
.
.
.
.
.
"Drama?" tanya Rin tidak mengerti. "Kita akan sedikit buat keributan di sana hingga orang orang sana keluar, jika kita hanya menyusup kedalam. itu akan jadi kurang seru" ucap Kaoru tersenyum jahil sambil sesekali melirik Risya dan Rin. "apa kalian setuju?"
❄❄❄❄❄❄
**Tempat Misi
Risya dengan tampilan baju lengan terompet putih, celana levis, sepatu putih dengan alas yang keras, jam tangan coklat, tas kecil dengan tampilan modis juga rambut coklat bergelombang yang di gerai**.
Risya benar-benar terlihat menawan dengan Kaoru yang memakai stelan pakaian casual berjalan di sampingnya.
Risya meraba samping lehernya untuk bisa mencapai alat yang ada pada telinganya, itulah alat untuk mereka berkomunikasi secara jauh.
'Rin ini saatnya' ucap Kaoru pelan untuk memberi aba aba pada Rin melalui alat yang ada pada telinganya, Kaoru sengaja memakai tudung jaket birunya agar tidak ada yang bisa melihat alat pada telinganya.
dengan tiba-tiba, seorang wanita menepuk baju Kaoru, dia memiliki rambut hitam dengan tampilan baju cantik dan rok mini berwarna putih, dia Rin yang tengah berdandan ala wanita kaya yang sangat arogan.
"Beraninya! be beraninya kamu bersama wanita lain selama aku berada di luar negri, apa ini perlakuanmu setelah apa yang aku lakukan untukmu dulu?" teriak Rin berpura-pura.
"R Rin?!" kejut Kaoru juga ikut berpura pura.
Rin menggeretakan giginya, "****** beraninya kamu mengganggu pacarku!" Rin mendorong tubuh Risya seakan tengah melakukan perkelahian.
Namun kali ini Risya benar benar terjatuh menubruk ke tiang listrik, Rin melakukan itu dengan secara tidak sengaja.
Rin sedikit panik, namun akhirnya tetap meluruskan peranya dan berniat menyerang Risya lagi secara pura-pura. Kaoru segera menangkap tangan Rin. "Rin cukup!" teriak Kaoru cukup keras hingga para penjahat yang ada di rumah dekat mereka beraksi keluar untuk memastikan.
melihat itu jelas Kaoru senang, begitupun dengan Rin dan Risya. Kali ini giliran Risya untuk beraksi.
__ADS_1
"Maaf, dia sudah menjadi pacarku. Jadi untuk apa kamu melakukan ini? tidak akan ada yang berubah" ucap Risya enteng.
"Kamu,...", "Sialan dasar ******!!" teriak Rin berpura pura kehilangan kontrol emosi dan berniat mencakar wajah Risya. Kaoru lagi lagi menangkap tangan Rin.
Merasa ada keributan bodoh di dekat kediaman mereka, para penjahat narkoba itu segera menghampiri Risya, Kaoru dan Rin.
"Ada keributan apa ini?! mohon jangan ribut ribut di wilayah kami!" ucap sala seorang penjahat itu tampak marah, Kaoru tersenyum.
"Maaf karena telah berbuat keributan jadi kau Rin, kita sudah putus jadi bisakag kau tinggalkan kami?!" ucap Kaoru menatap tidak suka pada Rin, Rin menatap Kaoru marah.
"Aku akan membalas ini!" teriak Rin yang kemudian pergi, sedangkan para penjahat iru seperti di buat kebingungan dengan ketidak pahamanya dengan masalah ini.
"Maaf karena telah membuat keributan, tapi apa yang Anda lakukan di wilayah ini?," tanya Risya pada sala seorang penjahat, "T Tidak ada! bukan urusan kalian, Pergi!" teriak penjahat itu seolah ada sedikit rasa tahut di hatinya.
"Oh apa kalian pengedar narkoba? sampai sampai tidak ingin di sini ada keributan? oh apakah anda..." ucap Kaoru memancing, "apa maksudmu bocah?!!" ucap sala seorang penjahat itu menarik kerah Kaoru seakan akan dirinya dapat melenyapkan Kaoru kapan saja.
"Wah wahh, apakah saya tepat sasaran? kalau Anda tidak melakukanya Anda tidak perlu marah dan buru buru ingin memukuli saya! lagipula kami kesini juga ingin mencari pasokan itu" ucap Kaoru menyeringai, mendengar itu penjahat itu tampak tergiur, mereka sudah kama tidak mendapat pembeli yang membeli banyak barang mereka.
