau meninggalkannya"


"Aku tidak berniat meninggalkannya ibu Dhambi, namun keadaan yang memaksa ku untuk pergi, aku tidak bisa hidup di sini lagi, semua orang membenci ku, namun aku bisa terima ibu Dhambi, tapi tidak untuk suami ku, saat dia tau aku bukan manusia sepertinya, dia membenci ku ibu Dhambi, aku merasa tak lagi berharga di hidupnya ibu Dhambi, maka dari itu ku putuskan untuk pergi dari sini" jelas Maharani.


Ibu Dhambi menghela napas."Kau salah Flora, pangeran Arya tidak benci pada mu, dia hanya tak tau harus berpihak pada siapa saat itu, taukah kamu, setelah kejadian itu dia menjadi gila dan menghembuskan napas terakhirnya"


DEG!


Maharani yang mendengar fakta menyakitkan itu dari mulut ibu Dhambi sangat terpukul.


"J-jadi pangeran Arya benar-benar sudah meninggal?"


"Benar, pangeran Arya sudah meninggal, dia meninggal satu tahun setelah kau pergi, dan tahta putra mahkota jatuh pada pangeran Candra selaku anak kedua" ibu Dhambi menatap lurus ke depan saat mengatakan hal itu.


Maharani menangis sekencang-kencangnya saat orang yang begitu berarti di hidupnya selama ini sudah pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


"Kau boleh sedih Flora, tapi jangan terlalu larut, karena itu tidak baik" ibu Dhambi mengupas punggung Maharani yang bergetar.


"Takdir sudah mengambilnya Flora, kau harus terima" isakan tangis Maharani terus terdengar, ia tak menyangka kalau apa yang peri Bilqis ucapakan benar-benar nyata.


"Ibu Dhambi apa kau melihat anak ku?" ibu Dhambi langsung mengerutkan alis.


"Anak, apa kau sudah punya anak?" Maharani mengangguk.


"Iya ibu Dhambi, dia anak ku dengan pangeran Arya, ternyata selama ini anak ku di bawa oleh ibu peri ke alam peri saat ia lahir ke dunia ini, sekarang salah satu anak ku jatuh ke bumi, tepatnya di dalam hutan yang berada di depan istana, aku merasa seseorang sudah membawanya ke sini, apa ibu Dhambi melihat dia di sini?"


"Tidak, aku tidak melihat ada anak mu di sini, dia tidak di bawa ke sini" ibu Dhambi menatap lurus ke depan, ia menyembunyikan wanita yang baru-baru ini masuk ke dalam istana, ia curiga kalau wanita yang di bawa pangeran Aksara adalah anak dari Maharani dan pangeran Arya.


"Lalu di mana aku harus mencarinya ibu Dhambi, aku tidak mau dia bernasib sama seperti ku yang harus di benci sama semua orang karena sebuah perbedaan"


"Kau carilah dia di hutan Flora, di sini tidak ada anak mu, percuma kau datang ke sini, di sini tidak ada dia" suruh ibu Dhambi.

__ADS_1


"Baiklah ibu Dhambi, aku akan ke sana, aku akan cari peri Bulan di sana, tolong doakan aku semoga aku bisa dapat membawanya kembali ke alam peri lagi" ibu Dhambi mengangguk.


Maharani melangkah meninggalkan ibu Dhambi.


"Tunggu Flora" Maharani langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan dengan wajah bingung.


"Ada apa ibu Dhambi?"


"Apa kau tidak mau kembali ke sini lagi dan tinggal di sini seperti dulu?" Maharani diam, wajahnya mendadak menjadi lesu, sebenarnya ia ingin hidup di sini seperti dulu yang bebas tanpa beban tak seperti sekarang yang harus menjadi pemimpin di alam peri.


"Ibu Dhambi aku ingin kembali ke sini lagi, namun semesta seakan-akan tidak mengizinkan ku, semua orang benci pada ku, bagaimana mungkin aku kembali dan tinggal di sini di saat semua orang benci keberadaan ku, apalagi saat ini aku di beratkan dengan tanggung jawab ku yang menjadi Maharani di alam peri, ibu peri memberikan tahta itu pada ku, bagaimana mungkin aku kembali ke sini dan meninggalkan alam peri, aku tidak bisa egois ibu Dhambi, ini bukan menyangkut satu atau dua orang saja, tapi banyak, aku tidak bisa kembali ibu Dhambi, aku tidak bisa" ibu Dhambi akhirnya mengerti kenapa Maharani tak pernah datang berkunjung ke istana lagi.


"Walaupun kau tidak bisa kembali ke sini lagi setidaknya datanglah kalau kau punya waktu, di sini masih ada aku yang menyayangi mu, aku tidak peduli meski kau berbeda dengan ku" setetes air mata mengalir di wajah Maharani.


Maharani langsung berlari memeluk ibu Dhambi, orang yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Ibu Dhambi maafkan aku, aku tidak tau kalau kau menanti ku selama ini" ibu Dhambi mengusap punggung Maharani.


"Aku tidak apa-apa Flora, aku mengerti kenapa kau tidak kembali ke sini, aku tidak apa-apa" Maharani menangis di dalam pelukan ibu Dhambi.


"Flora sekarang kau kembalilah ke alam mu, jangan berada di sini terlalu lama, aku hanya tidak mau semua orang melihat mu kembali" Maharani mengangguk, ia menyeka air matanya.


"Baik ibu Dhambi, aku pergi dulu, panggil nama ku tiga kali kalau kau rindu pada ku, aku akan langsung datang menemui mu" ibu Dhambi mengangguk mengerti dengan di sertai senyuman manis.


"Aku pergi dulu ibu Dhambi"


"Iya, pergilah"


Maharani tersenyum kemudian menghilang dari hadapan ibu Dhambi.


"Maaf Flora aku tidak bilang yang sebenarnya pada mu, aku hanya tidak mau kau semakin terluka saat tau kalau pangeran Arya masih hidup, dan teruntuk anak mu, aku akan buat dia tinggal di istana ini menggantikan mu agar dia bisa menjadi anggota kerajaan seperti yang lainnya" itulah alasan mengapa ibu Dhambi tak bilang peri Bulan pada Maharani.

__ADS_1


__ADS_2