
.
.
.
.
kumohon bintang
aku tidak mau hati ini melukai seseorang
tapi aku juga tidak ingin melukai orang
yang ku sayangi
bagaimana ini bintang?
berilah aku petunjuk...
(diary Risya)
.
__ADS_1
.
.
.
Michele pun sebenarnya merasa bersalah,tapi Michele mencoba menepis sebentar perasaan itu, "tolong kamu jaga dia baik baik, besok siang aku akan menjemputnya pulang oke?"ucap Michele yang tahu bahwa Okita bukanlah laki laki yang akan berbuat macam macam pada sembarang perempuan,
"terserah, tapi aku tidak akan membiarkanya pergi bersamamu dengan mudah, kamu tahu kan apa maksudku?"ucap Okita datar, "aku mengerti..., kita akan buat perjanjian seperti yang kamu inginkan"ucap Michele menghela nafas kasar
"bagus"
πππππ
cahaya dari jendela kaca yang tertutup gorden menerobos masuk ke dalam ruang kamar Okita yang terdapat dua orang berbeda jenis sedang tertidur berpelukan di kasur berukuran king size itu, Risya membuka matanya, ia terkejut wajah Okita begitu dekat dengan wajahnya, Risya tidak segera bangun, dia terus menatap wajah Okita yang sedang tidur itu, tanganya yang tidak terkunci bergol mulain menjulur sedikit menyentuh rambut Okita yang berwarna putih itu, "berantakan"batin Risya sedikit meraba rambut Okita, tanpa sadar tangan Risya tergerak menyentuh pony Okita yang hampir menutupi matanya yang terpejam, Risya tersadar "astaga apa yang kulakukan sih"batin Risya segera menarik kembali tanganya, "aku tidak mengerti..kamu bilang kamu menyukaiku, tapi kenapa kamu memacari gadis lain, aku sama sekali tidak mengerti...apa semua ini hanya lolucon bagimu Okita?"batin Risya menatap kecewa wajah Okita, Okita mulai membuka matanya, ia menemukan Risya yang sedang menatapnya kecewa, ia bingung mengapa gadis di depanya itu berwajah seperti itu, "selamat siang Risya.."ucap Okita tersenyum menyeringai, Risya tersadar dari lamunanya, ia segera mengubah raut wajahnya menjadi datar
"bodoh"ucap Okita dingin,Okita lalu menggendong Risya menuju meja makan, di sana sudah terdapat dua pelayan yang sedang memasak, Okita segera mendudukan Risya di kursi meja makan kemudian ia ikut duduk di kursi samping kanan Risya, satu per satu jenis makanan mulai di sediakan di atas meja, "makanlah"ucap Okita menopang dagunya dengan tangan kananya, "bagaimana aku bisa makan kalau tangan kananku kamh bergol begini!,aku bukan kidal"ucap Risya kesal, "kalau begitu..-"ucap Okita yang mengambil piring Risya yang berisi makanan, sebuah garpu dan sendok, Okita lalu mengarahkan sendok berisi makanan itu ke arah mulut Risya
Risya mengerutkan dahinya, "aku bukan anak kecil"ucap Risya kesal, "makan ini!, atau kamu yang ku makan?"ucap Okita sedikit mengancam, alhasil Risya menyambut suapan itu dengan terpaksa, makanan pun di habiskan dengan suasana begitu, "kamu tidak makan?"tanya Risya bingung melihat Okita tidak menyentuh makananya sama sekali, "aku tidak nafsu makan"ucap Okita menatap makananya bosan, Risya menghela nafas berat, "apa kamu mau ku masakan sesuatu?"ucap Risya yang tengah menatap wajah Okita, "aku hanya mau makan kamu"ucap Okita dengan nada datar, Risya terkejut
"kamu gila ya!!"ucap Risya sedikit berteriak, "tidak, itu benar, aku menginginkanmu, bagaimana kalau aku makan kamu saja"ucap Okita lagi dengan senyum seringaian, Risya segera berdiri dan berniat pergi, ia lupa tanganya sedang di bergol sehingga ia tertarik kembali dan terduduk di pangkuan Okita, "ahh ternyata kamu suka bermain seperti ini ya.."ucap Okita segera memeluk erat tubuh Risya, "dasar mesum!! lepaskan aku!!"teriak Risya berontak, untungnya para pelayan Okita sudah tidak ada di ruang makan sehingga ia tidak perlu khawatir di lihat orang
"jangan berontak!.., aku mau tanya sesuatu!!"ucap Okita melembutkan suaranya, Risya pun menurut, ia ingin tahu apa yang akan di tanyakan Okita, "apa jawabanmu tentang pertanyaanku tadi malam?"ucap Okita menatap mata Risya dalam, Risya segera mengingat ngingat apa yang terjadi tadi malam, "tentang kau mau bersamaku tanpa paksaan, atau bersamaku dengan paksaan"ucap Okita lagi, Risya tertegun lalu ia menunduk, "aku bukan perempuan gampangan Okita.."ucap Risya dengan nada yang terdengar sedih dan kecewa
