
.
.
.
aku menyukaimu...
sangat menyukaimu
maka dari itu
jangan pernah pergi dariku
(Diary Okita)
.
.
.
.
Okita menurut dan mengikuti Risya ke arah di mana kotak obat p3k itu berada, Risya sendiri yang mengobati luka itu, sedangkan Okita hanya menatap kecewa wajah Risya yang kini terlihat merasa bersalah, Risya lalu menatap wajah Okita yang terlihat memucat, Risya tahu bahwa saat ini Okita telah kehilangan banyak darah akibat luka yang di buatnya itu, pisau itu cukup tajam, bahkan hampir sepenuhnya menembus lengan Okita, jadi adalah hal yang tidak mungkin kalau Okita tidak mengeluarkan darah yang banyak
"sebaiknya kamu makan Okita.."ucap Risya masih merasa bersalah, "aku tidak nafsu ma-"ucap Okita yang di potong oleh ucapan Risya, "makan saja!! aku berjanji akan bersamamu kalau kamu mau menuruti perkataanku!"ucap Risya dengan wajah meyakinkan, Okita tertegun lalu dia tersenyum, "baiklah..apapun itu.."ucap Okita menurut
__ADS_1
πππππ
"suapi aku"ucap Okita dengan nada memelas,kini Okita dan Risya sedang ada di meja makan,mendengar keinginan Okita, Risya ingin menolak, tapi ketika ia melihat lengan okita yang di balut perban dengan sedikit dsrah yang merembas keluar itu Risya segera merasa bersalah, "baiklah.."ucap Risya mengambil Makanan di atas meja lalu menyuapi Okita pelan, dia sekarang bahkan melupakan sesuatu, dia melupakan bergol yang kini masih melingkari pergelangan tanganya, Okita menerima suapan itu dengan hati yang senang dan penuh kemenangan, "seharusnya kamu tidak menghentikanku tadi"ucap Risya menunduk, "apa maksudmu, apa aku akan membiarkan saja wanita yang ku sukai mencoba bunuh diri?"ucap Okita merasa tidak suka dengan ucapan Risya
tanganya memang sakit, tapi ia merasa lebih sakit jika Risya yang mengalami tusukan itu,"Aku tidak suka di permainkan Okita!! diamlah dan jangan pernah lagi bilang bahwa kamu menyukaiku, aku tahu itu cuma modusmu!"ucap Riaya datar, "aku akan bersamamu sesuai janjiku, toh lagipula aku masih asistenmu kan?"ucap Risya lagi menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Okita, tapi Okita segera menangkap pergelangan tangan Risya, dia lalu membawa sendok itu kembali ke tempat mangkuk makananya, "aku tidak membual!!"ucap Okita yang kemudian membawa tangan kiri Risya ke dada kirinya
"aku sama sekali tidak berbohong!"ucap Okita penuh keyakinan menatap Risya dalam, Risya terkejut ketika merasakan detang jantung Okita yang berasa tidak normal, Risya segera menarik tanganya, lalu Risya segera menyodorkan mangkuk itu ke arah Okita, "suap sendiri saja!!"ucap Risya yang kini buang muka, dia merasa hal yang ia lakukan sekarang tidak berguna, Okita menyeringai, "aku tidak berbohong kan?"ucapnya menatap remeh Risya, "aku tidak tahu dan tidak ingin tahu!! cepat habiskan dan lepaskan bergol ini dari tanganku!"ucap Risya dingin
Okita merasa tidak senang, ia menarik tangan nya yang di bergol dan membuat Risya menubruk dirinya, Okita segera menempatkan dirinya di lekuk leher dan bahu Risya sambil memeluknya,ia menggigit dan menghisap kulit luar leher Risya lalu melepaskan pelukanya, "ingat kamu miliku!"ucap Okita dengan sorot maata mengancam, "aku mengerti, tapi apa statusku sekarang? selingkuhanmu kah? jangan bercanda!!"ucap Risya tidak terima jika statusnya di ubah jadi Selingkuhan Okita
"hn... kamu.."ucap Okita lalu berdiri dan mendekatkan wajahnya tepat di dekat telinga Risya, "adalah pacarku..."bisik Okita lagi,Risya tertegun lalu ia menatap Okita tajam "lalu mau kamu apakan pacarmu yang satunya!!"ucap Risya sedikit berteriak, dia kesal, "sebenarnya dia bukanlah pacarku.."ucap Okita menatap Risya tanpa ekspresi, Risya tertegun,dia bingung, "dia calon tunanganku"ucap Okita dingin,
