
.
.
.
.
.
Okita terkekeh, "Kamu lupa? bukankah karya Ariya yang di terbitkan di beberapa negara itu berasal dari perusahaanku, dia adalah sala-satu pegawaiku" ucap Okita mengingatkan Risya.
Risya tertegun dan lalu kembali memeriksa belakang sampul buku itu, di sana tertera nama perusahaan yang menjadi tempat dimana karya buku itu di ciptakan.
"Bos besar" ucap Risya tidak enak, dia sadar dirinya bertingkah bodoh pagi ini, itu benar-benar memalukan baginya.
๐๐บ๐๐บ๐๐บ๐
Risya telah sampai ke sebuah bagunan besar yang merupakan tempat dimana naskah-naskah yang belum di terbitkan terkirim, setelah melalui proses yang ada pada gedung itu, barulah novel mulai di bukukan dan di perbanyak agar bisa di edar kebeberapa wilayah, kota atau bahkan negara.
"Gedung ini, untuk apa kamu membawaku ke sini? ayolah, sebaiknya kita kembali saja, 2 jam lagi aku sudah harus berada di kantor!" ucap Risya tidak habis pikir.
"Apa kamu tidak ingin bertemu Ariya? kebetulan hari ini dia berada di sini untuk menyerahkan naskah-naskah novel untuk di periksa, ingin berkenalan denganya?" tanya Okita menggoda.
Risya tentu terkejut, "Benarkah? apa benar-benar ada Ariya si sana!?" ucap Risya tanpa sadar. Itu membuat Okita gemas, Okita mendekat ke arah Risya dan dengan gerakan yang cukup normal dan pelan, Okita menjitak pelan jidat Risya, itu membuat Riaya harus memegangi jidatnya sendiri. Bukan karena sakit, namun rasa malu karena dirinya yang tadi membuat ekspreksi aneh karena kegembiraan. Sungguh benar-benar bukan seorang Risya.
"Keterlaluan!" ucap Risya kesal, di baringi dirinya yang ikut membalas jitakan kepalanya pada jidat Okita. "Sekarang impas!" ucap Risya tersenyum nakal.
Okita memegangi jidatnya sendiri, tak dapat di pungkiri jitakan Risya padanya lebih keras daripada jitakanya kepada Risya, itu membuatnya harus menahan sakit juga tanda merah pada jidatnya itu, Okita segera menurunkan pony rambutnya untuk menutupi tanda merah yang di buat Risya dengan keterlaluan itu.
__ADS_1
Okita menyeringai. Itu membuat Risya bergidik ngeri melihatnya, "Astagaa, anak ini suka sekali menyeringai!" batin Risya melangkah mundur. Namun, dirinya malah tertahan oleh tangan Okita yang menahan tanganya dan menariknya. Risya terkejut, tetapi bukan karena tanganya yang tertarik, tapi karena bibir Okita yang secara tiba-tiba juga ikut mendarat pada bibir manis Risya.
Itu bukan kali pertamanya Okita melakukan trik seperti itu pada Risya, namun tetap saja, hal itu selalu membuat keterkejutan pada Risya. Apalagi dengan tinggi Okita yang jauh berbeda pada waktu terakhir Risya di perlakukan dengan trik itu. Rasanya menjadi jauh lebih berbeda dan mengejutkan daripada sebelumnya.
Okita menjadi bertambah hebat dalam berciuman setelah beberapa tahun berlalu, berbeda dengan Risya yang kemampuanya tetap sama, dirinya sama sekali tidak pernah membalas ataupun memimpin jalanya permainan. Dirinya hanya menunggu dan membiarkan lawanya untuk bermain sendiri, dan jangan lupakan untuk sedikit berontak jika dia tidak menginginkanya.
Kali ini, Risya sama sekali tidak berontak, itu membuat Okita menyeringai di kala ciuman panas dan tiba-tiba mereka. Okita menyudahi ciumanya dan menatap Risya dengan tatapan yang sulit di artikan, di tambah dengab seringaian pada bibirnya yang membuat Risya lagi-lagi bergidik ngeri.
"Oke, oke! sudah cukup mempermainkanku!" ucap Risya kesal sambil mengusap mulutnya yang tertinggal sedikit bekas ciuman panas mereka. "Bibirmu menggoda sekali, aku tidak tahan untuk merasakanya" ucap Okita terang-terangan.
Mendengar itu, membuat seluruh wajah Risya memerah, Risya segera mendorong tubuh Okita sebagai tanda kesal darinya. "Dasar mesum!" ucap Risya malu. Okita tertawa kecil.
