Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Membantu Ariya


__ADS_3

.


.


.


.


.


"Jadi di mana kamu mau bertemu denganya?" tanya Okita santai. "Restoran Rose Violet, ayo kesana!" ucap Risya menarik tangan Okita lagi.


"Apa dia masih Risya?!" batin Okita terkejut


๐ŸŒบ๐Ÿ’ ๐ŸŒบ๐Ÿ’ ๐ŸŒบ๐Ÿ’ 


Kini suasana canggung tiba dengan Risya yang terus menatap Ariya, juga Ariya yang gugup karena berhadapan dengan bosnya yang sebenarnya sama sekali tidak meliriknya sekalipun, dia hanya terus menatao tingkah laku Risya yang di anggapnya sangat menggemaskan.


"Ariya kan ya?!" ucap Risya memecah keheningan, "aku salah satu penggenar novelmu" ucap Risya tersenyum tipis. "Benaekah? senang mendengarnya" ucap Ariya masih gugup dan terkadang melirik ke arah Okita.


Melihat itu Risya menoleh ke arah Okita dan menatapnya tajam seolah-olah itu adalah sebuah ancaman. "Apa salahku?" tanya Okita tidak mengerti. Risya menghela nafas berat dan menatao Okita kembali.


"berbicaralah sepatah atau duapatah kata, kamu lihat! dia terlihat ketakutan karenamu" ucap Risya sedikit kesal. "Baiklah baiklah, hallo nona Ariya, Anda sudah tahu nama saya kan, karena itu jangan takut dengan saya, saya tidak ingin membuat singa kecil saya ini menjadi tidak senang dan mengamuk nanti malam" ucap Okita yang membuat Risya membelalakan matanya.


Bagaimana tidak! Okita mengucapkan kalimat itu seolah-olah menberi tahu Ariya kalau mereka berdua memiliki hubungan yang special, bahkan kalimat akhir Okita mengarah pada suatu hal yang dapat membuat seseorang mengartikan kalimat itu secara ambigu.


"Apa apaan maksudmu singa? apa aku terlihat seperti singa?" ucap Risya tidak terima. "Ya, dari dulu kamu adalah singa betinaku, maka dari itu tak akan kubiarkan kamu lepas dariku" ucap Okita menyeringai. Risya kesal.

__ADS_1


"Ah maaf nona Ariya, abaikan saja percakapan kami tadi, dia benar-benar hanya bercan-" ucap Risya terpotong oleh ucapan Okita yang membantahnya, "Tidak!, itu benar!" ucap Okita tegas. Risya mencoba bersabar dan menghela nafas berat.


"Sudahlah, aku senang karena telah berkesempatan bertemu nona hari ini. Sebenarnya aku mengajakmu kesini juga ingin tahu mengapa orang-orang yang tadi di dalam gedung itu terlihat begitu membencimu. Kalaupun itu hanya karena cemburu, apa perlu begitu berlebihan?" ucap Risya yang sebenarnya tidak ingin ikut campur, namun mengingat itu adalah kantor Okita dan Ariya adalah idolanya, tidak ada salahnya untuk membantu.


"ah itu.." ucap Ariya lagi tergagap sambil melirik Okita untuk meminta persetujuan, dia takut kalau Okita akan marah padanya kalau dirinya memberitahu masalah dalam kantor pada orang lain, itu akan merusak reputasi kantornya.


"Tidak apa, jangan meliriku seperti itu lagi, aku tidak ingin membangunkan singa yang ada di dalam tubuh wanitaku ini" ucap Okita menepuk kepala Risya dengan sengaja seperti anak kecil.


Risya segera menepis itu. "Itu... itu karena mereka cemburu pada prestasi saya yang melampaui mereka. mereka bekerja lama hampir 2 tahun di sana, sedangkan saya dalan waktu 4 bulan dapat melampaui mereka yang telah bekerja keras, itu sebabnya mereka bersekongkol untuk menjebak dan menjatuhkan saya dari kejayaan karir saat ini" ucap Ariya bercerita, Rista mengangguk paham.