"hoo di usiamu yang masih kecil ini memikirkan pernikahan? aku tidak habis pikir.."ucap Risya terkekeh, sebenarnya hatinya saat ini terasa seperti terkoyak, itu sama sekali tidak dapat di hindari
"jangan anggap aku seperti bocah"ucap Okita dingin, Risya diam, lalu dia menarik kerah baju Okita dan memukul pipinya keras, itulah kelemahan Okita, di saat dia lengah, serang dengan penuh kekuatan dan secepat mungkin, Okita tidak dapat menghindarinya ia tejatuh di ikuti Risya yang juga terjatuh akibat bergol yang masih melingkar di pergelangan mereka berdua, Okita menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, dia tahu Risya cukup kuat sehingga ia tidak terlalu terkejut dengan kekuatan gadis itu
Risya masih ada di atas Okita, dia sekarang sama sekali tidak memiliki ekspresi, "ada apa denganmu"ucap Okita menyentuh kulit wajah Risya seakan akan khawatir, Risya tidak menepis tangan Okita, dia hanya menunjukan wajah dingin Sambil menatap mata Okita, lalu tiba tiba Risya menyerang leher Okita dan mengigitnya guna membalas apa yang Okita lakukan padanya, Okita terkejut dengan apa yang di lakukan Risya, dari awal pertemuanya dengar Risya tidak pernah sekalipun Risya menyerangnya seperti itu
tiba tiba bel penthouse Okita di bunyikan membuat Okita harus memanggil para pelayanya melalui telpone nya, tentu pelayanya langsung mengerjakan itu, ia tahu betul siapa yang datang pada waktu ini,dia Michele, "Risyaaa!!!"teriak Michele yang langsung menerjang dan memeluk tubuh Riaya, "astagaaa untungnya kamu baik baik saja.eh..apa ini?!"ucap Michele memegang bergol yang melingkari tangan Okita dan Risya, "benar benar keterlaluan kamu Okita!"ucap Michele kesal, Okita hanya diam
"aku akan menuruti permintaanmu, lepaskan Risya!!"ucap Michele menarik kerah baju Okita, "hei hei!!, aku akan melepaskan Risya tapi, Jaga dia baik baik dan jangan biarkan dia sendirian, kamu tidak akan tahu hal gila apa yang akan dia lakukan nanti!"ucap Okita melirik sekilas Risya yang hanya buang muka, "apa maksudmu?"tanya Michele bingung, "jaga saja dia!!"ucap Okita yang kini merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci, "kenapa dia tidak memutuskan rantai bergolnya saja...waktu itu dia memutuskanya saja"batin Risya bingung, "apa karena tanganya sakit?"batin Risya lagi
"Michele..tunggu dulu"ucap Risya mencegah Michele menariknya keluar dari rumah Okita, Risya lalu mendekat ke arah Okita "aku akan bertanggung jawab" ucap Risya penuh tekad, Okita tertegun, sebenarnya tangan kananya sakit akibat menahan tusukan itu, dan benar saja dia tidak bisa apa apa tanpa menggunakan tanganya,dia juga tidak kidal, "tanggung jawab? untuk apa Risya?!"ucap Michele tidak mengerti keadaan
"Okita terluka karena ulahku.."ucap Risya merasa bersalah, "baiklah terserah kamu, biar ku beritahu kamu, berani masuk ke lubang buaya,maka tanggung sendiri akibatnya"ucap Okita menyeringai dan meninggalkan mereka berdua, "kamu dengar itu Risya! kamu akan kenapa napa kalau bersama denganya?!!"ucap Michele khawatir, "tidak! biarkan aku bertanggung jawab, lagipula buaya tidak bisa sepenuhnya menerkamku ketika dirinya terluka, benar kan?" ucap Risya tersenyum tipis lalu beranjak pergi menghampiri Okita yang telah masuk ke dalam kamarnya
"kuharap kamu baik baik saja Risya.."gumam Michele melihat punggung Risya yang semakin menjauh, Risya memasuki kamar Okita, di lihatnya Okita telah terlelap di kasurnya sendiri, "astaga..mudah sekali dia tidur...perasaan dia baru saja memasuki kamar ini?!"batin Risya melihat Okita yang tengah tertidur, Risya menghampiri Okita dan membenarkan selimutnya agar menutupi dengan benar tubuh Okita
