
.
.
.
.
.
"Aku.. aku hanya merasa pusing" ucap Okita memegangi kepalanya lalu menatap Risya dengan senyum di bibirnya, "Aku baik-baik saja, ayo kita makan siang" ucap Okita menggenggam tangan Risya.
Sedangkan Risya hanya diam. Dia melihat kalau wajah Okita tampak pucat, apalagi dengan detak jantungnya yang sangat lemah. "Okita... " gumam Risya lirih menatap punggung Okita yang masih menggenggam tangan Risya dan menariknya ke arah meja mereka.
π°ππ°ππ°ππ°π
Risya dan Okita kini telah sampai di sebuah bandara di kota tempat Risya tinggal. Selama ini Risya tidak pernah berfikiran kalau dirinya akan menikah dengan laki-laki yang masih setia menggandeng tanganya itu dan bahkan membawa laki-laki itu ke rumah keluarganya.
"Kenapa diam? kita telah sampai di kotamu bukan?" Okita tersenyum seusai mengucapkan kalimat itu. "Yah... Ayo kita pergi" jawab Risya merespon ucapan Okita.
Dengan menaiki mobil yang telah di sediakan asistenya di kota itu. Okita dan Risya pergi ke rumah keluarga besar Risya, tempat di mana Risya dan keluarganya selama beberapa tahun ini tinggal.
"Selamat siang nona Risya, tuan dan nyonya telah menunggu di dalam" seorang pelayan perempuan menyambut Risya dan Okita seusai membuka pintu depan rumah. Risya tersenyum tipis lalu segera berjalan memasuki rumahnya.
Tampak di ruang tamu telah berada Ayah dan Ibu Risya dengan Sugi yang juga ikut duduk di kursi ruang tamu. "Ayah.. ibu.." panggil Risya sambil berjalan mendekat dengan di ikuti Okita yang masih dengan senyumanya.
__ADS_1
"Kakak, oh kakak ipar" ucap Sugi dengan cengiran khasnya, dia tampak sudah tidak memiliki rasa takut lagi kepada Okita. "Salam kepada Ayah dan Ibu mertua" ucap Okita sopan.
Kesopanan dari Okita membuat keterkejutan kembali hadir dalam pikiran Risya. "Apa itu benar-benar Okita yang aku kenal?" batin Risya menatap Okita tanpa berkedip. Hal itu membuat kedua orang tua yang duduk di sofa ruang tamu itu tertawa.
"Risya dan menantuku, duduklah" ucap Ayah Risya turut sopan. Okita segera duduk dengan Risya yang ikut duduk di sampingnya. "Ayah, ibu.. seperti yang sudah kalian ketahui dari Sugi.. aku sudah menikah denganya. Maaf tidak memberi tahu kalian sebelumnya" ucap Risya meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Ayah dan ibu mengerti tentang itu... Sugi telah menceritakan keseluruhanya tentang kamu dan Menantuku ini yang saling mencintai sejak masa SMA. Ayah tidak keberatan, tetapi... ayah berharap kamu telah menyelesaikan urusanmu dengan Key terlebih dahulu" ucap Ayah Risya yang tiba-tiba serius.
"Beberapa hari yang lalu ayah dengar dari keluarga Key kalau Key selama beberapa hari ini selalu mengurung dirinya di kamar. Orang tua Key beberapa kali ke sini untuk memintamu menemuinya, kuharap kamu bisa mengatasi masalahmu dengan Key, Risya" ucap Ayah Risya tersenyum tipis.
Jujur saja kabar itu membuat Risya merasakan sakit di hatinya. Menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah menyakiti orang yang telah baik padanya, itu membuat Risya tidak nyaman. Apalagi dengan status saat pernikahanya dan Okita di mulai, Risya masih belum memutuskan hubunganya dengan Key.
Risya menunduk. "Aku tahu ayah, aku telah memutuskan hubunganku denganya... tapi, Key tampak tidak rela dengan itu" ucap Risya tersenyum paksa dengan sorot mata yang menelan kepahitan". Okita yang melihat itu sedikit tidak suka, tetapi melihat Risya yang hampir menangis seperti itu membuat Okita mengeratkan genggaman tanganya pada tangan Risya.