"K Kalau begitu kalian bisa masuk" ucap para penjahat itu menggiring mereka ke sebuah rumah di sana, Kaoru dan Risya di periksa untuk memastikan bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya untuk para penjahat itu, Risya dan Kaoru masuk kedalam rumah itu.
Terdapat banyak barang narkoba milik mereka yang di letakan di ruang bawah tanah yang di buat dengan teliti. "Kaoru menyeringai, jika saja dia tidak membuat drama itu, kemungkinan dia tidak akan mendapat barang bukti di sini, para penjahat itu begitu teliti.
Tanpa di ketahui para penjahat itu, Vallerie menyelinap kebelakang dan dengan cepat menotok dua penjahat secara bersamaan, dan kemudian menendang para penjahat lainya.
Sementara bos mereka yang berbicara kepada Kaoru seolah hilang konsentrasi dan menoleh ke arah Risya yang masih menghajar para anak buahnya, tidaj buang waktu, Kaoru juga segera memukul penjahat di depanya.
Detik kemudian para polisi itu mulai berdatangan dan masuk kedalam rumah itu untuk menangkap para penjahat itu, barang bukti pun disimpan dan akan di serahkan kepada kepolisian utama.
"Jadi ini rencanamu Kaoru?! kamu bahkan tidak memberitahu kami apa rencanamu, kau hanya memberitahuku agar berpura pura mejadi seorang pacar yang di selingkuhi?!!" Rin benar-benar marah pada Kaoru.
"Actingmu tadi bagua juga" ucap Kaoru singkat, "cih!" Rin mendecih dengan perlakuan Kaoru padanya, teganya dia membuat Rin seperti pihak yang di sakiti.
Di tempat lain, Risya mengumpulkan barang bukti, setelah apa yang dia lakukan hari ini, dia juga di beri waktu untuk istirahat di rumah sampai besok.
Risya menempati janjinya untuk kembali ke penthouse Okita, "haaahhh.." Risya menghela nafas berat, dia membuka handponenya untuk menelpone Michele.
namun sekarang dia terkejut dengan sebuah nama kontak di handponenya yang tertera nama "Calon Suami" siapa?
__ADS_1
Risya sama sekali tidak mengenali nomer itu, dia pun menelpone nomer kontak itu.
.........
.........
.........
.........
"tutt, hallo?" ucap suara di seberang sana, Risya terkejut, dia sama sekali tidak mengenali suara itu.
"Ini siapa?" tanya Risya hati²
"Apa ini Risya?" tanya orang di seberang itu lagi, Risya terkejut karena orang itu mengetahui namanya, siapa dia? "Iya, saya Risya" ucap Risya masih hati²
"Risya! Syukurlah kamu menelpone ke nomer Bos Okita, Bos.. dia di rumah sakit sekarang" ucap seseorang di seberang sana dengan sangat cemas.
Risya terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, apa yang terjadi pada Okita?! "Apa tunggu?! apa yang terjadi padanya?, bukankah dia baik-baik saja kemarin malam?!" ucap Risya terkejut, dia sekarang buru-buru ke arah pintu keluar penthouse Okita.
"Dia sekarang masih tidak sadarkan diri, karena terlalu banyak mengomsumsj obat-obatan, itu menyebabkan dada Tuan seringkali terasa sakit. Risya kamu datanglah ke rumah sakit Hanji's Hoapital sekarang" ucap seseorang di seberang sana.
Risya yang mendengar itu semua segera mengambil sebuah kunci mobil milik Okita yang di tinggalkan di atas laci, dia segera menjalankan mobil milik Okita dengan kecepatan yang terbilang cepat ke arah rumah sakit.
Di kala kecepatan mobil terus bertambah, Risya selalu menggumamkan sesuatu dengan cemas, bahkan tangan nya kini bergetar dan kadang mengeluarkan keringat.
"Okita, jangan sampai kamu kenapa-napa, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" batin Risya memegang erat kemudi setir.
"Jangan sampai!" gumam Risya lagi.
**TBC
SAMPAI SINI DULU YA
SAMPAI JUMPA
MAAF KARENA TELAH LAMA TIDAK UPDATE
__ADS_1
SAMPAI NANTI**...