"sudahlah, ayo masuk" ucap Okita memeluk pinggang Risya dengan tiba-tiba. Itu kembali membuat Risya mengeluarkan rona merah pada wajahnya, Okita menyeringai.
"Risya yang seperti ini, kelihatanya dia telah menerima diriku" batin Okita senang dengan sikap Riaya uang hari ini sangat mudah mengeluarkan rona merahnya.
Melihat kemesraan di antara keduanya, membuatnya mendecih dan sesekali mnggertakan giginya.
"Tunggu saja, aku pasti akan biaa membuatmu kembali padaku Risya" gumam orang itu yang memilih untuk segera pergi setelahnya.
.....
"Hallo Tuan Muda Bos Okita!" ucap semua orang yang berada dalan gedung itu secara bersamaan.
Terilihat di antara orang-orang itu, seorang wanita cantik yang bertubuh tinggi juga berambut kuning menawan yang tidak lurus dengan panjang sepinggang, membuatnya terlihat cantik, namun tidak begitu mencolok dibanding beberapa wanita yang berpakaian modis dengan make up dan gaya rambut yang sangat menawan.
Risya segera menatao wanita berambut kuning itu dengab penuh harap. Dia adalah Sala seorang pengarang novel terkenal bernama Ariya yang sangat di idolakan oleh Risya. Merasa dirinya tengah di tatap oleh wanita yang sedang bergandengan tangan dengan Okita, membuatnya tersenyum sebagai tanda hormat.
Risya membalas senyuman itu dengan senyuman tipis ala Risya. Okita segera tahu kalau pandangar Risya hanya terfokus pada Ariya, padahal banyak penulis-penulis ternama dunia yang juga ada di sana. Namun, hanya Ariya yang dapat menarik oerhatian perempuan special yang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Benar-benae tidak sabaran ya, ingatlah untuk memberiku sebuah hadiah malam nanti" batin Okita menyeringai membayangkan dirinya akan menyerang Risya malam ini, walau tidak sampai menidurinya, dia hanya akan menggoda Risya.
Okita menarik tangan Risya untuk menghampiri Ariya. Melihat itu tentu saja membuat Ariya menjadi gugup, apalagi dengan penulis_penulis lainya yang menebar tatapan kagum sekaligus benci pada Ariya, itu membuatnya tidak nyaman.
Melihay prilaku tidak wajar dari Ariya, Risya segera tahu kalau Ariya merasa tidak nyaman. "Mereka cemeburu hanya karena bos mereka menghampiri sala seorang penulis yang menjadi saingan sekaligus rekan kerja mereka! benar-benar para wanita yang menyebalkan" batin Risya melirik mereka yang menatap Ariya sekaligus Risya dengan penuh kebencian.
"Maaf Bos, ada perlu apa?" tanya Ariya dengan tidak nyaman. Baru saja Okita ingin mengatakan sesuatu, namun lebih dulu di potoh oleh ucapan Risya. "Tidak ada!" ucap Risya dingin.
Risya menarik Okita untuk berjalan melewati Ariya, namun di sela-sela itu, Risya sempat membisikan sesuatu yang hanya akan di dengar oleh Ariya. "Ariya, temui kami di restoran Rose Violet 5 menit lagi, kutunggu!" bisik Risya sambil lewat.
Mendengar itu, membuat Ariya tertegun, "dia memahami perasaanku, dia tahu kalau aku tidak nyaman dengan tatapan-tatapan rekan kerjaku ini, jadi bersikap seolah olah membenciku di depan orang lain" batin Ariya merasa sangay tertarik dan mengagumi Risya.
....
"Kenapa tidak ingin bertemu denganya lagi?" taya Okita tidaj mengerti, Risya menghela nafas berat, "apa kamu tidak lihat tatapan mereka pada Ariya tadi, kalau sampai kita menghampirinya, bisa di pastikan kalau Ariya akan hidup tidak tenang di perusahaanmu! itu akan mempengaruhi performa novel miliknya, aku tidak mau kehilangan novel lanjutanya itu, mau tidak mau aku harus bertemu denganya di luar gedung ini!" ucap Risya menjelaskan, Okita mengerti.
"Jadi di mana kamu mau bertemu denganya?" tanya Okita santai. "Restoran Rose Violet, ayo kesana!" ucap Risya menarik tangan Okita lagi.
"Apa dia masih Risya?!" batin Okita terkejut
**TBC
SAMPAI SINI DULU YA
MAAF KALAU ADA TYPO
TAPI KALAU CHAPTER KALI INI KURANG MEMUASKAN, MOHON UNTUK MEMBERIKAN SARAN AGAR KARYA INI LEBIH BAIK LAGI KEDEPANYA
TERIMAKASIH๐๐**
__ADS_1