Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Tidak Bisa di Bantah


__ADS_3

.


.


.


.


.


Di kala kecepatan mobil terus bertambah, Risya selalu menggumamkan sesuatu dengan cemas, bahkan tangan nya kini bergetar dan kadang mengeluarkan keringat.


"Okita, jangan sampai kamu kenapa-napa, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" batin Risya memegang erat kemudi setir.


"Jangan sampai!" gumam Risya lagi.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


HANJI'S HOSPITAL


"Okita!" ucap Risya keras begitu membuka pintu kamar rumah sakit.


Seorang laki-laki berambut oranye gelap yang tengah menyuapi Okita makan menatap Risya dengan terkejut, tetapi tidak dengan Okita yang malah mengerutkan keningnya.


Risya mendekat ke arah Okita, "Siapa yang memberitahumu aku ada di sini?" ucap Okita dingin, Risya cukup terkejut, apa-apaan perkataanya itu?!


Risya menundukan kepalanya lalu dengan cepat menarik kerah Okita dan menatap Okita dengan marah, "Tuan muda Okita Hanji, aku datang kesini dengan cara baik-baik, lalu ada apa denganmu, kamu tidak senang aku datang?!" ucap Risya dengan nada sedikit lantang, dia sedang marah.


Okita menatap Risya tajam, "Aku menyuruhmu untuk ke Penthouseku dan jangan menungguku! kenapa kamu tidak menuruti perkataanku!" ucap Okita dengan tatapan tajam, Risya tidak mengerti, di mana letak kesalahanya, dia hanya ingin melihat kondisi Okita!


Risya menggertakan giginya lalu mendorong tubuh Okita hingga menubruk sandaran ranjang, "Oke! kalau kamu ingin seperti itu, baiklah! aku tidak akan peduli padamu lagi!" ucap Risya sedikit berteriak dan lalu keluar dari ruangan rumah sakit Okita.


Laki-laki yang tadi menyuapi Okita terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa, "Apa kamu yang bilang padanya kalau aku berada di rumah sakit?" tanya Okita dingin, "Ah.. maaf Bos, aku salah.." ucap Laki-laki itu meminta pengampunan.

__ADS_1


Kembali pada Risya.


"Apa maksud perkataanya?! aku hanya mengunjunginya! apa aku salah?!" gumam Risya berulang kali, Risya duduk pada sebuah kursi tunggu rumah sakit, dia masih tidak habis pikir dengan perlakuan Okita barusan kepadanya.


"Risya..." panggil seorang gadis tanpa Risya sadari, tidak mendapat respon dari Risya, gadis itu mendudukan dirinya di samping kursi Risya.


"Kulihat kamu sangat tertekan" tutur gadis itu yang menyadarkan Risya dari pikiranya, "Ah! sejak kapan kamu berada di sini Yuki?!" kejut Risya baru menyadari.


Yuki tersenyum, "Kamu kenapa?" tanua Yuki lagi, Risya terdiam. "Aku tidak mengerti pada Okita, aku hanya datang untuk mengetahui bagaimana keadaanya, tapi yang aku dapatkan apa? dia malah terlihat tidak suka dengan kedatanganku!" ucap Risya jujur, dia juga perlu seseorang untuk meringankan beban pikiranya saat ini.


"Risya, aku tahu kamu terbawa emosi..., aku juga tahu Okita itu orangnya bagaimana, dia benar-benar mencintaimu. Jadi, jika dia memang benar-benar memperlakukanmu buruk haru ini, aku yakin dia pasti punya alasanya.." ucap Yuki tersenyum manis, Rista yang melihat itu terdiam.


"Apa kamu yakin dia mencintaiku?" ucap Risya meragukan, dia bahkan terkekeh kecil seakan pertanyaanya itu sudah di pastikan jawabanya adalah tidak. "Ya, dia benar-benar mencintaimu, aku bisa menjamin itu!" ucap Yuki penuh keyakinan.


Risya terdiam, "lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?" ucap Risya mengacak sedikit rambutnya dan lalu kembali di benarkan olehnya seperti semula.


"Kurasa kamu perlu berbicara padanya" ucap Yuki tersenyum, mendengar itu Risya ikut tersenyum tipis, "baiklah, terimakasih Yuki, beban pikiranku sekarang terasa sedikit berkurang! kamu benar, aku harus berbicara padanya" ucap Risya yang pergi setelah berpamitan kepada Yuki.


Risya memasuki kamar Okita, dia sana sudah terlihat Okita yang tertidur lelap akibat obat yang di berikan oleh dokter, di sofa pada ruangan itu juga terdapat laki-laki berambut oranye gelap yang tadi menyuapi Okita ikut tertidur.


