Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Aku Atau Okita?


__ADS_3

.


.


.


.


.


Okita membawa Risya dengan mobil miliknya, "sebenarnya kamu ingin membawaku kemana?" tanya Risya di kala Okita masih dengan fokus mengendarai mobilnya.


"Tempat yang seharusnya sudah lama kita datangi" ucap Okita yang terdengar sedikit nada kesal di sana, apa Risya melakukan kesalahan?


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Okita mengendarai mobilnya hingga sampai di tempat pantai yang sepi, selain itu di sekitar pantai terdapat sebuah rumah yang memang sepaket dengan pantai tersebut, "sepertinya itu pantai pribadi" batin Risya merasakan tempat itu sangat sunyi, bahkan jejak kaki manusia saja tidak ada di pepasiran itu.


Okita menghentikan mobilnya ketika sudah memasuki garasi rumah itu. Rumahnya lumayan besar dengan dua lantai juga nuansa moderen.


"Ini...." ucap Risya mengingat-ngingat tempat yang ia pijaki. "Rumah ini baru selesai sekitar 3 tahun setengah yang lalu, dan.. Apa kamu ingat tempat ini?" tanya Okita tersenyum penuh arti.


Risya mencoba mengingat, "pantai ini tempat studi tur kita dulu kan?!" ucap Risya setelah mengingat dengan keras. "Bingo! Awalnya aku membuat rumah ini dab membeli pantai itu untuk ku tunjukan padamu, tapi sayangnya kamu malah menghilang dari pandanganku," ucap Okita sedikut kesal.


Risya mengerutkan keningnya, "tunggu, kamu membuat rumah ini saat kamu masih SMP?" kejut Risya tidak percaya, "iya, dan ini memakai uang hasil kerja kerasku sendiri" ucap Okita menatap rumahnya sendiri.


"A Apa?" kejut Risya tidak percaya. "Ya, kamu kira aku dapat uang darimana? tentu saja aku bekerja, aku mengurus rumah sakit Hanji's Hospital." ucap Okita menjelaskan.


"Rumah sakit itu kan... Ohh, pantas saja kamu sering terlihat di sana" ucap Risya mengerti. Okita tersenyum "sudah ya, ayo masuk" ucap Okita menggenggam tangan Risya, anehnya Risya tidak merasa ingin menolak.

__ADS_1


Risya dan Okita kini telah berada di dalam rumah itu, isinya cukup luas dan cantik dengan nuansa moderen di mana-mana. Okita menoleh ke arah Risya dan berdiri menghadapnya. Okita memberikan sebuah kunci lengkap tentang rumah ini termasuk kamar dan garasi,"Rumah ini kubuat khusus untukmu, kumohon jangan di tolak" ucap Okita meletakanya di tangan Risya.


Risya mengerutkan keningnya,"tidak Okita, ini rumahmu" ucap Risya menolak. "Tenang saja, aku punya kunci cadanganya, jadi anggap saja ini rumah kita ya" ucap Okita menggenggam tangan Risya. Risya berpikir,"lebih baik rumah ini tetap milikmu seorang, aku tidak ingin menerima rumahmu" ucap Risya menatap Okita.


"Aku tidak menerima penolakan, aku sudah pernah bilang kan, aku tidak suka di bantah!" ucap Okita menatap tajam, untuk menghentikan pertengkaran di antara nya dan Okita, dengan terpaksa Risya menerima kunci itu, "Baiklah..." ucapnya.


Okita tersenyum, "kalau begitu, kamu mau di sini atau jalan-jalan dulu?" tawar Okita pada Risya. "Kamu terlihat lelah, lebih baik kita istirahat dulu" ucap Risya yang memperhatikan wajah Okita. "Okita, kamu perlu beristirahat lebih banyak, wajahmu semakin hari semakin terlihat lelah" ucap Risya menyentuh kulit wajah Okita.


Okita tersenyum, "Aku akan berusaha". "Baiklah... , apa kamu memiliki pelayan di sini?" tanya Risya melihat sekelilingnya, "Ya, tapi mereka hanya datang kesini pada pagi hari, setelah selesai membersihkan rumah ini baru mereka akan pulang"ucap Okita menjelaskan.


