
Ku biarkan hati ini seperti tenggelam
semakin dalam pada lautan
mencari cahaya yang tak kunjung muncul
hanya bersifat tidak nyata
seperti kebahagiaan yang hanya di semukan
benar benar memuakan...
ingin rasanya ku akhiri semuanya
namun hatiku berkata lain
aku memilih untuk menjalaninya
walau itu bersifat sementara ataupun tidak nyata
.
.
.
__ADS_1
.
"*kenapa aku memikirkan laki laki ******** seperti dirinya!!, aku sudah mulai gila!!"batin Risya frustasi, "kenapa sih dia harus muncul dalam hidupku!! Aku membencinya!! Sangat membencinya!!"batin Risya kini sangat marah
"kenapa aku bisa semarah ini melihat dia berciuman dengan gadis itu?, apa yang salah denganku?!!, apa..aku jatuh cinta padanya?"batin Risya kini menampilkan Raut wajah kecewa, hal itu segera di sadari oleh Michele dan Ayana
"apa aku benar benar mencintainya?"
🍁🍁🍁🍁*
"kalau itu benar, aku pasti akan memendamnya seumur hidupku"batin Risya lagi, Michele dan Ayana sadar bahwa Risya sedang memikirkan sesuatu,Ayana memilih bungkam tapi berbeda dengan Michele yang memang cewek tipe kepo abis, "Risya.."panggil Michele kini duduk di samping Risya yang tadi sempat melamun, "kamu..kenapa?"ucap Michele terlihat serius, Michele memang jarang sekali bersikap serius, paling sering saat melakukan rapat dengan anggota gengnya atau menghadapi anak anak nakal, di sana Michele akan bersikap serius
Risya diam memandangi Michele yang tampak serius, ia jarang bisa melihat Michele serius, paling hanya sekali,itupun saat mereka bertarung melawan anggota geng kalajengking, "apa karena Okita?"ucap Michele lagi mencoba menebak pikiran Risya melalui tatapanya, namun nihil itu tidak berhasil, "Tidak! bagaimana bisa kamu berpikiran begitu??!"ucap Risya sedikit panik, Michele menyadarinya, "aku melihat perubahan emosi kamu tadi saat melihat Okita mencium seorang gadis, cobalah ceritakan, sebenarnya apa yang terjadi di antara kamu dan Okita?"ucap Michele serius, Ayana yang berada beberapa meter dari mereka pun ikut mendengarkan dengan baik
Risya diam, jujur saat ini dia tidak seperti dirinya, ia tentu menyadari perubahan dirinya saat ini, "aku.."ucap Risya pelan dengan nada bimbang, Risya menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu di dalam dirinya, "baiklah..aku mengerti, aku dan Ayana tidak akan menceritakan hal yang akan kamu ceritakan pada kami kali ini, aku berjanji"ucap Michele senyum
"dia juga sering muncul tiba tiba dan melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan,..."ucap Risya lagi menggigit bibirnya setelahnya, "hal yang tidak seharusnya dia lakukan? apa maksudnya?"ucap Michele bingung, "dia memukul kak Kevin..dan menganggap diriku adalah Miliknya, itu memuakan!!"ucap Risya mengepalkan tanganya, ia mengingat jelas kejadian yang ia rasakan selama ini, terutama yang baru saja terjadi di depan rumah sakit, "memukul ketua Osis?!!, Astagaa apa apaan itu!!"kejut Ayana yang sedari tadi mendengarkan, Michele tahu bahwa Risya saat ini begitu terpukul
"Risya..jangan biarkan hatimu menguasai dirimu.."ucap Michele serius, ini pertama kalinya Risya mendengar kalimat itu dari Michele, pasalnya Michele itu selalu mengeluarkan kalimat kalimat yang tidak berguna setiap saat, namun saat ini itu sangat berarti bagi Risya, "kamu mencintainya..benar kan?"ucap Michele menatap Risya, Risya menunduk, "mungkin benar.."ucap Risya menggigit bibirnya kembali, "aku tidak mengerti..kadang dia bersikap seakan aku adalah miliknya, dia bahkan memukul kak kevin yang sempat menjalin pertemanan denganku saat di pantai, tapi di sisi lain, dia menyakitiku dan bahkan membuatku benci padanya, aku tidak mengerti!!"ucap Risya menutup kedua matanya dengan telapak tanganya, dia menangis
dia tidak pernah menangis selama ini, terakhir kali dirinya menangis itu saat umurnya 8 thn, saat itu ayahnya tewas pada kecelakan yang menimpa dirinya dan ayahnya, dirinya smemang elamat, namun tidak dengan ayahnya yang saat itu memeluknya erat agar tidak terkena kaca atau benturan keras kecelakaan, Michele sempat terkejut, Risya menangis itu bukan hal yang biasa, Michele tahu hati Risya sangat terpukul, tapi di luar dugaan bahwa Risya akan menangis, Michele segera memeluk Risya seakan menguatkan dirinya agar berhenti menangis
"Okita memang keterlaluan!!"ucap Michele penuh amarah, baginya Risya sudah seperti saudara kandungnya sendiri, dia tidak bisa diam saja ketika saudaranya di sakiti, Ayana yang melihat itu pun sangat terkejut, tapi rasa terkejutnya tidak ada apa apanya di banding rasa ibanya pada Risya