Risya mengambil kursi dan meletakan kursi itu tepat di samping ranjang Okita, "Maaf... " gumam Risya menundukan kepalanya, dia terus bergumam maaf hingga dirinya ikut tertidur dengan ranjang Okita sebagai bantalan kepalanya.


.......


Okita terbangun di kala merasakan tanganya terasa di penggang oleh sesuatu yang hangat, Okita menoleh dan mendapati Risya yang tertidur sambil memegangi tangan Okita.


Okita tersenyum lalu mencoba untuk bangkit dari berbaringnya, dengan pelan Okita mengusap lembut rambut Risya.


Okita mengerutkan keningnya ketika merasakan hawa panas dari Risya tidak seperti hawa panas seperti biasanya, untuk memastikan itu, Okita meraba kening Risya.


"Dia demam?!" batin Okita terkejut, tanpa memperdulikan dirinya, Okita bangkit dan merebahkan Risya di ranjangnya. Hari masih belum terlalu malam.


"Denny!" teriak Okita membangunkan temanya yang tertidur di sofa, "Bantu aku panggilkan suster untuk memeriksa Risya, tubuhnya panas!" ucap Okita panik, sedangkan teman yang ia panggil Denny terdiam sejenak untuk mencerna apa yang di katakan Okita, dia lalu segera bangkit dan bergegas menuruti apa yang di perintahkan Okita.

__ADS_1


"Dasar bodoh! kenapa kamu memaksakan diri!" gumam Okita mengusap lembut rambut Risya dan sesekali mencium keningnya, dia khawatir pada Risya, walau kekhawatiranya ini bisa di bilang cukup berlebihan.


......


.....


Risya terbangun dan mendapati dirinya berada di ranjang Okita, Risya mencoba bangkit, tapi sebuah tangan membuatnya tidak bisa bergerak, Risya menoleh, dia terkejut ketika mendapati wajah Okita yang begitu dekat dengan wajahnya, Apanyang terjadi?


Risya menatap tanganya yang terdapat infus di sana, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya hingga akhirnya Okita terbangun ketika merasa ada sebuah pergerakan di dekatnya, "Sudah bangun? apa kebodohanmu itu juga sudah menghilang?" ucap Okita menopang kepalanya dengan kepalan tanganya.


"O Okita?!... apa yang terjadi?" tanya Risya bingung, "Kenapa? Kenapa kamu memaksakan tubuhmu untuk menemuiku? kenapa kamu segitu tidak patuh?" ucap Okita dingin.


Risya tentu tidak senang dengan perkataan Okita, dia mencoba untuk mendorong tubuh Okita menjauh darinya. Namun, bukanya menjauh, Okita malah memposisikan tubuhnya di atas Risya.


"Kamu segitu tidak patuh hari ini, sepertinya aku perlu memberikanmu sebuah hukuman" ucap Okita menyeringai.


"K..Kamu tidak akan berani! ini di rumah sakit?!" ucap Risya mencoba mendorong tubuh Okita kembali, namun dengan kondisinya sekarang, sangat tidak mungkin untuk bisa mengalahkan tenaga Okita yang tentunya bertambah besar.


Okita mendekatkan wajahnya ke wajah Risya dan dengan lembut dan mencium bibir Risya. Semakin lama ciuman itu menjadi sebuah ******* yang kasar, Risya mulai kehabisan Oksigen.


Melihat itu, Okita melepas ciumanya, "Patuhlah, maka tidak akan ada yang terjadi padamu" ucap Okita menatao Risya dalam dan akhirnya bangkit dari kukunganya.


Risya mengusap bibirnya dengan lenganya, "Kenapa? kamu tidak menyukai ciumanku kah?" tanya Okita dengan nada menggoda, Mendengar itu tentu membuat Risya malu.


"A Apa maksudmu! sudahlah, aku mau pulang!" ucap Risya bangkit dari ranjangnya. Melihat itu Okita tidak tinggal diam, dia kembali mendorong Risya untuk berbaring pada ranjang.


"Jika kamu berani turun dari ranjang ini, aku berjanji akan mematahkan kedua kakimu itu, tetap istirahat disini, aku akan menemanimu!" ucap Okita mengancam.


"Okita tetaplah Okita, perkataanya sama sekali tidak bisa di bantah" batin Risya tidak suka.


TBC


SAMPAI SINI DULU YA

__ADS_1


SAMPAI JUMPA😊😊😊


__ADS_2