"Begitu ya, kalau begitu mau aku masakan sesuatu?" tanya Risya di kala berjalan ke dapur. "Sepertinya tidak ada bahan makanan di dapaur, kalau kamu lapar kita bisa makan di luar" ucap Okita yang mulai beranjak ingin pergi, Risya mengikuti saja.


Namun, baru saja dia keluar dari pintu rumah itu, handponenya berdering, Risya melihat nomor sang penelpone yang tidak tertera nama di sana, Risya segera menjawabnya.


"Risya! pulanglah! kalau tidak akan kupastikan kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi untuk selamanya" ucap Key mengancam, Risya terkejut. Dia langsung tahu bahwa itu Key dari suaranya.


"Tapi Key, kita sudah bicarakan ini..-" ucap Risya terpotong,"Pulang!" ucap Key yang sudah terdengar sangat marah di seberang sana, Key menutup telpone setelahnya. "Aku harus kembali, tapi kalau aku meminta ijin padanya, apa aku akan di ijinkan pulang?" batin Risya menatap Okita yang telah memasuki garasi.


Risya berpikir, jika dia tolak mungkin saja Okita akan curiga dan malah mengikutinya, maka dari itu Risya memikih untuk menerima tawaran Okita.


Okita benar-benar mengantar Risya ke kantor polisi, merasa mobil Okita telah jauh darinya, Risya segera mencari taksi untuk kembali ke apartemen.


Apartemen


Risya membuka pintu apartemenya. Namun, ternyata Key telah bersiap disana, dia segera menarik tangan Risya, menutup pintu lalu menubrukan tubuh Risya ke pintu tersebut. "Key!" teriak Risya tidak suka pada sikap Key yang kasar dan pemaksa, tidak seperti dirinya dulu yang murah senyum dan lembut, apa yang membuatnya berubah?


"Kenapa? Kenapa kamu memilih Okita daripada aku!" ucap Key sedikit berteriak. "Key! tenangkan dirimu! Okita sakit karena aku, aku harus bertanggung jawab atas itu dan menyembuhkanya!" ucap Risya membalas ucapa Key.


Key mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Brakk-


"Aku tidak peduli! kamu miliku Risya!" ucap Key meninju pintu yang ada di belakang Risya. Risya terkejut, dia tidak pernah tahu bahwa Key memiliki sisi gelap seperti itu.


"Risya, kamu pilih aku atau Okita?" ucap Key mencoba bersabar. Risya terdiam, namun kemudian menatao Key, "Key... setelah Okita sembuh, aku janji akan kembali ke sisimu oke?" ucap Risya memohon. "Tidak! sekarang kamu pilih aku atau Okita?" tanya Key lagi.


Mendengar itu Risya merasakan emosi di hatinya. "Key! kamu jangan mengekangku begini! aku tidak bisa memilih di antara kalian!" ucap Risya sedikit dengan nada marah.


"Baiklah, kalau begitu jangan berharap kamu bisa bertemu denganku lagi setelah ini Risya." ucap Key melepaskan Risya dan lalu beranjak pergi keluar dari pintu masuk itu. Risya terdiam.


"Aoa aku harus mencegatnya? tapi, setelah itu aku harus bilang apa?" batin Risya merasa frustasi, dia kini terduduk dengan bersandarkan pada pintu yang baru saja di pakai Key untuk keluar dari apartemen itu.


Risya menangis.


Kring~ Kring~ Kring~


"ya Risya?" jawab wanita di seberang sana, itu adalah Michele. "Michele, bisa kita bertemu?" ucap Risya lirih akibat frustasi pada sikap Key. Michele setuju.


Cafe Sweety Rose


"Kak Jeffry, kami pesan coklat panas 2 ya kak" ucap Michele pada Jeffry yang merupakan mantan bos dari Risya. "Jadi Risya, apa yang terjadi padamu sampai berwajah seperti itu?" tanya Michele tanpa basa-basi.


Risya diam, namun kemudian membuka sedikit mukutnya, "Key marah padaku..." ucapnya lirih dengan wajah yang sangat muram, matanya bahkan sangat terlihat habis menangis.


**TBC


SAMPAI DI SINI DULU


MAAFKAN THOR YANG SEBENARNYA BANYAK SALAH PADA KALIAN๐Ÿ˜ซ

__ADS_1


MAAF, MAAF, MAAF..


SAMPAI JUMPA**


__ADS_2