
Peri Bilqis berjalan keluar dari dalam istana itu.
"Aarrrgghh hampir saja aku bisa bawa peri Bulan kembali, tapi kenapa dia tidak mau aku ajak kembali ke alam peri, apa dia tau kalau aku akan berbuat jahat padanya" pikir peri Bilqis yang merasa segalanya gagal total sebab peri Bulan yang tak mau ia ajak kembali.
"Tapi aku rasa tidak mungkin, peri Bulan tidak akan tau rencana ku, aku yakin sekali dia pasti akan mau ku ajak kembali" yakin peri Bilqis.
"Bilqis sementara ini kau harus sabar, peri Bulan masih belum bilang kalau dia tidak mau kau ajak kembali, dia hanya bilang kalau dia butuh waktu untuk menjawab, waktu yang kau berikan itu sedikit, kau harus tunggu saja waktu itu habis, baru kau akan tau apa yang menjadi keputusan peri Bulan" peri Bilqis berusaha untuk tetap tenang meski ia begitu kesel sekali
"Aku merasa peri Bulan pasti akan mau kembali ke alam peri bersama ku, dia tidak akan setega itu ketika aku bilang kalau kedatangan peri Lofair membawa kekacauan bagi alam peri"
"Aku sangat yakin peri Bulan pasti mau kembali ke alam peri bersama ku, dia tidak akan mungkin tinggal diam ketika melihat kehancuran di alam peri saat peri Lofair kembali"
"Aku hanya tinggal tunggu saja jawaban peri Bulan, aku yakin dia pasti memihak pada ku" yakin peri Bilqis yang berharap lebih.
"Dayang, apa kau kenal pada dayang baru yang tadi membersihkan kamar ratu?" panglima itu mendekati dayang, ia merasa curiga pada peri Bilqis mangkanya dia berusaha mencari informasi lebih lanjut tentang keberadaannya.
"Tidak panglima, aku tidak kenal"
Percakapan itu terdengar di telinga peri Bilqis.
Dengan cepat peri Bilqis bersembunyi untuk tau apa yang mereka bicarakan.
Panglima itu diam ketika mendengar jawaban dayang.
"Ada apa panglima, apa yang kau pikirkan?" penasaran dayang itu yang melihat panglima diam dengan terus berpikir keras.
"Tidak ada, aku hanya ingin tau saja tentang dayang baru itu" panglima masih menaruh rasa curiga pada peri Bilqis yang menyamar mandi dayang.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin mencari tau tentangnya?" dayang itu semakin penasaran karena ia tidak mendengar keluhan tentang dayang yang bermasalah.
"Karena aku merasa dia bukan dayang sungguhan"
"Aku kau mengira dia penyusup"
"Kurang lebihnya seperti itu, hanya saja aku tidak tau apa yang sudah dayang itu perbuat ketika berada di kerajaan ini, mangkanya aku sedang berusaha mencari tau tentang dia, karena aku tidak mau ada kejadian yang fatal karena dayang itu" sebagai seorang panglima ia harus melindungi kerajaan ini entah dari penyusup yang terang-terangan ataukah sembunyi-sembunyi.
"Itu tidak akan pernah terjadi panglima, kau tidak usah khawatir, dia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak, dia itu hanya dayang biasa, dia tidak akan bisa melakukan sesuatu yang dapat merugikan semuanya" yakin dayang itu.
Panglima mengangguk."Dayang jika kau melihat dayang baru itu, cepat suruh dia menemui ku, ada hal yang ingin aku bicarakan padanya"
"Baik panglima"
Panglima pergi meninggalkan dayang itu.
"Dayang baru, apa dayang yang tadi mengambil buah-buahan itu yang di maksud panglima" pikir dayang itu yang sadar kalau peri Bilqis seoranglah dayang yang tidak ia kenali selama ini.
"Tapi untuk sekarang masih tidak ada bukti yang mengarah padanya, untuk itu aku waspada saja darinya, takutnya sewaktu-waktu dia akan mencelakai yang mulia ataupun anggota kerajaan lainnya" waspada dayang itu pada peri Bilqis.
"Nanti aku akan langsung kasih tau panglima ketika melihat dayang baru itu, kalau perlu aku akan mengumpulkan semua dayang untuk nemuin dia biar tidak ada kekacauan yang terjadi di dalam istana ini, karena jika sampai dayang baru itu berulah, aku yakin sekali pasti semua dayang yang akan terkena masalah walaupun di antara mereka tidak ikut terjun juga" setelah mengatakan hal itu dayang itu pergi dari sana untuk kembali bekerja.
Peri Bilqis yang mendengar ucapan dayang itu merasa sangat terkejut.
"Gawat, mereka curiga pada ku, gak aman aku berada di sini, aku harus kembali ke alam kegelapan sebelum mereka mengintrogasi ku" peri Bilqis menggunakan kekuatannya untuk menghilang dari sana.
Toba-toba masih diam di tempat dengan pandangan yang terus tertuju pada para peri yang mendekati istana itu.
__ADS_1
Para peri itu tidak ada yang sadar kalau semenjak tadi ada orang yang sudah mengamatinya.
"Di mana peri Bulan ya, kenapa tidak ada di sekitar sini?" peri Matahari melihat ke kanan dan kirinya namun tetap saja tidak menemukan peri Bulan adiknya yang tengah hilang.
"Aku juga tidak tau peri Bulan jatuh ke mana, andai peri Bulan memegang tongkatnya, mungkin dia akan kembali ke alam peri tanpa di suruh" yakin peri Awan.
"Eh itu ada istana" tunjuk peri Pelangi pada kerajaan Mataram yang megah dan luas.
Semua peri itu melihat ke arah apa yang peri Pelangi tunjuk.
"Iya itu memang istana" peri Mentari melihat ke arah istana itu yang begitu megah dan tak kalah dari istana di alam peri.
"Apa di dalam istana itu terdapat manusia?" penasaran peri Bintang yang masih merasa takut jika bertemu dengan manusia.
"Pasti ada, mana mungkin tidak ada manusia di dalam istana yang semegah dan mewah itu"
"Kita kemana ini, apa kita ke sana saja?" peri Awan meminta pendapat mereka semua.
"Mau bagaimana lagi, kita harus ke sana, kita itu udah di tugasin buat nyari peri Bulan, ya kita harus cari dia sampai ketemu walaupun berhadapan langsung dengan manusia"
Para peri mendadak diam ketika mendengar jawaban peri Matahari.
"Kenapa kalian pada diam, apa yang kalian pikirkan?" penasaran peri Matahari yang merasa aneh pada saudari-saudarinya.
"Tidak ada, kita cuman merasa tak yakin akan tetap tenang ketika melihat manusia, apalagi berkomunikasi dengannya, sepertinya itu hal yang sulit untuk kita lakukan"
"Walaupun sulit kita harus lakuin, karena ini tugas dari ibunda, kita harus bisa temuin peri Bulan, baru kembali ke alam peri dan nyelidiki kasus peri Lofair" peri Bintang sudah tidak sabar untuk menyelidiki peri Lofair yang tiba-tiba terlepas dari dalam botol.
__ADS_1
"Iya, kita tidak boleh membuang-buang waktu, ayo sekarang kita cari peri Bulan ke dalam istana itu, setelah nemuin dia kita langsung ajak dia kembali ke alam peri" ajak peri Pelangi.
Semua peri setuju dengan ucapan peri Pelangi.