__ADS_1
Risya menghampiri Michele yang masih ada di penthouse Okita, dia belum pergi karena suatu alasan, "hei Michele, bisakah kamu mengantarkanku ke rumah, aku ingin mengambil baju seragamku, aku akan menginap di sini sementara"ucap Risya pada Michele,Michele menurut
SKIP
Risya telah kembali ke rumah Okita, beruntungnya masih ada pelayan Okita yang dengan setia menunggui Riaya sampai, oleh karena itu Risya bisa masuk ke dalam penthouse Okita, ia segera menuju kamar Okita, "bocah itu masih tidur rupanya.."batin Risya menatap Okita yang masih terlelap di kasur putih miliknya, di kamar Okita terdapat 1 sofa yang berada di sudut ruangan, Risya menggunakan itu sebagai tempat tidurnya, ia meletakan tas berisi buku dan seragamnya di sana, ia juga membawa setelan baju ganti, Risya lalu memainkan hp nya
Risya terkejut ada nomor yang tidak ia kenal di sana, bahkan nomor itu beberapa kali menelpone nya di saat hp nya di nonaktifkan, Risya segera membuka Chat yang di kirim nomor tersebut
'hai..ini kevin'
'save nomer ku!' isi chat itu kurang lebih seperti itu, tidak lama kemudian telpone dari Kevin berdering di hp Risya, Risya mengangkatnya
"hallo Risya..."ucap Kevin di seberang sana
"darimana kak kevin menemukan nomerku?"ucap Risya tanpa basa basi
"ohh mudah saja..aku bisa langsung menemukanya, karena aku ketua osis, beberapa berkas siswa di berikan padaku"ucap Kevin menjelaskan
"baiklah kak kevin? ada apa menelpone ku?"ucap Risya tanpa basa basi
"apa aku boleh mengajakmu makan malam?"ucap Kevin dari seberang sana
"makan malam ya...boleh sih..jam berapa memangnya?"ucap Risya lagi
"jam 9 di restorant last vega"ucap kevin terdengar gembira, "baiklah..aku akan da-"ucap Risya terpotong karena Okita tiba tiba mengambil hp nya dari Risya, "JANGAN BERANI GANGGU RISYA, DIA MILIKU!!"ucap Okita dengan nada mengerikan lalu dia mengembalikan telpone Risya, "ganti nomermu!!"ucap Okita seakan memerintah, "apa? seenaknya kamu-"ucap Risya lagi terpotong, "ganti atau ku banting hp mu sekarang!!"ucap Okita menekan katanya, Risya terkejut..
"baiklah..aku akan menurutimu kali ini"ucap Risya segera menonaktifkan hp nya, dia lalu duduk di sofa yanga ada di kamar Okita, Okita mendekati Risya dan duduk di sampingnya, tidak hanya itu, dia berbaring dengan paha Risya yang menjadi bantalanya, Risya terkejut, "apa yang kamu lakukan?!"kejut Risya dengan nada tidak nyaman, "sebentar saja..biarkan seperti ini"ucap Okita sedikit memohon, Risya menurut kali ini tidak seperti biasanya yang langsung akan menolak dan berontak
__ADS_1
"kamu cantik.."ucap Okita menyentuh kulit wajah Risya, mendengar penuturan Okita Risya segera mengeluarkan rona merah padam di pipinya, "j jangan memujiku!! aku tidak akan terpengaruh!"ucap Risya menahan rona wajahnya, Okita menyeringai, tanganya belum berpindah dari kulit wajah Risya, ia memindahkan pony Risya yang agak panjang ke belakang telinga Risya, "kamu gadis yang cantik jua...lezat"ucap Okita menahan seringaianya, "mesum!!"ucap Risya menepis tangan kiri Okita itu, Okita sedikit tertawa, "aku menyukaimu.."tutur Okita lagi
mendengar itu Risya kembali di landa rasa malu, pipinya kini benar benar berwarna merah padam, "berhentilah mengatakan hal hal yang tidak akan bisa kamu buktikan nantinya Okita!!"ucap Risya menahan agar rona merahnya mereda, Okita kembali menyentuh Risya tapi kali ini Okita menarik tenguk Risya dan menyatukan bibir nya dengan Bibir Risya sekilas, "aku bisa membuktikanya.."ucap Okita menatap dalam mata Risya yang wajahnya masih sangat dekat jaraknya dengab wajah Okita