"Ini salahku, biarkan saya yang bertanggung jawab atas ini. Saya akan menghadapi Key" ucap Okita dengan tatapan yakin. Ayah Risya menghela nafas berat. "Baiklah, kuharap hubungan kalian juga berakhir dengan baik. Oh, bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini?" tanya Ayah Risya mencairkan suasana yang tampak canggung.
"Em, ibu.. Aku sangat ingin, tapi... resepsi pernikahanku akan di laksanakan besok, kami tidak bisa berlama-lama di sini ibu" ucap Risya tersenyum tipis. "Tidak apa, acara resepsi bisa di tunda dulu jika kamu ingin menginap semalam di sini" ucap Okita dengan senyum di bibirnya.
"Tapi.." ucap Risya merasa tidak nyaman. "Tidak apa... kita bisa melaksanakan resepsinya di hari lain, yang oenting sekarang kita telah resmi menikah, jadi mau di laksanakan atau tidaknya resepsi itu, kamu tetap akan menjadi istriku" ucap Okita mengangkat tangan Risya dan mencium punggung tangan Risya. Hal itu sukses membuat seluruh wajah Risya memerah padam.
Ayah dan Ibu Risya termasuk Sugi yang melihat itu hanya tersenyum. "Kakak pemalu" ucap Sugi dengan cengiran khasnya. "Sugi!" teriak Risya yang menyembunyikan wajahnya dengan tangan kirinya yang tidak di pegang oleh Okita.
Okita tersenyum.
.....
__ADS_1
Malam Hari
Dengab nemandangi langit penuh bintang di balkon, Risya terus mendongkrakan kepalanya. Bukan bintang yang di pikirkanya, tapi Key. Setelah kejadian siang itu di lestoran, Risya tahu kalau ucapan Key tidak pernah main-main.
Sekali itu di ucapkanya, hal itu pasti akan terjadi. "Tidak masalah kalau Key membenciku. Tapi dengan Key yang lulusan pertama dengan nilai terbaik di kampus, Aku khawatir kalau dia akan berniat menghancurkan karir Okita ataupun Ayahku" pikir Risya masih memandangi langit.
Tanpa di sadari, Okita yang berada di belakang Risya segera memeluknya dari belakang dan meletakan wajahnya di bahu kiri Risya. "Apa yang kamu pikirkan malam-malam begini? di sini dingin, apa kamu tidak masuk angin nantinya?" ucap Okita mengeratkan pelukanya pada perut Risya.
"Apa kamu tidak ingin tidur bersamaku?" tanya Okita yang sukses membuat rona merah pada wajah Risya kembali hadir. "Apa yang kamu pikirkan! aku tidak mau!" ucap Risya berusaha melepaskan tangan Okita dari perutnya. Okita menyeringai dan mengangkat Risya layaknya karung beras ke dalam kamar.
"Hey! apa yang kamu lakukan!" teriak Risya mencoba melepaskan diri. Okita meletakan Risya di atas ranjang dan segera menindihi tubuhnya. "Kamu istriku, dan aku adalah suamimu! apa yang salah dengan berhubungan suami istri?" ucap Okita tersenyum devil.
"Di sini rumahku! aku tidak ingin Sugi mendengarnya!" ucap Risya mencari alasan. "Aku tidak peduli" ucap Okita kembali menyeringai dan melepaskan pakaian Riaya yang kala itu hanya memakai baju tidur.
......
Sementara itu sesosok laki-laki di luar kamar itu hanya cengir-cengir sambil kembali mendekatkan telinganya ke pintu kamar Risya. "Hahaah, kakak ipar melakukanya dengan baik" gumam Sugi dengan suara kecil sambil mendengarkan suara yang di buat oleh dua orang dari dalam kamar tersebut.
**TBC
SAMPAI INI DULU YA
BILANG KALAU KURANG PUAS DENGAN EPISODE KALI INI
DAN SAYA MOHON UNTUK TIDAK MENURUNKAN RATING NOVEL SAYA INI..
__ADS_1
PEMBACA SAYA SUDAH SEPI DI SINI..
MOHONLAH JANGAN NAKAL MENURUNKAN RATING SAYAππ**