
Pangeran Aksara berhenti berlari, ia melihat ke kanan dan kirinya namun tidak ada orang yang ia cari-cari.
"Di mana Bulan, apa dia sudah pergi dari istana ini?"
"Aku tidak boleh biarkan hal itu terjadi, aku harus cari Bulan sampai ketemu"
Pangeran Aksara berjalan di sekitar istana berharap dapat menemukan peri Bulan.
"Dayang apa kau melihat Bulan?"
Dayang itu berhenti."Tadi saya lihat dia berjalan kamarnya"
"Terima kasih dayang"
Dayang itu mengangguk lalu kembali menjalankan tugasnya yang terjeda.
"Aku harus datang ke kamar itu, dia sana pasti ada Bulan"
Pangeran Aksara berlari menuju kamar kemarin yang sudah dayang beri tau kalau kamar itu merupakan kamar peri Bulan saat ini.
Pangeran Aksara melihat sekitarnya, pandangan jatuh pada seseorang yang berjalan dengan lesu menuju salah satu kamar.
Dengan cepat pangeran Aksara langsung menarik tangan orang itu untuk menghentikannya.
"Jangan pergi"
Peri Bulan hanya menghela napas."Lepaskan aku, aku tidak akan pergi, aku hanya ingin istirahat saja"
"Ada dengan wajah mu, kenapa tiba-tiba jadi tak semangat?"
"Tidak apa-apa, aku hanya capek saja, aku ingin istirahat, jadi lepaskan tangan ku"
Pangeran Aksara terpaksa melepaskan tangan peri Bulan.
"Ingat jangan pergi kemana-mana"
Peri Bulan hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya, ia merebahkan tubuh di dalam kamar tersebut lalu memejamkan mata.
Pangeran Aksara hanya bisa menghela napas saat peri Bulan sudah tidak dapat di lihatnya lagi.
"Aku harus ke mana ini?"
"Gak mungkin aku kembali ke kamar ku, aku malaz sekali bertemu dengan putri Arumi?"
Pandangan pangeran Aksara tertuju pada seseorang.
"Prajurit"
__ADS_1
Prajurit itu langsung berhenti dan melihat ke arah pangeran Aksara.
"Kemarilah"
Prajurit datang mendekati pangeran Aksara.
"Ada apa pangeran, mengapa kau manggil kami?"
"Apakah kalian melihat pangeran Yudistira?"
"Tadi kami lihat pangeran Yudistira lagi berada di belakang istana pangeran"
"Terima kasih, kalian boleh pergi"
Prajurit itu mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan pangeran Aksara.
"Kenapa kakak ada di belakang istana, apa yang dia lakukan di sana, aku harus lihat"
Pangeran Aksara berjalan menuju belakang istana yang sepi dan tak ada satu orang pun yang terlihat.
Mata pangeran Aksara melihat ke arah pangeran Yudistira yang duduk dengan menyender pada tembok istana, pandangan matanya terus melihat lurus ke depan.
"Itu dia orang yang aku cari-cari"
Pangeran Aksara mendekati pangeran Yudistira yang melamun di belakang istana.
"Bukan banyak lagi, tapi baanyaak sekali"
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hanya satu, aku hanya mikirin tentang bagaimana kau dan putri Arumi bisa gagal nikah, tapi sedari tadi aku mikir, tidak ada cara untuk ku bisa hentikan pernikahan kalian"
Pangeran Aksara menunduk lesu."Bagaimana ini kakak, aku tidak mau menikah dengannya, apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya cara apapun untuk hentikan perjodohan itu, sekarang waktunya tambah mepet, 2 hari lagi pertunangan ku dengannya akan di laksanakan, bagaimana caranya aku hentiin pernikahan itu dalam waktu sedekat ini?"
"Pasrahkan saja pada dewa, dia pasti akan bantu kita, dia tidak akan mungkin misahin dua orang yang saling mencintai, percayalah pada ku"
"Kalian kenapa berada di sini?"
Tatapan mereka semua langsung tertuju pada pangeran Arjuna yang berdiri tepat di hadapan mereka dengan penuh tanda tanya.
