
.
.
.
.
.
"ahh tidak!! Okita!"ucap Risya dengan suara yang mulai melemas, "humphh"ucap Risya lagi yang langsung di bungkam oleh serangan bibir dari Okita
"Okita sakit!!!"
"jangan keras keras!!"
ππππ
pagi itu Risya terbangun dari tidurnya, rasanya ia habis bermimpi buruk malam itu, namun kenyataanya.."eh aku tidak memakai baju?"ucap Risya membuka selimutnya untuk melihat dengan pasti. "itu berarti..."batin Risya menoleh takut, dan benar saja Okita tengah tidur tepat di samping Risya, Risya terkejut dia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut
"apa... apa aku benar benar melakukanya bersama Okita... bagaimana mungkin ini terjadi... tidak!!"batin Risya frustasi sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut denyut, rasanya kini ia ingin menangis, "kenapa?.. ingin menangis kah?"ucap Okita yang tanpa di ketahui telah terbangun dari tidurnya, "sekarang apa pilihanmu?"ucap Okita sambil memegang dagu Risya dan menatapnya dalam
"kamu brengsek Okita!!"ucap Risya pelan, "kamu yang memaksaku untuk melakukanya, aku sama sekali tidak mengijinkanmu berkencan dengan laki laki manapun selain aku, lalu apa yang aku lihat malam itu?"ucap Okita yang ekspresinya terlihat benar benar marah
Risya diam menunduk, dia benar benar frustasi dengan apa yang baru saja terjadi. "kamu tidak akan hamil, aku sudah memberimu obat pencegah kehamilan tadi malam, jadi kamu tidak perlu khawatir, ini baru permulaan, kalau kamu melanggar lagi aku tidak akan menahan diri lagi, camkan itu!!"ucap Okita menatap tajam ke arah Risya
Risya diam, melihat Risya tidak merespon Okita segera memakai kembali bajunya, dia tahu bahwa hari ini keluarga Risya tidak akan datang dalam waktu dekat, maka dari itu dia bisa lebih leluasa hari ini, "jangan diam saja seperti itu... mandilah dulu setelah itu turun kebawah, aku sudah mengirim orang untuk mengirim makanan ke sini, kita makan bersama, oh ya.. hari ini tidak perlu ke sekolah"ucap Okita segera meburuni tangga
__ADS_1
"apa yang akan aku lakukan setelah ini..."batin Risya menenggelamkan wajahnya di lipatan tanganya yang ia letakan di atas lututnya
beberapa waktu berlalu Risya akhirnya memilih keluar kamar dan menuju meja makan, benar saja di sana sudah tertata berbagai jenis makanan, tak lupa sepercik surat yang di tinggalkan Okita di bawah gelas milik Risya, surat itu bertuliskan
*jaga dirimu baik baik
kalau ada waktu pergilah
ke penthouse ku
okita*~
Risya diam melihat kertas itu, dia lalu memilih untuk memakan hidangan yang ada di atas meja itu, sungguh sekarang pinggangnya benar benar terasa sakit karena ulah Okita, tapi bagi Risya itu tidak lebih menyakitkan dari kehilangan keperawananya hanya karena Okita, setiap Risya memikirkan itu, Risya selalu ingin menangis
selesai makan Risya memilih untuk pergi ke luar untuk mendinginkan pikiranya, Risya memakai baju yang menutupi lehernya, maka dari itu ruam merah yang ada di leher Risya tidak akan terlihat, "benar benar melelahkan" gumam Risya memandangi langit sambil berjalan ke arah toko buku
"hahh.. apa sebaiknya aku pindah saja dari sini ya..."gumam Risya yang memilih untuk tidak memperdulikan mereka, Risya menelpone Jeffry untuk mengabarinya sekaligus minta maaf atas ketidakhadiranya tadi malam di tempat kerja barunya, "ya tidak apa apa kalau kamu tidak enak badan, apa kamu sudah baikan sekarang?"ucap Jeffry di seberang sana
"baik kak, sore ini aku sudah bisa part time kembali"ucap Risya pada Jeffry
"baguslah kalau begitu, sampai jumpa"ucap Jeffry segera menutup telponenya, Risya pun segera pergi pulang kembali ke rumahnya
Cafe sweety coffie~