__ADS_1
"aku bukan perempuan yang bisa kamu atur seenaknya"ucap Risya dengan nada yang seperti hampir menangis, "dan aku bukan perempuan yang mudah di duakan!! aku tidak mau!! aku tida-"ucap Risya lagi penuh emosi, tapi perkataan itu terpotong oleh sebuah ciuman yang di daratkan di bibir Risya
Okita ******* kasar bibir Risya seperti orang kesetanan, Okita lalu melepas ciuman itu, "dengar ya, aku tidak akan menerima penolakan, sekalipun aku harus memaksamu, itu akan ku lakukan!"ucap Okita tegas, Risya hanya menunduk merasa dirinya tidak bisa apa apa, fakta bahwa dia telah jatuh cinta pada Okita tidak hisa di pungkiri lagi,tapi ia juga harus tetap menjaga harga dirinya sebagai wanita, ia tidak mau bersama dengan seseorang yang bersetatus pacar orang, itu akan sangat mengganggunya
"kenapa kamu bersikukuh ingin memilikiku? padahal kamu punya kekasih yang bahkan sangat cantik, apa yang kamu harapkan dariku?"ucap Risya lemah, "aku hanya menyukaimu, dan aku juga tidak bisa berpisah dengan pacarku itu.."ucap Okita dengan aura gelap, kini kepala Risya berkunang kunang, ia frustasi, dia tidak ingin hidupnya sia sia di tangan Okita, tapi ia juga tidak bisa lari dari Okita, Risya terkekeh lalu ia tertawa, "aku sama sekali tidak mengerti pemikiranmu Okita!!"ucap Risya agak berteriak, entah apa yang merasukinya hingga ia mengambil pisau dapur di atas meja dan mencoba menusuk dirinya sendiri,"lebih baik aku mati saja, maka aku akan terlepas dari semua penderitaan ini, benar kan?"batin Risya frustasi, dia sekarang seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya, Okita yang melihat itu segera menahan tangan Risya agar pisau itu tidak menancap di tubuh Risya
"apa kau sudah kehilangan akal sehatmu ha!!"ucap Okita sedikit berteriak, ia masih menahan pisau itu agar tidak mengenai tubuh Risya, "aku tidak mau lagi Okita!!"ucap Risya berteriak penuh Emosi, ketika pisau itu sudah hampir mengenai tubuh Risya, Okita segera menjadikan lenganya tameng agar Riaya tak terkena pisau itu, lengan Okita mengeluarkan darah, Risya terkejut ia segera sadar apa yang telah ia lakukan, "keanapa aku jadi gila seperti ini sih..astagaa apa yang sudah ku lakukan"ucap Risya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut denyut, kemudian ia segera bangkit berniat untuk mencari kotak obat p3k, tapi lenganya kembali di tarik oleh bergol, Okita segera memeluk kembali tubuh Risya dengan erat, "kumohon jangan lakukan hal bodoh, aku tidak mau kehilangan kamu Risya"ucap Okita memeluk erat Risya dari belakang
"kita harus mengobati lukamu itu, tusukanya cukup dalam"ucap Risya khawatir, dengan posisi Okita yang memeluknya dari belakang itu Risya dapat melihat dengan jelas lengan Okita yang terluka dan berlumur darah, "aku tidak peduli!! kamu pasti ingin melakukan hal bodoh lagi kan!?"ucap Okita sedikit berteriak, "tidak!! aku janji tidak akan melakukanya lagi, tapi tolong obati lukamu!!"ucap Risya dengan suara yang melembut
Okita menurut dan mengikuti Risya ke arah di mana kotak obat p3k itu berada, Risya sendiri yang mengobati luka itu, sedangkan Okita hanya menatap kecewa wajah Risya yang kini terlihat merasa bersalah, Risya lalu menatap wajah Okita yang terlihat memucat, Risya tahu bahwa saat ini Okita telah kehilangan banyak darah akibat luka yang di buatnya itu, pisau itu cukup tajam, bahkan hampir sepenuhnya menembus lengan Okita, jadi adalah hal yang tidak mungkin kalau Okita tidak mengeluarkan darah yang banyak
"sebaiknya kamu makan Okita.."ucap Risya masih merasa bersalah, "aku tidak nafsu ma-"ucap Okita yang di potong oleh ucapan Risya, "makan saja!! aku berjanji akan bersamamu kalau kamu mau menuruti perkataanku!"ucap Risya dengan wajah meyakinkan, Okita tertegun lalu dia tersenyum, "baiklah..apapun itu.."ucap Okita menurut
Tbc
***GIMANA MENURUT KALIAN CHAPTER KALI INI
SERU KAH ATAU TIDAK
MAAF KALAU ADA TYPO
SEE YOU THE NEXT CHAPTER
__ADS_1
LIKE,RATE,VOTE,AND COMENT YA..
THANKS***...