Risya membuka tas kecilnya dan mengeluarkan suatu benda berupa kartu pengenal kepolisian miliknya dan tepat ia tunjukan di depan wajah Ariya. "Jika mereka berani melakukan hal yang macam-macam atau melampaui batas, kamu minta tolong saja padaku, dengan cepat aku akan membersekan mereka!" ucap Risya penuh keyakinan.


Melihat Risya yang bertingkah akan merusak reputasi kantornya, Okita sama sekali tidak peduli. yang dia pedulikan adalah Risya yang harus mau bersamanya. apapun yang Risya mau, Okita dapat memberikan itu asal itu bukanlah pernikahan, terlalu sulit untuk melakukan pernikahan kali ini, mengingat ayahnya Okita yang benar-benar terobsesi dengan sosok Yuki yang sangat ngin dijadikan menantu olehnya.


"Anda seorang polisi pasukan kelas A?!" kejut Ariya tidaj percaya. "Anda haruslah orang yang sangat hebat, anda bisa mencapai pasukan kelas A salam umur semuda ini?! itu benar/benar hebat!" ucap Ariya masih terkagum.


Risya mengobrol dan menghabiskan waktu cukup lama. Namun, sebagai seorang yang profesional, Risya tetal tidak akan meninggalkan pekerjaanya" Risya berpamitan pada Ariya dan segera pergi ke kantor bersama Okita.


"Kenapa? kamu sudah menerimaku dan berjanji akan selalu berada di sisiku kan, aku akan menikahimu tapi tidak sekarang, aku harus menuntaskan rencanaku bersama Yuki" ucap Okita penuh rasa kecewa.


Mendengar itu membuat hati dan kelopak mata Risya sedikit memanas. Hatinya sakit, walau dia tahu setelah Okita sembuh, dirinya akan kembali ke tempat asalnya dan menuntaskan masalahnya dengan Key. Dia tidak berniat untuk bersama Okita. Dia hanya ingin Okita sembuh dari insomnia yang benar-benar membuat Okita terus terlihat lelah dan lesu.


apalagi karena obat-obatan yang hampir setiap harinya di pakai Okita dalam jumlah yang cukup banyak, itu membuat tubuh Okita semakin lemah, dia telah terlaku banyak mengomsumsi obat tidur.


Walau iti hanya obat tidur biasa, tetap saja obat itu akan berakibat fatal jika di gunakan terus, terus dan terus menerus. Menyebabkan jantungnya terkadang sakit, kepalanya yang sering berdenyut di sela-sela pekerjaanya, itu membuat dirinya merasa bersalah.


"Tidak!, aku tidak apa-apa, tidak perlu menikah untik saat ini" ucap Risya menutup kembali botol minuman miliknya, "Tapi kita bisa menikah diam-diam terlebih dahulu, dengan begitu aku jadi lebih leluasa untuk memilikimu. Kau tahu, aku sudah sangat menginginkanmu." ucap Okita dengan sedikit memuat kalimat yang ambigu di bagian akhir.

__ADS_1


Risya kembali membelalakan matanya. "Tidak!" ucap Riaya tidak terima. Okita tersenyum devil.


Okita menghentikan mobilnya di pinggir jalan sepi dan segera mencium bibir Risya dengan sangat ganas, seolah olah jika dia melepaskan tautan bibirnya itu, dia akan kehilangan Risya untuk selamanya.


Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga Risya terus memukul-mukul punggung Okita agar Okita melepaskan ciumanya dan membiarkan Risya mengambil nafas rakus.


"Benar-benar seorang iblis! bisa bisanya dia mencimuku begitu lama, apa dia ingin membunuhku dengan cara ciuman?!" batin Risya kesal sambil masih mengatur nafasnya.


Okita menyeringai, "Kali ini aku hanya menciummu, tapi nanti kamu harus memberikan yang lebih padaku setelah kita menikah" ucap Okita lagi-lagi menyeringai.


"iblis mesum!" batin Risya mengurungkan keinginanya yang ingin sekali memukul Okita.


**TBC


SAMPAI SINI DULU YA


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK


LIKE


RATE


VOTE


AND COMENT SARAN KALIAN YA

__ADS_1


SEE YOU THE NEXT CHAPTER...


@MITSUKI776**._


__ADS_2