"selamat datang tuan, nyonya, apa anda ingin memesan sesuatu"ucap Risya yang sudah memulai hari kerja pertamanaya, Risya memberikan buku menu pada kedua pasangan yang sedang ada di depanya itu, "tentu, saya ingin..."ucap pasangan itu mulai memesan, Risya segera pergi untuk menyampaikan pesanan kepada pembuat hidangan, setelah itu Risya kembali membawa makanan itu ke arah dua pasangan tersebut, "selamat menikmati"ucap Risya mencoba tersenyum semanis mungkin
pekerjaanya sebenarnya lancar lancar saja hingga akhirnya dua orang berbeda genre berjalan dengan bergandengan tangan masuk ke dalam cafe tempat Risya bekerja, pasangan itu adalah Okita dan Yuki. sudah selama ini mereka berdua terus melanjutkan kegiatan jalan jalan mereka
__ADS_1
Risya sebenarnya tidak ingin mengkhawatirkanya, tapi sayangnya dia malah memiliki tugas untuk mengantar pesanan ke mereka berdua, dengan terpaksa Risya berjalan mengantarkan makanan itu ke arah Yuki dan Okita
"Ini makananya tuan, nona"ucap Risya mencoba agar tetap sopan. dengan orang lain saja dia sudah bersusah payang untuk bersikap peduli, apalagi dengan Okita, bagaimana dia bisa mengontrol diri agar tidak berbuat hal yang akan memperburuk namanya, "ehh kak Risya kan?"ucap Yuki melihat Risya dengan begitu berbunga bunga
sedangkan Okita yang tadi sama sekali tidak melihat Risya segera menoleh cepat, Okita mengerutkan dahinya tidak suka, "kakak bekerja di sini?"ucao Yuki dengan pandangan mata berbinar, "i iya"ucap Risya canggung, "maaf aku ada pekerjaan lain, sampai nanti"ucap Risya mencoba tersenyum lalu pergi dari sana
"sungguh sial!!"gumam Risya segera melanjutkan tugasnya, Okita memanggil Risya untuk melayani pesananya, "astagaa apa lagi ini!!"batin Risya gerah, "saya pesan.... ah tidak saya ingin.... sepertinya ini bagus....."ucao Okita yang memang ingin mempermainkan Risya, Risya menggebrak meja, "maaf tuan, saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda, anda mau pesan apa?"ucap Risya sudah keaal
Okita menyeringai, "hahh pelayan di sini benar benar tidak sopan.."tutur Okita yang membuat kemarahan Risya bertambah, "Okita.. jagan begitu, kak Risya sudah berusaha keras untuk bersikap sopan padamu"ucap Yuki memeluk lengan Okita, Okita kembali menyeringai, "sayang.. maaf aku tidak bisa mentoleransi orang orang yang membantah atau mengeritik perkataanku"ucap Okita berpura pura
"a apa.. kamh memanggilku sayang??!"ucap Yuki dengan tatapan berbinar, Okita tersenyum, sungguh melihat itu membuat Risya merasa muak, "sepertinya jam kerja saya telah usai, maaf.. selamat tinggal"ucap Risya mencoba sopan, tapi sayang ekspresinya masih terlihat sangat dingin, bahkan sorot matanya tak henti hentinya memancarkan aura menakutkan miliknya
Risya pergi ke arah dapur, dia memang di ijinkan pulang lebih awal dengan alasan dirinya yang masih dalam status bersekolah, itu sebabnha dia punya batas waktu untuk bekerja, Risya mengganti bajunya lalu pergi menuju rumahnya dengan berjalan kaki, "memuakan!!"gumam Risya sangat kesal
"Risya?"ucap suara yang tidak jauh dari Risya. Risya menoleh, itu ternyata adalah Kevin yang sedang berada di wilayah luar Cafe, "ah kak kevin.."sapa Risya masih terdengar dingin, "apa yang kamu lakukan malam malam begini?"tanya kevin sambil menyeruput coffienya, "ohh aku habis selesai part time ini mau pulang"ucap Risya jujur
"bagaimana kalau ku antar?"tawar Kevin meletakan coffie nya, "apa itu merepotkan?"tanya Risya takut kalau hal itu merepotkan Kevin, "tidak sama sekali, ayo.."ucap Kevin tersenyum lalu menghampiri motornya
TBC
SEGINI DULU YA
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANYA DAN
SAMPAI JUMPA DI CHAPTER
BERIKUTNYA
__ADS_1