Risya bukanlah gadis yang cengeng itu sebabnya ia langsung bisa menghentikan tangisnya, "terima kasih, rasanya sedikit lega"ucap Risya sedikit tersenyum, Michele segera tersenyum tulus, "sebagai gantinya kamu tetap jadi ke bar ya malam ini, jangan ingkar!!"ucap Michele seakan mengancam, "iya..aku akan ikut acara kumpul kalian"ucap Risya sedikit tidak suka, ruang kamar inap Ayana pun kini di penuhi oleh ocehan Michele yang terus terusan ingin membuat keadaan kamar Ayana tidak sepi, hingga malam pun tiba
__ADS_1
"aku pulang ganti baju dulu di rumah Michele!"ucap Risya tidak terima, karena sedari tadi Michele memaksa Risya ke masuk ke dalam mall, dia berniat membelikan Risya baju baru untuk reuni nya malam ini, tapi Risya bersikeras tidak menginginkan hal itu, "kalau kamu memaksaku, aku tidak akan ikut!"ucap Risya tegas, Michele pun terpaksa melepaskan tarikanya, "baiklah baiklah, asal kamu ikut apapun syaratnya"ucap Michele mengerutkan bibirnya, "ini sungguh menyebalkan"ucap Michele lagi
Risya tidak memperdulikanya, ia memilih untuk memansang Earhphone sambil berjalan kembali menuju mobil Michele, Michele hanya bisa menggerutu melihat kelakuan Risya saat ini, "ishh" ucap Michele kesal, Risya pun di antar pulang dulu
SKIP
Risya telah selesai berpakaian, kini stelan bajunya menggunakan celana jeans hitam ketat dengan sepatu putih semata kaki, ia memakai T-Shirt berwarna putih dengan jaket hitam kecil seperut menghiasi badanya, tak lupa dengan Earphone yang setia mendiami telinganya yang sebelah kanan, kali ini Risya menggerai rambutnya karena suhu yang saat itu tergolong dingin dan sedikit berangin walau sudah malam
sedangkan Michele malam itu memakai setelan baju kaus putih tanpa lengan dengan jaket hitam berbulu tebal, ia memakai celana jeanse berwarna hitam dengan sepatu ala musim dingin berwarna hitam, "ayo berangkat paman!"ucap Michele pada supir yang tadinya menunggu perintah, sesampainya di bar ada sekitar 20 orang teman dekat Michele yang membatu michele memimpin gengnya ikut hadir dan duduk di ruang pribadi bar, hal itu membuat Risya yang bukan siapa siapa dan juga bukan anggota geng Michele merasa tidak nyaman
"hai kalian, perkenalkan dia adalah Risya maeda yang aku sering ceritakan pada kalian, dia lebih hebat dariku loh"ucap Michele memperkenalkan Risya, mereka pun menyambut Risya dengan hangat, hal itu membuat ketidaknyamanan Risya terobati, awalnya mereka memang hanya berkumpul kumpul biasa, namun siapa sangka mereka juga menyediakan bir yang sangat banyak, maklumlah mereka adalah orang orang kaya
"nah bagaimana kalau kita buat permainan?, siapa yang kalah di setiap ronde harus menghabiskan secangkir bir ini, bagaimana?"ucap sala satu teman laki laki Michele, "tentu, tidak ada yang tidak ikut ya!"ucap sala satunya lagi yang merupakan seorang perempuan, alhasil Risya pun ikut namun akhirnya Risya kalah dan harus meminum 6 gelas bir, itu gila memang,Michele memang tahu bahwa Risya itu kuat dan tahan dengan bir, namun ketika tahu Risya harus meminum 6 gelas keyakinanya itu berubah drastis
permainan Risya memang sangat buruk, dia sama sekali tidak bisa bermain, itu sebabnya kekalahan selalu menimpanya, berbeda dengan Michele yang hanya kalah di 2 ronde dan harus meminum 2 gelas bir, Risya tidak ingkar, dia meminum 6 gelas bir itu dengan cepat, hal itu membuat orang orang di sekitarnya melongo, sebab bir itu adalah jenis bir yang bila di minum dengan cepat akan menimbulkan efek mabuk yang lebih tinggi
"Risyaa apa kamu gila!!"ucap Michele segera menerjang tubuh Risya, namun sayang dirinya telah terlambat, Risya sempat menghabiskan gelas terakhir, dirinya sekarang mabuk berat, "ah Michele, kepalaku..pusing hik"ucap Risya di kala mabuk beratnya,"kamu mabuk!!?, astagaaa kenapa kamu minum cepat cepat bir tadi!!"ucap Michele marah, namun kemarahanya terhentikan ketika sebuah dering telpone nya berbunyi, ia harus mengangkatnya karena telpone itu dari orang tuanya, Risya pun kini di tinggal Michele sebentar
Risya yang kala itu tidak sadar berjalan oleng olengan keluar ruangan, namun Risya terkejut ketika mendapati Okita dan seorang gadis bersurai biru tua terlihat sedang bersama, bahkan mereka terlihat sedang bergembira, "O..Okita...Aku benci! hik"gumam Risya di kala mabuk beratnya, perlahan ia berjalan mendekat ke arah Okita dan gadis itu
**TBC
*SAMPAI SINI DULU YA
TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA💙
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND COMENT, KALAU MAU DI DI BALAS LIKEANYA BISA COMENT AJA, TAPI LIKE AND VOTE DULU PUNYAKU BARU NANTI KU BALAS😊
see you the next chapter***