"Mikirin bagaimana caranya bisa hentiin perjodohan itu"
Pangeran Arjuna mengambil duduk di dekat pangeran Aksara.
"Bagaimana, apa kalian sudah tau caranya?" keduanya menggeleng kompak.
"Tidak, kami tidak tau, waktunya mepet, sulit bagi kami untuk hentiin perjodohan itu" jawab pangeran Yudistira.
__ADS_1
"Bagaimana ini, kalau kita gak bisa hentiin pernikahan itu, kita pasti akan hidup tertekan dengan wanita yang tidak kita cintai" mulai panik pangeran Arjuna.
"Kak Arjun kenapa kau bersedia menikah dengan Bulan, apa jangan-jangan kau telah menyukainya?"
"Tidak adik ku, aku tidak akan mungkin nikung kamu, aku terpaksa lakuin itu karena aku tidak mau Delima pergi dari istana ini, kau tau bukan kalau aku tidak mau dia pergi" jawab pangeran Arjuna.
"Lalu bagaimana ini, kakak mencintai Delima, tapi ayah menyuruh kakak untuk menikah dengan Bulan, aku pun juga sama, bisakah kita hentiin pernikahan itu sedangkan kita nikah di hari yang sama?"
"Aku tidak tau, aku juga bingung bagaimana caranya kita hentiin pernikahan itu, kita sudah berusaha bujuk ayah, tapi ayah tidak mendengarkan sama sekali, apa lagi yang harus kita lakukan, kita gak bisa diam saja seperti ini?" bingung pangeran Arjuna.
"Sudah, kalian jangan pada bingung, serahkan saja semuanya pada dewa, dia pasti akan memberikan keajaiban sehingga apa yang kalian bilang mustahil itu beneran nyata dan pasti akan terjadi, percaya saja" pangeran Yudistira tampak tenang, ia tidak seperti kedua adiknya yang gelisah sedari tadi.
Mereka berdua hanya bisa menghela napas dengan menatap lurus ke depan.
"Pangeran Yudistira, baginda raja memanggil mu" pangeran Yudistira menatap ke arah prajurit yang berada di depannya.
"Untuk apa ayah manggil aku?"
"Saya tidak tau, saya hanya menjalankan perintah saja" setelah mengatakan itu prajurit pergi meninggalkan mereka berdua.
"Untuk apa ayah manggil aku?" bingung pangeran Yudistira.
"Pasti ada hal penting, ayo kita temui saja ayah, tanyakan langsung apa maksudnya manggil kakak" ajak pangeran Arjuna.
Mereka mengangguk lalu melangkah menuju persada.
"Ada apa ayah, kenapa ayah manggil aku?" pangeran Yudistira menatap ke arah raja yang duduk di singgasana.
"Pertunangan mu dengan putri Jingga akan di laksanakan nanti malam"
Pangeran Yudistira terkejut."Kenapa cepat sekali ayah?"
"Jelas cepat karena adik-adik mu juga sebentar lagi akan menikah, setelah pertunangan pangeran Aksara dan Arjuna, upacara pernikahan kalian akan di laksanakan, ayah ingin kalian menikah secepatnya"
"Tapi tidak secepat ini juga ayah"
"Pangeran Aksara, lebih cepat itu lebih baik, mangkanya ayah ingin kalian bertiga segera menikah, kalau masalah putri Thalia itu bisa belakangan, kalian dulu, baru putri Thalia"
Putri Thalia yang mendengarnya rasanya ingin marah.
"Aku juga ingin segera menikah dan memiliki pasangan hidup ayah, tapi akankah ayah restui hubungan ku dengan pangeran Louis sedangkan pangeran Louis adalah anak dari musuh ayah?" batin putri Thalia nampak tak yakin.
"Terserah ayah, aku ngikut saja" jawab pangeran Yudistira.
"Pelayan siapkan segalanya, malam ini pangeran Yudistira akan bertunangan, semua perlengkapan harus siap, tidak boleh kurang walau satu pun!" tegas raja.
"Baik baginda" jawab para dayang lalu mulai menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan untuk acara nanti malam, mereka tidak mau membuat kesalahan sedikitpun, karena hal itu akan berakibat fatal.
__ADS_1